Dukuh Paruk masih diam meskipun beberapa jens satwanya sudah terjaga oleh
pertanda datangnya pagi. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok
ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecetcecet
dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bila terlihat serangga pertama
melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekor bajing
karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan.
Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas
pohon pisang. Tepat di atas daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu
mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang ringan jatuh begitu saja ke dalam
lubang kuncup daun pisang itu.
Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan
diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri
dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada
saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang
khas.
Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan
daun-daunnya sedang dipagelarkan harmoni alam; beratus-ratus lebah madu dengan
ketekunan yang menakjubkan sedang menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya
mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi kelengangan pagi yang masih
temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu
tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar
embun yang mulai menangkap cahaya dari timur.
Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari.
Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan Dukuh
Paruk dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya. Dua puluh tiga rumah di
pedukuhan kecil itu mulai hidup. Terdengar rengek anak-anak yang terjaga dan
langsung merasa lapar. Seorang perempuan keluar menjemur kain yang basah kena
ompol bayinya. Suaminya juga keluar halaman dengan tujuan berbeda. Laki-laki itu
menjambret daun pisang kering untuk menggulung tembakau. Ada orang jongkok di
balik semak. Tangannya mengibas mengusir agas yang merubung kepalanya. Dukuh
Paruk sudah terjaga.
Hanya sebuah rumah yang masih sepi. Rumah itu mempunyai ukuran yang paling kecil
di Dukuh Paruk. Penghuninya tunggal, seorang nenek yang sudah linglung. Meskipun
sudah bangun, perempuan tua itu belum hendak beranjak dari tempat tidurnya,
termangu-mangu dengan matanya yang kelabu. Dalam genggamannya ada beberapa
keping uang logam. Dia tidak tahu siapakah yang telah menaruh uang itu di bawah
bantalnya. Nenek Rasus itu memang linglung, sudah lama linglung.
Tidak seperti biasa, beberapa hari lamanya nenek Rasus tidak tinggal seorang diri di
rumahnya. Pagi itu pun dia tidak seorang diri. Seorang perempuan muda yang paling
berharga di Dukuh Paruk masih tergolek di atas balai-balai dalam bilik sebelah. Srintil
masih menyambung mimpi setelah menempuh malam yang paling berkesan bersama
Rasus.
Seberkas sinar matahari menembus dinding bambu, lurus seperti kristal maya jatuh di
pipi Srintil. Lingkaran terang yang hanya seluas uang logam mampu menyingkap rona
hidup di pipi ronggeng Dukuh Paruk itu. Rambutnya yang hitam, meskipun begitu
kusut, memantulkan kilau yang lembut. Ketika rona terang itu akhirnya bergerak ke
arah mata, Srintil berada dalam batas jaga. Irama napasnya mulai tak teratur, bulu
matanya bergerak-gerak. Akhirnya terdengar desah panjang ketika Srintil menggeliat
perlahan-lahan.
Peralihan dari alam tidur ke alam jaga berlangsung sementara kelopak mata Srintil
belum terbuka. Bola mata bergulir-gulir di dalam pelupuknya. Kemudian tercipta
sebuah lekuk yang bagus di kedua sudut bibir Srintil. Kesadaran telah merayapinya,
kesadaran bahwa lintasan hidupnya sedang memasuki batas waktu di mana Srintil
merasa dirinya larut dan menyatu dengan Rasus.
Karena Srintil tidur dalam posisi miring ke arah tepi balai-balai, maka ia tetap percaya
masih ada seseorang di sampingnya. Tangan kanannya digerakkan ke arah belakang
dengan keyakinan yang bulat bahwa jemarinya akan jatuh ke atas sebidang dada lakilaki.
Tetapi yang kemudian terasa di ujung jarinya adalah dinginnya tikar pandan.
Dicobanya meraba lebih jauh. Dan kosong.
Srintil cepat bangkit dan menoleh ke belakang Didapatinya dirinya tak berteman dalam
bilik yang lengang itu. Mula-mula Srintil menduga, atau berharap, Rasus masih berada
di sekitar rumah sedang berhajat di belakang misalnya, Namun perasaan buntu tibatiba
menguasai dirinya setelah Srintil melihat tak ada satu pun barang milik Rasus
yang tertinggal.
Dalam bilik sebelah Srintil mendapati nenek Rasus duduk hampir tanpa gerak kecuali
kembang-kempis dadanya yang tak kentara. Atau sepasang mata kelabu yang bergulir
ketika melihat Srintil datang.
"Di mana Rasus, Nek?"
"Apa?"
"Rasus, cucumu! Di manakah dia sekarang?"
"Si Rasus di mana?"
"Iya."
"Rasus? Jadi Si Rasus sudah pulang?"
"Oh, Nenek pikun. Nenek linglung. Nenek tidak melihat ke manakah Rasus pergi?"
Sesaat lamanya perempuan itu kembali dalam sikap tanpa gerak. Kemudian
menjulurkan tangan ke arah Srintil. Telapak tangan dibuka. Beberapa keping uang
logam ada di sana. Srintil menatapnya tidak mengerti. Dan putus asa. Berbalik,
menarik daun pintu dengan kasar, lalu keluar. Dicarinya tempat dari mana dia bisa
memandang dengan sempurna ke arah pancuran. Rasus tidak kelihatan. Dilongoknya
pekarangan kosong tempat orang-orang Dukuh Paruk biasa jongkok di balik semak.
Hampa. Yang kelihatan oleh Srintil adalah sepasang burung sikatan yang sedang sibuk
menyambar-nyambar lalat hijau.
Akhirnya Srintil menatap jauh ke seberang sawah yang sangat luas. Di sana Dawuan
mulai memperlihatkan sosoknya. Kabut tipis yang menyelamuti Dawuan mengambang
naik karena hangatnya sinar matahari. Dawuan dengan pasarnya. Dawuan dengan
markas tentaranya di bamah pimpinan Sersan Slamet, kepada siapa Rasus pergi
menggabungkan diri. Bagi Srintil, Dawuan kini berubah menjadi sosok yang angkuh.
3
"Oh, jadi begitu," pikir Srintil yang ingin menolak kenyataan bahwa Rasus telah
meninggalkannya bahkan tanpa pamit. Dalam perkiraan ronggeng Dukuh Paruk itu
semua laki-laki adalah dari jenis yang sama, yang bisa demikian gila hanya karena
ingin hidup bersamanya barang satu-dua malam, tak peduli apa pun yang menjadi
nilai tukarnya. Sulam, Lurah Pecikalan atau bahkan Bapak Siten Wedana adalah
sebagian kecil deretan nama laki-laki yang runduk di bawah kibasan sampur Srintil.
Dan ronggeng itu merasa heran mengapa ada seorang lelaki dari jenis lainnya. Dengan
keakuan yang tegar laki-laki itu lari menghindar. Boleh jadi Srintil takkan bersedih hati
bila laki-laki itu bukan Rasus.
Hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap berdiri diam. Dibiarkannya nyamuknyamuk
belirik yang beterbangan mengelilingi tubuhnya. Beberapa ekor hinggap
menghisap darah di kaki Srintil. Seekor lainnya hinggap di belakang telinga dengan
perut yang makin lama makin menggantung penuh darah. Rambut di atas dahinya
basah oleh kabut pagi yang mengembun. Matanya mengambang.
Dua orang anak dengan tubuh telanjang menatap Srintil dengan heran. Mata kedua
anak itu adalah mata sekalian orang Dukuh Paruk yang tidak pernah berharap melihat
seorang ronggeng menangis. Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus
lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah tembang dan joget. Perhiasannya
adalah senyum dan lirikan mata yang memancarkan semangat hidup alami, semangat
yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga-bunga.
Jadi, ronggeng adalah dunia sukaria dan gelak-tawa.
Kedua anak yang bertelanjang badan itu mengundurkan diri. Mereka membawa
pertanyaan yang muskil: mengapa seorang ronggeng bisa menangis?
Tentu saja hanya Srintil sendiri yang bisa merasakan dirinya sedang ditarik ke luar dari
keakuannya. Ada yang menelanjanginya, entah siapa dia, sehingga Srintil sedikit demi
sedikit mengenal dirinya dari sisi lain. Bukan sebagai perempuan milik bersama sebuah
tatapan melainkan seorang perempuan dalam arti yang paling bersahaja. Dia yang
merasa tidak utuh tanpa kepastian seorang laki-laki berada dalam hidupnya; dalam
hatinya dan dalam kamar tidurnya. Atau bila benar bahwa dunia yang besar ini berisi
berjuta-juta dunia kecil dan dalam setiap dunia kecil itu berisi seorang laki-laki dan
seorang perempuan. Srintil hanya merindukan yang kecil itu. Sebuah dunia kecil tanpa
Rasus sungguh tak bisa dibayangkan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu.
Dukuh Paruk tidak memerlukan waktu lama buat menyadari apa yang sedang terjadi
atas diri Srintil. Hari berikutnya, pedukuhan kecil itu sudah hangat oleh celoteh orangorang
perempuan. Perhatian mereka tertuju kepada Srintil yang kini lebih suka diam
merenung dan menyendiri. Semuanya tahu bahwa keadaan Srintil tidak bisa
dipisahkan dengan Rasus yang telah meninggalkan Dukuh Paruk dan bergabung
kembali dengan kelompok tentara pimpinan Sersan Slamet.
"Eh, dengar! Pernahkah terjadi seorang ronggeng mabuk kepayang terhadap seorang
lelaki?" kata seorang perempuan yang bersama dua temannya sedang mencari kutu di
bawah pohon nangka.
"Sepanjang yang kudengar tak ada cerita demikian," jawab perempuan kedua. "Yang
baku, seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat
untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. Lha,
bagaimana kalau dia sendiri dimabuk cinta demikian?"
"Ya, Srintil memang aneh. Nah, kalau sudah terjadi demikian maka Nyai Kartareja
yang bersalah."
4
"Nyai Kartareja?"
"Iya. Kalau Nyai Kartareja berhati-hati dalam mendampingi Srintil, takkan terjadi
begini. Dia mengabaikan kewajiban karena terlalu bernapsu. Srintil disuruhnya
melayani sebanyak mungkin laki-laki tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan,
terutama pada hari kelahiran Srintil sendiri. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya.
Nah, namun begini jadinya."
"Sebetulnya aku bisa mengerti mengapa Srintil senang terhadap Rasus. Pokoknya tak
ada yang salah. Persoalannya bila Srintil terus murung dan menolak kembali naik
pentas, Dukuh Paruk jadi sepi. Itu saja yang kusayangkan."
"Tetapi aku masih percaya kepada suami-istri Kartareja. Kalau mereka bisa memasang
guna-guna sehingga banyak laki-laki gandrung terhadap Srintil, mengapa mereka
tidak mampu memutus tali asmara antara ronggeng itu dengan Rasus?"
Ucapan yang terakhir ini memang tidak berlebihan. Kalau ada orang yang paling
khawatir tentang keadaan Srintil, tentulah dia Nyai Kartareja bersama suaminya.
Mereka sungguh tidak rela anak asuhannya jatuh hati kepada Rasus atau kepada lakilaki
lain mana pun. Lebih-lebih lagi bila Srintil sampai berpikir tentang sebuah rumah
tangga yang hendak dibangunnya. Martabat mereka sebagai dukun ronggeng berada
dalam taruhan, dan, sumber penghasilan mereka yang subur terancam bahaya.
Maka Nyai Kartareja harus berbuat sesuatu. Tali asmara yang mengikat Srintil kepada
Rasus harus diputuskan. Mula-mula Nyai Kartareja mencari sebutir telur wukan. Telur
ayam yang tertinggal dalam petarangan karena tidak bisa menetas itu diam-diam
ditanamnya di salah satu sudut kamar tidur Srintil. Mantera pemutus asmara
dibacakan.
Niyatingsun matak aji pamurung
Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung
Ditarbuan boeh sana, manci rasa marang
Srintil marang Rasus
Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening
Eyang Secamenggala
Pentil alum cucuk layu, angen sira bungker
Si Srintil Si Rasus
Ker bungker, ker bungker kersane Eyang Secamanggala
Ker bungker, ker bungker kersane Sing Murbeng
Dumadi
Adalah matera; susunan kata-kata yang menyalurkan sugesti dan kekuatan alam
melalui jalur nonfisika dan bebas dari hukum-hukum tentang energi maupun mekanika
yang biasa. Kekuatan itu tak terelakkan kecuali oleh kekuatan lain yang segaris namun
berlawanan arah. Dan, mantera yang dipasang oleh Nyai Kertareja secara tak sengaja
telah mendapat tandingannya. Yaitu ketika suatu malam Srintil ingin kencing. Karena
malas keluar kamar Srintil memilih salah satu sudut kamar tidurnya sebagai tempat
melepas hajat. Di sana ada bagian lantai yang gembur bekas cungkilan baru. Adalah
layak bila Srintil menganggap bagian tanah tersebut bisa dikencingi karena cepat
meresap air, tak peduli di tempat itulah Nyai Kartareja menanam telur wukan yang
telah dimanterainya. Tanpa disadarinya Srintil melumpuhkan mantera yang ditujukan
kepadanya.
5
Sudah dua kali Srintil menolak naik pentas. Perbuatan yang sangat mengecewakan
suami-istri Kartareja dan terutama orang yang mengundangnya, oleh Srintil hanya
diberi dalih enteng: malas!
Tetapi Srintil tidak malas melakukan perbuatan yang lucu di mata orang-orang Dukuh
Paruk; bercengkerama dengan anak-anak gembala yang kebanyakan masih
bertelanjang badan. Tanpa canggung Srintil ikut berlari-lari menghalau kambing. Atau
duduk di bawah pohon dan membantu anak-anak gembala membuat layang-layang
dari daun gadung. Srintil bisa menyatu dengan kegembiraan anak-anak yang menjadi
lebih ceria karena mendapat teman bermain istimewa. Mula-mula anak-anak gembala
itu merasa rikuh namun akhirnya mereka cepat akrab.
"Dulu saya juga seperti kalian, senang bermain-main di tegalan sambil menggembala
kambing," kata Srintil. Tangannya sibuk membuat mainan baling-balik dari daun
kelapa.
"Kakak juga pintar menangkap capung dengan getah nangka?" tanya seorang anak.
"Ah, itu gampang. Kalau mau dengan getah nangka malah bisa menangkap burung
kedasih," jawab Srintil dengan gaya seorang ibu yang bijak.
"Pernah seperti ini?" kata seorang anak lainnya yang membawa tahi sapi kering yang
membara sebagian. Di atas bara itu ada seekor jarigkrik yang sedang dibakar. Srintil
tersenyum.
"Oh, tentu saja. Aduh, gurih nian jangkrik bakar itu, bukan?"
"Kakak mau? Silakan ambil."
"Boleh?"
"Ambillah!"
Anak-anak memperhatikan dengan minat yang penuh ketika Srintil mengunyah
jangkrik yang dibakar dalam bara tahi sapi kering itu. Semacam lambang keakraban,
dan anak-anak gembala itu bersorak-sorai. Seorang yang paling besar di antara
mereka maju mendekati Srintil. Di tangannya ada bambu seruas.
"Benar juga, Kakak rupanya dulu suka bermain-main seperti kami. Tetapi apakah
Kakak bisa menebak isi tabung ini?"
"Gangsir," jawab Srintil setelah mencoba berpikir.
"Bukan."
"Buah salam."
"Bukan."
"Kepik hijau."
"Bukan."
"Nah, aku menyerah."
"Betul?"
"Ya."
Anak gembala itu membalikkan tabung hingga isinya jatuh ke tanah. Srintil menjerit
dan melompat, tepat seperti gadis kecil yang ketakutan. Seekor ular angon merayap
6
bebas setelah sekian lama terkurung dalam tabung bambu. Sekali lagi terdengar
sorak-sorai anak-anak gembala. Srintil mengejar si Nakal, mencubit pahanya. Anak itu
meringis, namun kelihatannya dia tidak menyesal bila Srintil terus mencubitnya.
Suatu ketika Srintil merasa benar-benar ingin menyendiri. Jenuh mendekam dalam
kamarnya ronggeng itu keluar menuju tepian dukuh. Di sana, di bawah pohon nangka
Srintil dahulu menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya. Dipungutnya selembar
daun yang jatuh lalu diremasnya. Aneh, Srintil merasa ada sesuatu yang
terlampiaskan ketika daun yang tak bersalah itu remuk dalam genggamannya.
Tidak jauh dari tempat itu dua ekor anak kambing melompat-lompat dalam gerakan
yang amat lucu. Kemudian mereka berlomba mencari selangkangan induknya buat
menetek. Ulah kedua kambing itu kelihatan kasar. Tetapi induk mereka membiarkan
tetek yang menggembung penuh daya hidup itu diperah dan disodok-sodok. Srintil
memperhatikan perilaku induk dan anak itu tanpa kedipan mata. Srintil tersenyum.
Kali ini senyumnya disertai oleh kontraksi kelenjar teteknya sendiri serta rangsangan
aneh pada urat-urat sekitar rahim. Tiba-tiba hasrat hendak memeluk seorang bayi
mendesaknya demikian kuat. Hampir pada saat yang sama rasa cemas karena
mungkin Nyai Kartareja dengan caranya sendiri telah mematikan indung telur dalam
perut Srintil membuat ronggeng itu sesak napas. Perang yang seru terjadi dalam
dadanya yang ditandai dengan sepasang garis basah yang turun dari mata ke pipi
Srintil. Ada sebuah pertanyaan yang buat kali pertama muncul di hatinya; mengapa
diriku seorang ronggeng? Pertanyaan itu datang dari perkiraan Srintil; kalau dia bukan
seorang ronggeng Rasus takkan meninggalkannya dengan cara begitu saja.
Khayalan Srintil terkacau oleh deru sepeda motor yang memasuki Dukuh Paruk. Di
kecamatan Dawuan dan sekitarnya hanya ada dua kendaraan seperti itu. Yang satu
milik siten wedana, lainnya milik Marsusi, seorang kepala perkebunan karet
Wanakeling. Siapa pun di antara keduanya yang bersusah payah datang ke Dukuh
Paruk, rasanya hanya untuk satu tujuan. Srintil tertegun sejenak lalu bangkit dan
berjalan mengendap-endap menjauhi rumahnya. Pelarian kecil itu berakhir di puncak
bukit pekuburan Dukuh Paruk yang menerimanya dalam kesunyian.
Ada celeret melayang dari satu pohon ke pohon tanpa suara. Ada kucica betina sibuk
membawa kapuk bunga gelagah untuk bantalan sarangnya. Di dekat sebuah batu
nisan seekor tabuan sedang menarik-narik ulat besar yang sudah dilumpuhkannya.
Dan Srintil terkejut ketika terdengar suara tokek dari bubungan cungkup makam Ki
Secamenggala.
Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk menjadi ibu bagi seorang anak yang ingin
memahami apa yang sedang melintas dalam hidupnya. Srintil mengadukan kebuntuan
rasanya kepada berjenis-jenis anggrek liar yang menempel pada tubuh batang
beringin besar, kepada relung-relung pakis yang berjumbai-jumbai di lereng curam
atau kepada terotok kayu mati yang dipatuk burung pelatuk. Santunan mereka yang
demikian ramah membuat Srintil merasa betah tinggal di tempat yang tersembunyi itu
hingga matahari terbenam nanti atau bisa lebih lama lagi. Dalam kelengangan di
pekuburan itu alam mengajaknya bicara banyak-banyak melalui bau tanah dan
wanginya bunga kemboja. Melalui denging agas yang mengitari kepalanya atau melalui
kelembutan lumut yang menutupi batu-batu lembab. Srintil larut dalam haribaan
ibunya, merasa dimengerti dan dimanjakan. Khayalannya bcbas mengawang dan akan
terus melayang-layang apabila tidak datang seseorang yang mengusiknya.
"Srin, pulang. Ada tamu."
7
Srintil terkejut sebelum kesadarannya pulih. Tanpa menoleh ke arah sumber suara dia
tahu siapa yang datang.
"Pulang, Srin. Kau ditunggu," ulang Nyai Kartareja dengan suara tanpa tekanan
memerintah. "Kau harus tahu siapa tamumu kali ini; Pak Marsusi, kepala perkebunan
karet itu."
Srintil mengerdip tanda mengerti.
"Nah, ayo pulang."
"Aku belum ingin pulang," jawab Srintil tanpa emosi.
"Eh, jangan begitu, Wong Ayu," kata Nyai Kartareja sambil mengatur dirinya duduk di
samping Srintil. "Kamu tak boleh menyepelekan tamu. Apalagi tamu kali ini bukan
sembarang orang."
"Ya, tetapi aku tidak ingin pulang."
"Kalau aku menjadi kamu, Srin, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Menggonceng motor ubluk bersama Pak Marsusi ke kota. Pelesir ke mana-mana,
nonton bioskop misalnya. Kau belur pernah melihat tontonan itu, bukan? Kepada Pak
Marsusi kau bisa minta dibelikan barang-barang. Nah, bagaimana kalau kau minta
kalung seperti yang dipakai istri lurah Pecikalan?"
"Sudahlah, Nyai. Pulanglah dulu. Aku akan menyusul kemudian. Aku mau mandi dulu."
"Bagus. Wong Ayu. Tetapi betul, ya. Kamu kami tunggu."
Srintil mengangguk ringan.
Diperhatikan induk semangnya yang sedang berjalan menuruni bukit pekuburan Dukuh
Paruk. Tak lama kemudian Srintil pun ikut turun. Bukan mengikuti jalan Nyai
Kartareja, melainkan jalan lain yang tidak menuju pancuran atau menuju rumahnya.
Srintil melangkah cepat ke arah jalan yang membawanya keluar dari Dukuh Paruk.
Langkahnya cepat dan panjang-panjang. Kepada orang-orang yang kebetulan
berpapasan Srintil hanya tersenyum atau mengangguk ringan. Sampai di pematang
yang menuju Dawuan, Srintil mempercepat jalannya. Matahari yang sudah melewati
titik kulminasinya menyiram ronggeng itu dengan pancaran terik yang menyakitkan
kepala. Srintil terus berjalan, terkadang sambil mengangkat tangan kirinya untuk
mengurangi terik matahari ke arah wajahnya.
***
Di rumahnya Nyai Kartareja mulai merasa was-was karena ternyata Srintil tidak
segera mengikutinya pulang. Marsusi, laki-laki berusia lima puluhan, sudah gelisah di
tempat duduknya. Caping wol stetson sudah beberapa kali dipasang di kepala dan
dilepas lagi tanpa tujuan tertentu. Akhirnya Marsusi keluar mengambil sesuatu di
bagasi motornya. Sebuah botol persegi dibawanya masuk. Penantian yang
menggelisahkan harus ditemani jenewer, pikirnya. Minuman keras itu ditenggak
langsung dari botolnya.
"Sampean tadi mengatakan Srintil ada di rumah. Lalu manakah dia?" tanya Marsusi
sambil meletakkan botolnya dengan agak kasar.
Nyai Kartareja menyembunyikan kebimbangannya di balik senyum ramah.
"Betul, Pak. Tadi Srintil berkata hendak mandi dulu. Ah, anak ini. Ke mana dia?"
8
"Coba susul lagi. Bila benar sedang mandi mengapa bisa demikian lama?" ujar
Kartareja.
"Nanti dulu," kata Marsusi yang kelihatan tidak sabar karena menunggu Srintil sekian
lama. "Sampean berdua yang memelihara Srintil di sini, bukan?"
"Benar, Pak."
"Lalu? Apa kalian kira aku datang kemari buat duduk-duduk nganggur seperti ini?
Katakan saja; Srintil sedang dipakai orang lain atau Srintil sedang pergi entah ke
mana! Jangan biarkan aku jadi gusar, orang Dukuh Paruk!"
Kartareja hanya bisa menoleh kiri-kanan. Bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah
kata pun terdengar. Bahkan kemudian dukun ronggeng ini duduk membeku dengan
mata melukiskan rasa takut ketika Marsusi bangkit dan mendekat. Caping wol
dibantingnya ke atas meja.
"Sampean berdua ini orang dukuh yang tidak tahu diuntung! Aku tidak pernah lupa
bahwa semacam sampean ini mendapat rejeki dari orang seperti saya ini. Nah!
Mengapa sampean berdua jadi banyak tingkah? Sekarang jawab pertanyaanku;
bisakah kalian membawa Srintil kemari sekarang juga? Kalau tidak, mampus saja.
Jangan coba-coba menjadi dukun ronggeng!"
Apabila Kartareja makin membeku oleh kekasaran Marsusi maka lain halnya dengan
istrinya. Nyai Kartareja mempunyai seribu pengalaman menghadapi laki-laki dan
dunianya. Dari yang masih bocah sampai yang perjaka, dari yang baru belajar
mengenal perempuan sampai yang sudah matang seperti yang sedang gusar di
hadapannya itu. Atau karena pekerjaan seorang istri dukun ronggeng yang ternama
ialah mengerti secara tepat situasi hati seorang laki-laki yang datang kepadanya,
menampung keluh-kesahnya, menyalurkan renjananya dan meredam emosinya. Demi
keberhasilan pekerjaannya Nyai Kartareja tak pernah meninggalkan resep; seorang
laki-laki yang datang kepadanya, meski yang sudah beruban sekalipun akan
dianggapnya sebagai bayi. Bayi yang mudah terlena oleh kelembutan nina-bobo dan
mudah diakali dengan senyum yang teduh serta bujukan manis.
"Aduh. Nak, eh, Pak. Benar jugalah bila sampean menjadi gusar semacam ini. Kami
pun bisa mengerti mengapa sampean kehilangan kesabaran. Ini semua karena
kesalahan kami. Sampean dari rumah membawa kejenuhan atau kegemasan yang
seharusnya segera cair di rumah ini. Ya, ya. Pokoknya kehendak seorang priyayi
seperti sampean pasti akan kami utamakan. Masalahnya, Srintil yang sampean
kehendaki masih kekanak-kanakan. Ah, sampean jangan lupa; Srintil masih demikian
hijau. Maka siapa pun yang menghendaki kesegarannya harus sedikit bersabar."
"Dengar, Pak. Srintil masih segar seperti kecambah," sambung Nyai Kartareja sambil
menyentuh dada Marsusi dengan lembut.
"Saya tidak mencari perempuan lumutan," kata Marsusi. Nada bicaranya jatuh pada
tempo yang rendah.
"Nah! Kecambah itu kami sediakan buat sampean. Soalnya kini terletak kepada
kesabaran sampean itulah karena Srintil sudah beberapa hari merajuk."
"Nanti dulu. Me-ra-juk?"
Hening. Nyai Kartareja membiarkan pertanyaan Marsusi buat sementara mengawang.
Andaikan Marsusi tahu bahwa senyuman Nyai Kartareja yang kelihatan begitu wajar
9
adalah sebuah taktik profesional. Atau setidaknya, senyum itu menandakan Nyai
Kartareja telah merasa membuat langkah awal yang tepat untuk menguasai keadaan.
"Inilah susahnya momong seorang ronggeng cantik tetapi masih kekanak-kanakan.
Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti yang dipakai oleh istri lurah
Pecikalan; sebuah rantai emas seberat seratus gram dengan bandul berlian. Seorang
priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil itu. Nah,
bagaimanakah dengan kami yang melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik
mudah saja dia memberi beban berat kepada kami."
"Hm," lenguh Marsusi. Hanya itu.
Yang terjadi kemudian adalah tawar-menawar yang berlangsung dalam keheningan.
Nyai Kartareja merasa dirinya berada di atas angin. Langkahnya telah berhasil
melumpuhkan murka Marsusi sekaligus menempatkan laki-laki itu dalam selmah
taruhan harga diri. Perhitungan istri dukun ronggeng itu terbukti cermat. Marsusi
memang bukan laki-laki kemarin sore yang tidak tahu akan adanya maksud tertentu
dalam kata-kata Nyai Kartareja. Masalahnya Marsusi kini merasa secara tidak langsung
diperbandingkan hanya dengan seorang lurah. Martabatnya sebagai priyayi kepala
perkebunan terusik. "Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa
memenuhi keinginan Srintil," itulah kata-kata Nyai Kartareja yang melecut hati
Marsusi.
"Hm," lenguhnya lagi.
Marsusi kembali ke tempat duduknya. Ditenggaknya minuman keras yang masih
tersisa. Wajahnya beringas oleh pengaruh alkohol atau oleh kerusuhan dalam hatinya.
Dalam hati dia mengutuk Nyai Kartareja yang telah memasang pemerasan
terselubung. Aneh, Marsusi tak kuasa mendobrak jebakan halus itu, bahkan menerima
apa adanya sebagai tantangan. Dipasangnya caping dengan tergesa-gesa kemudian
Marsusi bangkit.
"Aku mau pulang, Nyai!"
"E, lho?" ujar Nyai Kartareja pura-pura kaget.
"Yah, bagaimana lagi bila Srintil ngambek seperti itu," sela suaminya.
"Nanti dulu, Pak. Tak ada pesan buat Srintil? Besok lusa sampean mau datang lagi,
bukan?"
Marsusi yang sudah duduk di atas sepeda motornya menoleh. Cuping hidungnya
bergerak-gerak. Sorot matanya menyala. Gejolak emosinya disalurkan ke kaki yang
menggenjot mesin kuat-kuat. Harley Davidson sisa masa perang itu menderu dan laju
diiringi tatapan mata anak-anak Dukuh Paruk yang penuh kekaguman.
Nyai Kartareja menjatuhkan pundaknya. Lega. Sekarang dia bukan hanya merasa
telah mengatasi kemarahan Marsusi yang gagal berjumpa dengan Srintil, melainkan
sekaligus menjebak laki-laki itu dalam sebuah tantangan.
"Kita main tebak-tebakan, Ki," kata Nyai Kartareja kepada suaminya.
"Aku berani bertaruh; besok atau lusa Pak Marsusi akan kembali kemari. He-he.
Seratus gram kalung emas dengan bandul berlian; tantangan yang pantas buat Pak
Marsusi. Apa katamu, Ki?"
"Kamu ini bagaimana? Pikir dulu di mana sekarang Srintil," jawab Kartareja dingin
tetapi tandas.
10
Ada perubahan yang nyata pada wajah Nyai Kartareja. Dia tersadar akan masalah
yang justru di hadapan matanya. Karena bimbang Nyai Kartareja tak mampu
meneruskan kata-katanya. Tidak lama, karena kemudian wajah perempuan itu
kembali cerah.
"Ah, kukira Srintil berada di rumah kakeknya sekarang. Aku akan pergi ke rumah
Sakarya."
"Aku ikut," kata Kartareja sambil meraup tembakaunya.
"Nah, ayolah!"
Di rumah Sakarya, suami-istri dukun ronggeng itu mendapatkan kenyataan yang
mengecewakan. Srintil tidak berada di sana. Bahkan keduanya mendapat teguran
Sakarya yang bernada meminta pertanggungjawaban. Kemudian datang seorang
tetangga yang mengatakan melihat Srintil berjalan tergesa-gesa ke luar dari Dukuh
Paruk.
"Apa sampean berdua tidak mengerti semua ini terjadi karena ada sesuatu antara
cucuku dan Rasus?" kata Sakarya, nadanya menuduh. "Dua kali sudah Srintil
menampik panggilan naik pentas. Kini dia malah minggat. Bagaimana ini?"
Nyai Kartareja mendan ludah. Dia teringat akan telur wukan yang ditanamnya diamdiam
dalam bilik Srintil. Heran, mengapa kali ini ikhtiarnya tidak mempan.
"Nanti dulu," sela Nyai Sakarya. "Apabila Srintil suka kepada Rasus, apa salahnya kita
membantu agar mereka bisa kawin?"
Sakarya diam. Kakek Srintil itu menangkap kebenaran dalam kata-kata istrinya. Pada
dasarnya Sakarya merasa mempunyai seorang cucu yang menjadi istri tentara tak
perlu ditolak oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Namun bagi Sakarya masalahnya
memang tidak begitu mudahnya.
"E, lha!" ujar Kartareja tertuju kepada Nyai Sakarya. "Tentu saja tak ada yang salah
bila Srintil kawin dengan Rasus. Itu bila cucumu tidak menjadi ronggeng pengemban
nama Dukuh Paruk."
"Lalu sampean, Sakarya," kata Kartareja ganti kepada kakek Srintil. "Jaga jangan
sampai sampean mempunyai pikiran seperti istri sampean. Ingat kewajiban sampean
sebagai pemangku dan kamitua anak-cucu Ki Secamenggala di dukuh ini. Tanggung
jawab sampean tidak membenarkan sampean mementingkan kepentingan sendiri."
Sakarya terbatuk dan mengangguk.
"Ya. Tetapi sampean berdua harus berusaha membawa kembali Srintil. Kalian harus
menemukan Srintil di mana pun sekarang dia berada."
"Baik. Aku sanggup mencari dan menemukan Srintil," kata Nyai Kartareja penuh
kepastian.
"Nah, begitulah. Namun hati-hati. Sampean tak boleh berlaku kasar terhadap cucuku
meskipun dia telah merepotkan kita," ujar Nyai Sakarya.
"He, kapankah aku menyakiti cucu sampean? Bahkan, siapakah yang telah membuat
Srintil kini mampu memiliki harta dan perhiasan sekian banyak? Sampean menyuruhku
berhati-hati. Tetapi sampean sendiri tidak berhati-hati dalam berkata!"
"Sudah, sudah!" suara Kartareja dan Sakarya terdengar hampir bersamaan.
11
***
Matahari masih terik ketika Srintil turun dari andong di depan pasar Dawuan. Titik-titik
keringat di pucuk hidungnya. Tengkuk dan pipinya segar dan hidup, memberi kesan
kulit seorang anak usia sepuluh tahun. Bahwa Srintil sebenarnya tidak siap
mengunjungi pasar terlihat dari roman mukanya yang beku serta pakaian dan
rambutnya yang demikian acak-acakan.
Namun dalam keadaan demikian keremajaan Srintil kelihatan wajar. Kalaulah ada
sesuatu yang menodainya, maka hanya orang-orang yang sangat berpengalaman yang
bisa mengetahuinya. Lihatlah kedua pangkal alis ronggeng itu yang mulai turun masuk
ke cekungan rongga mata. Bagi orang-orang yang sangat berpengalaman hal itu
adalah tanda bahwa seorang perempuan betapapun muda usianya, sudah memasuki
keaktifan kehidupan berahi.
Setelah membayar ongkos andong, Srintil tidak segera memasuki pasar melainkan
hanya membuat beberapa langkah ke tepi jalan. Belum sekaii pun Srintil kelihatan
begitu canggung dan asing di pasar Dawuan. Dia tetap berdiri di tepi jalan hingga
beberapa waktu lamanya. Tatapan matanya kosong, tanpa makna.
Biasanya kedatangan Srintil di pasar Dawuan menimbulkan gairah yang spontan.
Orang-orang lelaki bersiul-siul atau membuat seloroh erotik. Orang-orang perempuan
mengintip tangan, telinga, atau leher Srintil untuk mengetahui adakah perhiasanperhiasan
baru di sana. Kemudian menyusul celoteh spekulasi; gendak Srintil kali ini
adalah si Anu atau Bapak Anu, pangkatnya ini atau kerbaunya sekian belas.
Tetapi hari itu orang-orang pasar Dawuan banyak menahan diri. Srintil memasuki
pasar dengan mendung membayangi wajahnya. Mulutnya terkatup dengan garis bibir
datar lurus. Pangkal alisnya bertemu pada lipatan di tengah dahi. Dalam kesan
keseluruhan Srintil siap menampik segala bentuk seloroh dan senda-gurau.
Orang-orang melihat Srintil dengan pandangan mata mengandung tanda tanya.
Perempuan-perempuan saling berbisik. Celoteh ringan mulai terdengar dari sudutsudut
pasar.
"Ada apa, dunianya kelihatan gulita?" kata perempuan pedagang ubi kepada rekan di
sebelah. Sudut matanya terarah kepada Srintil.
"Nah, saya bisa mengira-ngira," jawab temannya. "Kalau ada seorang ronggeng
merengut seperti itu tentu telah terjadi sesuatu dengan pamongnya."
"Maksudmu, Nyai Kartareja?"
"Ya. Seorang dukun ronggeng suka mengatur segala urusan, bahkan sering kali ingin
menguasai harta anak asuhannya."
"Itu cerita lama. Aku tahu seorang ronggeng sering kali dianggap sebagai ternak
piaraan oleh induk semangnya. Lihatlah dalam musim orang berhajat atau masa lepas
panen; ronggeng naik pentas setiap malam. Siang hari dia mesti melayani laki-laki
yang menggendaknya. Sementara itu yang mengatur semua urusan, lebih-lebih
urusan keuangan, adalah si dukun ronggeng. Kasihan, kan? Sebaliknya, kini suamiistri
Kartareja menjadi kaya, kan?"
"E! Kalian sedang bicara apa? Srintil yang kelihatan kusut itu?" kata perempuan ketiga
yang datang bergabung. "Kalian jangan berpikir yang bukan-bukan. Dengar. Srintil
berada di sini dalam usaha melarikan diri dari tangan seorang laki-laki yang tidak tahu
diri. Laki-laki itu kukira, tidak mau tahu bahwa Srintil sedang datang bulan. He-he-he."
12
"Ah, mana bisa begitu. Perhatikan sekali lagi, kain Srintil tak bernoda, tumpalnya tidak
dilipat. Jadi dia dalam keadaan bersih."
"Kita memang telah berbicara berlebihan. Kukira Srintil seperti kita juga yang kadang
merasa demikian sebal terhadap laki-laki. Jadi yang menyebabkan Srintil murung
adalah perkara sederhana. Dia sedang diamuk rasa jenuh dan muak terhadap laki-laki.
Itu saja."
Celoteh di sudut pasar itu berhenti karena kehabisan bahan. Perempuan-perempuan
itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk
satu lincak bersama perempuan pemilik warung. Karena penampilan Srintil yang kaku,
perempuan penjual lontong itu menjadi salah tingkah.
"Man makan, Jenganten?"
"Tidak, Yu. Aku hanya mau minum dan beristirahat sebentar di sini. Boleh kan?" jawab
Srintil tanpa melihat pemilik warung.
Sejumlah besar air dingin yang bening dihabiskan Srintil. Apabila air mampu
menghidupkan kembali tanah yang mati atau menggugah biji-bijian agar tumbuh
menjadi kecambah, maka air pulalah yang bisa menjinakkan kegelisahan Srintil
dengan pertama-tama memperlambat denyut jantungnya.
Suara itu adalah suara paling akrab yang dikenal Srintil sejak masa kanak-kanak.
Suara ibu tak pernah didengarnya karena Srintil jadi yatim-piatu sejak bayi. Mata Nyai
Sakarya yang sudah begitu redup karena usia masih mampu memberi daya kepada
Srintil yang kemudian bangkit perlahan-lahan. Sentuhan telapak tangan renta yang
jatuh di pundaknya terasa sejuk di hati Srintil. Dia berjalan menunduk ke luar pasar
Dawuan dalam rangkulan neneknya, menggigit bibir, dan matanya kembali berkacakaca.
Seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk berjalan merangkul cucunya. Nyai Sakarya
maupun Srintil membisu. Namun dalam hati masing-masing sudah tumbuh
kesepakatan; mereka berdua hendak pulang ke Dukuh Paruk. Pedukuhan kecil yang
terasing di tengah sawah itu adalah ibu mereka. Haribaan dan pelukannya teduh dan
mesra.
Mereka berhenti di sebuah angkruk di luar Dawuan sambil menanti saat senjakala
lewat. Dalam kegelapan yang mulai membayang keduanya tetap bungkam. Nyai
Sakarya sudah tahu mengapa cucunya melarikan diri dan Srintil sudah tahu pula
mengapa Nenek mencarinya. Kemudian keduanya melayangkan ingatan masingmasing
kepada dua hal yang berbeda. Nyai Sakarya teringat akan orang tua Srintil –
anaknya sendiri – yang kedua-duanya meninggal dalam malapetaka racun bongkrek
ketika Srintil baru berusia lima bulan. Duka cita masa lalu yang tak mungkin
terlupakan kini menjelma menjadi rasa sayang yang amat sangat terhadap cucunya.
Sementara Srintil yang tidak tahu-menahu soal malapetaka tempe bongkrek itu hanya
teringat akan Rasus. Dan Rasus kini menjadi sebuah teka-teki yang menyakitkan
setiap kali bayangannya muncul di hati Srintil. Anak Dukuh Paruk itu entah di mana
sekarang. Srintil merasa ditinggalkannya dengan cara yang paling tidak berperasaan.
Perjalanan ke Dukuh Paruk diteruskan ketika bintang-bintang mulai terang. Lepas dari
jalan besar Srintil dan neneknya menapak pematang yang lurus menuju Dukuh Paruk.
Gerumbul kecil itu meremang di kejauhan. Kiri-kanan pematang adalah hamparan
sawah yang sangat luas dan kini ditanami berbagai palawija. Burung bence yang selalu
berteriak-teriak bila ada manusia berjalan dalam gelap terbang hanya beberapa depa
13
di atas kepala cucu dan nenek itu. Suaranya berisik, seakan-akan seluruh malam
adalah miliknya yang sedang diusik.
Agak jauh di depan sepasang sinar kebiruan bergerak menyeberang pematang diikuti
oleh dua pasang lainnya. Srintil merapat ke tubuh neneknya.
"Belacan yang mengiringkan anak-anaknya." kata Nyai Sakarya yang mengerti akan
ulah Srintil. Namun Srintil kembali merapat ke tubuh neneknya ketika terdengar
kegaduhan tak jauh di sampingnya. Sesaat kemudian samar-samar terlihat seekor
unggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya. Burung hantu
telah mendapat mangsa pertama di awal malam. Dia terbang megah sementara jerit
tikus mangsanya terdengar makin jauh makin sayup.
Malam telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk.
Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa
mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang-beralih memberi kesan hidup pada rentang
langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya dia
menimbulkan rasa inferior; betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di
bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi
semut kceil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti
sedikit pun.
Tampi berjalan terburu-buru menuju rumah Sakarya. Goder, anaknya yang baru
sepuluh bulan melekat di balik kain embanannya. Tangan kanan Tampi memegang
sesuatu yang terbungkus tumpal kain. Sesisir pisang raja; yang ini buat Srintil yang
sudah beberapa hari tergeletak sakit. Badannya mulai kurus, wajahnya pucat. Kesan
kesegarannya, ciri utamanya yang paling menonjol selama ini, hampir lenyap. Srintil
enggan bercakap-cakap dengan siapa pun, enggan makan, bahkan senyumnya yang
sangat khas hilang sama sekali.
Nah, kecuali pada saat Goder kecil datang bersama emaknya. Pesona bayi adalah
pesona bunga-bunga, pesona mayang pinang yang terurai dari kelopaknya di pagi hari
atau pesona biru bunga bungur di awal musim kemarau. Ulahnya selalu menawan,
bahkan bau badan dan mulutnya adalah kesegaran ajaib yang hanya alam sendiri
mampu menciptakannya. Sinar matanya yang polos bening mampu memadamkan
murka seorang ayah. Bayi adalah kesejukan alam seperti demikian adanya sehingga
seorang ibu misalnya, takkan marah bila pangkuannya terkena kencing, bahkan tahi
bayinya. Seorang bayi pastilah lebih dari anak kandung ibunya karena dia
sesungguhnya adalah anak kandung alam yang paling sah. Maka siapa pun yang mau
jujur dengan nuraninya akan mengakui bahwa semua bayi hidup dalam alam yang
penuh rahmat. Siapa yang merasa sedang diamuk rasa tidak menentu bisa
mendapatkan keteduhan bila dia mau menyelinap ke dalam dunia bayi.
Srintil yang sedang merana secara ragawi maupun rohani bisa merasakan keajaiban
suasana yang dibawa oleh si kecil Goder. Meski badannya lemah dia berusaha duduk
dan meminta Tampi menyerahkan bayinya. Demikian setiap hari bila Tampi
menjenguk Srintil di rumah Sakarya.
"Kula nuwun..."
"Oh, ya. Tampi, bukan? Mari masuk," ujar Nyai Sakarya menyilakan tamunya.
"Bagaimana keadaan Srintil, Nyai?"
14
"Lihatlah sendiri di kamar. Wah, harus bagaimana aku ini. Srintil masih enggan makan.
Ketupat dia tak mau, lontong yang kuberikan tadi pagi masih utuh sekarang. Bubur,
apalagi."
Kamar tidur Srintil yang sesungguhnya berada di rumah Kartareja. Di sanalah dia
sebagai ronggeng menerima tamunya. Kamar di rumah Kartareja itu mewah menurut
ukuran Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari besi pejal, kasurnya tebal dan
berkelambu. Orang seperti Tampi tak berani masuk ke dalam kamar seperti itu karena
rikuh.
Sementara di rumah neneknya, Srintil tidur dalam kamar seperti milik kebanyakan
orang Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari bambu seluruhnya kecuali empat
tiang penyangganya. Alasnya adalah tikar pandan dengan dua bantal yang sudah
lusuh. Masuk ke dalam bilik seperti itu tak ada keraguan sedikit pun di hati Tampi.
"Bagaimana, Srin?" tanya Tampi setelah melangkahi pintu bilik.
Tubuh yang tergolek itu hampir tak memberi tanggapan apa pun. Matanya kosong dan
cekung.
"Ini kubawa untukmu pisang raja yang matang di pohon. Wangi sekali," sambung
Tampi. Bawaannya diletakkan di samping tubuh Srintil.
"Ah, Yu. Aku tak ingin makan apa pun. Yang kuharapkan dari sampean bukan
makanan melainkan anakmu. Nah, turunkan Goder biar bermain bersamaku.
Tanganku sudah gatal ingin menimangnya. Mari."
Tampi tidak bisa menolak permintaan itu meski dia merasa kasihan ketika melihat
Srintil dengan tenaga yang sudah lemah berusaha bangun. Sebelum berpindah tangan
Goder menatap emaknya, kemudian berganti menatap Srintil. Yang sedang dicari oleh
sepasang mata bening itu adalah ketulusan hati. Seorang bayi dengan hati yang
demikian bersih akan segera tahu sikap palsu di balik keramahan dan kehangatan
yang dibuat-buat. Dia pasti akan menangis di tangan seorang yang tidak bersikap
tulus.
Di pangkuan Srintil, Goder tidak menangis bahkan melonjak-lonjak gembira. Ditariktariknya
tali kutang Srintil yang membuat ronggeng itu meringkik geli.
"Eh, kamu masih kecil. Nanti, kalau kamu sudah besar!" ujar Srintil.
"Bukan apa-apa, Srin. Goder hanya mau netek." "Ya, memang. Tetapi bocah bagus ini
memang nakal. Seperti ayahnya, barangkali."
Dua orang perempuan tertawa bersama. Tak ada kesan bahwa seorang di antara
keduanya benar-benar dalam keadaan sakit. Nyai Sakarya memanggil Tampi dari luar
bilik.
"Kemarilah kamu, Tampi. Biarkan anakmu bergurau dengan Srintil."
Tampi menurut dan keluar dari bilik Srintil dengan wajah gembira; kegembiraan
seorang ibu bila anaknya mendapat perhatian khusus orang lain. Apalagi Srintil adalah
warga Dukuh Paruk yang terkenal.
Dari luar bilik Tampi dan Nyai Sakarya masih mendengar ceria di balik dinding bambu.
Keduanya tersenyum-senyum karena bisa menghayati sepenuhnya kata-kata Srintil
kepada Goder. Bukan hanya itu mereka juga bisa membayangkan gerak-gerik Srintil
ketika berkata,
15
"Cah bagus, bila kamu sudah besar nanti ini buat siapa? Buat saya, boleh, kan?"
Atau,
"Malam ini kau tidur bersamaku di sini. Tak apa-apa, sungguh. Paling-paling akan
kucubit pipimu yang kenes ini. Paling-paling akan kucubit pantatmu yang gempal ini.
Huh!"
Kasak-kusuk di dalam bilik itu terus berlanjut berselang-seling antara tawa ringan dan
suara gemas Srintil. Goder ngoceh amat lucu dan menangis bila Srintil terlalu
bernapsu menciumnya. Ketika Srintil meringkik agak keras Tampi dan Nyai Sakarya
masuk ke dalam bilik. Mereka melihat Srintil meringis menahan rasa geli dan sakit;
Goder bergayut pada tetek ronggeng itu.
"He, kamu sedang meneteki Goder?" seru Nyai Sakarya terheran-heran. "Mana bisa,
kamu belum pernah melahirkan. Tetekmu belum berputing."
Srintil menggeliat, meringis sambil menahan napas. Tetapi dia bertahan ketika Tampi
hendak mengambil Goder dari tangannya. Coder menangis, entah karena tetek Srintil
tidak mengeluarkan air susu atau karena dia merasakan ada ketegangan menyelimuti
ibunya, Srintil, dan Nyai Sakarya.
"Nah, apa kataku," ujar Nyai Sakarya. "Mana mungkin kau bisa meneteki bocah bila
tetekmu kosong. Lagi pula seorang perempuan yang sedang menyusui harus banyak
makan, terutama sayuran. Sedangkan kau sudah empat-lima hari ini tidak makan apa
pun. Pokoknya tidak mungkin!"
Srintil mengalah dan hendak menyerahkan Goder kepada Tampi. Dan pada saat yang
sama terpancarlah kencing dari kulup bayi itu. Srintil basah pada bagian perutnya,
tetapi dia malah tertawa gembira.
Hari-hari selanjutnya Srintil makin larut dalam dunia Goder, larut dalam ocehan bayi
yang lucu menawan. Sentuhan kulit bayi itu menggugah perasaan aneh pada diri
Srintil. Demikian, maka entah apa yang dirasakan Srintil ketika dia membenamkan
hidung dalam-dalam ke pipi Goder. Pada saat seperti itu Srintil kadang merasa begitu
dekat dengan Rasus, kadang dia merasa dirinya adalah ibu kandung Goder tak kurang
suatu apa. Ibu kandung yang dengan senang hati menyediakan diri menjadi tanah
bagi sebutir kecambah yang sedang tumbuh, menjadi air yang mengalirkan kasihsayang,
dan menjadi pagar pelindung bagi si kecambah. Amanat alam ini entah
mengapa, menggema dalam sanubari Srintil dan biasnya mencapai fitrah keibuannya.
Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi Tampi. Sering kali Srintil menyuruh,
jelasnya mengusir Tampi pulang bila Goder sudah di tangannya. Hasrat meneteki
Goder telah berubah menjadi renjana jiwanya, renjana hatima, dan renjana sistem
ragawinya. Maka alam jangan disalahkan bila Dia menggerakkan kelenjar air susu
Srintil bekerja meskipun ronggeng itu belum pernah melahirkan dan bukan pula dalam
masa menyusukan. Ketika kali pertama Srintil sadar teteknya mengeluarkan air susu
maka dia berurai air mata. Namun semangat hidupnya bangkit segera. Srintil kini
banyak makan, banyak minum air sayur, bahkan minta diramukan jamu pelancar air
susu. Hanya dalam beberapa hari tubuhnya kembali segar dan kelihatan lebih hidup.
Lihatlah seorang perempuan tujuh belas tahun dengan sepasang tetek yang penuh.
Adalah di sana gabungan antara kesegaran remaja dan citra kematangan seorang ibu;
dua unsur utama pesona perempuan bertemu pada diri seorang ronggeng Dukuh
Paruk.
16
Srintil makin mempesona. Orang-orang Dukuh Paruk terutama yang tua-tua mengaku
baru sekali inilah pedukuhan kecil itu memiliki seorang ronggeng yang demikian
cantik. Tetapi sesungguhnya orang-orang Dukuh Paruk tidak akan puas dengan
kecantikan Srintil. Mereka baru benar-benar puas bila Srintil sudah kembali berjoget,
kembali ke pentas ronggeng. Kecuali Tampi, tak seorang Dukuh Paruk pun
berkepentingan dengan Srintil yang ke sana kemari membopong bayi. Mereka tak
peduli bahwa bayi itu telah menjadi bagian hidup Srintil dan terbukti telah berhasil
memberinya motivasi baru dan gairah baru dalam hidupnya. Terlebih lagi orang takkan
peduli karena tidak tahu bahwa ketika meneteki Goder, Srintil merasakan kepuasan
seksual yang setidaknya mengurangi kebutuhan seksual yang sebenarnya. Orangorang
Dukuh Paruk tidak peduli semuanya. Mereka hanya ingin melihat Srintil kembali
menari dan menari. Bagi mereka apalah arti seorang ronggeng yang tidak menari, dan
apalah arti Dukuh Paruk tanpa suara calung serta lenggang-lenggok seorang
ronggeng. Anggapan seperti itu terutama melekat demikian kuat pada diri Sakarya,
Kartareja, dan istrinya. Sakarya bukan hanya kakek Srintil; dia adalah orang yang
dituakan di Dukuh Paruk dan merasa mengemban amanat Ki Secamenggala untuk
memangku kelestarian Dukuh Paruk dengan segala coraknya. Pada masa hidupnya,
pada bcberapa generasi lalu, Ki Secamenggala – moyang semua orang Dukuh Paruk –
bukan hanya penggemar ronggeng. Tokoh bromocorah ini memberi wasiat turuntemurun
agar ronggeng dan calung menjadi bagian lestari pedukuhan kecil itu.
Termangu-mangu di atas lincak, Srintil merasakan kesejukan air sedang mendinginkan
badannya yang semula panas oleh terik matahari dan panas oleh galau pikirannya.
Sementara itu di dalam hatinya sedang berlangsung penataan kembali keimbangan
antara emosi dan rasa. Proses penguasaan diri yang berlangsung dalam diam itu
ternyata menghabiskan banyak tenaga, terbukti dari terbitnya titik-titik keringat di
seluruh permukaan kulit ronggeng Dukuh Paruk itu. Suatu kegiatan metabolik dalam
intensitas tinggi yang kemudian menuntut mekanisme tubuh Srintil beristirahat.
Denyut kantuk pertama kelihatan pada kerdipan mata Srintil yang lamban. Ketika itu
Srintil melihat bayangan Rasus muncul di hadapannya. Namun angin yang berembus
pelan membuat matanya semakin redup. Rasa kantuk tak tertahankan lagi olehnya.
"Yu, aku sangat ngantuk. Aku mau tidur di sini barang sebentar. Boleh kan?" kata
Srintil sambil merebahkan diri. Pelupuh lincak berderit.
"E, Jenganten ini bagaimana? Orang mengatakan, tidak boleh orang tidur di warung.
Ora ilok, nanti warungku tidak laku. Nanti..."
Perempuan pedagang lontong itu tidak ingin berkata lebih jauh karena melihat
kenyataan di hadapannya. Rasa keibuannya tergugah oleh sebentuk tubuh yang
tergolek demikian damai. Sosok Srintil yang muda dan lentur, wajah yang teduh dalam
tidur mengingatkan perempuan itu akan anaknya yang masih bayi dan kini ditinggal
bersama neneknya di rumah.
Dalam keadaan lelap keakuan Srintil hampir punah. Menjadi tidak penting lagi apakah
dia bernama Srintil atau apakah dia ronggeng Dukuh Paruk. Tak ada lagi atribut apa
pun yang tepat bagi sebuah subyek yang kini terdampar di atas lincak itu. Dia hanya
pantas disebut sebagai bagian alam yang bernama anak manusia yang jelas sekali
ingin mengundurkan diri barang sejenak dari keakuannya. Yang serempak muncul ke
permukaan adalah kesan memelas, kesan yang menjadi daya tarik utama seorang
bayi.
Ternyata bukan hanya pedagang lontong yang bersimpati kepada Srintil, melainkan
juga sebagian besar orang yang berada di pasar Dawuan. Alam menagih janji kepada
17
mereka; alam yang setiap hari mengasah naluri mereka sehingga mereka dapat
merasakan bahwa Srintil sedang berada dalam kesempitan sehingga pantas mendapat
pembelaan. Tidaklah penting bagi orang-orang pasar Dawuan itu untuk mengetahui
apa sebenarnya yang membuat Srintil tampak merana. Manifestasi sikap mereka
menjadi jelas ketika satu jam kemudian muncul Nyai Kartareja di gerbang pasar
Dawuan. Perempuan-perempuan penjual ubi melihat wajah kaku istri dukun ronggeng
itu. Sorot mata yang keruh dan rambut yang disanggul tinggi-tinggi memperkuat
kesimpulan bahwa sedang ada ketegangan antara Nyai Kartareja dan Srintil. Atas
dasar tuntunan naluri yang paling bersahaja orang-orang pasar Dawuan bertindak
melindungi ronggeng Dukuh Paruk itu.
"Ah, Nyai Kartareja. Sampean sedang mencari Srintil, bukan?" tanya seorang
perempuan pedagang ubi. Yang ditanya mengangguk kaku.
"Nah, dia tidak ada di sini. Kulihat Srintil tadi terus ke selatan."
"Seorang diri?"
"Ya. Dan Srintil kelihatan sangat murung. Ada apa ya, Nyai Kartareja?"
Pertanyaan yang bernada campur tangan itu menyinggung perasaan Nyai Kartareja.
Dia tidak menjawab, bahkan berbalik keluar pasar Dawuan dalam langkah yang
panjang-panjang.
Kegiatan pasar Dawuan sebenarnya hanya berlangsung pagi hari. Setelah matahari
tergelincir sebagian pedagang sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tinggal
adalah mereka yang tidak mungkin setiap kali membawa dagangannya pulang-balik.
Mereka adalah penjual barang-barang tembikar, penjual tikar, pedagang ubi, serta
pemilik warung makanan yang melayani pembeli hingga sore hari. Para pedagang
keliling juga menggunakan pasar Dawuan sebagai terminal peristirahatan.
Pada sore hari banyak los berisi orang yang menggelar tikar; tidur berleha-leha atau
duduk berkeliling, bermain kartu. Udara yang panas membuat orang-orang kehilangan
gairah bekerja. Mereka mengharapkan suasana yang santai.
Seperti burung perkutut di pohon kenari di belakang pasar. Tubuhnya lenyap dalam
kerimbunan dedaunan agar bebas dari sengatan sinar matahari. Namun merdu
suaranya mencapai si betina jauh di seberang sana. Bila yang dipanggil sudah datang
maka perkutut jantan mengubah nada suaranya menjadi lebih rendah dan lembut.
Demikian lembut sehingga terdengar baur dengan suara angin yang menyapu
pepohonan. Sepasang burung perkutut merasa perlu menciptakan suasana pribadi
untuk mencari keselarasan dengan alam. Udara yang panas, angin yang berembus
pelan, dan suara perkutut adalah sebuah harmoni yang bersumber dari naluri alam
sendiri.
Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter bersama Ciplak, istrinya. Pasangan
penjaja musik kecapi itu tahu betul saat yang tepat di mana musiknya menjadi
kebutuhan para pelanggan. Mereka muncul di pasar Dawuan ketika orang-orang di
sana berada dalam puncak kebosanan pekerjaan rutin. Sehabis bekerja sepanjang pagi
hari orang-orang pasar itu mengharapkan kedatangan suasana selingan yang lebih
renyah dan ringan.
Wirsiter dan istrinya tak pernah rela disebut tukang ngamen, apalagi disebut sebagai
pengemis yang berpura-pura menjual musik. Mereka tidak akan menggelar musik di
hadapan siapa pun, termasuk pelanggan yang tidak memintanya. Untuk mendukung
sikap ini mereka selalu tampil bersih. Pakaian mereka selalu rapi; Wirsiter dengan
18
blangkon, baju lurik serta kain batik yang diwiru. Istrinya selalu muncul dengan kain
kebaya lengkap dengan selendang dan konde berhiaskan bunga melati. Bibir mereka
merah karena keduanya makan sirih.
Ada berbagai perkakas musik untuk menerjemahkan irama, keselarasan, bahkan
renjana alam. Orang Dukuh Paruk misalnya percaya penuh bahwa calung adalah
perkakas yang tiada taranya untuk menampilkan irama denyut jantung yang meriah
dan hangat dalam rangsangan berahi. Kalau orang ingin bertanya di manakah letak
kekuatan musik calung, jawabnya sangat bersahaja; yakni kesederhanaannya. Bukan
berarti orang dengan mudahnya memotong-motong bambu, merangkainya kemudian
jadilah perangkat calung. Sederhana artinya, orang harus membatasi diri dalam
campur tangannya ketika mereka-reka bambu. Persyaratan-persyaratan yang bersifat
alami lebih menentukan mutu perangkat calung daripada keahlian tangan
pembuatnya.
Sementara itu suami-istri Kartareja adalah dukun ronggeng. Merekalah yang paling
tahu segala tetek-bengek dunia peronggengan dan mereka menggunakan
pengetahuan serta statusnya sebagai dasar mata pencarian. Dari ongkos pentas
mereka mengambil bagian yang kadang-kadang lebih besar daripada bagian yang
diterima Srintil. Dan keuntungan yang lebih besar lagi diterima oleh suami-istri
Kartareja manakala mereka bertindak sebagai mucikari. Seorang laki-laki yang mabuk
kepayang terhadap Srintil dan ingin tidur bersamanya barang satu-dua malam harus
melalui perantaraan Nyai Kartareja. Maka baginya untuk sementara tak mengapalah
kalau Srintil masih enggan menari asalkan dia mau melayani laki-laki yang
menginginkannya.
Ketika suatu malam Marsusi muncul kembali di Dukuh Paruk, tibalah saat bagi Nyai
Kartareja meminta Srintil kembali kepada kebiasaan semula. Dalam mempengaruhi
Srintil, Nyai Kartareja menggunakan segala kemampuannya karena dia tahu Marsusi
pastilah membawa kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Perhiasan seperti
milik istri lurah Peeikalan itu telah lama menjadi buah mimpinya. Tetapi kepada
Marsusi dia mengatakan Srintil-lah yang menginginkannya.
Malam itu Srintil sedang berada di rumah kakeknya, Sakarya, mengayun-ayun Goder
dalam embanannya. Bahwa Nyai Kartareja akan datang menyusulnya sudah
diperhitungkan oleh Srintil ketika dia mendengar deru sepeda motor memasuki Dukuh
Paruk. Kebimbangan mulai membayang pada wajahnya. Srintil belum siap mengambil
sikap apa pun. Yang pasti Srintil merasa tidak seperti dulu lagi. Semangat hidupnya
sebagian besar tersita oleh bayi gemuk yang kini lekat dalam embanannya. Kehidupan
angan-angannya terlanjur terpaut kepada anak Dukuh Paruk yang jadi tentara dan kini
entah di mana, Rasus. Maka mengapa tidak ada orang tahu sebenarnya Srintil terkejut
ketika menyadari bahwa Dukuh Paruk masih mengharuskan dirinya melayani laki-laki
yang datang. "Jadi Dukuh Paruk tidak mengerti bagaimana aku sekarang," keluhnya.
Dukuh Paruk dengan orang-orangnya memang tidak tahu banyak. Mereka hanya tahu
Srintil jatuh hati kepada Rasus dan bertepuk sebelah tangan. Apa dan sejauh mana
akibat penampikan Rasus terhadap Srintil tak pernah diperkirakan orang.
Ketika berbaring sakit beberapa hari lamanya Srintil merenungkan pengalamannya
dengan dunia laki-laki. Selama ini Srintil hanya menurut kepada Nyai Kartareja, lalu
menerima uang atau perhiasan. Betapapun dirinya seorang ronggeng Srintil merasa
tidak mempunyai perbedaan dengan perempuan lain. Dia memiliki perasaan khusus
terhadap laki-laki tertentu dan dia merasa harus memiliki kesempatan memilih. Adalah
peruntungan Srintil mengapa laki-laki yang dipilih untuk dijadikan muara segenap hati
19
dan perasaarmya adalah Rasus; dia yang secara halus telah menampik dan
meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan.
Srintil masih terlalu muda untuk memahami keretakan-keretakan yang terjadi dalam
dirinya sendiri. Pada mulanya Srintil merasa sedih dan putus asa. Kemudian seperti
yang diajarkan oleh Dukuh Paruk, Srintil menganggap semua kegetiran yang
dialaminya merupakan bagian garis hidup yang harus dilaluinya. Maka pada dasarnya
Srintil pasrah dan nrimo saja. Dalam hidup ini orang harus nrimo pandum; ikhlas
menerima jatah, jatah yang manis atau jatah yang getir.
Tetapi bahkan Srintil sendiri tidak merasa bahwa sesuatu telah menyusup ke alam
bawah sadarnya. Sesuatu itu adalah benih melembaga yang kelak akan mengubah
sikap Srintil terhadap semua laki-laki. Pada taraf pertama citra laki-laki yang
berkembang di hati Srintil adalah dua wajah yang kesemuanya jauh dari
menyenangkan. Pertama adalah laki-laki jenis lembu jantan atau bajul buntung seperti
kebanyakan mereka yang datang kepadanya. Mereka mendengus dan menggeram
seperti macan berhasil menerkam menjangan. Hampir semua dari mereka tidak
mempunyai latar perkenalan sebelumnya dengan Srintil. Melayani laki-laki yang baru
dikenalnya mula-mula tidak mendatangkan masalah batiniah pada diri ronggeng itu.
Tetapi pengalaman yang sama bersama Rasus, laki-laki belia yang dikenalnya sejak
masa kanak-kanak dengan ikatan batin yang kuat, memberi Srintil sebuah
perbandingan yang timpang. Sangat jauh berbeda; lebih berkesan, lebih banyak
mengandung makna karena bukan hanya raga melainkan juga jiwa yang menyatu.
Lainnya adalah laki-laki jenis munyuk yang lemah Mereka cengar-cengir, dan begitu
mudah takluk tak berdaya di hadapan seorang ronggeng cantik seperti Srintil. Mereka
rela kehilangan apa saja kemudian merengek hampir mengemis. Kalau mau Srintil bisa
memberi segala perintah kepada mereka seperti kacung. Para lelaki seperti itu
gampang sekali bermulut bocor, menceritakan keburukan istri sendiri kepada Srintil.
Dengan cara seperti ini mereka mengharap simpati ronggeng itu untuk menciptakan
suasana yang lebih manis bersamanya. Nah, Srintil justru luar biasa benci kepada lakilaki
seperti itu.
Wajah yang kedua adalah laki-laki jenis Rasus dan Rasus sendirilah modelnya. Dia
tangkas seperti anak kijang, harga dirinya hampir mencapai taraf congkak dan tidak
merengek apalagi mengemis. Rasus memberi karena Srintil meminta atau Srintil
meminta dan Rasus memberi. Sebagai laki-laki kepribadiannya menggaris jelas. Rasus
memang masih muda tetapi di hati Srintil dia memberi gambaran sebuah pohon kukuh
dengan bayangan yang teduh tempat orang bernaung.
Sayang sekali betapapun Srintil mengagumi Rasus, laki-laki itu telah membuat luka di
hatinya. Seperti semua laki-laki lain Rasus pun ikut menyelipkan benih kekecewaan di
alam bawah sadar Srintil. Dalam wawasan ini Srintil tidak bisa melihat beda antara dua
wajah laki-laki itu. Semuanya mengecewakan, semua merangsang Srintil membuat
suatu perhitungan.
Srintil tersadar karena Goder menggeliat dalam embanannya. Kepada neneknya,
Srintil minta diri hendak pulang ke rumah Kartareja. Suami-istri Sakarya cepat
tanggap dan menilai tindakan cucunya sebagai perubahan yang baik. Bukan hanya
karena Srintil sudah sekian lama tidak mau menjenguk rumah pamongnya, melainkan
juga karena kakek dan nenek itu telah mendengar suara sepeda motor yang berhenti
di depan rumah Kartareja. Menurut perkiraan Sakarya dan istrinya, Srintil hendak
menjumpai tamunya, ini berarti cucunya itu telah kembali seperti semula dan telah
melupakan Rasus. Nenek dan kakek Srintil saling berpandangan dan tersenyum.
20
"Kalau kau hendak pergi menemui tamumu, sebaiknya kembalikan dulu Goder kepada
emaknya. Atau tinggalkanlah dia bersamaku di sini," kata Nyai Sakarya.
"Tidak, Nek. Biarlah anak ini tetap bersamaku," jawab Srintil di luar pintu.
Calung yang sempurna hanya dihasilkan dari bambu hitam yang betul-betul kering.
Tetapi orang tidak boleh menjemurnya, apalagi memanggangnya di atas api. Bambu
itu tidak boleh terluka sebelum ditebang, baik luka oleh manusia atau luka oleh
binatang mengerat atau patah ujungnya selagi masih muda. Dia juga harus lurus dan
langsing. Bambu yang tebal karena terlalu gemuk tidak baik untuk membuat calung.
Para pembuat calung tidak akan mengatakan bahwa tertib yang mereka patuhi itu
adalah cara mereka menempatkan diri dalam keselarasan Sang Empu Agung. Mereka
hanya tahu, dengan tertib itulah mereka akan memperoleh perangkat calung yang
sebenar-benarnya. Bunyinya akan mampu menerjemahkan suara puluhan blentung,
iramanya bisa padu dengan suara curah hujan di atas atap ilalang dan semangatnya
adalah detak jantung yang bergairah.
Sama halnya calung, kecapi pun mengandalkan kekuatan pada kebersahajaannya.
Bentuk umum sebuah kecapi adalah kotak kayu bersegi lima dan memanjang. Pada
salah satu bidangnya direntangkan kawat-kawat dawai. Setiap helai kawat mewakili
sebuah nada. Tangga nada ditentukan oleh tebal tipisnya kawat serta sebuah bantalan
logam tipis yang dipasang miring dan serong. Bantalan serong ini mengatur jenjang
panjang kawat-kawat dawai.
Tentang sebuah kecapi hendaknya orang tidak menanyakan soal presisi nada, patokan
umum, apalagi menerapkan pengetahuan akustik terhadapnya, setidaknya terhadap
kecapi milik Wirsiter. Seniman keliling itu tidak belajar teori tetek-bengek. Dengan
alatnya yang demikian sederhana Wirsiter dan istrinya melagukan keserasian alam.
Guru mereka adalah kelap-kelip ribuan kunang ketika jatuh gerimis senja hari. Atau
lintasan buih yang hilang-tampak di antara bebatuan atau curah hujan yang menerpa
permukaan telaga yang tenang. Rasa dalam kesadaran sempurna; itulah guru utama
Wirsiter dan istrinya.
Jadi Wirsiter bersama istrinya pergi ke sana kemari menjajakan musik yang
memanjakan rasa, yang sendu, dan yang melankolik. Musiknya tidak membuat orang
bangkit berjoget, melainkan membuat pendengarnya mengangguk-angguk menatap
ke dalam diri atau terbang mengapung bersama khayalan sentimental. Seperti pada
sore hari yang panas itu orang-orang pasar Dawuan tepekur mendengarkan petikan
kecapi Wirsiter. Ciplak membawakan asmara dahana.
Li lali tan bisa lali
Sun lelipur tan sengsaya
Katon bae sapolahe
Kancil desa 'njang talingan
Aku melu karo ndika
Lebu seta sari pohung
Becik mati yen kapiran
Seberkas lagu dan liriknya dibawakan oleh dua orang yang sejak kelahiran mereka
menjadi murid alam. Orang-orang yang sedang berjudi berhenti menjatuhkan kartu.
Yang sedang tiduran berleha-leha mengawang ke alam khayal antara tidur dan jaga.
Perempuan yang sedang mengunyah sirih tetap menggerak-gerakkan mulut, tetapi
pikirannya terbang ke belakang, ke suatu masa yang paling berkesan dalam hidupnya.
21
Barangkali Wirsiter maupun Ciplak tidak bisa mengatakan mengapa mereka lebih
banyak menyanyikan lagu-lagu asmara. Dalam kenyataannya mereka hanya menuruti
selera sebagian besar pelanggan. Atau karena musik kecapi memang paling cocok
untuk melukiskan perasaan asmara. Atau lagi; bila benar bahkan kumbang tahi yang
beterbangan di Dukuh Paruk pun diciptakan atas dasar motiyas, cinta agung, maka
Wirsiter bersama istrinya hanya patuh kepada naluri alam yang paling dasar.
Orang-orang di pasar Dawuan asyik terlena. Segala sesuatu lepas dari perhatian
mereka, tak terkecuali sebuah subyek yang sedang terdampar di atas lincak pedagang
lontong. Musik Wirsiter mengantarkan Srintil ke alam jaga dengan caranya yang paling
santun. Perlahan-lahan Srintil membuka matanya. Namun dia tidak melihat sesuatu
karena pusat indrianya sedang bertumpu pada syaraf pendengaran. Memang, Wirsiter
dan istrinya dengan lagu asmara yang mereka kumandangkan tidak bermaksud
menyentuh hati Srintil. Namun ketidak-sengajaan mcreka tak urung mengusik kelenjar
air mata ronggeng Dukuh Paruk itu.
Srintil bangkit, dan mengusap mata.
Perempuan pedagang lontong menoleh karena mendengar derit pelupuh bambu.
"Oh, sudah bangun, Jenganten? E, lha sampean menangis?"
"Tidak, Yu. Tidak."
"Jenganten ini bagaimana? jelas sekali sampean menangis. Sakit? Atau sebenarnya
apa..."
"Tidak, Yu. Beri aku minum lagi," potong Srintil.
Penjual lontong tertegun. Ditatapnya Srintil yang sibuk mengusap air mata di pipi dan
di kedua lubang hidungnya. Lalu sadar bahwa Srintil bukan kanak-kanak lagi,
karenanya dia layak mempunyai wilayah pribadi yang tak usah diketahui orang lain.
"Anu, Jenganten, makan ya?"
"Aku tidak lapar, Yu."
"Ah jangan berdusta di hadapanku. Aku ini seorang ibu yang sudah cukup usia, jadi
aku bisa membaca tanda-tanda orang yang lapar. Bibir sampean kehilangan
cahayanya. Lekuk di pangkal leher sampean sangat kentara. Dan ketika tidur tadi
perut sampean masuk ke rongga dada. Maka sekarang makanlah. Bila tidak nanti
tubuh sampean bisa rusak. Sayang, bukan?"
Srintil bukan tidak lapar. Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. Masalahnya dia
hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. Namun ketika sepiring nasi
lontong dengan kuah panas siap di hadapannya Srintil mengalah. Hidangan itu
dihabiskannya dalam waktu singkat. Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah
serta pedasnya sambal cabai. Keringat serta air matanya kembali menitik. Citra
hidupnya seakan menggeliat bangkit.
"Nah, benar kataku, bukan? Nasi lontong ini bisa membuat sampean lejar. Tambah,
ya?"
"Terima kasih, Yu. Aku sudah kenyang."
Srintil melangkah dengan pasti dalam kegelapan. Sebenarnya taburan bintang di langit
memberikan cahaya temaram ke bumi. Namun kerimbunan pepohonan di Dukuh Paruk
menyerap cahaya itu sehingga tercipta kegelapan sempurna di bawahnya. Srintil
22
berjalan cepat sambil memeluk Goder erat-erat dalam embanannya. Hatinya mantap
oleh semangat baru yang pasti akan mengejutkan semua orang, namun dia telah
bertekad akan mempertahankannya.
Di depan rumah semangnya itu Srintil berjumpa dengan Nyai Kartareja yang memang
hendak menjemputnya di rumah Sakarya.
"Srintil?"
"Ya, Nyai."
"Wah, bagus! Wong ayu, ada tamu datang. Kau tahu siapakah dia?"
"Tidak."
"Pak Marsusi, kepala perkebunan karet Wanakeling. Berbaik-baiklah melayaninya. Eh,
kau masih membawa-bawa anak si Tampi? Mari, serahkan anak itu kepadaku. Tidak
pantas menemui seorang tamu penting sambil membopong bayi."
Srintil tidak menjawab tetapi membuat gerakan sedemikian rupa sehingga Nyai
Kartareja harus tahu bahwa Srintil enggan berpisah dengan bayinya. Nyai Kartareja
mengerutkan kening karena tidak tahu menerjemahkan sikap Srintil. Akhirnya istri
dukun ronggeng itu mengalah, masuk kembali ke dalam rumah. Srintil mengikutinya
dari belakang.
"Nah, Pak Marsusi, inilah Srintil. Ternyata aku tak perlu bersusah payah
menjemputnya karena dia sendiri yang datang. Kukira Srintil tak akan berbuat
demikian apabila tamu yang datang bukan sampean. Iya kan, Srin?"
Perkenalan basa-basi itu tidak ditanggapi oleh Srintil. Apalagi pandangan mata Marsusi
segera menyergapnya. Memang hanya sesaat tetapi Srintil dapat membaca secara
mendalam makna pandangan seperti itu. Entahlah, kali ini Srintil mulai merasa muak.
Dalam hati Marsusi memercik api yang membakar gairah yang dibawanya dari rumah.
Pengetahuannya tentang Srintil sebagian besar diperolehnya dari penibicaraan umum,
ditambah dengan dua kali melihat ronggeng itu secara langsung. Satu kali ketika
Srintil naik pentas di Pecikalan beberapa bulan yang lalu. Kemudian satu kali lagi di
pasar Dawuan. Kini semuanya menjadi lebih jelas. Apalagi Marsusi merasa Srintil yang
muncul di rumah Kartareja saat itu khusus untuk dirinya. "Ah, pantas. Pantas!" kata
Marsusi dalam hati. Tanpa disadarinya tangannya meraba kantung baju. Di dalamnya
ada seuntai kalung seratus gram dengan bandul berlian.
Srintil tetap berdiri. Goder menggeliat dalam buaiannya. Oh, seorang bayi. Alam jualah
yang memberinya kepekaan luar biasa kepadanya. Dalam tidurnya bayi itu menangkap
keresahan hati ibu yang sedang membuainya. Mata hati bayi yang masih putih mampu
merekam segalanya. Bukan hanya denyut jantung Srintil yang makin cepat, melainkan
juga segala sudut batinnya yang sedang gelisah.
Mengapa tidak muncul pertanda nyata bahwa seorang bayi seperti Goder sudah
merasa bahwa ada pihak lain yang ingin merebut tempatnya di haribaan Srintil?
Mengapa sasmita alam im terlalu lembut sehingga hanya seorang bayi yang mampu
menangkapnya? Dan mengapa seorang bayi tidak mampu membela kepentingannya
yang paling vital sekalipun kecuali hanya dengan cara menangis? Maka apa yang
seharusnya terjadi, terjadilah. Goder menggeliat makin kuat. Kemudian meronta dan
menangis. Makin lama tangisnya makin kuat. Tangis yang sarat makna karena
sesungguhnya alam sendiri telah berbisik kepada Goder, di sana ada sepasang mata
berbinar yang ingin menelan Srintil bulat-bulat.
23
Tak tersisa naluri yang utuh untuk membaca apa yang membuat Goder meronta dan
menangis. Kartareja dan istrinya yang semula sudah menghilang muncul kembali di
ruang tengah. Mereka merasa pasti Goder ingin kembali kepada Tampi, ibu
kandungnya. Maka suami-istri dukun ronggeng itu menyuruh Srintil membawa Goder
kepada Tampi.
"Siapa menyuruhmu repot seperti itu. Kamu kan masih lan, mengapa bersusah payah
mengambil anak orang? Dan itu tamumu! Kamu tahu siapa Pak Marsusi, bukan?"
Srintil tidak ingin menanggapi kata-kata Nyai Kartareja. Dia melangkah ke luar sambil
mengayun-ayun Goder. Gerak-geriknya demikian pantas. Dari mulutnya terdengar
suara desis lembut demi mengajuk bayi dalam embanan, membuat gambaran seorang
ibu tampil dengan utuh. Demikian, maka tak kurang dari Pak Marsusi sendiri hanya
bisa menelan ludah dan menggeleng-gelengkan kepala. Bersama suami-istri Kartareja,
Marsusi duduk membeku ketika mendengar Srintil bersenandung nina bobo di halaman
rumah.
Yun ayun, ayun turu
Turu lah neng ayunan
Anakku si bocah landhung
Mesuk gede dadi rebutan
Yun ayun, ayun turu
Turua si bocah lanung
Cilike tak ayun-ayun
Gedhene ngeman biyung
Angkasa yang kelam sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Tetapi kedip-kedip
bintang adalah kesaksian yang berbicara banyak akan apa yang terjadi di bawah
lengkung langit.
Suara dendang Srintil adalah nyanyian ibu. Berlatarkan bunyi gangsir yang datar dari
berat terciptalah dendang alam yang membawa Goder kembali ke alam damai. Dia
bergerak-gerak lembut kemudian lelap dalam udara malam yang kian sejuk.
"Anak siapakah itu?" tanya Marsusi setelah Srintil berlalu ke dalam.
"Bayi itu anak si Tampi. Entahlah, Pak, Srintil begitu lekat dengan bayi itu," jawab Nyai
Kartareja.
"Ya, aku melihatnya sendiri; seperti ibu dan anak kandungnya."
"Sebenarnya aku tidak suka. Beginilah jadinya. Srintil jadi tidak sempat menghormati
tamu secara semestinya."
"Malam ini aku memang bermaksud mengajak Srintil ke luar. Mungkin dua atau tiga
hari," ujar Marsusi sambil menyalakan rokok.
Srintil meninggalkan pasar Dawuan ketika orang-orang di sana masih asyik menikmati
kecapi Wirsiter. Banyak orang menoleh kepadanya tetapi tanpa komentar. Namun
dalam hati mereka mencatat; baru sekali inilah mereka melihat Srintil begitu lesu dan
murung.
Baru beberapa langkah di luar pasar Srintil berhenti. Rasa bimbang menghentikan
langkah-langkahnya. Perilakunya yang serba canggung menarik perhatian orang-orang
yang melihatnya. Seorang di antara mereka mendekati Srintil dari arah belakang. Lakilaki
berkaus putih dan bercelana hijau tentara itu tak merasa salah ketika tangannya
24
menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata
amarah. "Aku memang ronggeng, maka tangan laki-laki boleh hinggap di mana saja
pada tubuhku. Tetapi kini hatiku bukan lagi ronggeng. Bukan!"
Sayang. Teriakan keras Srintil hanya bergema dalam hati sendiri. Kopral Pujo yang
berdiri satu jengkal di hadapannya tidak mendengar teriakan itu. Namun setidaknya
dia sadar kemarahan Srintil akibat kelancangan tangannya bukan berpura-pura.
"Kira-kira dua jam yang lain Nyai Kartareja datang ke markasku mencari kamu. Wah!
Seorang ronggeng dicari di sebuah markas tentara. Lucu, ya?" kata Kopral Pujo sambil
cengar-cengir untuk menutupi penyesalannya.
"Kamu sudah bertemu Nyai Kartareja?" sambungnya.
"Belum," jawab Srintil tak acuh.
"Kamu disangkanya pergi bersama Rasus."
"Oh?"
"Begitulah. Padahal sudah tiga hari ini Rasus tidak ada di markas. Bersama Sersan
Slamet, Rasus pergi ke markas batalyon."
"Oh? Jadi Rasus tidak ada lagi di sini?"
Kopral Pujo tidak mcnangkap perubahan mendadak pada wajah Srintil.
"Dia anak yang beruntung. Bila pulang nanti Rasus benar-benar sudah jadi tentara.
Punya pangkat, punya gaji. Wah, pokoknya seperti aku ini."
Srintil diam menunduk. Dan mengapa Kopral Pujo tidak mengerti bahwa sedang terjadi
galau yang seru dalam hati perempuan muda di hadapannya? Ketumpulan
perasaannya menyebabkan Kopral Pujo juga tidak berprasangka apa pun ketika Srintil
bertanya,
"Kapankah kira-kira Rasus pulang?"
"Mana aku tahu. Tetapi kira-kira lama. Yang aku tahu, seorang seperti Rasus harus
menempuh pendidikan sebelum resmi diberi pangkat. Di mana dia akan dididik,
entahlah. Aku baru tahu kalau Sersan Slamet kembali ke markas."
"Ya." ujar Srintil lirih.
Kini Kopral Pujo mengerti perubahan pada diri Srintil; matanya yang berkaca-kaca,
sinar wajahnya yang memudar dan napasnya yang terengah-engah. Kopral itu
mengerutkan kening.
"Nanti dulu, Wong Dukuh Paruk! Aku jadi tidak mengerti. Adakah sesuatu antara
dirimu dengan..."
"Tidak, Pak. Tidak!"
Srintil memutar badan lalu berjalan cepat meninggalkan Kopral Pujo yang kemudian
berdiri termangu, kemudian tersenyum sendiri sambil mengangguk-angguk. Dan,
"Hm?" Tentang Rasus dan Srintil, Kopral Pujo hanya tahu keduanya berasal dari Dukuh
Paruk. Selama dalam pergaulan di markas, Rasus tak pernah bercerita tentang
ronggeng itu, apalagi tentang hubungan khusus di antara keduanya.
Entah dorongan apa yang menyebabkan Srintil kembali memasuki pasar Dawuan.
Duduk di sebuah lincak kosong Srintil memanggil Wirsiter dan istrinya dan meminta
25
mereka menggelar musik. Selesai satu babak Srintil meminta penjaja musik kccapi itu
menyambungnya. Dan seterusnya, tanpa menghiraukan berapa banyak uang yang
harus dikeluarkannya.
Hingga matahari hampir terbenam pasar Dawuan masih berhiaskan suara kecapi
Wirsiter dan tembang yang dinyanyikan oleh Ciplak. Srintil menampilkan kegembiraan
yang aneh. Terkadang Srintil tersenyum sambil pacak gulu, tetapi senyumnya aneh.
Terkadang ia ikut berduet dengan Ciplak, tetapi suaranya parau, tidak polos.
Semuanya memberi kesan perilaku Srintil bertentangan dengan apa yang sedang
dirasakan dalam hatinya.
Lalu apa pula yang menyebabkan Srintil demikian marah ketika Ciplak minta berhenti
bertembang.
"Kami sudah lelah, Jenganten," kata Ciplak.
"Sudah dua puluh babak."
"Ya, istriku benar. Lagi pula hari sudah hampir gelap," tambah Wirsiter.
Srintil mengerutkan kening hingga kedua pangkal alisnya hampir bertemu. Matanya
bersinar-sinar.
"Sudah dua puluh babak; jadi sampean berdua takut aku takkan membayar
semuanya. Begitu?" ujar Srintil tajam.
"Ah, jangan salah mengerti, Jenganten," kata Wirsiter merendah. "Hari sudah
sandikala!"
Dengan tekanan kata pada "sandikala" Wirsiter bermaksud mengingatkan Srintit akan
hari yang sedang memasuki saat-saat paling peka. Senjakala: saat keimbangan
ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam, karena sedang
berlangsung perubahan intensitas sinar kosmik yang jatuh ke bumi. Wirsiter takkan
pernah berkata demikian. Dalam hidupnya hanya ada salah satu ketentuan bahwa
orang harus beristirahat di kala hari senja ketika Bathara Kala turun mencari mangsa.
Bathara Kala harus dihormat dan dipuja; satu hal yang tak bisa ditawar-tawar bagi
Wirsiter dan istrinya. Menyimpang dari tertib itu hanya berarti menyediakan diri
menjadi umpan Sang Waktu.
Srintil dapat memahami kata-kata Wirsiter; senjakala adalah saat semua orang
mengundurkan diri dari keseharian untuk memenuhi selera alam. Namun tak urung
kemarahan masih tergambar jelas di wajahnya. Barangkali kemarahan Srintil akan
berkepanjangan kalau tidak dilihatnya seorang nenek berjalan terbungkuk-bungkuk
mendekatinya. Suaranya terputus-putus karena napas yang terengah-engah sehabis
jauh berjalan.
"Cucuku, Wong Ayu, kau di sini?" suara Nyai Sakarya langsung menyiram hati Srintil
yang sedang panas.
Srintil melangkah dengan pasti dalam kegelapan. Sebenarnya taburan bintang di langit
memberikan cahaya temaram ke bumi. Namun kerimbunan pepohonan di Dukuh Paruk
menyerap cahaya itu sehingga tercipta kegelapan sempurna di bawahnya. Srintil
berjalan cepat sambil memeluk Goder erat-erat dalam embanannya. Hatinya mantap
oleh semangat baru yang pasti akan mengejutkan semua orang, namun dia telah
bertekad akan mempertahankannya.
26
Di depan rumah semangnya itu Srintil berjumpa dengan Nyai Kartareja yang memang
hendak menjemputnya di rumah Sakarya.
"Srintil?"
"Ya, Nyai."
"Wah, bagus! Wong ayu, ada tamu datang. Kau tahu siapakah dia?"
"Tidak."
"Pak Marsusi, kepala perkebunan karet Wanakeling. Berbaik-baiklah melayaninya. Eh,
kau masih membawa-bawa anak si Tampi? Mari, serahkan anak itu kepadaku. Tidak
pantas menemui seorang tamu penting sambil membopong bayi."
Srintil tidak menjawab tetapi membuat gerakan sedemikian rupa sehingga Nyai
Kartareja harus tahu bahwa Srintil enggan berpisah dengan bayinya. Nyai Kartareja
mengerutkan kening karena tidak tahu menerjemahkan sikap Srintil. Akhirnya istri
dukun ronggeng itu mengalah, masuk kembali ke dalam rumah. Srintil mengikutinya
dari belakang.
"Nah, Pak Marsusi, inilah Srintil. Ternyata aku tak perlu bersusah payah
menjemputnya karena dia sendiri yang datang. Kukira Srintil tak akan berbuat
demikian apabila tamu yang datang bukan sampean. Iya kan, Srin?"
Perkenalan basa-basi itu tidak ditanggapi oleh Srintil. Apalagi pandangan mata Marsusi
segera menyergapnya. Memang hanya sesaat tetapi Srintil dapat membaca secara
mendalam makna pandangan seperti itu. Entahlah, kali ini Srintil mulai merasa muak.
Dalam hati Marsusi memercik api yang membakar gairah yang dibawanya dari rumah.
Pengetahuannya tentang Srintil sebagian besar diperolehnya dari penibicaraan umum,
ditambah dengan dua kali melihat ronggeng itu secara langsung. Satu kali ketika
Srintil naik pentas di Pecikalan beberapa bulan yang lalu. Kemudian satu kali lagi di
pasar Dawuan. Kini semuanya menjadi lebih jelas. Apalagi Marsusi merasa Srintil yang
muncul di rumah Kartareja saat itu khusus untuk dirinya. "Ah, pantas. Pantas!" kata
Marsusi dalam hati. Tanpa disadarinya tangannya meraba kantung baju. Di dalamnya
ada seuntai kalung seratus gram dengan bandul berlian.
Srintil tetap berdiri. Goder menggeliat dalam buaiannya. Oh, seorang bayi. Alam jualah
yang memberinya kepekaan luar biasa kepadanya. Dalam tidurnya bayi itu menangkap
keresahan hati ibu yang sedang membuainya. Mata hati bayi yang masih putih mampu
merekam segalanya. Bukan hanya denyut jantung Srintil yang makin cepat, melainkan
juga segala sudut batinnya yang sedang gelisah.
Mengapa tidak muncul pertanda nyata bahwa seorang bayi seperti Goder sudah
merasa bahwa ada pihak lain yang ingin merebut tempatnya di haribaan Srintil?
Mengapa sasmita alam im terlalu lembut sehingga hanya seorang bayi yang mampu
menangkapnya? Dan mengapa seorang bayi tidak mampu membela kepentingannya
yang paling vital sekalipun kecuali hanya dengan cara menangis? Maka apa yang
seharusnya terjadi, terjadilah. Goder menggeliat makin kuat. Kemudian meronta dan
menangis. Makin lama tangisnya makin kuat. Tangis yang sarat makna karena
sesungguhnya alam sendiri telah berbisik kepada Goder, di sana ada sepasang mata
berbinar yang ingin menelan Srintil bulat-bulat.
Tak tersisa naluri yang utuh untuk membaca apa yang membuat Goder meronta dan
menangis. Kartareja dan istrinya yang semula sudah menghilang muncul kembali di
ruang tengah. Mereka merasa pasti Goder ingin kembali kepada Tampi, ibu
27
kandungnya. Maka suami-istri dukun ronggeng itu menyuruh Srintil membawa Goder
kepada Tampi.
"Siapa menyuruhmu repot seperti itu. Kamu kan masih lan, mengapa bersusah payah
mengambil anak orang? Dan itu tamumu! Kamu tahu siapa Pak Marsusi, bukan?"
Srintil tidak ingin menanggapi kata-kata Nyai Kartareja. Dia melangkah ke luar sambil
mengayun-ayun Goder. Gerak-geriknya demikian pantas. Dari mulutnya terdengar
suara desis lembut demi mengajuk bayi dalam embanan, membuat gambaran seorang
ibu tampil dengan utuh. Demikian, maka tak kurang dari Pak Marsusi sendiri hanya
bisa menelan ludah dan menggeleng-gelengkan kepala. Bersama suami-istri Kartareja,
Marsusi duduk membeku ketika mendengar Srintil bersenandung nina bobo di halaman
rumah.
Yun ayun, ayun turu
Turu lah neng ayunan
Anakku si bocah landhung
Mesuk gede dadi rebutan
Yun ayun, ayun turu
Turua si bocah lanung
Cilike tak ayun-ayun
Gedhene ngeman biyung
Angkasa yang kelam sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Tetapi kedip-kedip
bintang adalah kesaksian yang berbicara banyak akan apa yang terjadi di bawah
lengkung langit.
Suara dendang Srintil adalah nyanyian ibu. Berlatarkan bunyi gangsir yang datar dari
berat terciptalah dendang alam yang membawa Goder kembali ke alam damai. Dia
bergerak-gerak lembut kemudian lelap dalam udara malam yang kian sejuk.
"Anak siapakah itu?" tanya Marsusi setelah Srintil berlalu ke dalam.
"Bayi itu anak si Tampi. Entahlah, Pak, Srintil begitu lekat dengan bayi itu," jawab Nyai
Kartareja.
"Ya, aku melihatnya sendiri; seperti ibu dan anak kandungnya."
"Sebenarnya aku tidak suka. Beginilah jadinya. Srintil jadi tidak sempat menghormati
tamu secara semestinya."
"Malam ini aku memang bermaksud mengajak Srintil ke luar. Mungkin dua atau tiga
hari," ujar Marsusi sambil menyalakan rokok.
"Nah, itu baik sekali. Hampir sebulan ini Srintil membeku di Dukuh Paruk, tak mau
memenuhi undangan pentas. Mula-mula memang karena sakit. Tetapi setelah sembuh
Srintil masih ngambek saja. Ah, saya tahu sebabnya. Srintil masih tetap iri terhadap
istri lurah Pecikalan. Iri terhadap kalungnya!"
"Hm. Nanti Srintil tidak akan iri lagi," jawab Marsusi. Senyumnya penuh gaya dan
pasti. Nyai Kartareja tak perlu bertanya apa pun untuk mengartikan makna serryum
tamunya. Maka dalam hati istri dukun ronggeng itu bergema sorak kemenangan.
"Ya, Pak, ya. Maka bawalah Srintil dan gembirakan dia. Srintil telah kehilangan
kelincahannya, kekenesannya. Yang demikian itu tak boleh terjadi atas diri seorang
ronggeng. Dan kalau itu, Pak: tidak boleh jadi pastilah akan melumerkan kebekuan
hati Srintil!"
28
Di atas tempat tidurnya yang mewah menurut ukuran Dukuh Paruk Srintil
membaringkan bayinya dengan hati-hati. Ketika Goder meronta sejenak Srintil
menawarkan teteknya. Mulut Srintil kembali berdesis dengan suara lembut. Goder
kembali lelap dengan kedamaian sempurna pada wajahnya. Bukan hanya karena
lembutnya belaian, tetapi karena rasa aman bagi jiwanya. Bayi itu bisa
menerjemahkan tanpa salah segala gerak-gerik ibunya, segala getar suaranya.
Rangsangan spiritual itu memberinya sasmita bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan
atas diri ibunya, Srintil. Dia tak akan kehilangan setitik pun tempat dalam haribaan
ibunya.
Melihat Goder sudah tertidur Srintil bangkit. Sangguinya yang kendor dibuka dan
disanggulkannya kembali lebih kuat. Ditatapnya wajah Goder dalam sikap diam
sempurna. Tetapi wajah bayi itu menjadi cermin yang menampilkan seribu bayangan.
Rasus yang paling pertama muncul, kemudian wajah ibu-bapak yang tak pernah
dilihatnya. Terakhir muncul dirinya sendiri.
Srintil menggigit bibir karena bayangan itu bertanya tentang siapa dirinya. Pertanyaan
itu sejenak mengambang karena Srintil tak kuasa menjawabnya. Menyusul pertanyaan
lain; siapakah yang mengatur diri itu, Nyai Kartareja, para lelaki yang membayarnya.
ataukah diri itu sendiri? Srintil memejamkan mata agar leluasa berbicara dengan
hatinya. Lama sekali Srintil tetap berdiri tak bergerak. Kerut-kerut pada kulit dahinya
menandakan ada pergolakan sedang berlangsung di dalam dirinya.
Tetapi ketika akhirnya Srintil keluar dari kamar, wajahnya telah cerah. Keyakinan diri
seakan telah berada dalam genggamannya. Dia memperlihatkan ketenangan yang
hanya mungkin dimiliki oleh perempuan-perempuan yang benar-benar matang.
Gerakannya mantap ketika Srintil duduk di bangku di sisi ruangan. Nyai Kartareja agak
terkejut terutama karena melihat anak asuhannya keluar dengan kain dan baju yang
melekat sejak siang hari.
Lebih dari itu, Srintil kelihatan tidak bergairah menyambut tamunya.
"Ah, jangan marah, Pak. Srintil terlalu lama membiarkan sampean menunggu.
Sekarang, silakan berbincang-bincang. Oh, ya, Srin. Pak Marsusi hendak mengajakmu
pelesir malam ini. Apakah kau tidak berdandan dulu?"
"Tidak, Nyai," jawab Srintil singkat.
"E, lha?"
Srintil tersenyum; senyum seorang yang merasa mampu mengendalikan suasana.
"Pak Marsusi, aku takkan pergi ke mana-mana malam ini. Dan..."
"Eh, nanti dulu!" potong Nyai Kartareja. Ada kegemparan dalam nada suaranya. "Apa
katamu tadi?"
"Aku tak ingin pergi ke mana pun, Nyai," jawab Srintil.
Nyai Kartareja masih tak percaya akan kedua daun telinganya. Dadanya turun-naik.
Namun hanya sesaat. Kematangannya sebagai seorang mucikari berhasil menata
kembali perasaannya.
"Wong Ayu," kata Nyai Kartareja lembut. Tangannya membelai pundak Srintil. "Tak
baik terlalu cepat menampik uluran tangan seseorang. Apalagi dia adalah Pak Marsusi.
Kau belum bertanya hendak ke mana kau akan dibawanya. Nah, bahkan kau belum
mengerti apa hadiah Pak Marsusi buatmu kali ini."
29
Dua detik kemudian terdengar bunyi rantai logam dijatuhkan orang ke atas meja.
Sementara mata Marsusi mengarah ke awang-awang, mata Srintil dan kedua induk
semangnya menatap benda berkilau di atas meja itu. Dalam keheningan yang tercipta,
sesaat wajah Nyai Kartareja berubah meriah. Sinar matanya memperlihatkan hasrat
yang meluap. Bibirnya bergerak-gerak namun suaranya tak kunjung terdengar.
Srintil pun lama menatap kalung emas yang kelihatan sangat menantang itu. Dua-tiga
kali dia menelan ludah. Sebutir berlian memancarkan cahaya kebiru-biruan: godaan
yang sulit diabaikan oleh seorang perempuan muda seperti ronggeng Dukuh Paruk itu.
Ketika Srintil berada dalam puncak kebimbangannya, Nyai Kartareja mendorongnya
dengan kata-kata yang amat sugestif.
"Apa kataku, Wong Ayu. Rugi benar bila kau tidak menurutkan kehendak Pak Marsusi.
Ayolah, ganti pakaianmu. Ganti pula kalung di lehermu itu dengan yang di sana."
"Nah, ini. Ambillah," kata Marsusi dengan suara datar.
"Yang itu memang lebih baik. Jauh lebih baik dan lebih mahal tentunya," sela
Kartareja. "Tak pernah kulihat seorang perempuan memakai kalung sebagus itu
kecuali istri lurah Pecikalan. Nah, Srin, kini giliranmu."
Sejenak Srintil diam membeku. Di dalam rongga hatinya muncul kembali bayangan
Rasus. Gendang telinganya menangkap suara Ciplak yang menembangkan asmara
dahana. Li lali tan bisa lali, sun lelipur tan sangsaya...
"Tidak, Nyai. Aku tidak ingin pergi ke mana pun," ujar Srintil pelan namun terasa
benar kepastiannya. Ketiga orang di dekatnya terkejut. Kartareja menegakkan kepala.
Marsusi meluruskan punggung sambil melepas rokok dari mulutnya. Yang paling
gempar adalah Nyai Kartareja.
"Kau? Kau ini bagaimana? Kau cucu Sakarya tidak ingin memiliki kalung sebagus itu?"
"Nyai tak usah berbicara seperti itu kepadaku," ujar Srintil dengan ketenangan yang
mengagumkan.
"Oh, maafkan saya yang tua ini, Wong Ayu. Bila kau tak ingin pelesir kukira tak
mengapa. Siapa tahu Pak Marsusi tidak berkeberatan mengubah rencana. Dari niat
semula hendak pelesir bersamamu barang dua-tiga hari menjadi acara menginap di
rumah ini barang dua-tiga malam. Bagaimana, Pak?"
"Pikirlah baik-baik, Wong Dukuh Paruk. Kami tidak rugi bila sampean menampik
permintaan ini. Sebaliknya, sampean bisa menghadapi kesulitan karena telah
mengecewakan pihak kecamatan!"
Pak Ranu keluar dengan wajah buram. Srintil mengikutinya dengan pandangan
bimbang. Sakarya terpaku, tak sepatah kata pun bisa terucapkannya bahkan ketika
Pak Ranu berpamitan. Baru setelah Pak Ranu pergi Sakarya berhasil membuka
mulutnya. Kata-kata kecewa bernada menyalahkan ditujukannya kepada Srintil. Dalam
kata-kata itu tersirat ketakutan akan datangnya kesulitan seperti diisyaratkan oleh
pertanda-pertanda aneh beberapa hari ini.
"Kamu telah mengecewakan seorang priyayi; suatu hal yang tidak layak dilakukan oleh
orang dusun seperti kita ini. Oalah, cucuku, kamu tidak menyadari dirimu sebagai
seorang kaula."
"Kek..."
"Apa!"
30
"Bila saya bertahan, apakah saya bisa kena hukum?"
Pertanyaan Srintil adalah bukti sebuah langkah surut. Sakarya melihat pintu mulai
terbuka. Tetapi kakek itu menyembunyikan perasaannya.
"Mengapa tidak? Kita ini kaula. Kita wajib tunduk kepada perintah, bahkan keinginan
para penggawa itu. Menampiknya, sama saja dengan mengundang hukum. Nah,
beranikah kamu melakukannya?"
Sakarya sengaja melebih-lebihkan ucapannya. Dia berharap Srintil akan segera
mengubah pendiriannya. Tetapi jawaban Srintil bahkan mengejutkan Sakarya.
"Ya, sudah! Aku rela menerima hukuman. Dibui pun jadi! Bagaimana aku harus menari
bila hati tak mau. Kakek tahu bukan, sebuah tarian baru hidup bila hati dan jiwa ikut
menari."
Tanpa menunggu tanggapan kakeknya, Srintil bangkit. Di pintu ruang tengah dia
berpapasan dengan neneknya. Dari tali sampiran Srintil menarik sehelai kain
pengemban, disampirkannya ke pundak, dan keluar. Srintil melangkah cepat ke rumah
Tampi. Goder ada di sana sejak pagi hari.
Sebelum sampai ke tujuan Srintil berhenti di depan rumah Sakum. Hatinya terkesan
oleh suasana di situ. Penabuh calung yang buta itu sedang menganyam sebuah
kukusan. Kedua tangannya trampil, seakan ada mata pada setiap ujung jarinya. Di
belakangnya tersusun barang-barang anyaman yang sudah jadi, siap dijadikan uang
bila ada yang membutuhkannya. Ah, semua orang tahu apalah arti jumlah uang yang
diterima Sakum dari barang-barang anyamannya. Anaknya empat orang.
Apa yang kelihatan oleh Srintil adalah gambar ketidakcukupan yang parah. Rumah
Sakum hanya bertiang empat, doyong, ayam dan angin bebas masuk dan keluar dari
segala penjuru. Dari dalamnya orang bisa melihat awan di langit, dan bintang-bintang
pada waktu malam. Rumah, tepatnya gubuk itu, kelihatan demikian compangcamping.
Ketidakcukupan Sakum lebih jelas kelihatan pada diri keempat orang anaknya. Yang
tertua, seorang gadis sembilan tahun. Rambutnya merah bulu jagung. Kedua ujung
bibirnya berhiaskan cokop yang seperti lumut kerak. Wajahnya, bahkan kedua
matanya kusam tanpa cahaya. Kulitnya mati dengan daki terutama pada tengkuk dan
betisnya. Kini dia duduk bersandar dinding menunggui adiknya yang terkecil yang
merayap-rayap di tanah. Dua anak Sakum yang lain sedang mencungkil-cungkil tanah
di samping rumah. Keduanya telanjang. Gerigi tulang punggungnya menyembul kulit.
Tangan mereka yang lemah tergantung tanpa daya. Mereka sedang menyelusuri alur
lubang orong-orong.
"Asu buntung!" kata yang lebih kecil. "Lubang orong-orong ini menghunjam ke dalam
tanah. Di bawah batu pula."
"Kamu yang tolol," kata kakaknya. "Setiap lubang orong-orong mempunyai gua.
Minggir kamu."
Si kakak jongkok tepat di atas lubang orong-orong, memegang kulupnya dan kencing.
Karena kebanjiran air hangat maka orong-orong keluar dari liangnya. Dua pasang
tangan berebut menangkapnya. Yang kecil kalah dan terjungkal ke belakang oleh
dorongan kakaknya. Dia menangis dan berusaha merebut haknya. Tetapi si kakak
telah lenyap masuk ke dapur. Orong-orong dalam genggamannya segera mati dalam
abu panas. Semenit kemudian serangga tanah itu lumat dalam mulutnya.
31
Sakum kelihatan tidak terusik oleh hiruk-pikuk anak-anaknya. Jemarinya terus
bekerja: menganyam, menyambung, atau memotong serpih bambu yang
kepanjangan. "Bila aku masih mendengar suara anakku, itu pertanda baik. Berarti
mereka masih hidup." Ini senda-gurau Sakum yang bukan sekali-dua diucapkannya.
Dan untuk berhubungan dengan segala sesuatu di luar dirinya Sakum tidak hanya
mengandalkan indria pendengaran. Naluri dan perasaannya terkadang justru lebih
terpercaya. Misalnya, Sakum tahu istrinya telah atau akan berbuat serong dari nada
suaranya. Demikian juga halnya bila terjadi ketidakadilan pada waktu makan. Untuk
mengetahui apakah satu-satunya pelita dalam rumahnya sudah menyala di malam hari
Sakum hanya memerlukan tarikan napas panjang-panjang. Hidungnya dapat
memastikannya dari udara yang masuk ke paru-parunya. Naluri atau mungkin seluruh
permukaan kulitnya sangat peka terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Seperti saat itu; Sakum berhenti mendadak dari kegiatannya ketika Srintil melangkah
mendekatinya. Kelopak mata yang menutupi lubang keropok bergerak-gerak.
Mulutnya cengar-cengir. Suara yang kemudian didengarnya adalah suara yang telah
diramalkannya, dan jitu.
"Sibuk, Kang Sakum?" kata Srintil sambil duduk di balai-balai hanya beberapa jengkal
dari tubuh Sakum.
"Eh, Jenganten? Pantas, sejak pagi kudengar burung prenjak berbunyi ngganter di
dekat rumah. Rupanya ada tamu penting hari ini."
"Bukan aku yang penting, Kang. Tetapi aku membawa masalah penting."
"Eh, penting bagaimana? Pak Marsusi datang lagi? Eh, maaf, Jenganten."
"Bukan itu. Ada seorang utusan dari kantor kecamatan datang ke rumahku tadi pagi.
Kita dimintanya naik pentas pada malam perayaan Agustusan nanti."
Marsusi terbatuk. Pukulan pertama membekas berupa tanda tanya yang melintang
pada wajahnya. Baru kali inilah ajakannya pergi berkencan ditolak orang. Dan justru
ketika dia bersedia memberi imbalan yang paling mahal. Dalam keraguannya Marsusi
ingin meraup kembali kalung emas itu, dan pulang. Tetapi sesuatu di depan mata
menahan Marsusi tetap duduk di tempat.
Srintil duduk agak menyamping. Ketenangannya yang demikian utuh adalah pesona
baru dalam penampilannya. Dengan tata sanggul seadanya profil Srintil justru
memperlihatkan kesegaran remaja yang amat impresif. Bentuk rahangnya bagus.
Pipinya jernih dengan hiasan jambang halus. Kulit leher berkata apa adanya, bahwa
usia Srintil memang baru tujuh belas.
Marsusi kembali terbatuk.
"Apabila Srintil enggan keluar, maka terserah kepadanyalah. Aku tak keberatan
menginap di sini," kata Marsusi akhirnya.
"Dengar itu, Srin? Pokoknya, Pak Marsusi datang kemari hanya membawa satu tujuan.
Yakni membuat hatimu senang. Iya kan, Pak?"
Marsusi hanya tersenyum. Nyai Kartareja bangkit dan memberi isyarat kepada
suaminya. Keduanya kemudian menghilang ke dalam rumah. Mereka yakin bahwa
suasana yang sulit telah berlalu. Tinggal satu yang pantas mereka lakukan, yakni
memberi kesempatan kepada tamunya menikmati kebebasannya bersama Srintil.
32
Kelengangan malam merembes masuk ke dalam rumah Kartareja. Ada kampret masuk
melalui pintu depan yang terbuka, berputar-putar sejenak dalam ruangan dan
menghilang lagi lewat jalan yang sama. Dua ekor cicak berlomba menangkap mangsa:
seekor serangga yang terbang hinggap pada dinding bambu. Ketika serangga itu
terbang kembali dan berpusing-pusing di sekitar lampu kedua pengejarnya berganti
acara. Kedua cicak itu saling berkejaran. Yang besar mengejar yang kecil. Pengejaran
berhenti dalam upacara kawin yang brutal. Atap seng rumah Kartareja tiba-tiba
berdentam. Sesuatu yang pekat jatuh dari langit. Tak ada sesuatu yang bisa dituduh
kecuali kalong berak sambil terbang. Atau binatang itu memuntahkan biji salam yang
sudah dimamah dan diisap airnya.
Selain itu terdengar suara yang membuat Dukuh Paruk mempunyai warna khas. Irama
calung. Tetapi malam itu yang terdengar adalah suara calung tunggal. Dalam hal
demikian calung menggantikan gambang. Di tangan orang yang tepat seperti Sakum,
calung adalah gambang. Bedanya, calung terbuat dari bambu sementara gambang dari
kayu. Sebagai penabuh calung yang masyhur, meski kedua matanya buta, Sakum tak
pernah mengeluh. Bahkan gaya dan suaranya selalu berupa banyolan.
Tetapi malam itu Srintil menangkap kelainan pada suara dan irama calung Sakum. Di
balik irama yang padu dengan ketenangan malam tersirat pesan ironik. Ironinya
seorang penabuh calung yang sudah sekian lama tidak mendapat penghasilan karena
Srintil belum juga hendak naik pentas. Srintil tersenyum getir karena teringat akan
nasib Sakum; si Buta yang menjadi maskot kelompok ronggengnya. Dan bukan hanya
Sakum seorang yang terputus rejeki lantaran Srintil mogok menari. Tiga orang
penabuh lainnya bernasib sama.
Sementara suara calung terus mengisi kelengangan Dukuh Paruk, di rumah Kartareja
terjadi suasana yang lucu. Marsusi duduk gelisah. Sebaliknya, Srintil duduk di atas
singgasana kemandirian yang nyata. Berkali-kali Marsusi menelan ludah, tetapi Srintil
tetap duduk menyamping, berpura-pura tidak tahu ada seekor buaya lapar di
dekatnya.
"Jenganten," suara Marsusi serak. Senyumnya kaku seperti anak kecil sedang minta
jajan kepada emaknya. "Ini kalungmu, ambillah."
Srintil menoleh sambil tersenyum. Tetapi siapa pun bisa memastikan senyum Srintil
kali ini sama sekali tidak erotik.
"Sebentar, Pak. Untuk apa kalung itu sampean berikan kepada saya?"
Marsusi menarik napas panjang. Tingkahnya canggung.
"Begini, Pak," sela Srintil setelah tahu Marsusi gagal membuka mulut. "Kalung itu akan
kuterima bila dia sampean maksudkan sebagai upahku menari. Nah, sampean tinggal
mengatakan kapan dan di mana pentas hendak diadakan. Di sana sampean boleh
mengajakku bertayub sepuas hati."
"Lho, bukan. Kalung ini bukan buat upahmu menari atau bertayub," ujar Marsusi.
"Mau sampean berikan kepadaku dengan begitu saja? Nah, marilah!"
"Bukan!"
"Ya!" potong Srintil dengan kecepatan yang tidak terduga. "Sampean ingin
memberikan kalung ini kepadaku bukan sebagai upahku menari atau bertayub,
melainkan untuk satunya lagi. Oh, Pak Marsusi, sampean tidak salah. Karena saya
33
memang telah melakukan hal semacam itu dengan sekian banyak lelaki. Tetapi,
Pak..."
Marsusi menyondongkan kepalanya lebih ke depan. Pikirannya yang mulai baur
membuat dia ingin segera tahu apa kata Srintil selanjutnya.
"Sekarang aku tak ingin melakukannya lagi."
"Lho, kenapa?"
"Hanya merasa tak ingin, begitu."
"Katakan terus terang!" nada suara Marsusi mulai berat.
"Memang hanya tak ingin. Kalau sekedar menari atau bertayub, nah, ayohlah. Aku
memang seorang ronggeng."
"Nanti dulu! Mengapa hal ini baru kaukatakan kepadaku; bukan kepada laki-laki lain
sebelum aku? Mengapa?"
"Persoalannya sederhana, Pak," kata Srintil masih dalam ketenangan yang utuh.
"Sampean kebetulan menjadi laki-laki pertama yang datang setelah saya memutuskan
mengubah haluan."
"Jelasnya! Kamu menampik kedatanganku?"
"Tidak sepenuhnya demikian, Pak. Kalau sampean ingin sekedar bertayub denganku,
maka selenggarakan pentas. Terserah, kapan dan di mana."
Urat pada kedua rahang Marsusi menggumpal. Matanya menyorot lurus ke arah wajah
ronggeng Dukuh Paruk itu. Renjana yang dibawanya dari rumah mulai berubah
menjadi dorongan amarah. Marsusi bangkit berdiri, berjalan berkeliling ruangan.
Wajahnya berubah beringas. Srintil siap menanti sesuatu akan hancur oleh tangan
tamunya. Ternyata tidak. Marsusi hanya berjalan berputar-putar, mendengus-dengus,
kedua tangannya bergerak limbung.
Nyai Kartareja muncul dari dalam diikuti oleh suaminya. Tentulah mereka mendengar
percakapan yang kaku antara Srintil dan Marsusi. Kemunculan pasangan dukun
ronggeng itu disambut dengan tudingan tangan Marsusi.
Srintil menunggu tanggapan Sakum. Yang dinantinya adalah ledakan kegembiraan.
Naik pentas berarti uang bagi seluruh anggota rombongan ronggeng. Keluarga Sakum
yang hidup di atas titik pusat peta kemelaratan Dukuh Paruk harus menyambutnya
dengan gembira. Tetapi laki-laki dengan sepasang mata keropos itu diam saja. Hanya
alisnya turun-naik. Benar, Sakum sudah lama merindukan pentas. Namun saat itu dia
sudah bisa membaca dengan tepat perasaan Srintil yang masih enggan menari.
"Bagaimana, Kang?"
"Eh, bagaimana? Sampean sudah mengerti apa jadinya bila aku berlama-lama tidak
menabuh calung, jadi akulah yang harus bertanya kepada sampean; bagaimana?"
"Aku mengerti, Kang. Kau berharap aku mau menerima permintaan panitia Agustusan,
bukan?"
"Tentu saja begitu, Jenganten."
"Ya..." Srintil menghadapi kebuntuan rasa. Di depan kakeknya dia bersikeras tak mau
memenuhi permintaan panitia Agustusan. Dihukum pun dia mau. Tetapi sebenarnya
Srintil ingin menarik kata-katanya sesaat setelah terucapkan. Kini Srintil merasa telah
34
menemukan orang yang paling tepat untuk menyatakan perasaannya secara jujur.
Tanpa disadari sejak semula ternyata Sakum adalah orang yang dekat dengan dirinya,
lebih dekat daripada suami-istri Kartareja, bahkan kakek dan neneknya sekalipun.
"Ya, Kang. Sebaiknya aku menuruti permintaan mereka. Aku mau menari lagi, Kang.
Tetapi hatiku, Kang, hatiku!"
"Hati?"
"Ya. Hatiku tak bisa kubawa menari."
"Bisa," Ujar Sakum cepat. "Aku percaya indang ronggeng masih tetap bersemayam
pada diri sampean. Hati sampean yang buntu akan terobati bila sampean melupakan
dia."
"Dia?"
"Ya, Rasus."
Berkata demikian wajah Sakum memperlihatkan segala kesungguhannya. Amat jarang
Sakum berbuat demikian. Bibirnya merapat, otot-otot pipinya menegang. Dengan cara
itu Sakum ingin menyatakan kebenciannya atas hubungan Srintil-Rasus yang telah
membawa banyak persoalan bagi rombongan ronggeng, bagi Dukuh Paruk.
Srintil langsung menundukkan kepala, benci melihat wajah Sakum yang mengerikan.
Hatinya tersinggung oleh kata-kata Sakum. Tetapi Srintil kemudian sadar kata-kata itu
bukan ditujukan kepada Srintil maupun Rasus sebagai pribadi, melainkan kepada sifat
hubungan antara keduanya yang ternyata telah membuat suara calung lenyap dari
Dukuh Paruk.
"Jenganten," sambung Sakum. Kini dengan nada suara seorang bapak. "Bukan
sampean seorang yang menjadi ronggeng dan terpikat oleh laki-laki tertentu. Hal
semacam ini sejak dulu sering terjadi. Tetapi tidak segenting pada diri sampean.
Dulu, puluhan tahun yang lalu, ronggeng Trombol mengalami hal seperti ini. Dia kawin
dengan seorang wedana. Nah, dasar masih bersemayam indang dalam dirinya,
perkawinan mereka hanya berumur selama orang mengunyah sirih. Ronggeng Trombol
kembali menjadi milik Dukuh Paruk, artinya kembali melenggang dan melenggok
seperti laiknya seorang ronggeng.
Demikian juga yang terjadi atas diri ronggeng Cepon. Dia tergila-gila kepada anak
seorang pedagang batik. Mereka kawin juga akhirnya. Tetapi nasibnya malah lebih
buruk. Suami yang dicintai pergi meninggalkannya. Ronggeng Cepon begitu merana.
Akhirnya dia mati ketika usianya belum lagi dua puluh.
Nah, sekarang diri sampean. Sudah cukup apa yang sampean dapatkan dari Rasus.
Begitulah namanya seorang ronggeng. Sampean sudah merasakan kesenangan
bersamanya, tidur bersamanya. Hanya itulah yang bisa sampean terima, karena
sampean seorang ronggeng. Selagi indang masih tinggal dalam diri, sampean tidak
mungkin mendapatkan lebih dari itu. Tidak mungkin! Jadi sekali lagi, lupakan Rasus
demi kebaikan sampean sendiri."
Srintil masih menundukkan kepala. Kini matanya basah. Tadi setiap kali Sakum
menyebut nama Rasus, setiap kali pula jantungnya berdenyut keras. Terbayang
kembali olehnya suatu ketika di malam hari menjelang acara bukak-klambu. Rasus
menemuinya dengan wajah demikian hampa tetapi penuh ketidakberdayaan.
35
Terngiang kembali ucapan Rasus terakhir yang masih sempat didengarnya, "Aku tak
mungkin mengawinimu karena kamu seorang ronggeng. Kamu milik Dukuh Paruk."
"Jadi aku masih seorang ronggeng karena pada diriku masih bersemayam indang?"
ucap Srintil pelan.
"Eh, sudah puluhan tahun dan sudah sekian banyak ronggeng yang kukenal. Getar
suara sampean adalah getar suara ronggeng. Bau badan sampean adalah bau badan
ronggeng. Wibawa sampean juga wibawa ronggeng. Nah, sampean memang masih
seorang ronggeng. Kelak pada suatu saat aku akan tahu sampean bukan lagi
ronggeng. Yakni bila indang telah meninggalkan diri sampean."
Sakum kemudian menarik napas lega. Kedua bahunya turun seakan baru lepas dari
beban yang berat. Memang, Sakum telah lama ingin mengungkapkan perasaannya
kepada Srintil; mengingatkannya dan mengajarinya tentang bagaimana seharusnya
sikap seorang ronggeng. Niatnya demikian tulus sehingga Sakum tak menghendaki
orang menghubungkan niat itu dengan kepentingan pribadinya.
Merasa telah mengungkapkan semua perasaannya Sakum kembali kepada
pekerjaannya. Tangannya kembali menganyam serpih-serpih bambu. Tangis anak
Sakum masih berkepanjangan. Tangis yang hambar, tangis seorang anak yang lapar
tetapi merasa pasti tak ada nasi yang bisa dituntutnya. Burung kembali ngoceh, bebas,
dan lepas. Suaranya meriah dan renyah, kebalikan yang sempurna atas suara tangis
anak Sakum.
"Ke mana istrimu, Kang?"
"Eh, dia di rumah Kartareja. Menumbuk padi. Tentu dia hampir pulang. Suara alunya
sudah lama tak terdengar."
"Sudah menanak nasi?" tanya Srintil menatap wajah anak-anak Sakum. Pertanyaan itu
mengundang harapan bagi mereka.
"Jenganten ini bagaimana? Yang sedang memburuh menumbuk padi belum lagi
pulang."
"Nah! Sampean berdua duduk!" teriak Marsusi.
"Duduk!" ulang Marsusi karena melihat suami istri Kartareja kelihatan bimbang. Kini
Marsusi bertindak menurut gayanya yang asli; gaya seorang mandor perkebunan
terhadap para kuli penyadap karet.
"Takkan sekali-kali seorang kepala perkebunan sampai kemari kalau pedukuhan ini
tidak bernama Dukuh Paruk," Marsusi mengawali pidatonya sambil tetap berjalan
berputar-putar. "Dan takkan sekali-kali aku masuk ke rumah ini bila di sini bukan
sarang seorang ronggeng. Dan dia si ronggeng Dukuh Paruk yang bernama Srintil,
bukan?"
Karena dituding tepat di depan mata maka Srintil mengangkat muka. Sementara
wajah suami-istri Kartareja kelihatan kecut. Srintil hampir tidak memperlihatkan emosi
apa pun. Tatapan matanya yang demikian tenang membuat Marsusi menurunkan
tangan. Kemudian Marsusi melangkah mendekati Nyai Kartareja. Ucapannya terdengar
habis-habisan.
"Sampean cecunguk, ya! Siapakah yang secara tidak langsung menyuruhku membawa
kalung seperti milik istri lurah Pecikalan? Barang itu sudah berada di depan matamu.
Tetapi apa hasilnya sekarang?"
36
"Pak Marsusi," suara Srintil datar, "saya mohon sampean tidak marah terhadap Nyai
Kartareja. Ini urusanku. Persoalan yang sederhana tidak perlu sampean persulit."
"Ini bukan persoalan sederhana! Aku tidak sekali-kali menganggapnya sederhana!"
"Bagaimana juga, Pak, masalahnya tetap sederhana. Yakni sampean mau membeli
sesuatu di sini, tetapi warung sudah tutup. Itu saja, Pak."
"Jadi kamu, dan sampean semua di sini, telah menghinaku. Dan kalian orang Dukuh
Paruk, apakah kalian mengira aku tidak tahu bahwa semua yang kelihatan di sini
adalah hasil persundalan? Hah?"
"Sabar, Pak. Aku ingin berbicara..."
"Cukup! Kamu nenek cecurut! Biang sundal dan setan Dukuh Paruk. Aku tak ingin
mendengar lagi suaramu. Omongmu itu kentut kuda!"
Marsusi yang beringas mengambil topi lalu dipasangnya di kepala. Dengan gerak
tangan yang cepat kalung yang semula hendak dipakainya sebagai pembeli Srintil
segera masuk ke saku baju. Masih ada satu lagi yang diambilnya dari atas meja; botol
jenewer. Isinya yang tinggal setengah ditenggaknya. Botol itu dibanting mengenai
umpak tiang. Suara beling remuk memecah keheningan. Semenit kemudian terdengar
suara motor Marsusi menderu.
Keberangkatan Marsusi meninggalkan ketegangan di rumah Kartareja. Wajah Nyai
Kartareja gelap dan kusut. Kekesalan hatinya dilampiaskan dengan cara berkali-kali
memukul pantat sendiri.
"Toblas, toblas! Kamu ini bagaimana, Srintil? Kamu menampik Pak Marsusi? Toblas,
toblas. Itu pongah namanya. Kamu memang punya harta sekarang. Tetapi jangan lupa
anak siapa kamu sebenarnya. Kamu anak Santayib! Orang tuamu tidak lebih dari
pedagang tempe bongkrek. Bapak dan emakmu mati termakan racun!"
Srintil membeku, menundukkan kepala dan menggigit bibir. Kesaksian tentang kedua
orang tuanya yang baru disampaikan oleh Nyai Kartareja telah menggores hatinya.
Tentang kedua orang tuanya Srintil telah tahu segalanya. Tetapi setiap kali berita itu
berulang, setiap kali pula hatinya terluka. Srintil menangis. Dan Nyai Kartareja tidak
peduli.
"Oalah toblas, beginilah caramu membalas budi kami, ya! Kami berdua telah
memberimu jalan sehingga kamu mendapatkan kamukten. Tetapi inilah imbalan yang
kami terima; dipermalukan habis-habisan oleh Pak Marsusi. Anak Santayib, dasar
cecurut kamu! Dan kamu bertingkah menolak sebuah kalung seratus gram? Merasa
sudah kaya? Bila kamu tidak suka kalung itu mestinya bisa kauambil untukku. Dan
kaulayani Pak Marsusi karena semua orang toh tahu kau seorang ronggeng dan
sundal."
"Sudah, Nyai, sudah," kata Kartareja berusaha menghentikan amarah istrinya.
"Biar! Sekali ini dia harus mendapat pelajaran. Lama-kelamaan anak Santayib ini jadi
kurang ajar!" Dada Nyai Kartareja masih kembang-kempis tetapi dia sudah kehabisan
kata-kata. Sisa kemarahannya tumpah ketika dia meludah sengit ke arah Srintil.
Sampai sedemikian jauh Srintil tetap diam. Bahkan dia tetap tak bergeming meski
Nyai Kartareja sudah masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras-keras. Air
matanya berjatuhan. Ketabahan yang diperlihatkannya ketika menghadapi Marsusi
37
telah runtuh. Hal ini terjadi karena Nyai Kartareja telah mengusik kedua orang tuanya
yang sudah menjadi tanah di pekuburan Dukuh Paruk.
Yang membawa kembali ketenangan ke dalam hati Srintil adalah suara calung tunggal
yang ditabuh Sakum. Mula-mula suara itu masih berbaur dengan lengking kemarahan
Nyai Kartareja yang terus terngiang dalam telinga Srintil. Disusui kemudian oleh derik
seribu jangkrik yang menggetarkan gendang telinga. Lama-kelamaan suara kacau itu
surut. Tinggal bunyi calung yang menjalin malam Dukuh Paruk, menyatukannya dalam
satu citra yang bulat dan utuh. Klenting-klentung itu tumpah dengan runtut, kadang
ada nada yang melompat seperti belatung nangka yang ranum, namun tetap terikat
dalam keselarasan.
Dengarlah suara mata calung yang menyusup ke bawah rumpun-rumpun bambu di
Dukuh Paruk. Dari bambu pulang ke bambu. Mesra dan penuh makna seperti seorang
anak yang menyurukkan wajah dalam-dalam ke selangkangan emaknya. Ketika angin
malam membuat desah daun-daun bambu, suaranya menjadi latar yang paling alami
bagi irama calung yang terus mengalir melalui ayunan kedua tangan Sakum. Tit-tuit
tit-tuit suara burung prit putih yang mulai terdengar sejak matahari terbenam
memaripurnakan kidung Dukuh Paruk. Pedukuhan terpencil itu sedang menembangkan
kidung malam. Entahlah, kini yang terdengar bukan nada cepat bergairah, melainkan
suara pilu yang menggayut.
Srintil masuk langsung menuju kamar. Kartareja yang sedang duduk membatu hanya
menatapnya sepintas. Tetapi dukun ronggeng itu sedikit terperangah ketika sesaat
kemudian Srintil sudah berdiri di hadapannya sambil mendekap Goder dalam
embanan. Ayah dan anak asuhan bertatapan. Melalui bahasa rasa Kartareja sudah
tahu apa arti kehadiran Srintil di hadapannya. Tak terdengar kata barang sepatah
meskipun bibir Srintil kelihatan bergerak-gerak. Demikian juga halnya Kartareja.
Sampai akhirnya Srintil berbalik dan keluar halaman suasana masih bisu. Hanya derit
engsel pintu. Selebihnya adalah kelengangan. Dan cericit tikus busuk yang terkejut
ketika Srintil lewat di dekatnya.
Keluar dari rumah orang tua akuannya Srintil merasakan suatu hal yang baru; begitu
dekat dengan dirinya sendiri. Akunya sepenuhnya dalam genggaman. Akunya yang
terdiri atas dirinya sendiri dan seorang bayi dalam pelukan. Hangat tubuh Goder yang
melekat di dadanya menjadi kehangatan pertama bagi sebuah semangat baru yang
mulai melembaga dalam jiwa Srintil.
Sampai di rumah kakeknya, Sakarya, Srintil mendapati seorang perempuan lain.
Tampi. Wajah perempuan itu langsung meriah melihat kedatangan Srintil. Dia
tergopoh bangkit menyongsong Srintil di ambang pintu.
"Oalah, Jenganten. Kemarikan anakku. Aku sudah kangen," ujar Tampi sambil
mengulurkan kedua tangannya. Namun Srintil menepis tangan itu.
"Mau melihat Goder, Lihatlah dari situ. Mau menggamit pipinya yang tambun dan
padat, silakan. Tetapi jangan ambil dia dari embananku."
"Aku bersungguh-sungguh, Jenganten. Karena aku sudah sangat kangen. Sehari ini
aku belum menyentuhnya. Dan, ah! Siapa bilang Goder tidak akan mengganggumu,
Jenganten? Baru saja terbukti, bukan?"
"Terbukti?"
"Aku mengerti semua yang baru terjadi di rumah Kartareja. Kalau bukan karena
anakku, sampean sudah pergi naik sepeda motor bersama..."
38
"Cukup. Kamu salah, Tampi. Kamu tak mengerti. Aku tidak pergi bersama laki-laki itu
karena aku tak mau. Itu saja. Tak ada sangkut-pautnya denga Goder. Tahu?"
"Tetapi aku mendengar Nyai Kartareja jelas menyebut-nyebut nama anakku. Oh,
sampean tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu. Ingin rasanya aku menerobos
masuk untuk mengambil Goder dan membawanya pulang selekas mungkin. Anakku
masih terlalu bersih buat dilibatkan ke dalam urusan orang-orang dewasa."
"Nah, kamu betul. Goder masih terlalu bersih. Maka aku tidak akan mengotorinya. St,
jangan ganggu dia. Dan jangan lagi sebut dia anakmu, melainkan anakku! Nah, iya
kan?"
Tampi bersungut-sungut, tetapi senyumnya mekar kemudian. Dia merasa tidak
mungkin berbohong bahwa sesungguhnya dia berbangga hati karena anaknya menjadi
boneka bagi perempuan yang paling ternama, Srintil.
"Ah, Tampi. Sesungguhnya kamu tidak usah lagi merisaukan Goder. Cukuplah aku
yang menjadi emaknya. Aku bisa menetekinya. Aku bisa membelikan baju yang
terbaik di pasar Dawuan baginya. Pokoknya, apa yang bisa kauberikan kepada Goder,
aku pun bisa melakukannya secara lebih baik. Dan jangan khamatir, bila sudah besar
nanti dia tahu perempuan mana yang melahirkannya. Sekarang biarlah dia menjadi
anakku yang sebenar-benarnya. Yang perlu kaulakukan sekarang adalah melayani
suami sebaik mungkin. Supaya bayimu yang kelima cepat lahir!"
Seloroh Stintil mencairkan kekakuan. Tampi mencubit lengan temannya. Terasa benar
oleh Srintil bahwa selorohnya tepat mengena pada perasaan Tampi yang sebenarnya.
Bagi perempuan Dukuh Paruk melayani suami bukan hanya sekedar keharusan hidup.
Dia adalah satu-satunya kegiatan lain di luar urusan dapur serta memelihara anakanak.
Dalam kenyataan aspek humaniora bagi perempuan Dukuh Paruk hampir
terpusat sepenuhnya di atas pelupuh bambu mereka. Dan ketika Goder sudah
menginjak usia sembilan bulan, seloroh Srintil itu sungguh tidak bisa dielakkan oleh
Tampi. Artinya, ketidakhadiran Goder di sampingnya memberikan kedaulatan yang
lebih bagi suaminya, dan dirinya juga.
Hingga tengah malam Srintil tidak mampu memejamkan mata. Kadang dia duduk
termangu di bibir balai-balai. Kadang tidur gelisah di samping Goder yang lelap. Dan
sekali waktu Srintil merasa demikian gemas karena mengetahui betis Goder bentol
sebesar biji jagung. Seekor kutu busuk yang menggembung penuh darah digilas
dengan telunjuknya. Noda darah tercoreng pada tikar pandan, sengak baunya.
Sakum masih terus mengembara dengan irama calung tunggalnya. Sebenarnyalah
Sakum tak bisa menjelajah ke mana-mana karena kedua matanya buta sejak lahir. Dia
tidak bisa mengembara di alam nyata. Tetapi karena buta, Sakum memiliki kepekaan
luar biasa. Pengembaraannya di alam rasa demikian teliti dan memikat sehingga
mampu mengajak orang lain mengikutinya. Malam itu pastilah banyak warga Dukuh
Paruk setia memicingkan mata agar bisa mengawang bersama-sama Sakum.
Entah berapa tembang telah dibawakan oleh seniman calung itu. Dan Srintil amat
terkesan oleh sebuah pupuh sinom yang mengalun berulang-ulang;
Bonggan kang tan mrelokena
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan tri prakara
Wirya karta, tri winasis
Kalamun kongsi sepi
39
Saka wilayan telelu
Tetas tilasing sujalma
Aji godhong jati aking
Temah papa, papariman ngulandara
Merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni trampil,
keutamaan, dan kepandaian. Bila triperkara ini ditinggalkan. Punahlah citra keutamaan
manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan
menggelandang.
Terasa benar tembang sinom itu keluar dari dasar hati Sakum yang sedang papa
karena telah lama tidak bekerja mengiringi Srintil dalam pentas. Sakum, yang meski
buta tetapi harus memberi makan seorang istri dan empat orang anak. Makin lama
Srintil makin merasa digugat oleh Sakum dengan caranya yang sangat halus;
mengapa dia masih menolak naik pentas dengan akibat perut Sakum anak-beranak
menjadi lapar.
Gugatan itu menambah beban pikiran Srintil yang telah ditindih oleh pengalamannya
dengan Marsusi di awal malam. Dan wajah Sakum bersama anak dan istrinya terus
terbayang meski akhirnya penabuh calung itu jatuh tertidur di belakang alat musiknya.
"Ah, begitu. Sekarang matahari hampir tergelincir. Mestinya istrimu sudah pulang."
"Aku tahu matahari sudah tergelincir. Buktinya, bau sengak makin menyengat,
pertanda tempat kencing anak-anak di sebelah barat rumah sudah kena panas
matahari."
Srintil meneruskan perjalanan ke rumah Tampi hendak mengambil Goder. Masih di
dekat rumah Sakum dia melihat sepasang bunglon berkejaran pada ranting pohon
dadap. Yang betina lari tunggang-langgang lalu melompat ke dahan lain. Yang jantan
mengejar, ragu-ragu, lalu menyusul melompat. Kali ini dia luput dan terbanting ke
tanah.
Diam dan seakan-akan mati. Warna kulitnya yang semula hijau terang perlahan-lahan
berubah warna tanah. Binatang itu baru bergerak setelah langkah Srintil begitu dekat.
"Bila Kang Sakum tidak picek tentu dia akan berkata kepadaku; jangan membabi
buta mengejar orang yang lari. Nanti terbanting seperti bunglon itu."
Seperti Sakum, Tampi pun mendorong Srintil menerima permintaan panitia Agustusan
itu. Tampi bahkan membumbui kata-katanya dengan hal-hal yang memang belum
diketahui oleh Srintil.
"Jenganten mungkin belum tahu. Pada malam perayaan seperti itu akan berkumpul
semua priyayi di Dawuan. Ada wedana, ada polisi, dan ada tentara. Mantri ini, mantri
itu, semua akan berkumpul. Penonton lain bisa mencapai jumlah seribu orang."
"Seribu orang, Yu?"
"Percayalah, Jenganten. Maka jangan sia-siakan pentas yang istimewa itu. Sampean
justru harus tampil dalam tarian yang terbagus."
"Kamu juga mau nonton, Yu?"
"Yah, itu pasti. Saya kira semua orang akan kerok-batok pergi semua ke alun-alun
kecamatan Dawuan. Jadi mengapa aku harus tinggal di rumah?"
Dalam perjalanan pulang, Srintil telah mendapat kata putus. Dia hendak memenuhi
40
permintaan panitia Agustusan. Tetapi Srintil sendiri tidak bisa memastikan apakah
keputusan itu merupakan tekad yang utuh atau hanya karena sebab lain. Pihak
pertama yang mendengar keputusan Srintil adalah Goder, bayi yang dipeluknya eraterat
sambil berjalan pulang.
"Bocah bagus, aku mau menari lagi. Boleh, kan? Ah, kau tak usah khawatir. Aku tetap
emakmu. Kau tetap anakku yang paling bagus!"
***
Ketika laut surut di Segara Anakan. Sebuah perahu motor dengan mesin disel tua
merayap terbata-bata menempuh jalur Cilacap-Kalipucang. Pada saat laut seperti itu
Segara Anakan mirip sungai di tengah endapan lumpur yang luas. Terbentuk deltadelta
yang ditutup rapat oleh pohon bakau. Para penumpang dalam perahu motor itu
dapat melihat kerajaan burung yang masih tersisa. Di atas amparan lumpur itu terlihat
berbagai jenis burung pemakan ikan. Trinil yang tak pernah berhenti membuat
gerakan cabul berjalan kian kcanari dengan kegesitan yang mengagumkan. Bila
perahu motor mendekat, mereka terbang dalam lintasan patah-patah, suaranya hirukpikuk.
Ada bluwak berkejaran setengah terbang dan setengah berlari di atas lumpur.
Sementara kuntul membentuk kelompok: makhluk-makhluk putih, terkadang mereka
menyebar kemudian berkumpul lagi dalam gerakan-gerakan lamban. Ada seekor
binatang tamu yang besar, berdiri dengan kaki hampir sepenuhnya tenggelam dalam
lumpur. Langkahnya amat lamban, mirip langkah-langkah seorang kakek pikun. Dia
adalah bangau tongtong. Dia kelihatan merana, tanpa teman sejenis.
Manakala hutan-hutan sudah rusak. Manakala sawah-sawah sudah berbau obat
penyemprot hama, dan manakala sudah terlalu banyak pemuda menyandang senapan
angin. Maka wilayah Segara Anakan serta daerah berawa-rawa di sekitarnya adalah
tempat terakhir bagi berjenis-jenis burung untuk mempertahankan keberadaannya.
Suaka. Burung dadali yang sudah sulit ditemukan di daerah pedalaman ternyata masih
banyak di sana. Demikian juga burung-burung pemakan biji-bijian seperti tekukur,
balam, dan perkutut. Dan yang menyolok adalah banyaknya burung alap-alap. Tentu
saja karena mangsanya, burung-burung kecil seperti berondol, burung madu, atau
kutilang seperti sengaja dikumpulkan dalam pulau-pulau kecil berambut hutan bakau
itu.
Para penumpang yang menyarati kapal motor tua itu tampaknya tak terkesan oleh
pesona dunia burung. Boleh jadi mereka terlalu angkuh dalam dunianya sendiri, dunia
manusia. Atau hanya karena mereka tidak bisa duduk tenang. Kendaraan yang mereka
tumpangi harus meliuk-liuk menuruti air yang dalam agar tidak kandas. Dalam hal ini
pengemudi perahu motor itu, yang tak lebih dari seorang pemuda belasan tahun, layak
mendapat pujian. Dia memahami betul seluk-beluk pekerjaannya. Dan keahliannya
terbukti bila perahunya harus berpapasan dengan perahu lain dalam alur sempit dekat
sebuah tikungan.
Pada sebilah tempat pemberhentian tiga orang turun, semuanya laki-laki. Melihat
keadaannya dua di antara mereka tentulah tengkulak terasi, yakni hasil utama
penduduk di wilayah itu. Yang seorang lagi kelihatan belum terbiasa di sana. Dia
berdiri agak ragu. Kemudian berjalan tertatih-tatih di atas titian bambu yang
menghubungkan dermaga kapal motor dengan daratan. Di tengah titian dia berhenti
dan terkejut melihat seekor biawak melintas di bawahnya. Binatang yang lari
berkecipak itu meninggalkan alur berkelok-kelok pada lumpur hitam yang berbau
terasi.
41
Di tepi daratan ada warung yang menjual rokok, minuman, dan buah-buahan.
Sebetulnya laki-laki itu merasa haus. Tetapi karena tidak terbiasa dengan minuman
bersahaja, yakni air asam yang disajikan dalam gelas kotor, maka dia berusaha
menahan hausnya. Masalahnya, bagaimana juga dia harus masuk ke warung itu.
Dibelinya rokok dan pisang. Sambil makan pisang laki-laki itu mencapai tujuan utama
berhenti di warung itu. Kepada pemilik warung dia menanyakan sebuah alamat.
Yang ditanyakan oleh Marsusi adalah alamat yang terlalu sering dicari orang
pendatang. Pak Tarim. Banyak tetangga merasa heran mengapa begitu sering Pak
Tarim menerima orang pendatang. Tarim, laki-laki tua berkepala Semar, demikian
juga perutnya. Setiap hari berleha-leha menghadapi gelas besar dengan kue-kue jajan
pasar. Penghidupan sehari-hari dipercayakan kepada istri serta anak-anaknya. Anakanak
juga cucunya sudah mempunyai keahlian menangkap udang, kepiting, atau
binatang lainnya untuk campuran bahan terasi. Demikian jorok cara pengumpulan
bahan terasi itu schingga orang yang anti terasi sering menuduh bahwa bumbu
masakan itu pasti tercampur bekicot dan belatung, bahkan bangkai kadal.
Boleh jadi hanya Srintil seorang yang tetap jaga ketika embun pertama jatuh sesaat
malam melampaui batas dini hari. Perihal melek sepanjang malam bukan perkara
asing bagi seorang ronggeng. Biasanya Srintil bergadang dalam suasana gairah
dengan ciu, dengan uang, dan dengan berahi. Kali ini lain, sangat lain. Srintil sedang
berada dalam haribaan Dukuh Paruk yang tengah tidur lelap selelap-lelapnya,
merenung dan merenung. Dan Srintil tidak bisa ingkar bahwa awal segala
permenungannya adalah kenangannya bersama Rasus. Rasus yang semasa kanakkanak
bermain bersama di bawah pohon nangka, Rasus yang diserahi
keperawanannya, dan Rasus yang kemudian menjadi tentara tetapi kini berada entah
di mana. Tetapi Srintil merasa setiap kali permenungannya berakhir pada titik antah
berantah. Terutama setelah dia sampai kepada pertanyaan: apa yang bakal terjadi
atas dirinya setelah Rasus pergi. Apa pula yang bakal dialaminya setelah – entah
mengapa – dia memutuskan menolak laki-laki bernama Marsusi yang bersedia
memberinya kalung emas bermata berlian. Dukuh Paruk sepanjang zaman
mengajarkan, kehidupan adalah pakem; manusia tinggal menjadi pelaku-pelaku yang
bermain atas kehendak dalang.
Maka bagi Srintil kepergian Rasus tidak bisa dipahami secara lain kecuali atas
kehendak Sang Dalang juga. Meskipun sebagai akibatnya Srintil harus merasakan
kegetiran dalam hatinya. Lain lagi perihal penolakannya atas Marsusi. Srintil khawatir
jangan-jangan penolakannya itu berarti penentangan terhadap pakem hidup. Dan
sepanjang yang dipercayainya sikap semacam ini akan membawa akibat buruk.
Barangkali Srintil akan tetap dalam kekhawatirannya bila dia tidak sempat teringat
hal-hal keseharian yang sering dilihatnya. Misalnya toh tidak semua ayam betina
tunduk kepada jago yang mengejar hendak mengawininya. Demikian juga kambing,
kucing, dan juga burung-burung. Tentulah hewan-hewan betina itu tidak bisa
dikatakan telah melanggar perintah alam. Atau, memang alam jugalah yang mengatur
segala perilaku seluruh warganya. Tak terkecuali Srintil, ketika dia menampik
kehadiran Marsusi.
Ketika pada ujung permenungannya Srintil memperoleh sedikit ketenangan, matanya
mulai terasa mengantuk. Sementara itu cecet pertama burung sikatan sudah
terdengar. Disusul kemudian oleh kokok ayam jantan. Bunyi keresek daun pisang
kering yang menerima kedatangan codot yang hendak menyembunyikan diri. Samarsamar,
karena matanya mulai terpejam, Srintil masih sempat melihat seekor
42
bangkong melompat-lompat. kemudian menerobos celah dinding di dekat umpak
tiang. Kodok longan itu akan bersembunyi sepanjang hari di kolong balai-balai, tepat
di bawah kepala Srintil. Gangsir dan orong-orong menghentikan suaranya, membuat
Dukuh Paruk menyambut kedatangan hari baru dalam suasana yang begitu lengang.
Demikian lengang sehingga suara tetes embun jelas terdengar ketika jatuh ke atas
daun iles-iles yang tumbuh semarak di belakang rumah.
Srintil menikmati mimpi bercengkerama dengan para anak gembala; berlarian di atas
permukaan bunga-bunga ilalang. Langit di atasnya penuh laron dan burung-burung.
Srintil membaur bersama semua hewan di Dukuh Paruk. Namun keindahan mimpinya
terputus. Sepasang tangan halus meraba-raba dadanya, masuk ke dalam kutang.
Goder merengek minta menetek.
Sudah beberapa hari Sakarya kelihatan lebih banyak termenung. Perubahan yang
terjadi atas diri Srintil, cucunya, sangat mengganggu pikirannya. Perihal Srintil
menampik seorang laki-laki yang ingin memakainya tidak begitu memusingkannya.
Masalahnya, bagaimana jadinya bila Srintil tetap menghindar dari panggung pentas.
Dukuh Paruk akan kehilangan pamornya. Tanpa seorang ronggeng, Dukuh Paruk akan
mati; suatu hal yang tak ingin disaksikan oleh Sakarya yang kini sudah berada pada
ujung usia.
Perasaan kakek Srintil itu lebih dirisaukan oleh peristiwa-peristiwa kecil namun
baginya penuh makna. Kemarin, seekor burung tlimukan terbang secepat angin
menerobos pintu rumahnya yang terbuka, membentur keras cermin lemari kacanya.
Burung itu runtuh ke lantai dan mati seketika. Dari paruhnya yang mungil merah
menetes darah. Entah mengapa Sakarya sangat terkesan oleh pemandangan itu;
seekor burung yang molek dengan bulu hijau mengkilap dan paruh seperti cabai
masak, mati di hadapannya dengan gelimang darah. Sehari sebelumnya kamitua
Dukuh Paruk itu menyaksikan seekor ayam hutan hinggap di pohon angsana di
samping rumahnya. Sakarya selalu membaca sasmita alam. Sakarya tidak pernah
berpikir bahwa suatu perkara sekecil apa pun bisa berdiri sendiri, lepas dari kehendak
semesta. Dan semuanya pastilah mengemban makna yang sasmita. Sepanjang
menyangkut binatang asing yang mendekat, apalagi sampai masuk ke rumah, siapa
pun di Dukuh Paruk akan membacanya sebagai pertanda buruk. Dan pagi ini, selagi
duduk membatu di ruang depan, punggung Sakarya tertimpa sesuatu yang dingin dan
lembut: seekor cicak. Dua makhluk sama-sama terkejut. Binatang itu lari setelah
menjatuhkan diri ke tanah lalu merayap cepat di dinding. Sakarya tak kalah cepat.
Dengan gombal pembersih meja dilecutnya cicak itu, kena! Dilumatnya dengan kaki,
"Asu buntung, mampus kamu!"
Sasmita buruk lagi, pikir Sakarya. Apabila sudah yakin demikian maka hanya satu hal
yang harus dilakukan oleh kamitua Dukuh Paruk itu; mengetuk pintu makam Eyang
Secamenggala di puncak bukit, kemudian memasang sesaji dan membakar kemenyan.
Dia bersiap-siap. Istrinya disuruh mencari kembang di halaman rumah Kartareja. Dia
sendiri masuk ke kamar mengambil seikat upet. Bila sekali dibakar ujungnya sayatan
kelopak manggar ini akan terus membara sampai habis.
Sakarya keluar rumah dalam pakaian serba hitam. Celananya longgar sampai ke
tengah betis. Di lehernya terselempang kain. Iket wulung membelit kepalanya. Di
tangan kanannya yang tersilang ke belakang tergenggam upet yang sudah membara
di ujungnya. Sepanjang perjalanannya kakek Srintil itu tak sekali pun mengangkat
muka. Langkah-langkahnya pelan dan khidmat. Tetapi sekali dia harus berhenti,
menarik napas panjang kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Seekor ular koros
43
menyeberang jalan setapak yang hendak dilaluinya. Binatang melata itu berhenti
sejenak mengalang jalan. "Lagi-lagi, alangan!" desis Sakarya. "Kalau tidak berada-ada
mengapa ular itu berkeliaran mengalang jalan. Toh perutnya menggembung pertanda
ada tikus yang telah dimakannya. Dalam keadaan biasa seharusnya dia bergelung
tidur di bawah semak."
Memang di kampung laut itu nama Tarim sering dihubungkan dengan ngelmu. Tetapi
hanya orang-orang tua tertentu yang mengetahui pasti ilmu apakah yang dikuasai
orang tua itu. Anehnya justru orang luarlah yang mengetahui kekhususan Tarim.
Seperti halnya Marsusi. Melalui jalur informasi yang panjang dan berliku-liku sampailah
dia kepada Tarim. Menurut seorang teman Tarim-lah orangnya yang bisa membantu
Marsusi dalam hal melaksanakan urusan khususnya.
Panas udara mulai reda ketika Marsusi diterima oleh Kakek Tarim. Tuan rumah
menerima tamunya tanpa emosi meskipun sang tamu adalah orang yang baru pertama
dilihatnya dan kelihatan berasal dari kalangan priyayi. Ketika Marsusi memperkenalkan
diri, Tarim bahkan sama sekali tidak memperhatikan wajahnya. Hanya kepala
Semarnya yang mengangguk-angguk. Lalu mempersilakan Marsusi beristirahat di
sebuah kamar yang tertutup.
"Silakan beristirahat dulu," kata Tarim sambil menunjuk kamar yang dimaksud. "Nanti
malam sampean baru bisa berbicara. Selamanya aku tak pernah berembuk dengan
siapa pun yang berada dalam keadaan lelah."
Marsusi agak terperangah karena dalam kamar yang tak berkursi dan berlantai tikar
pandan itu ada seorang tamu lain. Laki-laki yang tengah telentang itu cepat-cepat
bangkit begitu Marsusi masuk. Keduanya berpandangan sejenak lalu bertukar senyum
dan mengangguk. Naluri masing-masing mengatakan bahwa kedua-duanya sedang
menempuh jalan yang sama. Maka antara kedua tamu itu segera tercipta suasana
akrab.
"Saya Dilam dari Warubosok. Saya datang kemari hendak minta tolong kepada Kakek
Tarim. Bapak juga, kan?"
Marsusi hanya tersenyum. Dan menyulut rokok. Teman barunya ditawarinya sebatang.
Asap rokok membuat keduanya makin akrab seperti telah terjadi persahabatan yang
lama sebelumnya.
"Nah, apakah persoalan sampean?" tanya Marsusi sambil menyandarkan diri pada
dinding bambu.
Dilam kelihatan ragu. Rahasia pribadi yang dibawanya dari Warubosok belum seorang
pun tahu, belum juga istrinya. Haruskah dia membocorkannya kepada orang yang
baru sekali bertemu? Hati Dilam menolak. Tetapi suasana senasib-sepenanggungan
bersama orang yang baru dikenalnya itu mengubah semuanya. Juga, di mata orang
dusun seperti Dilam, Marsusi kelihatan begitu berwibawa. Dan bagaimana juga Dilam
merasa telah berutang budi; rokok Marsusi sudah diisapnya.
"Sebenarnya persoalan saya sangat sepele, Pak. Kerbau!"
"Kerbau?"
"Benar. Dua ekor kerbau saya mati di kandang, diracun orang."
Marsusi mengangguk, tak ingin menyela cerita Dilam.
44
"Mula-mula pada suatu malam seekor kerbau saya lepas dari kandang. Malam itu juga
saya cari ke mana-mana tetapi saya tidak bisa menemukannya. Baru pagi hari saya
berhasil menemukan kerbau itu di ladang orang, sedang menumpas tanaman jagung.
Saya mengambil bintang itu kemudian pergi ke rumah pemilik ladang. Permintaan
maaf saya ditolaknya. Dia juga menolak tawaran saya tentang ganti rugi. Nah, saya
sudah berniat baik, tetapi dua malam berikutnya kerbau saya mati dua ekor. Bukan
main sakit hati saya, Pak."
"Sampean yakin kerbau-kerbau itu mati termakan racun?"
"Iya, Pak. Sejak kecil saya tidak pernah berpisah dengan kerbau. Saya tahu bahwa
kerbau hanya berak di tempat-tempat tertentu. Saya juga tahu kerbau yang ingin
kawin, yakni bila binatang itu mulai mengasah pantatnya ke tiang kandang. Apalagi
tentang kerbau yang sakit. Nah, kerbauku mati mendadak. Mulutnya berbusa. Setelah
dipotong dan isi perutnya dikeluarkan tercium ban racun. Isi perut itu kami buang ke
kolam dan ternyata ikan-ikan mati. Jadi apa lagi kalau bukan racun?"
"Sampean juga yakin bahwa pemilik ladang itulah yang meracuni kerbau sampean?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Marsusi tersenyum dan mengangguk demi menyenangkan lawan bicaranya. Ganti
Dilam yang bertanya tentang persoalan yang dibawa oleh kepala perkebunan karet itu.
Tetapi Marsusi menghindar dengan cara melorotkan tubuhnya hingga sampai pada
posisi tidur. Mata dipejamkan pura-pura mengantuk. Dan kelelahan serta angin laut
yang menerobos masuk ke bilik tamu itu membuatnya benar-benar tertidur.
Ketika terbangun beberapa jam kemudian Marsusi mendapati kamar sudah diterangi
lampu minyak. "Jam tujuh malam," desisnya setelah melihat jam tangannya. Marsusi
bangkit. Kakinya hampir menyentuh gelas. Ternyata bukan hanya ada gelas-gelas,
melainkan juga piring-piring berisi nasi dan lauk-pauknya. Semuanya tidak mampu
membangkitkan selera Marsusi. Lidahnya sudah terbiasa dengan makanan yang lebih
baik. Gelas Dilam tinggal berisi setengahnya. Tetapi ke manakah orangnya?
Pertanyaan itu terjawab oleh suara dua orang yang sedang bercakap-cakap di dalam
rumah. Marsusi dapat memastikan dua orang itu adalah Dilam dan tuan rumah.
Tergerak oleh rasa ingin tahu Marsusi keluar dari bilik. Ternyata ruang depan tanpa
lampu. Sepi, bahkan tak terdengar suara anak-cucu Tarim maupun istrinya. Marsusi,
perlahan-lahan, duduk di kursi yang paling dekat dengan asal suara di balik dinding.
Di ruang dalam Dilam duduk berhadapan dengan Tarim. Kali ini wajah Tarim
bersungguh-sungguh. Setiap ucapan tamunya ditanggapi dengan kening berkerut
serta kedua alis yang hampir bertemu.
"Sekali lagi, pikirlah dahulu, Nak. Ini persoalan nyawa. Dan saya akan membebankan
seluruh tanggung jawab pada diri sampean," kata Tarim sambil memandang tajam ke
arah bola mata Dilam.
"Hati saya sudah bulat, Kek. Saya bersedia menerima segala akibatnya."
"Akibat di dunia dan di alam kelanggengan nanti?"
"Ya, Kek."
"Sampean mengerti bahwa urusan semacam ini juga akan berakibat buruk kepada
anak-cucu sampean?"
45
Dilam tidak segera memberi tanggapan. Kini wajahnya menunduk, sejenak berhenti
bernapas. Saat itu rasa sakit hati karena permintaan maafnya ditolak pemilik ladang
menyengat kembali. Dalam rongga matanya terbayang dua ekor kerbau
kesayangannya terkapar.
Tiba-tiba Sakarya tersenyum. Di tengah kebeningan hatinya mendadak muncul
kesadaran yang dalam bahwa usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Di Dukuh
Paruk dialah laki-laki sang paling lanjut. Apabila pertanda buruk yang dirasakannya
adalah peringatan akan datangnya ajal maka pantaslah adanya. Perihal kematian diri,
bukan hanya sekali-dua Sakarya merenungkannya. Kadang malah merindukannya.
Beberapa tahun yang lalu Sakarya memesan tempat di pekuburan Dukuh Paruk.
Dibuatnya pemakaman palsu dengan tonggak nisan. Bila ajal tiba maka orang akan
menanam tubuh Sakarya di tempat itu.
Dalam kesadaran yang mulai akrab dengan kematian Sakarya sampai ke pekuburan
Dukuh Paruk. Dia berhenti di kaki tanjakan buat menata pernapasannya. Suasananya
temaram karena kerindangan beringin di puncak bukit memayungi sebagian besar
tanah pekuburan. Ditambah lagi matahari pagi masih tersaput awan. Mata Sakarya
yang sudah kelabu menatap ke depan. Ketika angin yang lemah berembus pohonpohon
puring bergoyangan. Dan Sakarya diam sempurna. Pohon-pohon yang
bergoyang itu tampak olehnya sebagai kelompok manusia dalam tarian aneh. Meski
dengan wajah-wajah mengerikan Sakarya bisa mengenali mereka. Yakni orang-orang
yang meninggal keracunan tempe bongkrek tujuh belas tahun yang lalu. Ada wajah
Santayib suami-istri di antara wajah-wajah yang menyeramkan itu. Keduanya adalah
anak dan menantunya, tepatnya orang tua kandung Srintil. Ada wajah-wajah ronggeng
Dukuh Paruk sebelum Srintil yang meninggal puluhan tahun yang lalu.
Sakarya merasa hawa dingin bertiup di kuduknya. Suara hiruk-pikuk bergalau dalam
telinga. Dan tiba-tiba Sakarya terkejut oleh sinar menyilaukan yang menusuk
matanya. Matahari pagi muncul dari balik awan. "Ah, boleh jadi benar, kematianku
sudah dekat," gumam Sakarya. Aneh, Sakarya merasakan ketentraman dalam hati
setelah bergumam demikian. Ketika mulai mendaki pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya
tidak merasa lain kecuali sedang menapaki jalan menuju rumah. Hatinya damai.
Pasrah. Kepasrahannya terucapkan ketika mulutnya komat-kamit menyatakan sesuatu
di depan pintu makam Ki Secamenggala. Asap kemenyan mengepul dari ujung
upetnya yang membara. Apabila Sakarya masih mengajukan keinginannya sebelum
ajal tiba, maka masalahnya menyangkut kepentingan Dukuh Paruk; hendaknya calung
dan ronggeng lestari adanya. Setidaknya, Srintil akan kembali menari, meronggeng.
Kamitua Dukuh Paruk itu sungguh tidak bisa membayangkan apa jadinya bila Srintil
tetap menghindari pentas. Dukuh Paruk tanpa ronggeng; reputasi buruk bagi kakek
yang merasa menjadi pemangku anak-cucu Ki Secamenggala di Dukuh Paruk.
Pulang ke rumah Sakarya mendapati Srintil sedang menerima seorang tamu. Semula
Sakarya mengira tamu itu hanya berkepentingan dengan Srintil secara pribadi. Namun
setelah jelas siapa dia, Sakarya langsung ikut duduk. Tamu itu adalah Pak Ranu,
seorang penggawa kantor kecamatan yang sudah dikenalnya. Sakarya sadar betul
seorang seperti Pak Ranu tidak akan berurusan dengan ronggeng secara pribadi.
"Wah, seorang priyayi datang ke Dukuh Paruk; ada apa ini?" kata Sakarya.
"Tentu ada urusan yang saya bawa bagi sampean serta cucu sampean ini."
46
"Begitu. Nah, katakan, Pak Ranu. Asalkan jangan urusan hukum, karena kami di
Dukuh Paruk tak pernah menyalahi hukum."
"Sama sekali bukan itu, Kang. Ini urusan calung."
"Calung?"
"Apabila ada orang luar datang ke Dukuh Paruk, apa lagi maksudnya?"
"Yah, ya. Lalu, apakah sampean sudah berbicara langsung dengan Srintil?"
"Sudah."
Sakarya menoleh kepada cucunya. Wajah Srintil tersaput awan ketidakpastian. Murung
dia. Sakarya mengerti, lalu menarik napas panjang sambil bersandar ke belakang.
"Kang Sakarya," ujar Pak Ranu. "Bukan saya yang hendak punya hajat melainkan
panitia perayaan Agustusan."
"Agustusan dengan mementaskan ronggeng?"
"Nah, baru kali ini terjadi bukan? Rasanya, ini sebuah kehormatan bagi Dukuh Paruk."
"Ya, tentu."
"Nah. Tetapi saya agak heran mengapa Srintil tidak segera memberi kesanggupan."
Lagi, Sakarya menarik napas panjang. Kemudian, dengan tetap menunduk Sakarya
bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
"Seharusnya Srintil mengerti urusan kali ini bukan sekedar undangan berpentas. Bisa
juga dikatakan sebagai perintah karena dia datang dari panitia resmi."
"Nah! Sampean betul, Kang Sakarya. Betul. Untung sampean yang mengatakannya,
bukan saya."
"Sekarang bagaimana sampean, Jenganten?" kata Pak Ranu kepada Srintil.
Setelah lama berdiam-diri Srintil menjawab lirih, "Sudah lama saya tidak menari, Pak."
"Kenapa?"
Pertanyaan Pak Ranu berulang sampai tiga kali.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Ah, masa. Bila ada ronggeng maka harus ada calung, bukan?"
"Yah, pokoknya saya sedang malas menari, Pak."
"Memang, Jenganten. Terkadang orang bisa merasa malas atau bosan terhadap
pekerjaannya. Soalnya, permintaan ini datang dari panitia Agustusan yang diketuai
sendiri oleh Camat. Bagaimana?"
"Bila sedang malas, tarianku bisa tidak karuan, Pak. Bagaimana?"
Pak Ranu tersinggung oleh pertanyaan balik ini. Tetapi penggawa kantor kecamatan ini
bertahan dalam kesabarannya.
"Nanti dulu, Jenganten. Pada malam kesenian nanti kalian akan tampil berganti-ganti.
Ada rombongan orkes keroncong dari kota, ada rombongan lawak dan juga rombongan
akrobat. Tetapi saya percaya rombongan ronggeng Dukuh Paruk jugalah yang paling
digemari penonton."
47
Srintil tak bergeming oleh rangsangan yang ditawarkan oleh Pak Ranu. Juga dia tetap
bungkam ketika Sakarya ikut mendesaknya. Akhirnya utusan dari kantor kecamatan
itu berdiri. Ucapannya terdengar bernada ancaman.
"Saya tidak berpikir jauh ke sana, Kek. Urusan nanti bagaimana nanti saja. Pokoknya
begitulah tekad saya."
"Aku tidak biasa tergesa-gesa, Nak. Nah, pikirlah kembali. Keluarlah, siapa tahu udara
di luar bisa mengubah pikiran sampean."
Meskipun merasa enggan, namun Dilam bangkit juga. Tidak diketahuinya pada saat
yang lebih cepat Marsusi berjingkat kembali ke biliknya.
Udara di luar memang lebih dingin. Dilam memandang langit yang masih merona
merah di barat sisa mambang petang. Nyamuk luar biasa banyak sehingga Dilam tak
pernah berhasil menenangkan dirinya. Tak mengapa, karena setidaknya Dilam bisa
mengingat kembali sepenuhnya kata-kata Tarim. Mestinya semuanya benar. Lepas
dari kenyataan bahwa kakek itu menikmati upah dari ilmu hitamnya, toh dia kelihatan
bersungguh-sungguh mencegah orang membuat celaka sesamanya. Atau seperti yang
pernah didengar oleh Dilam sendiri bahwa Tarim akan menerima dengan ikhlas
pengunduran diri seseorang yang semula datang dengan maksud minta bantuan buat
membinasakan orang lain.
Masalahnya tinggal pada nurani Dilam untuk menerima sinar terang. Ternyata
kesumat yang mengendap dalam hati laki-laki dari Warubosok itu lebih pekat. Katakata
sendiri yang tadi terucapkan di depan Tarim bergema kembali. "Urusan nanti,
bagaimana nanti saja!"
Dilam masuk kembali menghadap Tarim. Wajahnya malah bertambah gelap. Sambil
duduk dilepasnya napas banyak-banyak.
"Bagaimana, Nak?"
"Saya tetap pada pendirian semula. Sudahlah, Kek. Pokoknya semua ini atas tanggung
jawab saya."
"Baiklah kalau begitu."
Tarim bangkit meninggalkan tamunya. Seperempat jam kemudian dia muncul lagi
membawa sebuah cawan berisi air bening dan sehelai kain mori. Setelah terpapar di
atas meja Dilam baru melihat ada sebuah jarum berekor benang terselip pada kain
mori. Tak urung hati Dilam terkesiap melihat benda-benda yang mendadak
berpengaruh magis itu.
Kakek Tarim duduk. Entah mengapa napasnya terengah-engah. Keningnya mengkilat
oleh titik keringat. Jarum dipegang pada ekor benangnya, diayun-ayun memutar tepat
di atas cawan. Ayunan dihentikan. Jarum yang masih berpusing-pusing itu
ditunggunya sampai berhenti. Kemudian dijatuhkan tepat di tengah air dalam cawan.
Air seperti mendidih dan Tarim cepat menutup cawan itu dengan kain mori. Sesaat
kemudian terdengar suara gemercik. Kain mori itu disingkapkan. Airnya masih bening
tetapi jarum berekor benang itu telah lenyap.
"Kirimanmu sudah berangkat," kata Tarim.
Ketegangan pada wajahnya mengendur. Dengan ujung baju dilapnya keringat yang
mengucur deras. Sementara itu Dilam sendiri belum bisa melepaskan diri dari
48
kebisuan yang sebenar-benarnya. Dan Dilam terperanjat ketika terdengar lagi suara
berkecipak dari dalam cawan yang tertutup mori. Tarim membukanya.
Mata Dilam membulat melihat air dalam cawan sudah berubah. Jarum berekor benang
kelihatan lagi, mengkilat dalam cairan yang lambat-laun menjadi merah. Darah
mengental pada ekor benang itu, larut perlahan-lahan merata dalam cairan.
"Hem, selesai," kata Tarim sambil mengemasi perkakasnya. "Sekali lagi, Nak. Semua
ini terjadi atas tanggung jawab sampean sepenuhnya. Kalau besok cepat pulang ke
Warubosok sampean bisa melihat penguburan mayat seteru sampean itu."
Yang terkesan dari wajah Dilam adalah perasaan puas sekaligus ngeri. Orang
Warubosok itu tak mampu berkata-kata. Dirasakannya keringat meleleh di
tengkuknya. Melihat Dilam yang pucat dan agak gemetar Tarim tersenyum. Kakek itu
sudah hapal. Itulah perilaku kebanyakan tamu yang datang kepadanya.
"Agar sampean tidak gemetar seperti itu hanya ada satu cara. Usahakan sekeraskerasnya
rasa benar di hati sampean. Bahwa musuh sampean mendapat celaka akibat
ulah sendiri; tanamkan keyakinan itu kuat-kuat pada diri sampean."
Dilam mengundurkan diri dengan kegoncangan hati yang tidak bisa disembunyikan.
Dalam bilik tamu didapatinya Marsusi sedang menengadah, tidur di lantai bertikar.
"Sudah?" tanya Marsusi dengan senyum.
Jawaban Dilam adalah air muka yang kosong hambar.
"Masih adakah perahu motor menghilir ke Cilacap? Aku ingin secepatnya pulang," ujar
Dilam. Mendengar cakap temannya yang ngelantur Marsusi sekali lagi tersenyum.
Sebab sesungguhnya dirinya pun mulai diliputi ketidakpastian. Dia mendengar seluruh
percakapan antara Dilam dengan Kakek Tarim; sesuatu yang tidak boleh tidak telah
membuat bulu kuduknya meremang. Marsusi merasa yakin temannya, seperti dirinya
juga, dihantui oleh perasaan tidak nyaman.
Kedua penghuni bilik tunggu itu berdaulat dalam pikiran masing-masing. Dilam
telentang berbantal tangan, matanya menerawang jauh menembus atap,
membayangkan seterunya tiba-tiba terbatuk dan muntah darah. Disusul hiruk-pikuk
dalam kegawatan yang amat sangat. Jerit istri dan anak-anaknya. Seruan minta tolong
kepada tetangga. Tangis yang ramai dan berkepanjangan. Galau suara laki-laki dan
perempuan. Dan akhirnya sesosok mayat diam di atas balai-balai tertutup kain dari
ujung kaki hingga kepala.
Orang-orang yang semula tercekam kepanikan mulai duduk. Dilam seakan mulai
mendengar mereka berspekulasi tentang sebab malapetaka. Tak ayal lagi,
pergunjingan akan sampai kepada masalah kiriman. Dilam gelisah. Kegelisahan itu
makin terasa mengusik hati ketika terbayang kembali olehnya pemandangan dalam
cawan putih itu. Ada darah kental yang larut perlahan-lahan dalam air bening.
Marsusi duduk berselonjor dengan punggung lekat pada dinding bilik. Rokoknya
mengepul. Dia sama sekali tidak memperhatikan Dilam yang kelihatan begitu gelisah.
Namun sebenarnya Dilam-lah yang sedang menjadi titik pusat permenungannya.
Tak salah lagi Dilam pastilah seorang petani. Dia berasal dari kaum yang selama ini
dianggap sebagai simbol sisa keluguan, kejujuran, bahkan keutuhan kemanusiaan.
Tetapi mengapa si tani yang dungu itu memiliki keberanian menumpahkan darah
meski secara tidak langsung, melalui jalan yang tidak bisa diterangkan dengan akal –
petani sesamanya? Kearifan yang segera diperoleh Marsusi dari permenungan sesaat
49
itu adalah sebuah pelajaran sederhana, bahwa rasa dendam mampu membinasakan
martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada
keserbaluguannya.
Dan Marsusi terkejut ketika sadar dirinya kini berada hanya beberapa jengkal dari
Dilam. Dan dia berada dalam bilik itu, terus terang dalam rangka tujuan yang sama.
Bila Dilam telah mencelakakan pemilik ladang yang telah meracuni kerbaunya, maka
Marsusi akan membuat celaka seorang anak Dukuh Paruk yang telah
mempermalukannya, menampik hajatnya.
Pandangan mata Marsusi baur. Terbayang olehnya Srintil memegang dada sambil
terbatuk mengeluarkan darah segar. Ada beling dan paku-paku berhamburan dari
mulutnya. Matanya terbeliak mengerikan. Kemudian terbayang keranda diusung
menuju pekuburan diiringi tangis semua warga Dukuh Paruk.
Marsusi menggeleng-gelengkan kepala. Menelan ludah dan membunuh rokoknya di
lantai. Seperti halnya Dilam, pada saat itu pun Marsusi ingin segera pulang. Tetapi
bayangan Stintil ketika menampiknya kelihatan lagi di depan mata. Urat-urat pipinya
menggumpal. Pada saat itu terdengar suara dari dalam. Kakek Tarim memanggilnya.
Seperti orang yang kehilangan kepastian Marsusi bangkit. Dilam memandangnya
sambil tetap telentang. Ah, mata orang Warubosok itu! Seakan ada sesuatu yang
minta diterjemahkannya. Sayang lampu minyak itu tidak mempunyai cukup cahaya
buat memantulkan kembali makna yang terkandung dalam sinar mata Dilam.
Sementara itu suara panggilan terdengar kembali buat kali kedua. Marsusi
menyeberang ruang depan dan membuka pintu yang menuju ruang dalam.
"Silakan duduk," sambut Tarim dalam gaya yang paling ayem dan acuh. "Sekarang
terangkan maksud kedatangan sampean."
Setelah terbatuk beberapa kali, Marsusi menceritakan kembali pengalamannya di
Dukuh Paruk kira-kira dua minggu sebelumnya. Nada suaranya santun, tanpa emosi;
satu hal yang menarik perhatian tuan rumah. Tarim sudah terbiasa dengan bicara
orang mengadu, mengeluh, dan penuh dendam. Tetapi hal itu tak terbersit dalam
pembicaraan Marsusi. Tiba-tiba Tarim tersenyum, membuat Marsusi berhenti
berbicara.
"Srintil, Nak?"
"Ya, Kek."
"Ah."
"Sampean mengenalnya, Kek?"
"Benar. Dia seorang ronggeng yang bisa membuat orang geregetan, bukan? Aku sudah
pernah menontonnya. Ah, memang. Dan dia telah mempermalukan sampean yang
gagah begini."
Marsusi tersipu, dibalas oleh Tarim dengan tawa terkekeh.
"Ah, memang tidak enak dibikin malu, apalagi oleh seorang ronggeng cantik. Lalu
sampean mau apa?"
"Tentu saja aku ingin membalasnya, bahkan melenyapkannya. Aku tahu betul Srintil
menerima semua laki-laki yang datang sebelum saya demi uang yang tak seberapa
atau demi satu-dua gram emas, Tetapi dia menampikku, padahal seratus gram kalung
50
emas berbandul berlian yang kusodorkan kepadanya. Mau disebut apa lagi kalau
bukan penghinaan yang sebesar-besarnya. Tetapi, Kek..."
"Tetapi?"
"Pikiran saya berubah sekarang."
"Maksud sampean?"
"Ah, biarlah dia."
Marsusi tersenyum tawar. Tetapi Kakek Tarim terkekeh-kekeh.
"Karena, kalau Srintil melirik sambil pacak gulu, jantungmu rontok, bukan? Karena,
kalau Srintil melempar sampur, hatimu terbeset, bukan?"
Tarim menyambung tawanya lebih keras. Perut semarnya bergejolak. Bibirnya yang
tumpul pada kedua ujungnya tertarik ke belakang sehingga tak salah lagi; Semar.
"Ah, ya! Mestinya semua orang seperti sampean; tak usah ragu mengubah pikiran bila
disadari pikiran yang dimaksud tidak baik. Mengapa masih saja orang datang kemari
dengan tujuan mencari pelampiasan dendam, bahkan kadang hanya karena rasa iri
terhadap sesama. Mereka mengira dengan melampiaskan dendam maka urusannya
selesai. Nah, mereka keliru. Dengan cara itu bahkan mereka memulai urusan baru
yang panjang dan lebih genting. Di dunia ini, Nak, tak ada sesuatu yang berdiri
sendiri. Maksudku, tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik
berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.
Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga
berani mengambil risiko."
Marsusi mendengarkan khotbah Tarim dengan minat yang penuh. Bukan hanya karena
dia menangkap kebenaran dalam khotbah itu, melainkan secara pasti dia merasakan
adanya kepura-puraan yang nyata. Seorang tukang sihir berkhotbah tentang nilai-nilai
budi luhur! Keganjilan yang terasa di hati Marsusi mengambang menjadi garis-garis
tanda tanya pada wajahnya, pada sinar matanya. Sasmita ini terekam oleh indria
Tarim. Dia tanggap sasmita.
"Nah, saya ini, Nak, bisa diibaratkan sebagai tukang membuat bedil. Dia tahu betul
bedil hanya dibuat untuk satu tujuan; memisahkan nyawa dari badan. Mestinya tak
perlu ada orang membuat bedil supaya setiap mayat yang dikubur adalah dia yang
mati wajar. Dan itu baik.
Nah, ternyata kehidupan ini seperti demikian adanya. Aku hanya Kakek Tarim. Aku tak
berdaya mengubah arah kehidupan, bahkan aku tak kuasa menghindar dari garis yang
telah ditentukan buat diriku."
"Ya. Dan untunglah, setidaknya aku telah berhasil mengubah niatku," kata Marsusi
setelah beberapa kali mengangguk. Tetapi dia kaget karena Tarim menertawakannya,
ditambah dengan pandangan mata menyindir.
"Sampean memang beruntung. Tetapi yang baru sampean lakukan adalah mengubah
niat. Pelaksanaannya tidak gampang, Nak. Betulkah sampean telah berhasil
menghapus dendam sehingga hati sampean bersih dan putih seperti daging buah
kelapa? Aku tidak yakin, Nak."
51
Tarim menatap wajah tamunya, lama dan menghunjam. Marsusi merasa tersinggung.
Tetapi tak bisa berbuat lain kecuali diam dan mempertanyakan kembali apa yang ada
dalam hatinya.
"Coba, Nak. Sekarang sampean mengaku telah memaafkan Srintil, ronggeng Dukuh
Paruk itu. Bagaimana masalahnya bila suatu ketika sampean melihat Srintil menjadi
buah pujaan ratusan orang dalam suatu pentas? Dan, bagaimana halnya bila suatu
saat sampean mendapati Srintil bergendak dengan laki-laki yang pada dasarnya lebih
rendah daripada diri sampean? Betulkah dendam sampean kepadanya tidak akan
kembali kumat?"
"Aku khawatir, Kang," kata Sakarya.
"Bagaimana?"
"Jangan-jangan kita melakukan kesalahan. Pentas kita kali ini dilakukan menyimpang
adat. Sampean mendengar ucapan-ucapan pengantar acara tadi?"
"Ya," jawab Kartareja. "Tetapi bagaimana, ya. Kita di sini menjadi orang yang diatur."
"Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku
sungguh tidak enak. Bisa terjadi apa-apa nanti."
"Benar, Kang. Mereka tidak tahu bagaimana jerih kita membujuk Srintil agar mau
kembali menari. Nah, sekarang Srinfil sudah mau, tetapi mereka kelihatan tidak
menghargai tata cara pementasan ronggeng."
"Aku mau pergi, Kang."
"Pergi? Ke mana?"
"Ke luar. Aku percayakan kepada sampean pengaturan atas anak-anak."
Kartareja maklum. Rekannya harus berbuat sesuatu yang berhubungan dengan arwah
Ki Secamenggala. Di tempat yang penuh manusia hal-hal semacam itu tak mungkin
dilakukannya.
Pergelaran musik keroncong sudah dimulai. Suasana yang tercipta oleh nada-nada
klangenan membuat para pengunjung terpilah-pilah. Ketika seorang pemuda necis
membawakan lagu Jenang Gula, banyak orang terkesima; hanyut terbawa ombak
melankolik. Srintil menatap lurus ke arah pemuda yang berpakaian bersih dengan dasi
kupu-kupu itu. Hatinya ikut bernyanyi. Tetapi dari sudut tertentu mulai terdengar
kasak-kusuk. Kemudian sebuah suara mencuat entah dari mana.
"Turun, turun! Kami tidak doyan ngak-ngik-ngok imperialis! Turun!"
Si pemuda yang segera tanggap tidak menuruti ocehan dari sudut lapangan itu. Dia
cukup pintar dengan cara mengganti lagunya. Para pemain diaturnya sejenak.
Kemudian berkumandanglah Genjer Genjer, sebuah lagu daerah yang entah mengapa
menguasai udara tanah air pada tahun 1964 itu. Semangat dan kegembiraan
pengunjung terbakar kembali. Banyak orang bangkit dari tempat duduk agar bisa lebih
leluasa bertepuk tangan atau bahkan ikut tarik suara. Suasana sungguh meriah
membahana.
Anehnya Srintil makin membeku di tempat duduknya. Bukan karena tidak terbawa
suasana. Di dalam hatinya terjadi letupan kegembiraan yang hanya bisa dinikmati
dalam diam.
52
"Namanya Murdo, Tri Murdo, putra penilik sekolah di Dawuan ini," bisik Nyai Kartareja
kepada Srintil. Hanya orang yang berbakat mucikari segera menangkap apa yang
terjadi dalam hati Srintil. Dia jugalah perempuan yang paling banyak tahu data
tentang para lelaki di daerahnya. "Sekolahnya di Yogya. Di mataku Murdo adalah
seorang anak muda yang bagus. Entahlah di matamu."
Srintil menepis tangan Nyai Kartareja, memberi isyarat agar perempuan tua itu tidak
meneruskan kata-katanya. Srintil malu. Perubahan wajahnya begitu nyata sehingga
Nyai Kartareja malah tertawa. Sebelum hiburan musik keroncong berakhir seorang
laki-laki menemui Nyai Kartareja. Rombongan ronggeng dimintanya menyiapkan diri
karena waktu baginya hampir tiba. Sebenarnya, sesudah musik keroncong berakhir,
tibalah giliran pertunjukan pencak silat. Tetapi tanpa penjelasan apa pun rombongan
itu tidak hadir.
Nyai Kartareja membawa Srintil ke sebuah ruang tertutup di kantor kecamatan. Di
sana Srintil bertukar pakaian. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang, tak
ada yang kurang pas pada tubuh Srintil. Segala hiasan alami pada tubuhnya sedang
berada pada puncak perkembangannya. Ketika kebaya dan kutang dilepas tampillah
pesona sang Ratih. Lehernya yang segar menjadi perimbangan kedua pundak yang
memiliki kesempurnaan bentuk. Kalung emas, cincin, serta tiga gelang berkilat dan
mempertegas keremajaan kulitnya. Giwangnya besar. Cahaya berjatuhan dari mata
faset intan bila Srintil menggerakkan kepala sedikit aja.
Banyak orang menerobos masuk ingin melihat Srintil berdandan. Nyai Kartareja hanya
mengusir ke luar mereka yang masih anak-anak. Bagi yang dewasa, istri dukun
ronggeng itu hanya berpura-pura merasa keberatan. Tetapi sesungguhnya dia senang
memperoleh kesempatan memamerkan kecantikan anak asuhannya. Srintil melihat
dirinya dalam cermin kecil yang dipegangnya. "Ya. Itulah diriku yang sebenarnya, yang
demikian seharusnya. Tetap tersenyum dan gembira. Aku seorang ronggeng dan
ronggeng!"
Ketika Srintil keluar diiringi Nyai Kartareja dirinya menjadi titik pusat pancaran ratusan
pasang mata. Seorang laki-laki berjalan di depan menyibak kerumunan orang. Lakilaki
ini langung membawa Srintil menuju panggung. Perangkat musik keroncong telah
berganti dengan calung. Dan demi anu orang memberi kaca mata hitam kepada
Sakum. Mula-mula Sakum menolak karena kebutaan adalah bagian hidup yang telah
diterimanya tanpa rasa malu sedikit pun. Tetapi setelah dikatakan dia bertambah
gagah dengan kaca mata itu Sakum menerimanya.
Srintil menapaki tangga panggung dengan iringan tepuk tangan yang riuh. Dari sudut
tertentu slogan politik. "Hidup kesenian rakyat!" Tetapi Srintil tenang seperti awan
putih bergerak di akhir musim kemarau. Memang, sejenak dia tertegun oleh luas serta
benderangnya panggung. Dia hanya terbiasa dengan arena beralaskan tikar pandan
dan lampu pompa sebagai penerang. Kemudian segenap penonton menyaksikan
bagaimana Srintil menempatkan dirinya secara mengesankan sebagai pemangku
utama kewibawaan panggung. Dia berdiri memutar badan ke arah semua penonton.
Bibirnya sedikit ditarik sehingga terjadi keindahan lekuk di kedua ujungnya. Matanya
berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun. Angkuh tetapi teduh. Srintil sedang
memberi hormat kepada penonton tanpa harus menekan harga dirinya.
Kemudian hening. Semua orang melihat Srintil merendahkan badan, duduk di hadapan
para penabuh. Rombongan dari Dukuh Paruk sedang menunaikan tata cara mereka
sendiri, mengheningkan cipta sebelum pertunjukan dimulai. Dan tak seorang pun
mengerti apa yang sedang bergolak di hati Srintil. Dia sadar betul dirinya sedang
53
menjadi tumpuan pandangan lebih dari seribu pasang mata. Ada mata Ibu Camat,
mata bapak ini, bapak itu, dan mata warga Dawuan. Namun Srintil menganggap tak
ada beda antara sekian banyak mata itu. Baginya sama saja. Semuanya adalah mata
Rasus. Di depan mata Rasus itu Srintil akan menunjukkan betapa dirinya mempunyai
sekian banyak kelebihan. Sehingga meski sudah menjadi tentara Rasus sama sekali
tidak berhak mengecilkan arti dirinya. "Kamu telah meninggalkan diriku dengan cara
menyakitkan. Kamu takkan berbuat seperti itu bila kamu tidak ingin dirundung
penyesalan yang mendalam. Lihat saja!"
Marsusi tergagap oleh pertanyaan beruntun itu. Dan tatapan mata itu. Tatapan mata
yang penuh keyakinan diri. Marsusi dibuatnya merasa kecil.
"Aku ini sudah tua, Nak. Jangan-jangan aku lebih menguasai persoalan sampean dan
lebih tahu apa yang sebaiknya sampean lakukan sekarang."
"Boleh jadi begitu, Kek. Maka tidak salah aku sampai ke tempat ini."
"Baiklah. Dalam hal diri sampean yang ternyata belum setua diriku maka balaslah
sakit hati sampean. Asal adil. Sampean telah dipermalukan, bukan?"
Marsusi mengangguk seperti anak kecil.
"Maka balaslah kembali dengan mempermalukannya. Hanya dengan cara itu sampean
bisa membebaskan diri dari rasa dendam. Mungkin juga sampean bahkan bisa
melupakan Srintil buat selama-lamanya. Sekali lagi, membalas dendam yang adil
adalah dengan cara sama: mempermalukannya. Bukan menyakiti badan, apalagi
membahayakan jiwanya."
"Saya sudah mengerti, Kek. Tetapi bolehkah saya bertanya?"
"Lha, mengapa tidak?"
"Andaikan yang telah mempermalukan diriku bukan Srintil, apakah sampean tetap
pada kata-kata yang sama?"
Pertanyaan balik yang dilontarkan Marsusi ini membuat wajah Tarim sedikit
menegang. Apabila yang dihadapinya bukan seorang kepala perkebunan tentu
kemarahannya meletus. Atau, tentu saja. Karena menyadari derajatnya Marsusi berani
bertanya kepada orang pandai itu. Tarim maklum. Bibirnya yang tebal dan tumpul
merekah senyum.
"Wah, saya harus berkata jujur. Begini, Nak. Srintil dalam kenyataannya bukan hanya
milik orang tuanya, sanak saudaranya, bahkan bukan hanya milik Dukuh Paruk
bersama kelompok ronggengnya. Dia milik semua orang. Sampean juga, aku juga.
Maka membuatnya tertalu celaka akan berakibat lebih buruk dari apa yang bisa kita
duga. Ini sangat tidak baik, terutama bagi sampean sendiri. Percayalah!"
Marsusi mengakui dirinya kalah. Tetapi lega. Selanjutnya dia lebih banyak
menganggukangguk menerima petunjuk Tarim. Ketika pertemuan dua orang itu
berakhir, angin darat mulai bertiup. Meski nyamuk luar biasa banyak serta tidur di atas
amparan tikar, Marsusi lelap hingga pagi. Sayang, beberapa kali dia dikejutkan oleh
Dilam yang tidur gelisah dan sering mengigau.
***
Kegembiraan itu lahir dan berkembang dari Dukuh Paruk. Berita cepat tersiar bahwa
pada malam perayaan Agustusan nanti Srintil akan kembali meronggeng. Kurang dua
hari lagi, tetapi sudah banyak orang bersiap-siap. Anak-anak mulai bertanya tentang
54
uang jajan kepada orang tua mereka. Para pedagang, dari pedagang soto sampai
pedagang pecel bersiap dengan modal tambahan, juga tukang lotre putar yang selalu
menggunakan kesempatan ketika banyak orang berhimpun.
Nyai Kartareja segera memperbaiki hubungannya dengan Srintil, pertama-tama
dengan berusaha mengaku bersalah dalam peristiwa Marsusi beberapa minggu
berselang. Perubahan sikapnya terhadap Srintil sangat nyata. Dia tidak berkamu lagi
terhadap ronggeng Dukuh Paruk yang telah sekian lama menjadi anak akuannya. Nyai
Kartareja kini memanggil Srintil dengan sebutan Jenganten atau setidaknya sampean;
suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya kemandirian Srintil telah diakuinya.
Srintil seperti hendak menjadi temanten laiknya. Dia dipingit oleh Nyai Kartareja.
Badannya dilulur untuk memulihkan keremajaan kulitnya. Sebelum berangkat tidur
Nyai Kartareja memintanya mengunyah satu-dua butir merica agar suaranya tetap
lantang dan jernih. Pakaian pentasnya dicuci secara istimewa. Sementara itu Nyai
Kartareja tidak perlu lagi mencari jelaga dan getah pepaya buat penghitam alis, juga
tak perlu lagi menyuruh Srinitil mengunyah sirih sebelum naik pentas. Kios Pak Simbar
di pasar Dawuan sudah menyediakan gincu, pensil rias, dan sebagainya.
Selagi istrinya mengurus Srintil, Kartareja menyiapkan perangkat calung. Penabuhpenabuh
dihubungi dengan pesan agar nanti menampilkan permainan terbaik. Calungcalung
yang sudah lama tidak terpakai diperbaiki. Diteliti kalau ada temalinya yang
putus. Ada orang datang, entah siapa. Kepada Kartareja orang itu mengaku anggota
panitia. Dia menyodorkan kertas berisi catatan lagu. Tetapi karena Kartareja buta
huruf orang itu membacakan untuknya. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal
oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat.
Kartareja merasakan keanehan karena dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat"
dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang akrab dalam hatinya. Tetapi Kartareja
tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Baginya menuruti kata priyayi atau orang yang
seperti itu merupakan salah satu kebajikan dalam hidup.
Boleh jadi hanya Sakarya yang tidak sepenuhnya larut dalam kegembiraan. Sikapnya
yang hati-hati berasal dari filsafatnya yang sederhana. Bagiya segala sesuatu
berpasang-pasangan adanya, tak terkecuali sesuatu yang bernama kegembiraan.
Pasangannya pastilah kesusahan. Sepanjang lintasan hidupnya yang panjang Sakarya
sering menemukan kenyataan bahwa segala sesuatu tak pernah berpisah jauh dari
pasangannya. Orang selalu memilih pihak yang menguntungkan dan menjauhi pihak
yang merugikan. Antara keduanya harus tetap terjaga jarak. Dan dalam pikiran
Sakarya menjaga jarak itu berarti harus selalu bersikap hati-hati, eling. Kadang juga
diartikannya sebagai keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan.
Jadi Sakarya tidak ikut berhura-hura. Persiapannya menyambut kembali pementasan
Srintil lebih ditekankan pada segi kejiwaan. Lebih sering memasang sesaji di dekat
makam Ki Secamenggala, lebih banyak terjaga di malam hari serta mengurangi
makan-minum. Srintil diperintahkannya dengan sangat ngasrep pada hari
kelahirannya.
Perayaan Agustusan tahun 1964 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan
kecamatan Dawuan. Pemandangan dikuasai oleh kain rentang dengan tulisan macammacam.
Ada yang direntang di antara pohon-pohon, tetapi lebih banyak yang ikut
masuk ke lapangan yang padat manusia. Gelombang ribuan kepala memberi
gambaran seperti pemandangan di ladang tembakau yang ditiup angin. Acungan
seribu tangan yang diiringi pekik gempita hanya dapat diandaikan kepada petir yang
terjadi di hutan jati meranggas.
55
Tidak diperlukan pengetahuan yang mendalam untuk mengatakan bahwa pada
dasarnya tarian ronggeng adalah tiruan kasar tari gambyong, sejenis tari pemanasan
berahi di kalangan para ningrat. Dalam perkembangan selanjutnya tari ronggeng
meniru juga tari serimpi, tari Bali, dan tari topeng. Bahkan juga tari Baladewa.
Semuanya ditiru secara mentah, gaya jelata. Kadang tari-tari itu digabung tidak
karuan sehingga dalam pentas orang bisa mengatakan lenggang-lenggok seorang
ronggeng tidak lebih dai gerakan spontan, bermakna dangkal dan lebih ditekankan
kepada kesan erotik.
Dan siapa pun yang mengikuti perkembangan Srintil sejak awal tidak akan
menemukan perubahan-perubahan dalam gaya tariannya meski dia hampir enam
tahun menjadi ronggeng. Kecuali malam itu yang terbukti lain. Si buta Sakum justru
yang pertama merasakannya. Sakum mendengar suara gesekan kaki Srintil di lantai
panggung. Dirasakannya kibasan sampur dan didengarnya getar suara Srintil.
Semuanya berubah. Srintil seakan menari dalam keadaan marah. Andaikan mata
Sakum awas tentulah dia dapat melihat betapa Srintil mengangkat kedua lengannya
lebih tinggi hingga tampak putih kulit ketiaknya. Goyang pundaknya lebih berani. Bila
sedang pacak gulu mata Srintil tidak terarah kepada penonton seperti telah menjadi
ciri khasnya. Mata Srintil menantang bintang-bintang. Senyum seorang ronggeng,
apalagi bila dia sedang menari, tak pernah mempunyai makna lain kecuali ungunya
bunga kecipir bagi kumbang atau merahnya kembang soka bagi kupu-kupu. Rayuan
tanpa kata atau pemikat yant bertuah. Tetapi malam itu senyum Srintil tak mungkin
diterjemahkan sebagai perayu atau pemikat. Tarikan kedua ujung bibirnya hanya
menggambarkan hati penuh martabat. Kekenesan yang pongah meski
menggemaskan.
Apabila Srintil telah bertekad hendak menundukkan seribu mata Rasus maka dia
terbukti berhasil melakukannya. Selama menari terbayang olehnya Rasus yang runduk
tak berdaya dan penuh penyesalan, mengapa dia telah tega membuat Srintil sengsara.
"Apalah arti seorang Rasus," demikian pikir Srintil sambil meratui panggung, "bila
seribu mata terkesima padaku. Di sana ada camat, ada wedana, ada Tri Murdo, dan
entah siapa lagi. Mereka terpaku di tempat masing-masing membiarkan hati mereka
menjadi bulan-bulanan, membiarkan perasaan mereka menjadi permainanku."
Srintil terus menari dalam semangat yang mengesankan. Gerakannya tetap penuh
tenaga meskipun kulitnya mulai berkilat oleh keringat. Sampai babak kelima, saat
yang biasa dia gunakan untuk beristirahat Srintil terus melenggang dan melenggok.
Tentulah semua orang mengatakan semangat Srintil dipacu semata-mata oleh suasana
panggung yang luar biasa menurut ukuran seorang ronggeng. Atau oleh kenyataan
jumlah penonton yang meluap dan termasuk orang-orang terpenting di Dawuan di
antara mereka. Tak seorang pun mengerti Srintil sedang melampiaskan kemurkaan di
alam bawah sadarnya. Tak seorang pun tahu.
Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami sesuatu dengan
intuisinya. Sakum ingin menghentikan Srintil. Dengan sikunya dia menggamit
Kartareja yang kebetulan duduk di sisinya. Kartareja cepat mengerti maksud Sakum,
tetapi tidak berani mengambil keputusan. Maka Sakum yang bertindak. Sentuhan
irama calungnya dibuat sumbang dengan cara menyimpangkan nada tiada tertentu.
Itulah cara yang sudah disepakati bila para penabuh ingin berbicara dengan ronggeng.
Namun demikian Srintil terus menari. Baru setelah tiga buah lagu berlalu Srintil patuh
akan aba-aba yang diberikan Sakum.
56
Lenyapnya suara calung menciptakan suasana yang mendadak janggal dan hampa.
Kekosongan udara kemudian diisi oleh bisik-bisik dari kiri-kanan yang terus
mengembang menjadi dengung merata di seputar lapangan. Orang-orang mendapat
kesempatan melepas ketegangan setelah sekian lama berdiam diri memampat kesan
yang mendalam. Sesaat kemudian terdengar suara keras. "Terus, terus! Hidup Srintil.
Hidup seniman rakyat."
"Sampean harus beristirahat, Jenganten. Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik,"
kata Sakuni.
Srintil duduk bersimpuh, menutup mukanya dengan ujung sampur. Layaknya dia
sedang melap keringat. Tetapi hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap dalam
keadaan demikian. Dari samping terlihat pipi Srintil yang berubah pucat. Napasnya
tersengal-sengal. Nyai Kartareja yang segera menangkap suasana genting cepat naik
ke panggung.
"Kenapa, Jenganten?"
"Pusing, Nyai. Pusing! Oh, hk. Napasku sesak. Dadaku sesak!"
Nyai Kartareja merangkul Srintil. Dia langsung mengerti masalahnya genting karena
Srintil tidak lagi menguasai berat badan sendiri. Dan terkapar di lantai panggung.
Pekik Nyai Kartareja mengawali kekusutan di sana. Dalam sekejap arena sudah penuh
orang. Kebanyakan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun setidaknya
seorang di antara mereka mengerti apa yang harus dilakukannya setelah menyadari
Srintil dalam keadaan pingsan. Segala yang mengikat tubuh Srintil dikendurkannya.
Kemudian dia bersiap membuat napas buatan. Namun sebelum Tri Murdo
melakukannya Srintil telah siuman. Napasnya megap-megap seperti orang yang habis
lama tenggelam. Sejenak dia kelihatan bingung. Matanya bergulir ke kiri dan ke
kanan, Kemudian dia cepat bangkit ketika menyadari seorang berdasi kupu-kupu
berdiri melangkahi tubuhnya. Wajahnya merah ketika beradu pandang dengan Tri
Murdo.
Kekalutan masih berlangsung hingga beberapa lamanya meskipun Srintil sudah
dituntun orang turun dari panggung. Tak kurang suatu apa. Orang-orang tidak percaya
bahwa tak ada yang kurang beres pada tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil bersikeras
bahwa dirinya tidak memerlukan pertolongan apa pun kecuali sedikit waktu buat
membenahi kembali pakaiannya lalu siap lagi naik panggung.
Hanya seorang yang tahu persis apa yang telah terjadi. Marsusi dalam pakaian
penyamaran berdiri di balik bayang-bayang sebatang pohon. Tangan kanannya
menggenggam sebuah botol kecil sebesar kelingking. Bila mulut botol itu ditutup
dengan ibu jarinya maka terjadi heboh di panggung. Srintil tak bisa bernapas. Itu
sudah sekali dibuktikannya. Dan sekali heboh belumlah cukup buat membalas
kesumatnya terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Dengan sabar Marsusi menanti
kesempatan berikutnya.
Semua yang berpidato mengerahkan habis-habisan tenaga urat lehernya. Agitasi,
propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan
tangan serta riuhnya bunyi tambur. Semua orang tegak dalam harga diri yang
tertempa seketika oleh retorika para pembicara. Semua orang menggenggam
semangat meluap yang setidaknya mampu mengalahkan siksaan yang datang dari
sinar matahari yang mulai terik.
57
Gadis-gadis remaja yang biasa malu bersuara keras atau bertingkah seperti laki-laki,
larut dalam semangat massa yang meluap. Mereka tidak ketinggalan mengepal tangan
dan berteriak. Dan puncak hura-hura itu meledak ketika sebuah patung kelaras jagung
yang diberi kopiah serta kaca mata dibakar massa. "Gembong musuh rakyat telah jadi
abu!" teriak seorang pemuda. Matanya merah berkaca-kaca karena letupan emosi
dalam dirinya.
Sakum mendukung anak pada pundaknya.
Dia berdiri di bawah pohun sengon, menjadi titik ironi di tengah galau manusia. Baru
sekali ini Sakum mengutuk dirinya yang buta. Baru sekali ini Sakum gagal
menerjemahkan suara dan suasana yang terekam oleh sisa indrianya. Padahal Sakum
sudah biasa melihat meriahnya pentas ronggeng dengan jiwa, bukan dengan matanya.
Sakum juga mampu melihat kepanikan semua orang bila datang angin ribut. Atan
kecemasan anak istrinya ketika petir menyambar. Dia juga mampu menangkap ceria
wajah anak-anak bila gumpalan nasi di depan mereka lebih besar dari kepalan tangan.
Tetapi Sakum tidak berputus asa. Melalui denyut nadi anak yang bertengger di
pundaknya Sakum terus mencoba mengikuti dan mencari makna hiruk-pikuk yang
sedang terjadi di sekelilingnya. Bila denyut nadi anaknya mencepat Sakum
mengerahkan kemampuan indrianya yang tersisa. Terkadang juga Sakum menyadap
saraf mata anaknya.
"Apa yang kaulihat, Nak?"
"Wah! Merah, merah, Pa. Bapa tidak melihat ya?"
"Apa yang merah?"
"Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah.
Tulisan-tulisan merah. Eh, ada juga yang hitam, hijau, dan kuning. Wah, bagus sekali,
Pa."
"Siapa yang berpidato?"
"Tidak tahu."
"Mari kita mendekat barisan kuda lumping."
"Wah, panas, Pa. Tetapi tak mengapa, asalkan..."
"Hah?"
"Es, Pa. Haus."
"Tak ada uang lagi, Nak. Habis."
"Wah, jangan bohong. Tadi sebelum berangkat kulihat Srintil memberimu uang. Iya,
kan? Kalau bukan es, air asem juga boleh. Haus, Pa."
Sakum mengalah. Anaknya diturunkannya dari pundak. Begitu menginjak tanah, anak
itu menyeret ayahnya ke arah pedagang minuman. Sakum juga minum. Setelah
membayar dan menerima uang kembali, Sakum jongkok. Anaknya yang tangkas
kembali bertengger di atas pundak.
"Ayo, tunjukkan aku jalan ke dekat barisan kuda lumping."
"Punten, punten," seru anak Sakum dari atas pundak ayahnya. Barisan orang yang
padat menyisih membuka jalan. Hampir semua orang mengenal siapa laki-laki buta
yang mendukung anaknya di pundak itu. Tetapi anak Sakum yang baru berusia enam
58
tahun itu sudah pintar memanfaatkan kebutaan ayahnya. Sakum tidak digiringnya ke
arah barisan kuda lumping melainkan ke arah pedagang balon di sudut lapangan.
Meskipun tak mungkin baginya memiliki permainan yang mengagumkan itu, dia
setidaknya berkesempatan melihatnya sepuas hati.
"Asu buntung! Kaubawa ke mana aku ini?" tanya Sakum sengit.
"Ke dekat barisan kuda lumping."
"Mampus kamu! Ini bukan dekat barisan kuda lumping. Bau busuk ini pasti ulah
tukang balon gas, bukan?"
Anak itu tertawa lalu memutar kepala ayahnya.
"Punten, punten."
Upacara diakhiri dengan pawai. Gempita dan kepalan tinju menjalar ke segenap
penjuru kota kecamatan itu. Dua-tiga anak sekolah yang jatuh pingsan karena
sengatan matahari tidak mengurangi sedikit pun gelora massa.
Menjelang tengah hari segala keramaian surut. Dawuan kembali sepi, bahkan
pasarnya lebih sepi dari hari biasa. Bersama orang-orang Dukuh Paruk, Sakum pulang.
Anaknya tidak lagi didukung di atas pundak. Kini anak itu menjadi tongkatnya. Dalam
dunianya yang gelap Sakum masih mencoba memahami keramaian yang baru saja
diikutinya. Semua orang tahu perayaan Agustusan tahun ini luar biasa ramai. Jauh
lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna betapapun keras dia berusaha
menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi
mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu
konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah-berantah. Baginya
hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering dikatakan
orang kemerdekaan.
Mengapa Sakum tidak tahu bahwa teman-temannya sesama orang Dukuh Paruk tidak
lebih beruntung meski mata mereka awas? Mereka juga tidak menangkap makna
istimewa yang dibawa hari ini, sejarah hari ini. Mereka tidak mengerti makna pidato,
tanda-tanda gambar partai, atau slogan-slogan yang telah dilihatnya memenuhi
lapangan kecamatan Dawuan. Bukan hanya karena mereka sepenuhnya buta huruf.
Lebih dari itu. Dalam tradisi hidup mereka ikatan kesetiaan dan kebersamaan nyaris
tak pernah menerobos ke luar batas Dukuh Paruk. Politik dalam sisi pandang yang
paling bersahaja tak pernah muncul di pedukuhan terpencil itu. Tatanan hidup mereka
adalah tradisi yang berdasar pada ikatan darah keturunan. Kesetiaan mereka berpusat
pada cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengah Dukuh Paruk, makam Ki
Secamenggala. Dan kedaulatan Dukuh Paruk digembalakan oleh seorang kamitua.
Suatu ketika datang seseorang ke Dukuh Paruk menawarkan gambar-gambar partai.
Dikatakannya gambar itu adalah perlambangan rakyat tertindas.
Seperempat jam kemudian Srintil kembali menjadi fokus hidup yang mendaulat
panggung. Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang
seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus
bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin. Suaranya yang
timbul tenggelam dalam pengeras suara bahkan memberikan kesan lebih hidup,
seperti sendaren layang-layang yang meliuk-liuk di angkasa.
59
Perasaan segenap penonton ikut mengapung bersama irama tarian Srintil. Mereka
mengikuti setiap gerak ratu panggung itu dengan mata, dengan hati, dan dengan
denyut jantung mereka. Ibu Camat dan Ibu Komandan Polisi dengan kebencian
mereka. Ibu Wedana malah ceria karena melihat suaminya berjingkrak-jingkrak penuh
gairah, persis seperti lelaki perkasa laiknya. Para penonton demikian terpesona
sehingga mereka bingung ketika melihat tiba-tiba Srintil berhenti, berdiri tak bergerak.
Kedua lengannya yang merentang tinggi terpancang kaku. Mulutnya yang terbuka
tetap dalam keadaan demikian hingga beberapa saat lamanya. Calung serentak
berhenti. Kartareja melompat ke depan, menahan tubuh Srintil yang roboh ke
belakang.
Gempar lagi. Banyak orang berlompatan ke atas panggung. Juga Pak Camat. Tetapi
istrinya menahannya. Tri Murdo yang sejak tadi menonton di deretan kursi paling
depan hanya dalam beberapa detik sudah menangani Srintil. "Apa kataku. Mestinya
Srintil jangan menari lagi," katanya.
Sementara petugas keamanan mengusir penonton yang berlompatan ke atas
panggung. Tri Murdo berdua Nyai Kartareja berusaha menyadarkan Srintil. Kutang
ketat yang membalut tubuh Srintil dari dada sampai ke pinggulnya dibuka. Wajah
Srintil biru, paru-parunya berhenti. Tetapi Tri Murdo yakin jantungnya masih
berdenyut. Dia berdiri mengangkang tepat di atas perut Srintil menggerak-gerakkan
kedua tangan ronggeng itu, membuat napas buatan. Tidak lama, karena kemudian
Srintil tiba-tiba membusungkan dada menarik napas dalam-dalam. Megap-megap,
mulutnya terbuka seperti ikan mujair. Dan terbelalak karena setagen dan kutangnya
sudah terbuka. Di atas perutnya berdiri laki-laki muda berpakaian putih berdasi kupukupu.
Srintil cepat duduk. Tri Murdo melangkah ke samping. Orang-orang henclak
mengangkat tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil menolak. Nyai Kartareja merangkul dan
membimbing Srintil turun dari panggung. Setelah keadaan sedikit reda pengatur acara
mengumumkan bahwa pertunjukan kesenian malam itu usai. Meskipun keadaan
sedikit kalut tetapi laki-laki itu menutup acaranya dengan teriakan mengguntur.
Penonton menyambutnya dengan teriakan bersama. Dan acungan seribu tangan
mengepal. Penonton bubar dengan berbagai kesan pada diri mereka masing-masing.
Namun kebanyakan dari mereka tidak menduga macam-macam. Yang terjadi atas diri
Srintil adalah sebuah permainan; suatu hal yang tidak terlalu aneh bagi masyarakat
Dawuan. Hanya sedikit orang menduga Srintil terkena ayan atau penyakit lainnya.
Apabila Marsusi menghendaki nama Srintol ternoda oleh peristiwa di atas panggung ini
maka dia keliru besar. Boleh jadi Marsusi merasa puas. Juga Ibu Camat atau Ibu
Komandan Polisi. Tetapi ratusan lagi lainnya justru merasa bertambah simpati
terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Marsusi telah menyakiti burung perkutut milik
umum. Beruntunglah Marsusi karena tak seorang pun tahu akan ulahnya.
Kecuali Kartareja.
Sejenak setelah Srintil sadar dia menyelinap di antara kerumunan pengunjung.
Kartareja sudah menduga adanya tangan jail dan ingin segera tahu milik siapakah
tangan itu. Tidak gampang mencari satu orang di antara ratusan pengunjung. Namun
Kartareja sudah mengetahui cara yang paling gampang. Orang yang dicarinya pasti
memiliki ekspresi wajah sang berbeda dan gerak-gerik yang tidak sama dengan semua
pengunjung lainnya. Dan Kartareja melihat seorang yang bergegas meninggalkan
arena. Pakaiannya hitam dengan ikat kepala wulung. Dikejarnya laki-laki yang
kelihatan tegap itu.
60
"Tunggu sebentar, Mas," panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat
untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu.
"Oh, sampean? Ah, mestinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di
sini, bukan?"
"Yah, terkadang orang ingin menyendiri." Jawab Marsusi tenang. Kartareja tersenyum.
Marsusi tersenyum. Dalam kebisuan mereka telah terjadi komunikasi yang intensif.
Tetapi kejanggalan tidak bisa dihindari. Marsusi menawarkan rokok yang kemudian
diterima oleh Kartareja, dan langsung menyulutnya.
"Pentasmu kali ini sedikit terganggu," ujar Marsusi.
"Yah, saya maklum. Saya mengerti perasaan sampean. Yang penting, sekarang
perkara utang-piutang sudah tunai."
"Hm, ya."
"Ya."
"Dan itu..."
"Apa?"
"Asuhan sampean!"
"Srintil?"
Marsusi tidak menjawab. Hanya senyumnya yang mengembang dan segera terbaca
oleh Kartareja.
"Ah, itu persoalan mudah. Apalagi bagi sampean. Apabila sampean masih mau,
masalahnya tinggal bagaimana sampean bisa bersabar."
"Aku memang masih penasaran. Oh, tidak. Maksudku, ronggengmu memang membuat
gemas!"
"He-he."
"He-he-he."
Dan Marsusi membanting hancur botol jimatnya. Tunai sudah. Tak ada lagi siapa
mempermalukan siapa.
Kartareja dan Marsusi berpisah dengan senyum. Keduanya tahu betul arti senyum
mereka masing-masing.
Jam satu tengah malam rombongan dari Dukuh Paruk belum meninggalkan arena.
Mereka menikmati kopi panas yang disediakan panitia. Srintil sudah melepaskan
pakaian ronggengnya, duduk dikelilingi beberapa orang laki-laki yang merasa
beruntung bisa berdekatan dengan ratu panggung.
Semua yang berpidato mengerahkan habis-habisan tenaga urat lehernya. Agitasi,
propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan
tangan serta riuhnya bunyi tambur. Semua orang tegak dalam harga diri yang
tertempa seketika oleh retorika para pembicara. Semua orang menggenggam
semangat meluap yang setidaknya mampu mengalahkan siksaan yang datang dari
sinar matahari yang mulai terik.
Gadis-gadis remaja yang biasa malu bersuara keras atau bertingkah seperti laki-laki,
larut dalam semangat massa yang meluap. Mereka tidak ketinggalan mengepal tangan
61
dan berteriak. Dan puncak hura-hura itu meledak ketika sebuah patung kelaras jagung
yang diberi kopiah serta kaca mata dibakar massa. "Gembong musuh rakyat telah jadi
abu!" teriak seorang pemuda. Matanya merah berkaca-kaca karena letupan emosi
dalam dirinya.
Sakum mendukung anak pada pundaknya.
Dia berdiri di bawah pohun sengon, menjadi titik ironi di tengah galau manusia. Baru
sekali ini Sakum mengutuk dirinya yang buta. Baru sekali ini Sakum gagal
menerjemahkan suara dan suasana yang terekam oleh sisa indrianya. Padahal Sakum
sudah biasa melihat meriahnya pentas ronggeng dengan jiwa, bukan dengan matanya.
Sakum juga mampu melihat kepanikan semua orang bila datang angin ribut. Atan
kecemasan anak istrinya ketika petir menyambar. Dia juga mampu menangkap ceria
wajah anak-anak bila gumpalan nasi di depan mereka lebih besar dari kepalan tangan.
Tetapi Sakum tidak berputus asa. Melalui denyut nadi anak yang bertengger di
pundaknya Sakum terus mencoba mengikuti dan mencari makna hiruk-pikuk yang
sedang terjadi di sekelilingnya. Bila denyut nadi anaknya mencepat Sakum
mengerahkan kemampuan indrianya yang tersisa. Terkadang juga Sakum menyadap
saraf mata anaknya.
"Apa yang kaulihat, Nak?"
"Wah! Merah, merah, Pa. Bapa tidak melihat ya?"
"Apa yang merah?"
"Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah.
Tulisan-tulisan merah. Eh, ada juga yang hitam, hijau, dan kuning. Wah, bagus sekali,
Pa."
"Siapa yang berpidato?"
"Tidak tahu."
"Mari kita mendekat barisan kuda lumping."
"Wah, panas, Pa. Tetapi tak mengapa, asalkan..."
"Hah?"
"Es, Pa. Haus."
"Tak ada uang lagi, Nak. Habis."
"Wah, jangan bohong. Tadi sebelum berangkat kulihat Srintil memberimu uang. Iya,
kan? Kalau bukan es, air asem juga boleh. Haus, Pa."
Sakum mengalah. Anaknya diturunkannya dari pundak. Begitu menginjak tanah, anak
itu menyeret ayahnya ke arah pedagang minuman. Sakum juga minum. Setelah
membayar dan menerima uang kembali, Sakum jongkok. Anaknya yang tangkas
kembali bertengger di atas pundak.
"Ayo, tunjukkan aku jalan ke dekat barisan kuda lumping."
"Punten, punten," seru anak Sakum dari atas pundak ayahnya. Barisan orang yang
padat menyisih membuka jalan. Hampir semua orang mengenal siapa laki-laki buta
yang mendukung anaknya di pundak itu. Tetapi anak Sakum yang baru berusia enam
tahun itu sudah pintar memanfaatkan kebutaan ayahnya. Sakum tidak digiringnya ke
arah barisan kuda lumping melainkan ke arah pedagang balon di sudut lapangan.
62
Meskipun tak mungkin baginya memiliki permainan yang mengagumkan itu, dia
setidaknya berkesempatan melihatnya sepuas hati.
"Asu buntung! Kaubawa ke mana aku ini?" tanya Sakum sengit.
"Ke dekat barisan kuda lumping."
"Mampus kamu! Ini bukan dekat barisan kuda lumping. Bau busuk ini pasti ulah
tukang balon gas, bukan?"
Anak itu tertawa lalu memutar kepala ayahnya.
"Punten, punten."
Upacara diakhiri dengan pawai. Gempita dan kepalan tinju menjalar ke segenap
penjuru kota kecamatan itu. Dua-tiga anak sekolah yang jatuh pingsan karena
sengatan matahari tidak mengurangi sedikit pun gelora massa.
Menjelang tengah hari segala keramaian surut. Dawuan kembali sepi, bahkan
pasarnya lebih sepi dari hari biasa. Bersama orang-orang Dukuh Paruk, Sakum pulang.
Anaknya tidak lagi didukung di atas pundak. Kini anak itu menjadi tongkatnya. Dalam
dunianya yang gelap Sakum masih mencoba memahami keramaian yang baru saja
diikutinya. Semua orang tahu perayaan Agustusan tahun ini luar biasa ramai. Jauh
lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna betapapun keras dia berusaha
menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi
mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu
konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah-berantah. Baginya
hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering dikatakan
orang kemerdekaan.
Mengapa Sakum tidak tahu bahwa teman-temannya sesama orang Dukuh Paruk tidak
lebih beruntung meski mata mereka awas? Mereka juga tidak menangkap makna
istimewa yang dibawa hari ini, sejarah hari ini. Mereka tidak mengerti makna pidato,
tanda-tanda gambar partai, atau slogan-slogan yang telah dilihatnya memenuhi
lapangan kecamatan Dawuan. Bukan hanya karena mereka sepenuhnya buta huruf.
Lebih dari itu. Dalam tradisi hidup mereka ikatan kesetiaan dan kebersamaan nyaris
tak pernah menerobos ke luar batas Dukuh Paruk. Politik dalam sisi pandang yang
paling bersahaja tak pernah muncul di pedukuhan terpencil itu. Tatanan hidup mereka
adalah tradisi yang berdasar pada ikatan darah keturunan. Kesetiaan mereka berpusat
pada cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengah Dukuh Paruk, makam Ki
Secamenggala. Dan kedaulatan Dukuh Paruk digembalakan oleh seorang kamitua.
Suatu ketika datang seseorang ke Dukuh Paruk menawarkan gambar-gambar partai.
Dikatakannya gambar itu adalah perlambangan rakyat tertindas.
Mata Srintil mencari laki-laki yang berdasi kupu-kupu. Tri Murdo masih ada tetapi
sudah siap berangkat dengan rombongan orkes keroncongnya. Ketika minta diri Tri
Murdo bersikap biasa, sangat biasa. Srintil menelan ludah. Bapak Wedana bangkit.
Dari mulutnya terdengar tembang pucung, pujian bagi para ronggeng. Sambil
melangkah tangannya bertepuk berirama.
Sengkang ceplik, cunduk jungkat sarwi wungu
Pupur lelamatan
Nganggo rimong plangi kuning
Candanira kaya sekar dhedhompolan
63
Bergiwang rupa bunga tanjung, bermahkota sisir serba ungu. Bedaknya tipis rona,
dengan selendang pelangi kuning. Baunya adalah harum serumpun bunga.
Ibu Wedana bertepuk tangan memberi semangat bagi suaminya. Orang-orang ikut
bertepuk dan bertembang melagukan pucung yang setua Dukuh Paruk itu. Srintil
tertawa dan tertawa. Keayuannya muncul pada sinar matanya, pada cerah kulitnya,
dan pada kesegaran mulutnya. Srintil menoleh kepada Ibu Wedana ketika Bapak
Wedana mencubit pipinya. Ibu Wedana malah bertambah gembira. "Siapa mengira
suamiku laki-laki tanpa daya?"
Malam itu Srintil hampir tidak pulang ke Dukuh Paruk. Bapak dan Ibu Wedana
memintanya dengan sangat menginap di Dawuan. Sebaliknya, Kartareja amat
berkeberatan.
"Maafkan kami, Bapak. Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak bisa berbuat sesuatu
yang melanggar ketetapan yang kami anut. Ini malam Ahad Pahing: tidak boleh tidak,
kami semua harus tidur di rumah kami masing-masing di Dukuh Paruk."
Sebuah obor besar kelihatan dari jauh melintasi pematang panjang yang menuju
Dukuh Paruk. Nyala apinya meninggalkan ekor asap hitam yang meliuk di udara.
Orang-orang Dukuh Paruk sedang berjalan menuju tanah airnya. Hampir tak ada yang
berbicara. Sepi, kecuali suara calung dalam pikulan. Kaki-kaki mereka basah oleh
embun rerumputan. Sinar obor membuat penerangan bagi sebuah pentas tersendiri.
Ada burung cabak berebut serangga di angkasa. Ada belalang terbang menabrak nyala
api. Dan Sakum berteriak karena kakinya menginjak katak kecil hingga perut binatang
itu meledak.
Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang
lelap. Di atasnya lintang waluku. Di atasnya, terkadang, membersit sinar terang
bintang beralih. Dan suara burung hantu dari atas pekuburan Dukuh Paruk menggema,
seakan menyambut para warga yang sedang pulang di puncak malam.
Kuda hitam itu sudah berbusa mulutnya. Suara kuk-kuk terdengar setiap kali binatang
jantan itu melangkahkan kaki: suara kantung buah zakarnya yang tergesek-gesek kulit
paha. Lebih dari tiga puluh kilometer telah ditempuhnya, menarik andong dengan kusir
dan seorang penumpang. Sentika, satu-satunya penumpang di atas andong itu adalah
laki-laki usia enam puluhan. Subur badannya, berwajah bulat dan tenang. Bajunya
hitam. Celananya yang longgar menutup lutut juga berwarna hitam. Ikat kepalanya
melilit rapi. Dengan bibir merah karena makan sirih lengkaplah penampilan Sentika
sebagai laki-laki sisa masa lalu, dan hidup bertani di daerah pegunungan.
"Kudamu sudah letih rupanya," kata Sentika kepada Sartam, kusir. "Itu, di depan ada
warung. Kita mengaso dulu."
"Bukan hanya kudaku yang minta islirahat, Pak."
"Lha iya. Kamu juga lapar. Mulutku asam. Makan sirih sambil berayun-ayun di
andongmu terasa kurang nyaman."
Sartam menghentikan andongnya di bawah lindungan pohon johar. Kudanya
meringkik. Di sana ada andong lain, kudanya betina. Sementara Sartam memberi
makan kudanya dengan rumput bercampur dedak yang dibawanya dari rumah. Sentika
berjalan gontai ke warung. Dipesannya dua gelas kopi. Ketika Sartam datang
menggabungkan diri Sentika sudah menggulung daun sirih dengan bumbu-bumbunya;
kapur, gambir, dan biji pinang kering. Gerahamnya bekerja.
64
"Dawuan masih jauh?" tanya Sentika kepada perempuan pemilik warung.
"Oh, sampean hendak pergi ke sana? Jauh, masih jauh. Kukira tengah hari nanti
sampean baru sampai ke sana."
"Dari Dawuan aku mau terus ke Dukuh Paruk. Sampean mengerti arahnya?"
"Aku belum pernah pergi ke Dukuh Paruk. Tetapi sudah sering mendengarnya.
Pedukuhan itu terkenal ronggengnya bukan? Sampean mau mengundang ronggeng?"
"Lha iya. Kira-kira begitulah."
"Sampean dari mana?"
"Alaswangkal."
"Alaswangkal? Dan sampean naik andong dari sana?"
"Lha iya. Aku orang kuno, tidak biasa naik bus. Tidak pernah."
"Kalau begitu andong itu milik sampean sendiri?"
"Aku menyewanya. Ini dia pemiliknya," jawab Sentika sambil menoleh kepada Sartam.
Yang dilirik tersenyum karena teringat besarnya sewa andong yang bakal diterimanya.
Ah, tetapi Sartam mengerti siapa Sentika. Kebun singkongnya hampir seluas tanah
pegunungan di Alaswangkal. Dua-tiga pabrik tapioka tergantung kepada singkong hasil
perkebunannya. Untuk itu Sartam tak usah ragu memilih makanan terbaik yang
disajikan di warung itu. Toh Sentika yang akan membayarnya. Setelah perut kenyang
Sartam kembali ke andongnya, duduk sambil merokok. Rokok itu terus mengepul di
mulutnya meskipun Sartam tertidur karena lelah. Dan tersentak bangun ketika Sentika
menepuk pundaknya.
"Lha iya. Dasar ular koros kamu! Bila perut penuh, mata mengantuk. Ayo berangkat!"
Perempuan warung itu benar; menjelang tengah hari Sentika dan andongnya sampai
ke Dawuan. Setelah bertanya kepada seseorang di pinggir jalan dia meneruskan
perjalanan. Andong itu berhenti di sudut pematang panjang yang menuju Dukuh
Paruk. Sartam mendapat waktu istirahat panjang karena harus tinggal bersama
andongnya di pinggir jalan sementara Sentika berjalan seorang diri ke Dukuh Paruk.
Mula-mula Sakarya tertarik karena orang pendatang itu sering kali dan berulang-ulang
menyebut kata "rakyat". Kata itu bagi Sakarya tidak bisa lain kecuali bermakna kaula.
Siapa pun di Dukuh Paruk merasa dirinya kaula. Tetapi Sakarya kemudian bangkit
menghentikan cakap orang pendatang itu ketika dia mulai berbicara tentang rakyat
melarat korban kaum penindas yang jahat.
"Siapakah yang sampean maksud dengan rakyat korban kaum penindas itu?"
"Nah! Misalnya sampean sendiri bersama semua warga Dukuh Paruk ini. Darah kalian
diisap habis sehingga hanya tertinggal seperti apa yang kelihatan sekarang;
kemelaratan! Ditambah dengan kebodohan dan segala penyakit. Kalian mesti bangkit
bersama kami."
"Nanti dulu. Menurut sampean kami adalah rakyat yang tertindas. Apa sampean tidak
keliru? Kami sama sekali tidak merasa tertindas, sungguh! Sejak zaman dulu kami
hidup tentram di sini."
"Itulah. Sampean tidak mengerti bagaimana cara mereka melakukan penindasan
terhadap rakyat. Sejak zaman nenek moyang sampean, kaum penindas itu telah
65
melakukan kejahatannya. Cara mereka telah menyejarah. Lihatlah akibat kejahatan
mereka di sini. Semua orang kurang makan! Semua orang bodoh dan sakit. Anak-anak
cacingan dan kudisan. Anak-anak kalian di sini sungguh-sungguh hidup tanpa
harapan."
"Yang sampean maksud dengan kaum penindas?"
"Kaum imperialis, kapitalis, kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!"
"Wah, kami bingung, Mas. Kami tak pernah mengenal mereka. Cerita sampean
kedengaran lucu. Pokoknya begini, Mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh
Paruk. Kami senang hidup di sini, karena itulah kepastian yang kami terima. Kami tak
pernah percaya ada sesuatu yang lebih baik daripada kepastian itu. Dan kekeliruan
besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami
bodoh, miskin, dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. Sampean tak usah pusinig
memikirkannya. Lucu, kan? Kami sendiri merasa biasa-biasa saja. Kenapa orang lain
mesti repot?"
"Sampean yang lucu karena tidak tahu dan tidak mau tahu akan sejarah?"
"Wah, sekarang sejarah. Apa pula itu, Mas"
"Sejarah itu sesuatu yang amat perkasa. Kalian tidak bisa menolak apalagi
melawannya. Dan sampean akan digilasnya bila tetap diam dalam ketololan. Tunggu
saja!"
"Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah menentukan kami
hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini."
Jadi Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk meskipun pada tahun 1964 itu dunia di
luarnya sedang berhura-hura. Pidato di mana-mana. Gambar-gambar simbol partai di
mana-mana dan pawai di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh
cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengahnya.
Atau sekedar Sakarya, kamitua pedukuhan kecil itu yang tak pernah lengah membaca
sasmita alam. Dia merasakan datangnya hari-hari beringas. Hari-hari ketika orangorang
meninggalkan pekerjaan buat berhimpun di tanah lapang. Hari-hari ketika jalan
penuh manusia mengepal tangan serta teriakan lantang. Semuanya mengingatkan
Sakarya akan sebatang pohon kelapa yang ditiup angin. Bila angin bertiup dari utara
pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda pohon kelapa itu tidak langsung
kembali tegak melainkan akan berayun lebih dulu ke utara. Bagi Sakarya hura-hura di
luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa
itu: sebelum kehidupan kembali tenang lebih dulu harus terjadi sesuatu.
Tetapi sesuatu itu tak bisa diraba oleh daya pikir siapa pun di Dukuh Paruk, tidak juga
Sakarya. Padahal sepanjang hidupnya yang tidak pernah berhenti dari mengikuti irama
dan keberimbangan alam, Sakarya telah memperoleh cukup kearifan. Bahwa suatu
keluarbiasaan harus dibayar dengan kerusakan keberimbangan. "Jangan tertawa
terlalu terbahak-bahak, sebab nanti akan segera menyusul tangis sedih," demikian
sering dikatakan Sakarya kepada anak-cucunya di Dukuh Paruk.
Entahlah. Yang terjadi malam itu di Dukuh Paruk adalah kegembiraan yang luar biasa.
Hampir semua warganya keluar mengiring Srintil yang hendak meronggeng pada
malam perayaan Agustusan di Dawuan. Inilah penampilan pertama ronggeng Dukuh
Paruk pada sebuah arena resmi; suatu hal baru yang membawa kebanggaan istimewa.
66
Malam itu semangat kota kecil Dawuan berpusat di lapangan sepak bola dekat kantor
kecamatan. Sebuah panggung yang lebar, setinggi satu meter didirikan orang pada
salah satu sudutnya. Dawuan belum mengenal aliran listrik. Tetapi malam itu banyak
sekali lampu neon di sekitar panggung. Suara generator yang bising, anehnya,
mendatangkan kebanggaan orang. Rupanya semua orang melupakan suara bising
karena toh dari sanalah tenaga bagi lampu-lampu neon yang mengagumkan itu. Bagi
sebagian besar orang yang menyemut di sekitar lapangan adalah sesuatu yang luar
biasa, ada cahaya terang-benderang tetapi tanpa minyak.
Rombongan dari Dukuh Paruk disambut dengan sinar mata serta wajah-wajah berseri.
Para penabuh dengan perangkat calungnya diterima panitia. Mereka ditempatkan di
belakang panggung. Tetapi Srintil bersama Nyai Kartareja dipersilakan duduk bersama
ibu-ibu pejabat kecamatan Dawuan.
Srintil menemukan dirinya kembali utuh sebagai seorang ronggeng yang telah matang.
Suasana panggung yang megah menghidupkan seluruh permukaan kulitnya. Dan
cahaya matanya. Barangkali pada saat itu baru kali pertama indang ronggeng benarbenar
merasuk sepenuhnya. Dari sosoknya terpancar wibawa dan pesona luar biasa.
Dia duduk tenang, setenang kembang soka di depan cungkup makam Ki
Secamenggala. Pandangan matanya adalah cahaya penuh harga diri, mantap, dan
dalam ketenangan pandangan mata itu terpancar tenaga yang melumpuhkan.
Srintil sesudah berusia delapan belas adalah Srintil yang telah mengalami perihnya
upacara bukak-klambu, juga sudah merasakan getirnya ditampik laki-laki idaman.
Pada usia semuda itu Srintil juga sudah menjelajahi dunia perhubungan dengan sekian
puluh lelaki. Dan jauh sebelum itu tanah airnya, Dukuh Paruk, telah menempanya
dalam kemiskinan yang mengakar. Sejarahnya pahit yang pasti layak membuatnya
kusut, malu, dan tanpa harga diri. Apalagi saat itu Srintil duduk di antara kaum
perempuan yang paling bermartabat di kecamatan Dawuan.
Laki-laki itu berjalan mantap meskipun matahari terik berada tepat di atas kepalanya.
Perjalanan selama setengah hari pun tidak memberikan kesan lelah kepadanya.
Sentika sudah terbiasa berjalan jauh. Turunan dan tanjakan di Alaswangkal melatih
kakinya sejak masa kanak-kanak.
Di tepi Dukuh Paruk seorang anak kecil memberi tahu arah rumah Srintil yang sejak
peristiwa Marsusi tinggal bersama kakeknya, Sakarya. Nyai Sakarya yang pertama
menemuinya. Kemudian menyusul suaminya.
"Namaku Sentika dari Alaswangkal. Betulkah di sini rumah ronggeng Srintil?"
"Ya, benar. Sampean tidak keliru." jawab Sakarya.
"Lha iya. Dari jauh aku datang kemari karena aku mempunyai kepentingan."
"Tentulah soal menanggap ronggeng, bukan?"
"Lha iya. Apalagi kalau bukan itu. Tetapi masih ada lainnya..."
"Nanti dulu."
Sakarya menyuruh istrinya pergi memanggil Kartareja. Sementara itu Srintil muncul
sambil membopong Goder. Mata Sentika menatapnya lama. Bibir Sentika bergerakgerak
tanpa mengeluarkan kata. Matanya terus menatap hingga Srintil tertunduk
malu. Kalau benar ini Srintil, oh, benar kata orang. Cantik. Tetapi mengapa ada bayi di
tangannya?
67
"Nah, inilah cucuku, Srintil. Dan bayi itu tentu saja bukan anaknya. Anak tetangga."
"Ah, memang tidik salah."
"Tidak salah?"
"Lha iya. Aku tidak salah telah datang kemari."
"Ya, ya. Lalu kapan sampean punya kepentingan?" Nah, ini Kartareja, kamitua
ronggeng di sini," kata Sakarya sambil mengenalkan rekannya.
"Aku menyediakan dua pilihan. Kalan tidak Kemis Manis, pilihlah Ahad Pon
mendatang."
"Kebetulan dua-duanya kosong." kata Kartareja sambil menarik kursi.
"Tetapi jangan Ahad Pon. Jangan. Pakailah hari Kemis Manis."
"Lha iya. Itu terserah sampean berdua."
"Berapa malam?"
Sentika terdiam.
"Eh, Srintil, buatkan minuman. Bapak ini datang dari jauh."
"Berapa malam?" ulang Sakarya. Tetapi Sentika tidak segera memberi jawaban. Malah
laki-laki dari Alaswangkal itu mengeluarkan kotak sirihnya.
"Sebetulnya begini," kata Sentika akhirnya. "Aku memerlukan Srintil bukan hanya
untuk meronggeng."
Diam.
"Lalu?" tanya Sakarya dan Kartareja hampir bersamaan.
"Baiklah. Tetapi aku akan memulai dengan sebuah cerita."
"Lho, silakan."
"Anakku berjumlah empat belas orang, tetapi hanya dua yang laki-laki. Itu pun
seorang di antaranya meninggal ketika masih kecil. Jadi tinggal si Waras seorang,
anak laki-lakiku. Semata wayang. Si Waras kini sudah tujuh belas tahun."
"Ya, ya."
"Aku terlanjur mengucap kaul: bila si Waras memang waras sampai dewasa, aku akan
mementaskan ronggeng terbaik baginya."
"Oh ya, ya."
"Dan, aku akan mengundang baginya seorang gowok yang cantik."
Sakarya dan Kartareja saling berpandangan.
"Sampean berdua jangan khawatir. Aku menyediakan upah yang tidak bakal
mengecewakan. Asal gowok itu memang cantik seperti Srintil itu."
"Bukan itu masalahnya. Kami memang pernah mendengar tentang pergowokan. Tetapi
belum jelas karena di sini tidak berlaku adat seperti itu."
"Lha iya. Aku mengerti. Di kampungku pun gowok mulai ditinggalkan orang. Dan kalau
bukan kaul aku takkan melakukannya. Sampean mengerti bukan?"
68
"Ya, ya. Tetapi tolong terangkan."
Srintil duduk di samping neneknya, ikut mendengarkan penjelasan Sentika. Orang
Alaswangkal ini tidak biasa menerangkan sesuatu lebih dari beberapa kalimat. Katakatanya
tidak lancar. Namun demikian para pendengarnya bisa mengerti. Bahwa
gowok adalah seorang peremputan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya
yang sudah menginjak dewasa. Dan menjelang kawin.
Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal
perikehidupan berumah tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana
memperlakukan seorang istri secara bak misalnya, bagaimana mengajak istri pergi
kondangan dan sebagainya. Selama menjadi gowok dia tinggal hanya berdua dengan
anak laki-laki tersebut dengan dapur yang terpisah. Masa pergowokan biasanya
berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu
diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut
tugas inti seorang gowok. Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat
malu pada malam pengantin baru.
Menyangkut gowok ini persoalan rumit akan muncul bila si anak laki-laki tidak mau
berpisah lagi dari gowok-nya. Padahal secara pasti dia sudah mempunyai calon istri
pilihan orang tua. Gowok selalu berdiri di atas angin karena biasanya dia janda atau
perempuan penjaja diri. Memang ada suami yang merelakan istrinya menjadi gowok,
namun yang demikian ini amat jarang terjadi.
"Jadi sesudah meronggeng nanti, Srintil kuminta tinggal beberapa hari lamanya
menemani anakku, Waras. Soal upah, aku ulangi, sampean tak perlu khawatir."
Sakarya dan Kartareja kembali bertukar pandang. Tetapi Srintil tertawa terpingkalpingkal.
"Lucu, ya, Nek, lucu!"
"Lucu? Baiklah. Tetapi kamu, Wong Ayu, bersedia menjadi gowok bagi anakku,
bukan?" kata Sentika sambil menatap jenaka kepada Srintil.
"Wah, bagaimana ya?" gelak Srintil pecah lagi. "Bagaimana, Nyai Kartareja?"
"Terserah sampean sajalah. Tetapi bagiku, bagaimana upahnya."
"Tetapi aku belum pernah menjadi gowok."
"Maka sampean akan mendapat pengalaman," sela Sentika. Sementara itu tangan
laki-laki Alaswangkal itu merogoh sakunya.
"Lha iya. Ini uang untuk panjer meronggeng. Dan ini buat panjer menjadi gowok.
Ambil semua, tetapi nyatakan dulu kesanggupan sampean."
Sorot neon pertama di Dawuan menjadi saksi bahwa yang terjadi pada diri Srintil
adalah sesuatu yang khas Srintil. Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat
beribil. Tahi kambing itu meski busuk dan menjijikkan namun mampu menyuburkan
daun-daun tembakau di tanah gersang, tidak tercabik-cabik oleh sejarahnya.
Sebaliknya, Srintil bangkit membentuk dirinya sendiri dengan sejarah
keterbelakangannya. Hasilnya mulai terpapar di bawah sorot lampu neon itu. Srintil
menjadi pusat suasana, menjadi daya tarik suasana dan Srintil duduk menguasai
suasana.
"Itukah rupanya si Anak Dukuh Paruk itu?" bisik Ibu Camat kepada perempuan di
sebelahnya. Ibu Wedana.
"Ya, itulah dia."
69
"Aku baru melihatnya dengan jelas sekarang."
"Bagaimana? Cantik? Kenes?"
Hati Ibu Camat risau. Tetapi perasaan itu tersembunyi di balik senyumnya yang tawar.
Kejujurannya mengakui keunggulan ronggeng Dukuh Paruk itu. Lebih cantik daripada
dirinya, bahkan seandainya Ibu Camat masih sebelia Srintil. Dengan gerakan yang
amat licik mata Ibu Camat menoleh kepada deretan kursi para lelaki. Hatinya makin
kacau ketika melihat kenyataan hampir semua mata laki-laki di sana terarah kepada
Srintil. Tak terkecuali mata suaminya. Ibu Wedana tersenyum. Ikhlas senyumnya
karena baginya sama saja; ronggeng cantik atau ronggeng bopeng takkan
membahayakan kehidupan rumah tangganya. Karena suaminya sudah tua dan
impoten.
"Lihat, kondenya terlalu tinggi, kan?"
"Memang," jawab Ibu Wedana tenang saja. "Tetapi itu sengaja. Nanti Srintil akan
pamer tengkuk."
"Kebayanya berantakan kukira. Potongannya acak-acakan."
"Apa pun kebayanya takkan menjadi soal. Toh nanti akan dibukanya. Dan, lihat saja.
Di balik kebaya itu masih terlihat bentuk pundaknya yang amat serasi. Apalagi nanti
bila pundak itu tampil telanjang."
Ibu Camat merengut. Entah dengan alasan apa dia minta diri dan berpindah ke
sebelah Ibu Komandan Polisi. Sekali lagi Ibu Wedana tersenyum. Kali ini senyum
kemenangan. "Siapa bilang mempunyai suami impoten sama sekali tidak beruntung?"
Di sebelah Ibu Komandan Polisi, kasak-kusuk Ibu Camat berlanjut.
"Meski cantik, tetapi kesan udiknya sangat kentara."
"Ya, memang. Aku sendiri menjadi risi, jadi ingin tahu, siapa, laki-laki mana, yang
menempatkan anak udik itu duduk bersama kami."
"Mbakyu benar. Akan kuminta suamiku menyuruh orang..."
"Suruh apa?"
"Memindahkan anak Dukuh Paruk itu ke tempat lain."
Ibu Camat hendak bangkit.
Pada saat yang sama Srintil bangkit. Menoleh ke arah dua ibu yang kasak-kusuk,
dengan senyum yang paling aneh. Senyum seorang rani dari atas singgasananya. Ibu
Camat berhenti pada gerakan yang janggal. Ibu Komandan Polisi berpura-pura
membuka tas tangannya. Tetapi dari tempatnya yang agak terpisah Ibu Wedana
tertawa terkekeh. Perang dingin itu berlangsung setengah menit, pada saat mana
mata Srintil memancarkan cahaya lembut namun mampu membungkam semangat
perempuan-perempuan di sekelilingnya. Kejanggalan itu berakhir ketika Nyai Kartareja
menarik Srintil agar duduk kembali.
Dan Srintil duduk kembali. Tersenyum kembali dengan keanehan yang sama. Senyum
gadis panggung yang selalu merasa setiap malam hiburan adalah miliknya yang paling
sah. Mendung menyaput deretan kursi kaum perempuan. Wajah Ibu Camat merah
padam. Rasanya, baru sekali ini dia dilangkahi oleh perempuan lain, dan justru oleh
seorang yang di matanya tidak lebih dari sundal. Hatinya bergolak. Tetapi tenaga ajaib
mana yang telah melumpuhkannya? Ibu Camat hanya bisa terpaku di kursinya.
70
Terkalahkan oleh senyum dan sinar mata anak udik dari Dukuh Paruk. Senyum kecil
serta kerlingan mata bisa membuat sakit jauh lebih hebat dari pukulan tangan:
ungkapan ini sedang dirasakan kebenarannya oleh Ibu Camat.
Kegelisahan Ibu Camat serta perempuan-perempuan lain tersisih karena acara hendak
dimulai. Seperti ketika pagi hari upacara diawali dengan pidato serta teriakan para
pengunjung yang gemuruh. Lebih seribu tangan mengepal di udara. Mereka begitu
sengit mengganyang musuh. Musuh itu dilukiskan dalam kata-kata penuh retorika oleh
pembicara secara amat pintar sehingga para pengunjung seakan melihat setan yang
demikian jahat dan harus segera dilumpuhkan. Pengganyangan berlangsung lancar
dan musuh tercabik-cabik, mati oleh semangat massa. Meski hanya berlangsung
dalam kata-kata plus kepalan tinju, namun kelihatan memuaskan. Pembicara turun
dalam iringan tepuk tangan yang panjang dan riuh. Menang!
Acara hiburan dimulai. Seorang pengantar acara menaiki pentas. Laki-laki dengan
mata burung hantu itu mengatakan penuh semangat bahwa revolusi saat ini menuntut
pengabdian habis-habisan tak terkecuali dari para seniman. Dan meskipun kebanyakan
pengunjung telah maklum laki-laki itu mengatakan, rombongan musik keroncong
mewakili kekuatan politik ini, rombongan pencak silat mewakili itu, serta ronggeng
Dukuh Paruk mewakili yang lain lagi. Ketiga-tiganya telah bersatu-padu, seia-sekata
ikut mengganyang musuh melalui pengabdian seni.
"Dan ronggeng Dukuh Paruk itu," ujarnya dengan tekanan kata yang istimewa,
"mereka adalah seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian
tangguh, schingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabadabad
hidup tertindas. Sebentar lagi Srintil dan kawan-kawannya akan tampil di pentas
ini. Tetapi jangan salah. Apa pun yang disajikannya tidak bisa lain daripada sebuah
makna tuntutan kebebasan! Bebas dari penindasan kaum imperialis, kapitalis, dan
kolonialis bersama antek-antek mereka. Sekali lagi, bebas!"
Dari salah satu sudut lapangan terdengar sorak-sorai yang riuh. Terasa sekali hurahura
itu diatur dengan komando. Terasa sekali ada usaha lebih menonjolkan peran
rombongan ronggeng Dukuh Paruk di antara rombongan kesenian lain. Di tempat
berkumpul di sisi panggung, Sakarya melirik rekannya Kartareja. Keduanya tidak
paham akan ucapan-ucapan pengantar acara apalagi maknanya. Tetapi setidaknya
kedua orang Dukuh Paruk itu merasakan ada kejanggalan. Sepanjang
pengetahuaannya ronggeng tak memerlukan pengantar kata yang macam-macam
sebelum mulai berpentas
Sekiranya orang-orang Dukuh Paruk itu mengerti siapa Sentika sebenarnya mereka
tidak usah terkejut. Uang yang diletakkan di atas meja tertumpuk setebal jari. Cincin
emas di dekatnya berbentuk iris penjalin setebal drenges, bunga sirih. Srintil sendiri
terperangah. Disadarinya atau tidak, mulutnya bergumam, "Jadi anak Bapak sudah
disunat?"
"Disunat oleh seorang lelaki dukun sunat, sudah. Lha iya. Tetapi disunat oleh
sampean, belum! Lha iya."
Semuanya tertawa. Kecuali Srintil yang hanya tersipu. Di dalam hatinya muncul
keraguan. Sanggup meronggeng sekaligus menjadi gowok, atau tidak. Soal
meronggeng tidak jadi masalah, tetapi jadi gowok? Srintil sudah bersumpah dalam hati
tidak akan melayani laki-laki yang memburunya. Laki-laki yang menganggap tak ada
sisa nilai lagi setelah terjadi transaksi jual-beli, di mana Srintil sama sekali tak
berperan dalam penentuan. Marsusi misalnya. Srintil ingin memiliki hak memilih dan
71
ikut menentukan dalam setiap urusan yang menyangkut dirinya. Memiliki dirinya. Atau
Srintil akan meminjamkan dirinya bila hal itu menjadi kepentingannya, bukan
kepentingan orang lain semata.
Siapa pun di Dukuh Paruk tahu pikiran demikian menyimpang dari kebiasaan seorang
ronggeng. Srintil juga. Tetapi pada usia delapan belas tahun itu Srintil tahu bahwa
penyimpangan demikian harus dilakukan bila dia ingin mempunyai andil dalam dirinya
sendiri.
"Lha iya. Kok semuanya diam. Aku menunggu jawaban kalian, jawabanmu,
Jenganten," ujar Sentika. Dan meludah merah. "Kalian tahu aku harus cepat pulang
agar tidak kemalaman di tengah jalan, Alaswangkal jauh, lho! Dan andongku sudah
lama menunggu di Dawuan."
Semua mata memandang ke arah Srintil. Ini juga penyimpangan. Biasanya Kartareja
atau Sakarya berani mengambil keputusan tanpa melihat roman muka Srintil lebih
dulu. Tetapi kini bahkan wibawa Srintil mampu mencegah siapa saja yang ingin
berkata sugestif. Tiba-tiba mata Srintil memancarkan cahaya kuasa. Wajahnya
melukiskan citra keangkuhan.
"Aku akan datang ke Alaswangkal pada hari Kemis Pahing untuk meronggeng. Lihat
saja nanti apakah aku juga bersedia menjadi gowok bagi anak Bapak. Hanya itu
kesanggupanku."
Selesai berkara demikian Srintil dengan wajah beku, bangkit hendak meninggalkan
ruangan. Goder yang merengek dalam embanan diciuminya puas-puas. Sentika cepatcepat
mcnyemburkan remah sirih dari mulutnya ke tanah.
"Nanti dulu, Wong Ayu! Lha iya. Aku kan orang tua. Masakan aku tidak mengerti
perasaanmu, kemauanmu. Duduklah sebentar. Aku belum selesai."
Oleh cara pendekatan Sentika hati Srintil meleleh. Dia menurut, duduk kembali di
samping neneknya.
"Coba dengarkan, Jenganten. Aku sudah senang sampean bersedia meronggeng di
rumahku. Soal menjadi gowok, aku setuju; bagaimana nanti saja bila sampean sudah
berada di Alaswangkal. Lha iya. Maka ambillah uang ini. Dan pakai juga cincin ini. Aku
sungguh tidak rugi memberikan cincin ini kepada sampean. Tak peduli apakah
sampean mau atau tidak mau menjadi gowok. Lha iya. He-he-he."
Suasana yang kemudian berkembang adalah bukti kecakapan Sentika: orang-orang
hampir tidak mungkin berkata "tidak". Srintil pasif saja ketika Sentika datang
mendekat dan memegang telapak tangannya. Uang dan cincin itu sekejap saja sudah
berada dalam telapak tangan ronggeng itu. Sentika sendiri yang meletakkannya di
sana. Dan mengatupkannya sekalian dengan remasan. "Nah, gampang, kan? Lha iya!"
Sentika meninggalkan Dukuh Paruk dengan hati yang entah mengapa, puas. Padahal
tujuannya pergi ke pedukuhan itu tidak sepenuhnya berhasil. Dia masih harus mencari
seorang perempuan sebagai cadangan bilamana Srintil benar-benar tidak bersedia
menjadi gowok. Boleh jadi Sentika bukan laki-laki kekecualian, yang menganggap
kembang dari Dukuh Paruk demikian mengesankan sehingga orang merasa lebih suka
menuruti kehendaknya daripada marah atau kecewa terhadapnya.
Matahari membuat bayang-bayang sepanjang setengah badan. Sentika mempercepat
jalannya. Dalam perhitungannya dia akan sampai ke rumah setelah malam jatuh. Tak
mengapa, pikirnya. Aku telah menemukan seorang ronggeng yang belum pernah
72
kulihat sepanjang hidup; kecantikannya. Kemis Pahing nanti dia akan menari di
rumahku. Kini dia telah menggenggam uangku dan cincinku.
Selama seminggu menunggu kedatangan Kemis Pahing tak ada sesuatu yang berkesan
tercatat di Dukuh Paruk. Atau, katakanlah, Srintil menjadi lebih ketat mendekap Goder
karena Tampi bunting lagi. Sementara Dukuh Paruk yang tua kelihatan makin renta
oleh udara yang lebih dingin. Kemarau datang lagi ke Dukuh Paruk buat kesekian juta
kali. Dan Dukuh Paruk selalu menyambutnya dengan ramah. Kepiting membuat lubang
lebih dalam di tepi pematang agar dirinya masih bisa mendapat air tanah. Siput
mengunci diri dalam rumah kapurnya, pintunya dilak dengan lendir beku agar tidak
setitik uap air pun bisa keluar. Siput dan binatang-binatang lunak sejenisnya akan
beristirahat panjang hingga musim penghujan mendatang.
Burung-burung air pergi meninggalkan Dukuh Paruk. Tak seekor bluwak pun masih
kelihatan di sana. Trinil dan hahayaman sudah lebih dulu lenyap menuju rawa-rawa di
muara Sungai Serayu dan Citandui. Kerajaan mereka yang kini menjadi lumpur kering
dikuasai oleh puyuh dan
branjangan. Burung-burung ini membuat sarang dari rumput kering atau sisa batang
padi yang telah renyah termakan terik matahari. Puyuh akan memperdengarkan
suaranya yang samar dan berat. Samar, sehingga bagi telinga yang tidak terbiasa
takkan bisa membedakan mana suara puyuh dan mana suara desau angin.
Sementara puyuh mengeluarkan suaranya dari balik penyamarannya di antara
rerumputan kering, maka branjangan beriang-gembira sambil kejer di angkasa.
Kelincahannya menantang terik matahari. Kicaunya adalah gabungan suara hampir
semua jenis burung. Kadang dia berkicau seperti kutilang, kadang seperti jalak,
podang, bahkan cucakrawa. Boleh jadi hanya suara burung gagak yang tidak berhasil
ditiru oleh branjangan.
Di tanah Dukuh Paruk semua pepohonan mulai mengurangi kerimbunan daun. Beringin
di puncak pekuburan melepaskan ribuan daun kuning bila angin berembus. Daun
pisang dan keladi muda tumbuh lebih sempit. Rumpun-rumpun bambu meranggas.
Alam telah mengajar mereka bahwa untuk mempertahankan hidup mereka harus
hemat air selama kemarau. Yang agak menyendiri adalah pohon mangga dan bungur.
Keduanya malah mulai berbunga ketika kemarau menjelang.
Ketika Dukuh Paruk mulai meranggas itulah suatu pagi Srintil berangkat ke
Alaswangkal. Dari Dawuan mereka naik bus tua yang hanya datang ke kota kecamatan
itu. Perangkat calung serta gendang tertumpuk di atap kendaraan itu. Para
penumpang yang semula terkantuk atau pusing oleh bau asap motor mendadak jadi
bersemangat ketika melihat Srintil beserta rombongan naik. Kebanyakan penumpang
sudah tahu siapa Srintil. Mulut mereka mulai usil. Ada yang bangkit dari tempat duduk
agar dapat lebih jelas melihat Srintil: masih cantikkah dia atau bahkan menjadi lebih
cantik lagi. Mereka hanya sekedar ingin melihat karena mereka sadar menggunakan
jasa Srintil dalam arti apa pun juga memerlukan banyak uang.
Mestilah celoteh cabul itu bisa berkepanjangan apabila Srintil melayaninya. Nyatanya
Srintil tidak memberi tanggapan apa pun. Melihat mereka yang bermulut usil pun
tidak. Diam dan diam. Apabila Srintil harus menoleh maka hal itu dilakukan demi Nyai
Kartareja yang duduk di sampingnya. Ini pun berlangsung dalam gerakan yang
bermartabat. Sesuatu telah muncul ke permukaan dalam hubungan antara Srintil dan
Nyai Kartareja. Selama enam tahun Srintil menjadi anak asuhan yang patuh
73
sepenuhnya kepada Nyai Kartareja. Kini mulai kelihatan Nyai Kartareja surut ke
belakang oleh martabat yang secara pasti mulai dimiliki oleh Srintil.
Dua jam dalam kendaraan, kemudian rombongan dari Dukuh Paruk turun di daerah
sepi berhutan jati. Seorang laki-laki tua bercawat lancingan tergopoh-gopoh
menjumpai Kartareja.
"Saya Mertanakim," katanya. "Saya utusan Pak Sentika untuk menjemput sampean
semua."
"Ah, ya. Terima kasih." jawab Kartareja. "Apakah ada tenaga buat mengangkut
bawaan kami?"
"Lha, orang-orang ini! Sampean semua tinggal berjalan bersama saya."
"Jauh?"
"Paling-paling dua jam perjalanan." jawab Mertanakim tanpa perubahan emosi pada
wajahnya.
Para pembawa barang berjalan di depan. Lama-kelamaan mereka jauh meninggalkan
rombongan. Jalan itu sempit, naik-turun dan berlapis batu cadas yang besar dan
kasar. Selama perjalanan rombongan tak putus-putusnya berpapasan dengan orangorang
yang mengangkut singkong. Yang laki-laki memikul dan yang perempuan
menggendong. Semua mereka adalah orang-orang upahan Pak Sentika, kata
Mertanakim. Mereka mengangkuti singkong dari Alaswangkal sampai ke pangkalan di
tepi jalan besar. Dari sana singkong akan dibawa ke pabrik tapioka dengan pedati atau
truk.
Hingga setengah jam perjalanan rombongan belum melihat satu pun rumah penduduk.
Jalan yang mereka lalui masih berpagar ladang singkong dan hutan jati. Beberapa kali
Srintil minta dituntun karena harus meliwati titian pohon nyiur sebatang. Di suatu
tikungan, di bawah sebatang pohon angsana yang besar, Srintil melihat sebuah
warung. Meski jauh dari pemukiman penduduk warung kecil itu kelihatan laris. Para
pelanggan adalah pemikul-pemikul singkong. Yang dijual di sana tidak lebih dari air
asam yang dimaniskan dengan gula merah serta tape singkong. Lagi-lagi singkong.
Srintil menghabiskan dua gelas air asam. Keringat terbit di sekujur tubuhnya. Dua
orang laki-laki berlomba memberikan tempat duduknya kepada Srintil.
"Iya, kalian bangkit semua. Ini tamu-tamu dari Dukuh Paruk," ujar Mertanakim
mengusir para pemikul yang semula duduk tenang.
Lima laki-laki, semuanya bercawat lancingan, bangkit bersama. Mereka menyingkir
lalu bergerombol di dekat pikulan singkong masing-masing. Tetapi mata mereka tetap
tertinggal di warung; pada diri Srintil yang sedang memijit-mijit betisnya. Mereka
adalah laki-laki gunung dalam arti yang sebenar-benarnya. Di mata mereka Srintil
adalah perempuan paling cantik yang pernah mereka lihat. Dan keramaian yang sudah
sekian lama mereka nantikan akan terlaksana nanti malam; pentas ronggeng di rumah
Sentika. Kegembiraan yang terpendam muncul dalam garis-garis harapan pada wajah
mereka.
"Apa kira-kira masih jauh lagi, Kang Kartareja?" kata Sakum yang merasa paling
sengsara bila melangkahkan kaki pada jalan yang belum dikenalnya.
"Memang masih jauh," kata Mertanakim. "Tetapi sampean tak perlu berkecil hati.
Majikan kami sudah mempersiapkan sambutan yang istimewa bagi sampean. Semua."
74
Perjalanan diteruskan dan matahari mulai terik. Tetapi udara bertiup sejuk.
Nyamannya udara gunung. Mereka berjalan beriringan, Mertanakim menjadi kepala
barisan. Bila perjalanan melintasi punggung bukit terpaparlah pemandangan luas ke
bawah. Lereng-lereng yang hijau oleh tanaman singkong atau sama sekali merah bila
ubi kayu itu telah dicabuti. Jauh di sana hutan jati yang sunyi. Dan di sana-sini
kelihatan pohon wangkal yang tegar. Jalan setapak kelihatan mengular melingkar bukit
dan hilang-tampak oleh lebatnya pepohonan. Kelengangan suasana pegunungan hanya
digoda oleh kicau burung kacer yang bersembunyi dalam kerimbunan perdu di lereng
jurang.
Satu-dua rumah mulai kelihatan. Beratap ilalang yang kelabu. Kandang-kandang
kambing yang terpisah. Atapnya tertutup tanaman rambat, waluh, atau labu. Anakanak
lelaki dan perempuan keluar. Semuanya telanjang. Laki-laki dewasa juga keluar.
Semuanya menyandang parang. Dan kelihatan sekali mereka bangga dengan
parangnya. Ada juga anak laki-laki, meski masih telanjang tetapi menyandang parang
di pinggang. Mereka, baik yang dewasa maupun yang anak-anak, hanya melihat dan
membisu. Toh wajah mereka menampilkan kesan kegembiraan. Nanti malam akan ada
pertunjukan luar biasa di rumah Sentika. Pentas ronggeng dari Dukuh Paruk.
Hampir tengah hari ketika rombongan dari Dukuh Paruk memasuki kampung
Alaswangkal. Pemukiman penduduk berupa kelompok-kelompok rumah yang terdiri
atas paling banyak lima gubuk ilalang. Setiap kelompok terpisah oleh tegalan yang
luas. Srintil mulai dihinggapi perasaan kecil hati. Jauh dari Dukuh Paruk, akankah dia
berpentas dalam rumah ilalang yang kecil dan kusam itu?
Tetapi perasaan Srintil berubah cepat ketika Mertanakim mengacungkan tangan ke
depan.
"Kita hampir sampai. Itulah rumah Pak Sentika, majikan kami, majikan semua orang
di sini."
Sentika tampil ke bagian tengah beranda yang kosong. Kepada para penonton Sentika
menyatakan hajatnya. Mereka diminta menjadi saksi bahwa pada malam itu, dengan
tontonan ronggeng, maka kaul Sentika sudah tunai. Kaul demi anak lelaki satusatunya
yang kini duduk di kursi dengan wajah gembira dan saku baju menggembung
penuh uang. Waras kelihatan sangat ceria, keceriaan sehari-hari yang diperlihatkan
oleh Waras bila dia sedang bermain-main dengan anak burung kepodangnya.
Kegembiraan penonton tercetus ketika tangan-tangan terlatih mulai menggarap irama
calung dalam lagu Sekar Gadung. Sakum yang kelihatan berada dalam kondisi
terbaiknya langsung menjadi titik perhatian semua penonton. Matanya yang keropos,
tangannya yang cekatan dan senggakannya yang kocak dan konyol. Penonton
bertepuk riuh. Sebungkus rokok terbang ke arah para penabuh datang dari arah
kepadatan orang. Bungkus pertama disusul oleh yang lain dan beberapa di antaranya
melayang dari gerombolan penonton perempuan.
Namun semua orang diam ketika Srintil muncul penonton berdesakan kemudian
tenang penuh penantian. Di sana Srintil berdiri anggun. Pribadi dan sosoknya yang
sedang berada dalam puncak kemekaran segera menyita perhatian semua orang. Buat
sementara saat lamanya Srintil tetap berdiri di tempatnya. Kedua sudut bibirnya
sedikit tertarik ke dalam, matanya memancarkan cahaya bening embun pagi.
Keseluruhan wajahnya adalah citra wibawa dan pesona yang muncul bersamaan.
Dalam waktu yang sekejap itu Srintil telah berhasil membuktikan kepada khalayak
75
bahwa yang empunya malam pertunjukan bukan Sentika, bukan pula Waras anaknya,
melainkan Srintil pribadi tanpa seorang pun bisa menggugatnya.
Kemudian Srintil melangkah maju dan duduk dengan anggun di hadapan para penabuh
yang sejak tadi terus mengalunkan Sekar Gadung. Srintil mengangkat muka, seakan
sedang meyakinkan kepada penonton akan kecantikan wajahnya. Lalu suaranya yang
bening masuk, mengalir, dan menjadi irama calung. Sedetik kemudian pecah tepuk
tangan ratusan penonton di halaman rumah Sentika. Kegembiraan yang mencekam
jiwa semua orang pun mulai.
Ketika memutuskan menerima menjadi gowok bagi Waras maka timbul kesadaran
baru di hati Srintil. Bahwa dirinya adalah perempuan dalam falsafah yang amat dalam.
Perempuan yang harus mampu berperan banyak di hadapan seorang laki-laki muda
yang nyaris tersingkir dari identitas kelelakiannya, seorang perjaka yang tumbuh
dalam malapetaka kejiwaan. Kesadaran yang tulus dari naluri seorang ronggeng sejati.
Dan kesadaran itu muncul amat besar sebagai warna suatu gerak tari yang hanya bisa
dibaca oleh jiwa yang peka terhadap gelombang batin.
Ada ratusan pasang mata menonton Srintil meronggeng. Orang-orang terpenting desa
Alaswangkal ada di sekitar arena, tak terkecuali lurahnya. Tetapi Srintil merasa sedang
menari di hadapan satu orang: seorang anak muda yang mengharuskan Srintil merasa
sebagai ibunya, kadang adiknya, dan kadang teman sepermainannya. Suatu masa
warna suara Stintil begitu lembut dan dalam penampilan wajah teduh sebagai
gambaran seorang ibu yang sedang mendekap dan mengelus anaknya. Kadang suara
Srintil penuh semangat, geraknya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang mengajari
anaknya berjalan. Dan kadang Srintil melirik dan tersenyum kepada Waras,
gerakannya menantang seakan Srintil sedang menggugah naluri kelelakian perjaka
Alaswangkal itu.
Dalam keterbelakangannya Waras bisa merasakan sentuhan yang membangkitkan
semangat. Dari tempat duduknya di tepi arena kelihatan wajah Waras berseri-seri.
Matanya bercahaya. Tetapi ketika Stintil menari dan mendekat sambil mencondongkan
wajah, Waras tidak berbuat sesuatu yang sangat diharapkan oleh penonton, terutama
ayah dan ibunya. Waras tidak mencium Srintil melainkan hanya meletakkan kedua
telapak tangan masing-masing di pipi kiri dan kanan ronggeng itu. Toh adegan yang
kurang memuaskan itu tak luput dari kepekaan naluri Sakum yang buta. Tepat ketika
tangan Waras menempel di pipi Srintil mulut Sakum meruncing: "ciusssss". Dan
penonton pun bersorak-sorai. Waras bertepuk tangan berjingkrak seperti anak
kambing selesai menguras tetek induknya.
Babak demi babak terus berlanjut. Alaswangkal yang biasa sepi tersembunyi di
belakang hutan jati dan ladang singkong jadi semarak oleh irama calung. Dan soraksorai
warganya yang malam ini berkumpul di halaman rumah Sentika menonton Srintil
berjoget. Tuan rumah sudah menyuruh orang-orangnya mengeluarkan guci-guci berisi
ciu. Setcngah jam kemudian mulai terdengar suara-suara yang tidak terkendali.
Beberapa peminum mulai mabuk. Lurah Alaswangkal kelihatan gelisah karena
syarafnya mulai dikacau oleh ciu. Kemudian laki-laki yang sudah kempot pipi itu
bangkit, terhuyung-huyung melangkah ke tengah arena. Dengan mengangkangkan
kaki dan membuka kedua tangannya lebar-lebar lurah Alaswungkal mulai bertandak,
mengajak Srintil bertayub. Dari mulutnya terdengar tembang yang kacau. Tetapi
wajahnya merah terbakar oleh berahi dan minuman keras.
Mula-mula Srintil mengira kedatangan lurah Alaswangkal akan membuat Waras
kecewa. Ternyata dugaannya jauh meleset. Waras malah bertepuk tangan memberi
76
semangat kepada lurahnya. Dia berteriak-teriak kegirangan ketika melihat Pak Lurah
memasukkan tangan ke dada Srintil buat menaruh uang dan beraksi di sana. Dan pada
akhirnya Waras bangkit. Dengan genggaman tangan penuh uang Waras meniru
lurahnya. Pada saat yang tak pernah luput mulut Sakum meruncing; "cesssss".
Kemeriahan di rumah Sentika usai sesudah ayam jantan berkokok. Selama tujuh jam
Srintil berjoget dan bertembang. Selama itu Srintil melayani sekian banyak laki-laki
yang membawanya bertayub dan sekian banyak laki-laki baru puas bila Srintil duduk
di atas pangkuannya. Dua-tiga kali Srintil harus masuk ke kamar buat memperbaiki
busananya terutama di bagian dada. Sebanyak itu pula dia harus kembali mengoles
bedak di pipi karena pada bagian yang jernih itu paling sering bersentuhan dengan
kulit lelaki.
Ketika sinar matahari mulai menyentuh punggung-punggung bukit di Alaswangkal dan
mengusir halimun dari sana, Srintil masih lelap di kamarnya di rumah Sentika.
Sementara rumah saudagar singkong itu sudah ramai oleh pembantu laki-laki dan
perempuan yang banyak jumlahnya. Anak-anak Sentika masih di sana menikmati
suasana baru karena di rumah orang tua mereka tinggal seorang ronggeng. Bukan
sembarang tinggal. Mulai hari ini Srimil menjadi gowok. Bagaimana sikap Waras
terhadap gowoknya itulah yang menjadi daya tarik saudara-saudaranya.
Rumah yang ditunjuk oleh Mertanakim belum jelas kelihatan. Namun dari jauh sudah
tampak pekarangan yang berpagar pohon puring. Di halamannya tumbuh pohonpohon
sawo yang rindang. Ada juga pohon kemuning. Halamannya berlantai batu
kerikil yang rata dan teratur rapi.
Makin dekat ke sana sosok keseluruhan rumah itu makin nyata. Pintu masuk ke
halaman berupa gapura tembok. Memang tidak bagus buatannya tetapi cukup
memberi kesan wibawa. Bangunan rumah terdiri atas tiga bubungan bergaya tingasan,
beratap genting dengan hiasan ukiran seng. Dindingnya kayu jati yang mengkilap oleh
pernis baru. Pekarangannya amat luas dengan rumah-rumah yang lebih sederbana di
kiri dan kanan bangunan utama. Dalam rumah-rumah tambahan ini terlihat tumpukan
karung-karung gaplek; dagangan utama lainnya milik Sentika.
Ketika langkah Srintil sampai di bawah pohon sawo di tengah halaman hatinya
berbisik; inilah rumah yang sebenar-benarnya rumah. Rumah yang memberi kesan
selaras dengan selera alam, rumah yang tidak menjadi tuan bagi pepohonan dan
bebatuan di sekitarnya. Bahkan Srintil melihat dua ekor burung layang-layang keluar
masuk ke beranda. Pada dahan yang bercabang, dalam kerimbunan pohon sawo,
dilihatnya keluthuk, kandang lebah madu yang terbuat dari batang kelapa dibelah.
Pada ujung-ujung pelepah kelapa di samping rumah bergantungan sarang burung
manyar. Keluarga unggas yang cerewet. Namun suara riuh mereka tidak menjadi nada
sumbang. Suara burung-burung di alam bebas; suara yang hanya patuh kepada abaaba
alam.
Sentika muncul di pintu depan bersama istrinya. Wajahnya kelihatan demikian hidup,
apalagi dengan geraham yang tidak berhenti mengunyah sirih. Mata Nyai Sentika
terpaku pada Srintil yang meski tampak lelah namun daya tariknya tak sedikit pun
berkurang.
"Saudara-saudaraku dari Dukuh Paruk! Mari, mari. Kami sudah lama menunggu. Dan
kami sudah khawatir; jangan-jangan kalian tidak suka datang ke gubuk kami yang
terpencil ini."
77
"Wah, kasihan, Jenganten yang cantik ini," ujar Nyai Sentika sambil menyalami Srintil.
"Maafkan kami yang telah memaksa sampean berjalan demikian jauh. Aduh, anakku
wong ayu, mari masuk."
Tujuh orang dari Dukuh Paruk, tak seorang pun bisa menyambut keramahan suamiistri
Sentika dengan kata-kata. Kehangatan tuan rumah malah membungkam mulut
Kartareja dan teman-temannya. Mereka hanya tersenyum dan tertawa. Dalam senyum
mereka tergambar rasa segan, atau rendah diri, setelah melihat kenyataan Sentika
sungguh seorang yang kaya. Sentika seperti raja kecil di kampung pegunungan itu.
Ketika memasuki rumah Sentika orang-orang Dukuh Paruk berjalan sedikit
membungkuk. Kecuali Srintil. Sikapnya sangat biasa. Dia memang seperti yang lain:
mengakui bahwa Sentika memiliki kelebihan tertentu. Tetapi Srintil merasa tidak harus
menekuk tulang punggung di hadapan laki-laki yang serba dituakan di Alaswangkal itu.
Kartareja duduk berhadapan dengan Sentika di meja utama yang berbentuk bundar.
Istrinya ditemani Nyai Sentika duduk di atas balai-balai besar di pinggir ruangan.
Sakum dan tiga penabuh lainnya mengelilingi meja di sebelah kiri. Srintil tidak mau
duduk. Dengan penampilan yang penuh martabat Srintil langsung meminta kamar
buat beristirahat. Kartareja kelihatan tidak menyukai tindakan Srintil. Bagi Kartareja
bertamu berarti siap menjadi barang. Soal pengaturan menjadi hak tuan rumah.
"Eh, lha iya. Anakku, kami sudah menyediakan tempat bagimu. Nyai, bawalah anakmu
ini ke sana." Mertanakim tidak bohong. Sentika memang telah menyiapkan sambutan
yang hampir berlebihan bagi rombongan ronggeng Dukuh Paruk. Kopi segera keluar
bersama dodol, kue lapis, dan ketan. Rokok dibagikan sebungkus tiap orang. Buahnya,
pisang ambon dan salak. Bahkan juga kelapa muda. Dan karena hari memang sudah
siang maka waktu makan pun tiba. Sekali lagi orang-orang Dukuh Paruk itu merasa
terlalu dimanjakan. Nasi dari padi gogo dengan lodeh rebung dan gulai ayam. Sambal
terasi dengan cabai merah.
Selesai makan siang hanya tinggal Sentika dan Kartareja yang masih duduk di
beranda. Sakum dan tiga rekannya boleh memilih sendiri tempat beristirahat. Ada
beberapa hal yang harus dibicarakan antara tuan rumah dengan kepala rombongan
ronggeng.
"Aku akan menyelenggarakan tayub, Kang," kata Sentika mengawaii bicaranya.
"Bagaimana pendapat sampean?"
"Ah, ya. Sebetulnya ronggeng tak bisa dipisahkan dengan tayuban. Malah tanpa
tayuban sebenarnya pentas ronggeng kehilangan daya tariknya. Tetapi beberapa
tahun terakhir ini kami dilarang mengadakan acara tayuban. Larangan resmi, Kang."
"Tetapi aku sudah bertekad melaksanakannya. Lha iya. Aku jamin tak ada sesuatu
kesulitan yang akan sampean hadapi. Lagi pula, Alaswangkal ini sangat jauh dari
perkampungan lain. Lurah di sini bisa saya atur. Dan tayuban itu khusus bagi si Waras,
anakku yang lelaki satu-satunya itu. Lha iya. Bagaimana, Kang?"
"Kalau begitu sampean sudah bisa menebak jawaban saya."
"Dan aku sudah mendapat satu peti minuman keras dari tauke-ku di kota."
"Wah, bisa semringah permainan nanti malam."
"He-he-he, lha iya. Tetapi masih ada satu lagi, Kang. Dan ini yang terpenting; apakah
Srintil sudah bersedia menjadi gowok? Aku akan sangat kecewa bila Srintil datang
kemari hanya buat meronggeng."
78
Kartareja tersenyum dengan nada kecewa. "Sampean harus memaafkan aku, Kang.
Soalnya meskipun sudah sampai kemari, tetapi aku tidak bisa memberi kepastian. Aku
persilakan sampean berbicara langsung dengan Srintil. Siapa tahu."
"Siapa tahu?"
"Ya, Kang. Siapa tahu Srintil mengubah pikirannya setelah sampai di Alaswangkal ini.
Siapa tahu malah Srintil sendiri yang ingin menjadi gowok setelah melihat anak lakilaki
sampean."
Sentika tidak berkata lebih lanjut. Pikirannya buntu. Apabila Srintil menolak menjadi
gowok, memang, Sentika sudah menyiapkan seorang perempuan lain. Tetapi
perempuan itu dalam segala hal bukan tandingan Srintil. Boleh dikatakan perempuan
itu tidak akan memberikan gengsi.
Waras bangun seperti biasa, tepat ketika anak burung piaraannya mulai mencecet.
Tetapi kali ini Waras tidak berminat melayani anak burung podang itu. Turun dari
tempat tidur Waras mencari emaknya yang sudah sibuk mengatur urusan dapur.
"Di mana dia, Mak?"
"Dia siapa?"
"Yang tadi malam menari. Yang tadi malam kumasuki uang ke dadanya. Di mana dia?
Dia tidak pulang, kan?"
Nyai Sentika menjatuhkan pundaknya. Ada rasa lega menyapu hatinya. Lega.
Perempuan itu yakin anak lelaki satu-satunya itu benar-benar lelaki. Waras memang
waras, buktinya dia menanyakan Srintil. Mata Nyai Sentika berkaca-kaca.
"Dia masih tidur, Nak. Kau senang pada Srintil, Nak?"
"Senang. Dia cantik ya, Mak?"
"Kau mengerti orang cantik?"
"Ya. Karena matanya tidak seperti matamu. Kulitnya halus dan mulutnya merah
seperti mulut anak burung podang. Jadi dia cantik ya, Mak?"
"Ya."
"Aku akan membangunkannya. Akan kuajak dia bermain-main."
"Eh, jangan. Tunggu sampai dia bangun."
Waras kelihatan kecewa. Merengut dia.
"Lebih baik kau pergi mandi sekarang. Srintil tidak akan mau bermain dengan siapa
pun yang belum mandi dan berpakaian rapi."
"Begitu, Mak?"
"Memang begitu. Nah, ayolah ke sumur."
Waras berlari melompat-lompat. Orang-orang mengikutinya dengan pandangan mata
dan senyum. Ada kelucuan yang tragis. Dan hanya Nyai Sentika yang menyimpan
harapan besar di balik senyumnya yang samar dan tertahan.
Jam delapan pagi ketika Srintil membuka mata didapatinya seorang perempuan duduk
tenang di dekatnya. Nyai Sentika. Tanpa kikuk sedikit pun Srintil bangkit lalu
membenahi pakaiannya yang poranda. Rambutnya yang terurai, disanggul sekenanya.
79
Segala gerak-gerik itu berada langsung di bawah tatapan mata Nyai Sentika yang tak
kunjung puas mengagumi kesegaran tubuh ronggeng Dukuh Paruk itu.
"Ah, sudah bangun, Jenganten?"
"Ya, Nyai. Sudah siang?"
"Belum begitu. Jam delapan kira-kira. Ah, ya. Nyai Kartareja bersama rombongannya
sudah berangkat pulang. Semuanya sudah beres."
Srintil hanya tersenyum ringan. Nyai Sentika tersenyum puas. Ada masalah yang
hendak disampaikan oleh Nyai Sentika kepada Srintil. Bahwa dia dan suaminya hendak
segera meninggalkan rumah. Sentika sungguh-sungguh pergi ke kota untuk beherapa
hari lamanya. Nyai Sentika hendak menyingkir, bersembunyi di salah satu rumah
tetangga. Dan semua anak-anak Sentika siang ini akan pulang ke rumah masingmasing.
"Seharusnya kami menyediakan sebuah rumah khusus untuk sampean dan Waras.
Tetapi rasanya lebih baik kami mengalah buat sementara demi anakku si Waras. Untuk
tidur pilihlah kamar mana yang kalian suka, selain kamar pribadi kami tentu saja. Dan
dengan ini saya serahkan anak saya kepada sampean. Ah, dia memang demikian
keadaannya. Sesungguhnya saya merasa malu. Tetapi, sudahlah. Pokoknya saya
percayakan kepada sampean."
"Nah! Dia sudah bangun!" ujar Waras yang tiba-tiba muncul di pintu kamar. Bajunya
baru dan sakunya penuh uang. Sepasang kaki yang panjang dan lurus muncul di
bawah celana hitam sepanjang lutut.
"Apa katanya, Mak? Dia mau bermain-main bersamaku, bukan?"
"Tentu saja, Kang," jawab Srintil mendahului Nyai Sentika. "Nanti kita bermain-main
sepuas hati. Tetapi sekarang aku mau mandi dulu. Kakang menunggu di sini."
"Jangan lama-lama."
"Ya."
"Nanti kamu berdandan seperti tadi malam."
"Ya."
Tetapi Waras tidak mau menunggu. Dia mengikuti Srintil ke sumur dengan langkahlangkah
gembira. Sumur itu berada di lembah di belakang rumah Sentika. Waras
sendiri yang menimba dan mengisi jolang. Bak mandi yang terbuat dari kayu itu
segera luber.
"Nah, mandilah. Saya di sini."
"Kakang di situ?"
"Ya."
"Jangan. Kakang pergi dulu."
"Tidak. Soalnya saya juga selalu di sini bila emak
mandi."
"Begitu?"
"Ya. He! Tadi malam aku menaruh uang di dadamu. Coba lihat, masih ada?"
80
"Sudah saya simpan, Kang. Sekarang tidak lagi di sini."
"Betul? Nah, tapi aku ingin lihat."
"Jangan, Kang, jangan."
"Kamu sudah berkata, kita berteman. Kamu mau menipu, ya."
"Tentu saja tidak, Kang."
"Lalu mengapa aku tak boleh melihat dadamu?"
Srintil hampir gagal menahan tawanya. Sambil berjongkok menghadap Waras
dibukalah pinjungnya. Dadanya terbuka penuh.
"Nah, tak ada uang, bukan?"
"Ya. Aku percaya sekarang. Tetapi tetek emakku gepeng, mengapa punyamu tidak?"
Sekali ini Srintil tidak bisa menemukan jawaban. Maka diciduknya air dengan
tangannya lalu dicipratkannya ke arah Waras. Perjaka Alaswangkal itu berteriak
girang. Tak ada pengertian lain baginya kecuali bahwa permainan yang menyenangkan
sudah dimulai. Waras kembali menimba air untuk langsung menyiram tubuh Srintil.
Permainan berubah menjadi hiruk-pikuk. Dan di tempat-tempat yang tersembunyi
beberapa pasang mata mengawasi segalanya. Ada yang tersenyum karena merasa
geli. Tetapi kebanyakan orang tersenyum karena rasa kasihan.
Sementara itu di kamarnya Srintil sama sekali tidak beristiraliat. Sejak masuk ke
kamar itu pikiran pertama yang muncul di kepala adalah bagaimana dia bisa mengintip
anak perjaka tuan rumah. Bagi Srintil, ini perlu sebelum dia memutuskan menerima
atau menolak menjadi gowok. Apabila anak Sentika itu rakus dan semena-mena
seperti Marsusi, atau bermata keropos seperti Sakum, Srintil pasti akan menolaknya.
Masalahnya siapa tahu Waras mirip laki-laki berdasi kupu-kupu itu: Tri Murdo. Atau
bila benar kata Sentika bahwa anaknya baru berusia tujuh belas. Yang ini
mengesankan. Bila menjalani peran sebagai gowok adalah yang baru bagi Srintil maka
melayani laki-laki yang berusia lebih muda adalah hal baru lainnya. Dua hal baru
sekaligus. Bagaimana juga Srintil merasa ditantang.
Tetapi sampai bosan mengintip lewat jendela Srintil belum juga melihat seseorang
yang dipanggil dengan nama Waras. Tadi ketika pergi ke sumur Srintil memperhatikan
setiap laki-laki muda yang pantas sebagai anak Sentika. Tidak ada. Yang kelihatan
adalah laki-laki pekerja, perempuan-perempuan pekerja, serta perempuan-perempuan
bergiwang dan berkalung besar. Yang terakhir ini tentulah anak-anak Sentika sendiri.
Toh penantian itu berakhir juga. Nyai Kartareja buru-buru masuk ke kamar Srintil dan
mengajaknya lebih dekat ke jendela.
"Aku sudah melihatnya," katanya.
"Mana dia?"
"Sebenar lagi Waras akan terlihat dari jendela ini."
"Nyai yakin?"
"Tentu. Aku sedang berada di belakang rumah bersama beberapa perempuan ketika
seorang anak muda datang dari arah hutan jati. Orang-orang memberi tahu aku
bahwa dialah Waras, anak majikan yang sedang dikauli."
"Bagaimana dia?"
81
"Lihat sendiri nanti. Aku malah belum melihatnya dengan jelas. Nah, itu. Itu!"
Di sana, kira-kira dua puluh meter dari jendela, Srintil melihat seorang anak muda
datang diiringi seorang anak kecil. Kesan pertama langsung membuyarkan anganangan
Srintil. Waras bertubuh tipis, jangkung. Dan kelihatan lebih jangkung dengan
pakaiannya yang terdiri atas kaus singlet dan celana setinggi lutut. Rambumya
dipotong model polka, membuat leher dan kepalanya lebih memanjang ke atas.
Pundaknya kurus dan sempit. Tangannya mirip sepasang seruling, kuning pucat dan
tanpa otot. Dan rupanya sepasang kaki itu hanya tumbuh memanjang dan
memanjang, tidak pernah bertambah besar.
Makin dekat, Srintil makin jelas melihat. Bila benar Waras berusia tujuh belas maka
wajahnya jauh lebih muda. Belum jelas gambar kelelakiannya. Dan yang hampir tak
bisa dimengerti oleh Srintil adalah sesuatu yang kelihatan amat disayang oleh perjaka
Alaswangkal ini. Seekor anak burung podang. Di Dukuh Paruk, Srintil biasa melihat
anak burung dipelihara oleh manusia. Tetapi manusia kecil sepuluh tahunan, bukan
perjaka jangkung seperti Waras. Ketika melihat bagaimana Waras menyuapi
burungnya dengan seekor belalang, Srintil lalu berbalik. Diam sesaat sambil menatap
Nyai Kartareja. Bibirnya bergerak-gerak dan menyusul ledakan tawanya.
"Eh, jangan keras-keras, Jenganten!"
Srintil terus tertawa sambil membenamkan wajahnya ke pangkuan Nyai Kartareja. Istri
dukun ronggeng ini terpaksa menekan kepala Srintil agar suara tawanya tidak
menerobos ke luar jendela.
Akhirnya Srintil bangkit. Sambil mengusap matanya dia berkata lirih.
"Nyai, sekarang ajari aku bagaimana menjadi gowok. Ajari aku!"
"Eh, Jenganten sudah mau menjadi gowok? Tetapi aku tak bisa mengajari sampean.
Aku sendiri tak pernah menjadi gowok."
"Kira-kira saja."
"Nanti dulu, Jengaten. Mengapa baru sekarang sampean menyatakan kesediaan
menjadi gowok?"
Sekarang bukan hanya Srintil yang tertawa melainkan Nyai Kartareja. Mata mereka
basah karena tawa yang berlebihan. Entah mengapa mereka lupa sedang berada di
rumah orang. Nyai Kartareja masih berusaha memperpanjang suasana lucu itu dengan
berkata, "Dulu ketika sampean menjalani malam bukak-klambu, sampean terkena
ruda paksa. Kini tiba saat bagi sampean membuat perhitungan terhadap kaum lelaki!"
***
Senja di Alaswangkal terasa datang lebih cepat. Perbukitan di sebelah barat membuat
sinar matahari redup sebelum waktunya. Suara ratusan burung manyar bertambah
riuh sebelum surut perlahan-lahan, kemudian senyap. Ayam yang berpuluh ekor
jumlahnya mencari tempat tidur masing-masing di atas pepohonan serta bubungan
gubuk tempat menyimpan kayu bakar. Kadang terjadi ketibutan di antara mereka
karena perebutan tempat yang nyaman. Dengung lebah madu tak terdengar lagi. Ada
seekor gagak berteriak-teriak karena diserbu sepasang burung keket. Kemudian
lengang. Langit yang menghitam mulai berhiaskan kelap-kelip bintang. Tidak seperti di
Dukuh Paruk, langit senja di Alaswangkal penuh dengan kalong yang terbang dalam
satu arah menuju daerah perburuan. Mereka akan menyerbu pohon beringin atau
82
pohon salam yang sedang berbuah. Atau yang pasti: kalong-kalong itu akan mencuri
nira dari tabung-tabung bambu yang dipasang oleh para penyadap kelapa.
Rumah Sentika terang benderang oleh tiga buah lampu pompa. Berandanya yang luas
dan berlantai ubin batu telah disiapkan sebagai arena ronggeng. Meja-meja ditata di
bagian tepi. Bagian tengah kira-kira dua puluh meter persegi dibiarkan kosong. Tikar
pandan yang halus digelar di sana.
Penonton yang pertama datang adalah kaum perempuan bersama anak-anak mereka.
Sentika sudah sering menggelar pentas ronggeng. Bahkan bisa dikatakan setiap punya
hajat orang paling kaya di Alaswangkal itu nanggap ronggeng. Tetapi baru sekali inilah
ronggeng yang datang bernama Srintil dari Dukuh Paruk; sebuah nama yang
ketenarannya jauh menembus batas wilayah Dawuan.
Hari makin gelap dan makin banyak sinar obor dari gerumbul-gerumbul di Alaswangkal
yang bergerak menujur rumah Sentika. Mereka datang membawa hati yang meriah.
Yang masih anak-anak akan terpuaskan rasa ingin tahunya. Yang laki-laki dengan
berahi atau nostalgia mereka. Yang perempuan dengan kebanggaan aneh; mereka
akan puas melihat seorang perempuan, Srintil, menunjukkan kekuatan fitrahnya
terhadap bangsa laki-laki. Bagi perempuan-perempuan kampung hanya dalam
tontonan ronggenglah mereka bisa menyaksikan kaum laki-laki dipermainkan oleh
lawan jenisnya. Bukan sebaliknya seperti yang mereka alami sehari-hari.
Halaman rumah Sentika sudah dipenuhi penonton. Pandangan ke dalam beranda tidak
terhalang apa pun karena dinding depan sudah disingkirkan. Di tengah halaman, pada
titik di mana langit tidak terhalang dedaunan, ada pedupaan yang mengepul. Dekat
pedupaan tertancap gayung. Meski kemarau jelas sudah datang tetapi Kartareja tidak
berani mengambil risiko. Maka dia selalu berupaya mencegah turunnya hujan.
Sangat berbeda dengan kcramaian di luar adalah sebuah sudut di dalam rumah
Sentika. Di sana Srintil dipertemukan dengan Waras. Sentika yang mempertemukan
keduanya setelah mendengar kesediaan Srintil menjadi gowok. Pada mulanya
pertemuan itu disaksikan juga oleh hampir semua keluarga besar Sentika. Srintil
menerima keramahan yang begitu tulus. Seakan dia sudah benar-benar menjadi
anggota keluarga itu. Kemudian tanpa canggung Srintil meminta agar dia di tinggal
hanya berdua dengan Waras. Tak seorang pun tersinggung oleh permintaan Srintil itu.
Malah sebaliknya. Sentika dan anak-anaknya boleh berbesar hati karena melihat
pertanda Srintil ingin lebih akrah dengan Waras.
Sudut yang sengaja dipisahkan itu lengang.
"Aku akan menyebutmu Kakang, meski aku yang lebih tua," kata Srintil mengawali
pembicaraannya.
Waras yang kelihatan bingung semenjak ditinggal sendiri kelihatan bertambah
bimbang. Tetapi kemudian Waras tersenyum. Senyum seorang anak. Srintil juga
tersenyum.
"Nah, jadi kau tidak berkeberatan kupanggil Kang, bukan?"
"Kok begitu, ya?"
"Memang harus begitu."
"Lalu aku harus menyebut apa kepadamu?"
"Srintil. Namaku Srintil. Itu saja."
83
"Ya. Gampang sekali."
"Memang gampang. Dan, Kang, kau senang bertayub, kan?"
"Nonton tayuban, begitu?"
"Bukan. Kau menari bersamaku."
"Aku tidak bisa menari. Tetapi Ayah pandai. Nah, menarilah bersama ayahku. Aku
yang menonton. Hore..."
"Ah, bukan begitu. Kakang yang harus menari. Gampang sekali, Kang."
"Yang bisa menari itu ayahku. Kok aku yang harus menari. Bagaimana?"
"Begini, Kang. Kalau kau mau menari, nanti ada upah buatmu."
"Upah?"
"Ya. Aka akan memberimu upah; nanti, sehabis pertunjukan, kau akan kutemani."
"Kautemani? Aku sudah punya teman. Banyak sekali. Mereka membantu mencari
belalang untuk makan burungku."
"Ah, itu kan teman kecil-kecil. Maksudku, nanti kalau Kakang tidur, aku akan
menemanimu."
"Kalau begitu di mana Emak tidur? Dipan itu tidak muat untuk tidur bertiga. Eh, tetapi
kita bisa menggelar tikar di lantai. Kita tidur bertiga. Aku di tengah. Emak dan kamu di
pinggir. Nah, hebat, kan?"
Srintil tidak tertawa meski hatinya tergelitik bukan main. Ada malapetaka tertentu
yang telah menghimpit hidup Waras. Boleh jadi malapetaka itu berlangsung sejak
lama. Srintil dapat melihat dan mcrasakan tapak kaki bencana itu pada postur tubuh
dan perilaku Waras. Dia tidak mungkin tertawa. Bahkan dia menelan ludah karena iba.
Dipegangnya tangan Waras yang kurus seperti buluh. Rasanya Sruitil sedang
memegang tangan seorang anak kecil: lembut tanpa otot.
"Tidak, Kang. Nanti malam kita hanya akan tidur berdua. Aku dan Kakang. Aku akan
bernyanyi rengeng-rengeng agar tidurmu pulas. Emakmu tidak bisa bernyanyi,
bukan?"
"Tetapi Emak bisa mengelus-elus."
"Aku juga bisa."
"Emak bisa mengipas-ipas."
"Aku juga bisa. Pintar."
"Kamu. Anu, kamu juga mau menemani bila malam hari aku ingin kencing di
belakang?"
"Ya, tentu."
"Bila sebelum tidur aku ingin bermain-main, bagaimana?"
"Wah, itu bagus."
"Hore! Kalau begitu kamu sangat baik. Aku suka padamu."
Waras bangkit memeluk Srintil, mendekapnya dan menciuminya. Sruitil pasrah saja.
Atau geli. Tak ada rangsangan berahi.
84
Tetapi dari tempatnya yang terlindung suami-istri Sentika memperhatikan ulah
anaknya dengan harapan melambung. Mata keduanya berkaca-kaca karena rasa haru.
Apa yang selama ini mereka harapkan sudah terjadi. Waras menciumi perempuan.
Waras mendekap seorang ronggeng: sesuatu yang bisa dikatakan sebagai pertanda
bahwa Waras mempunyai minat terhadap lawan jenis. Memang baru merupakan
pertanda, belum mengenai langsung keadaan Waras yang sebenarnya. Namun bagi
Sentika dan istrinya hal itu untuk sementara sudah cukup. Kegembiraan Nyai Sentika
meluap. Dipanggilnya anak-anak yang semuanya sudah menjadi istri orang.
"He, kemari kamu! Riwed, Darkem, Blokeng, Trombol! Lihat itu adik kalian. Lihat,
Waras sedang menciumi ronggeng!"
Jam delapan malam Sakum dan teman-temannya siap menghadapi alat musik masingmasing.
Oleh pelayanan luar biasa yang diberikan oleh tuan rumah seluruh anggota
rombongan ronggeng kelihatan penuh semangat. Srintil sedang berdandan, ditemani
oleh Nyai Kartareja. Anak-anak Sentika memperhatikan si Ronggeng dengan penuh
kekaguman. Di luar penonton mulai riuh. Teriakan mulai terdengar agar mereka yang
di depan mengambil posisi jongkok atau duduk. Anak kecil dan kaum perempuan
berdesakan.
Hari ini rumah Sentika menjadi belantara dalam dongeng. Sepasang anak binatang
bermain, bersuka-ria dalam keceriaan yang hanya bisa dimiliki oleh anak rusa atau
anak kucing. Srintil yang mengambil semua prakarsa. Mula-mula dia mengajak Waras
bermain penganten-pengantenan. Srintil berdandan. Cantiknya bukan main-main.
Waras diberi blangkon ayahnya. Mereka duduk bersanding.
"Dalam dongeng, Kakang adalah suamiku. Aku istrimu," kata Srintil, "Nah, karena aku
sudah menjadi istrimu, maka aku minta uang buat berbelanja."
Dan seterusnya. Kali lain Srintil meminta Waras membelah kayu bakar buat memasak.
Waras bekerja di samping rumah dengan semangat yang tidak bisa dikatakan sebagai
main-main. Keringatnya membasahi badan. Telapak tangannya lecet oleh gagang
kapak. Tetapi hasilnya hanya berupa serpihan-serpihan kayu dalam jumlah yang
memalukan. Sementara itu Srintil keluar ke belakang rumah membawa bakul kecil.
Dipetiknya pucuk singkong dan daun kecipir. Siapa mengira perempuan yang kelihatan
tahu betul tentang urusan dapur itu adalah seorang ronggeng. Semua orang dusun
tahu seni memetik sayur-mayur dan seni membawa bakul. Srintil melakukan keduaduanya
dengan jitu, kewes, dan pantes. Keluwesan seorang istri sejati yang hanya
mungkin tampil karena Srintil menghayati sepenuhnya peran sebagai gowok.
Atau lebih dari itu. Kesadarannya untuk mewakili dunia perempuan menumbuhkan
rasa tanggung jawab ketika menghadapi seseorang yang mempunyai masalah
kelelakian. Tanggungjawab itu secara naluri berlanjut menjadi kesadaran yang muncul
dalam citra yang sempurna. Lihat, betapa luwes gaya Srintil memetik daun singkong
muda. Pohon itu hampir tak tergerak. Betapa cantik gaya Srintil membawa bakul.
Keterpaduan antara keluwesan bentuk tangan dan liku-liku pinggul. Amat pas dan
menawan, lentur dan indah.
Hampir tengah hari permainan masak-masakan sudah selesai. Srintil memanggil
Waras yang masih giat membelah kayu di samping rumah. Nasi dengan lauk tempe
goreng, sambal, dan lalaban sudah ditata di meja makan. Srintil tidak lupa
menyediakan sejumput tembakau yang diambilnya dari lemari. Waras masuk.
Wajahnya mengkilat oleh keringat.
85
Tangannya kotor. Srintil mengambil air dari tempayan dengan gayung. Waras
dimintanya mencuci tangan.
"Habis penganten-pengantenan lalu masak-masakan. Nanti apa lagi?" tanya Waras.
Mulutnya penuh nasi.
Srintil berpikir sejenak. Suara anak burung podang mencecet di kurungan.
"Nanti tinggal bermain tidur-tiduran. Kakang lelah karena habis bekerja membelah
kayu. Aku pun lelah karena bekerja di dapur. Jadi kita tinggal tidur. Senang ya, Kang?"
"Ya. Tetapi nanti dulu. Aku harus mencari belalang buat burungku."
"Jangan, Kang. Kakang jangan ke mana-mana. Aku sudah ingin tidur. Aku ingin tidur
bersamamu."
Waras hanya sejenak mengangkat wajah. Kemudian kembali menyuap nasi.
"Jadi kamu suka bermain tidur-tiduran? Itu kesukaanmu, ya?"
Srintil menjawab dengan tarikan ujung bibir yang dipadu dengan pandangan mata
redup. Suatu pancaran sugesti yang terarah langsung kepada sisi paling primitif pada
diri seorang lelaki. Pancaran yang selayaknya bisa menggetarkan syaraf, mengusik
jantung agar berdenyut lebih kuat dan lebih cepat. Apalagi yang mengirimkan
rangsangan itu adalah Srintil; duta dunia perempuan yang secara naluriah sadar betul
akan fungsi keberadaannya.
Tetapi Waras hanya tertegun sesaat. Karena setidaknya secara samar dia bisa
membaca. Bahwa senyum Srintil tidak sama dengan senyum emaknya. Bahwa
pandangan mata Srintil terasakan aneh; terasa menggoyang halus naluri dasar yang
selama ini tak pernah disadari oleh Waras. Dalam keterbatasannya Waras melihat ada
sesuatu pada sinar mata Srintil.
"Aku pernah menangkap burung perkutut di malam hari," kata Waras tiba-tiba. "Pakai
obor."
"Burung?"
"Kamu belum pernah melihat burung perkutut tidur? Burung itu tidur berdua-dua,
berdempetan."
"Mungkin begitu."
"Siang hari kadang-kadang mereka bergendongan. Kawin. Aku sering melihatnya.
Temanku pernah menangkap sepasang burung jalak yang kawin dan nguwil dari atas
pohon dan jatuh ke tanah. Jadi burung-burung suka kawin, ya?"
"Mungkin begitu."
"Kambing juga suka kawin. Ayam juga suka kawin. Nah, kamu pernah melihat monyet
kawin?"
"Belum pernah."
"Wah, hebat. Aku senang sekali melihatnya."
Waras terus bercerita tentang kekawinan binatang-binatang yang pernah dilihatnya.
Lancar, tanpa emosi apa pun. Srintil mendengarkannya dengan penuh minat, dengan
penuh penantian. Bahwa pada gilirannya Waras akan bercerita juga tentang kekawinan
yang lain. Tetapi cerita demikian tak kunjung keluar dari mulut anak perjaka Sentika
86
itu. Waras merasa bercerita tentang aspek kehidupan yang baginya tak mungkin
terjadi pada manusia, tentang dunia yang hampa dari keberadaannya.
Tetapi Srintil berhasil membawa Waras masuk ke kamar, mengajaknya bermain tidurtiduran.
Konsep tentang tidur bagi Waras terlalu sederhana. Yakin merebahkan diri di
samping emak, miring-meringkuk.
Tangan kanan bersembunyi di pangkal ketiak emak dan tangan kiri bermain kain
kutangnya. Atau memijit-mijit puting teteknya. Dan demikian jugalah yang
dilakukannya terhadap Srintil.
Mula-mula Srintil merasa yang biasa terjadi, terjadilah. Dia menunggu dalam
kesadaran seorang ronggeng yang sebenarnya, dengan kerelaan yang hampir mutlak,
tanpa sedikit pun menyelipkan kepentingan pribadi di sana. Tetapi penantian itu tawar
bahkan kosong. Waras hanya berhenti pada bermain kain kutangnya sambil merengek
pelan seperti bayi. Makin lama geraknya makin lemah. Matanya tertutup kemudian
terdengar dengkurnya yang teratur dan panjang. Waras lelap dalam mimpi seorang
bocah.
"Itulah. Yang jelas hal semacam ini baru sekarang kita alami. Sejak dulu ronggeng ya
ronggeng. Tidak harus pakai nama atau papan nama. Dukuh Paruk sejak dulu ya
Dukuh Paruk. Tanpa gambar partai di mulut jalan itu pun pedukuhan kita ini bernama
Dukuh Paruk. Nah, Kartareja. Bagaimana ini?"
Kartareja diam.
"Dan ini," sambung Sakarya. "Bagaimana kalau kita selalu dilarang memasang sesaji!
Ini pelanggaran adat yang bukan main. Kartareja, aku amat takut menerima
akibatnya."
Kartareja masih diam. Tetapi dia mempunyai perasaan yang sama dengan kakek
Srintil itu.
"Aku mengerti, Kang. Sayang, semuanya ini kok ya menyangkut Pak Bakar. Dia telah
berbuat baik terhadap kita. Kita terlanjur menerima kebaikan-kebaikannya. Atau,
mungkinkah kita memutuskan hubungan dengan dia. Bila demikian, Kakang tahu
caranya?"
Giliran Sakarya yang diam. Kedua-duanya diam. Memutuskan hubungan adalah
perkara yang hampir tak dikenal di Dukuh Paruk. Kalaupun harus terjadi maka harus
ada alasannya yang nyata, pertengkaran misalnya. Sedangkan Bakar tidak membawa
pertengkaran. Dia hanya mencegah Sakarya membakar dupa dan memasang sesaji
sesaat pentas ronggeng hendak mulai. Dan itu pun selalu terjadi di luar Dukuh Paruk.
Sebaliknya, Bakar datang ke pedukuhan itu membawa sikap kebapakan, memberikan
perangkat pengeras suara, bahkan yang terakhir Bakar memberi pakaian lengkap bagi
para penabuh calung. Srintil mendapat kain dan perlengkapan lainnya. Sampurnya
kain pelangi berwarna merah jingga.
"Ah, begini saja, Kang," kata Kartareja.
"Bagaimana?"
"Perkara papan nama dan gambar-gambar itu tak usah kita pikirkan benar. Karena aku
melihat di mana-mana di luar Dukuh Paruk sama keadaannya. Kukira kini sedang
zamannya. Kalau zaman sedang menghendaki demikian, bukankah kita tinggal
patuh?"
87
"Memang, siapa pula yang bisa menampik kersaning zaman. Tetapi perkara sesaji
menyangkut semua orang Dukuh Paruk dan leluhurnya, Ki Secamenggala. Zaman apa
pun tidak boleh mengubah tata cara ini. Aku bilang tidak boleh!"
"Itu pun ada pemecahannya, Kang. Begini. Kalau kita hendak berangkat pentas, sesaji
kita laksanakan dulu di sini. Atau bahkan di makam Eyang Secamenggala. Kukira ini
sama saja."
Sesungguhnya Sakarya tidak puas dengan jawaban Kartareja. Menjadi pemangku trah
Dukuh Paruk baginya bukanlah perkara gampangan. Dan nuraninya tetap, tidak rela
bila Dukuh Paruk berubah. Dia tetap ingin melihat Dukuh Paruk seperti aslinya.
Terutama tentang sikap seluruh warganya terhadap arwah moyang mereka, Eyang
Secamenggala. Namun Sakarya merasa telah terlampau tua buat berpikir yang beratberat.
Dia sadar betul dirinya sudah mencapai usia di mana banyak keinginan harus
tetap tinggal menjadi keinginan. Tiada tenaga lagi buat melaksanakannya menjadi
kenyataan. Akhirnya dia menerima kata-kata Kartareja.
Atau karena ternyata kemudian Bakar memang berhenti pada titik yang bersahaja. Di
luar Dukuh Paruk, Bakar berpropaganda macam-macam, yang pasti sulit dimengerti
oleh orang Dukuh Paruk. Misalnya tentang perjuangan kaum tertindas untuk
mendapatkan kembali hak-haknya. Perjuangan dan hak adalah hal yang boleh seribu
kali diterangkan di Dukuh Paruk, dan orang di sana akan tetap bingung
memikirkannya. Dukuh Paruk yang percaya bahwa hidup ini mestilah demikian adanya
dan merupakan sebuah pakem yang sudah kering tinta, maka tak perlu ada
perjuangan. Dan hak hanya kelihatan samar di bawah sikap yang nrimo pandum.
Tidak. Bakar tidak bicara macam-macam di Dukuh Paruk. Dia hanya ingin Srintil dan
rombongannya menjadi alat penarik massa, sekaligus mendaulatnya. Tujuan itu sudah
berhasil dicapai dengan modal tak seberapa: pengeras suara, pakaian-pakaian, serta
sikap kebapakan. Juga slogan-slogan yang telah diubah menjadi syair untuk
mengganti lirik tembang tradisional.
Jadilah rombongan ronggeng Dukuh Paruk bagian yang pasti rapat-rapat propaganda
yang diselengarakan oleh Bakar beserta orang-orangnya. Rapat selalu berlangsung
hingar-bingar. Pengunjung bukan main banyak. Mereka datang demi Bakar atau demi
Srintil. Yang demikian ini tidak penting bagi Bakar. Pokoknya massa yang amat banyak
telah berkumpul dan dia berkesempatan mengolah emosi mereka. Hanya emosi,
karena seorang dengan kepala penuh teori seperti Bakar pasti tahu bahwa lebih dari
itu, tentang kesadaran ideologi misalnya, sulit dimengerti oleh orang-orang dusun.
Orang-orang bersahaja itu kebanyakan tidak memiliki sarana batin buat memahami
konsep ideologi apa pun.
Kalaulah mau dibuat catatan tentang ideologi dasar orang-orang dusun maka di sana
ada keyakinan mesianistik. Bahwa mereka dalam penantian akan datangnya Ratu Adil.
Dari sisi inilah Bakar paling sering muncul. Secara tidak langsung kelompoknya ingin
diakui sebagai pengejawantahan Ratu Adil yang akan memberi keadilan, misalnya
dengan janji pembagian tanah yang sama rata sama rasa. Catatan membuktikan
bahwa dengan cara ini Bakar berhasil.
Adalah Srintil yang tidak tahu apakah dalam hidup ini diperlukan rapat-rapat, pidato,
dan pawai-pawai. Atau segala kegiatan hura-hura, itu. Dan Srintil yang tidak mengerti
tujuan rapat-rapat yang belakangan selalu diikutinya dan dia mengisi acara kesenian.
Srintil yang menjadi unsur paling penting bagi Dukuh Paruk adalah anak kandung
88
keluguan alam dan kehidupan. Dia yang hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur
cetak biru yang sudah ditentukan baginya, cetak biru seorang ronggeng.
Alur itu sudah ditempuhnya dengan kerelaan sempurna. Menjadi ronggeng yang
diterimanya sebagai tugas hidup, ialah menjadi pemangku naluri primitif, nalun berahi
yang membebaskan diri dari norma dan etika yang menyusul kemudian. Itulah
dunianya, kesadarannya. Dalam kesadaran itu Srintil merasa pasti ada sesuatu yang
hilang ketika dia berpentas pada rapat-rapat propaganda itu. Srintil takkan pernah
mampu berkata demikian. Namun nalurinya secara pasti merasakan adanya
pendangkalan makna keberadaannya. Ronggeng adalah keperempuanan yang menari,
menyanyi, serta kerelaan melayani kelelakian. Dia pastilah bersifat mandiri dan
mendasar. Tetapi selama mengikuti Bakar, untuk apa dan siapa dia meronggeng
sungguh menjadi pertanyaan yang sulit dijawabnya.
Meski dalam wawasan yang sederhana Srintil merasa pentas ronggeng dalam rapatrapat
itu sekedar pelengkap. Memang meriah, tetapi lain. Gempita tetapi kering
makna. Apalagi dengan lirik tembang yang sudah banyak diubah. Penonton selalu
dalam keberingasan yang tidak bisa dimengerti dan karenanya Srintil kadang merasa
ngeri. Bahkan Sakum yang buta dua belah mata ikut mewarnai perubahan yang
dirasakan Srintil. Penabuh calung itu kehilangan dirinya; kekocakan spontan yang
selalu tepat ketika ronggeng menggoyang pinggulnya. Sakum, dengan kepekaan dan
kehalusan perasaannya mampu menangkap keringnya pentas ronggeng yang digelar
bersama rapat-rapat propaganda itu.
Acap kali Srintil merenung mengapa segala perasaan itu baru datang setelah
kebaikan-kebaikan Bakar bertumpuk menjadi utang budi yang sulit dihindari. Pernah
sekali dicobanya menolak naik panggung yang diselenggarakan oleh Bakar. Tetapi
ketika utusan Bakar datang menjemputnya mulut Srintil terkunci. Kata tidak yang
sudah lama dipersiapkannya tidak kunjung terucap. Akhirnya pada tahun 1964
menjelang tahun berikutnya Dukuh Paruk dan ronggengnya berbaur dalam satu
pengertian dengan kelompok Bakar. Srintil mendapat julukan baru yang cepat menjadi
tenar: Ronggeng Rakyat. Sebutan ronggeng Dukuh Paruk kian tersingkir.
Tetapi makin jarang terdengar nama Dukuh Paruk, Srintil makin merindukannya.
Dukuh Paruk yang meskipun tanpa pengeras suara atau lambang-lambang partai dan
tetap melarat dan cabul, tetapi lugu dan sejati. Lirik tembangnya tidak usah diganti
dengan slogan-slogan. Tak perlu hingar-bingar dan hura-hura rapat. Kerinduan Srintil
akan dunianya memuncak setelah mendapat pengalaman baru bersama Bakar;
pengalaman baru yang menggoncangkan jiwanya. Suatu ketika sehabis rapat di mana
Srintil mengisi acara kesenian, ratusan penonton mabuk. Mereka kesurupan, kemudian
mereka beramai-ramai merojeng padi. Mereka membabat padi menguning di sawahsawah
entah milik siapa. Malam yang amat rusuh karena kemudian datang para
pemilik sawah untuk mempertahankan padi mereka. Polisi datang tetapi tujuh orang
terlanjur tercampak berlumur darah.
Kegaduhan pertama disusul oleh yang kedua, sebulan kemudian, dan yang ketiga pada
bulan berikutnya lagi. Dalam kerusuhan yang terakhir keadaannya demikian genting
karena terjadi siang hari dan melibatkan ratusan orang dari pihak perojeng dan para
pemilik sawah. Perang pacul dan sabit hanya gagal karena polisi tidak terlambat
datang. Namun kengerian yang terjadi membuat Srintil mengambil kata putus.
Sakarya mendukungnya. Cucu dan kakek itu mendatangi rumah Bakar di Dawuan
dengan keluhan yang telah meningkat menjadi tuntutan.
89
"Pak Bakar," kata Sakarya penuh kekesalan. "Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak
ingin dilibatkan dengan kerusuhan-kerusuhan itu. Bila demikian terus keadaannya
samalah artinya sampean menjerumuskan kami. Orang Dukuh Paruk tidak menyukai
kekerasan. Pak Bakar, buat selanjutnya kami tak mau ikut rapat-rapat itu."
"Ya, Pak," sela Srintil. "Akhirnya orang pasti menghubungkan kami dengan kerusuhan
di sawah-sawah itu."
"Ah, kalian orang-orang Dukuh Paruk," kata Bakar masih dengan sikap kebapakannya.
"Kalian tak perlu terpengaruh oleh perasaan cengeng semacam itu. Yang sedang
terjadi adalah sebuah aksi massa, sebuah gerakan kaum miskin yang sekian lama
mengalami ketidakadilan. Mereka berkeringat mengerjakan sawah para pemilik tanah.
Tetapi mereka tak pernah ikut memetik hasilnya kecuali sekedar untuk hidup, bahkan
kurang dan itu. Kini saatnya mereka menuntut hak."
"Dengan cara kekerasan semacam itu?"
"Dengan cara apa pun."
"Jadi sampean menyetujui gerakan para perojeng itu?"
"Aku tak bisa mencegah sebuah aksi massa yang sedang berjuang menuntut hak."
"Maka jadilah! Cukup sekian. Kami takkan mencampuri urusan sampean. Tetapi
jangan sekali-kali sampean urusi bagian kami orang-orang Dukuh Paruk. Kami tidak
ingin terlibat dalam kerusuhan apa pun."
"Nanti dulu, Kang Sakarya," ujar Bakar sambil tersenyum. "Aku yakin betul, apa yang
terjadi di sawah-sawah itu seharusnya tidak asing bagi semua orang Dukuh Paruk.
Nah, apa kalian mengira aku tidak tahu siapa dan bagaimana kelakuan nenek moyang
kalian?"
Sakarya terperanjat. Kata-kata Bakar tak diduganya sama sekali. Kata-kata itu
mengandung penghinaan, menyangkut moyang Dukuh Paruk yang amat dikeramatkan
oleh sekalian keturunannya. Ki Secamenggala yang semasa hidupnya menjadi
bromocorah, pemimpin rampok yang tidak hanya sekali-dua membunuh korbannya.
Tetapi bagaimana jua Ki Secamenggala adalah laki-laki dari siapa darah semua orang
Dukuh Paruk berasal.
"Oh, Pak Bakar. Sampean telah menyinggung perasaan kami. Tetapi sesungguhnya
sampean tidak mengerti sepenuhnya siapa Ki Secamenggala, moyang kami. Sampean
lupa bahwa moyang kami tidak mati dalam peristiwa perampokan atau kerusuhan
lainnya. Dia mati dengan tenang di tempat sepi di Dukuh Paruk dalam masa tua yang
penuh penyesalan. Aku sendirilah kini pemangku wasiat-wasiat yang diucapkannya
menjelang akhir hayat. Kami dilarang keras berbuat sesuatu yang merugikan orang
lain, apalagi dengan kekerasan."
"Begitu?"
"Jadi sejak saat ini ronggeng Dukuh Paruk kularang mengikuti rapat-rapat."
"Ya, Pak. Aku tak mau lagi menari bila sesudah itu terjadi keributan," ujar Srintil.
Bakar termenung sejenak. Mengangguk-angguk, kemudian wajahnya kembali tenang.
"Baiklah. Kukira kalian memang perlu istirahat."
"Dan sampean hendaknya mengambil kembali lambang partai dan papan nama itu dari
Dukuh Paruk."
90
"Ah, tidak sejauh itu. Biarkan papan itu terpasang di sana. Aku takkan mengambilnya.
Siapa pun tidak boleh menyingkirkannya. Siapa yang berbuat begitu pasti akan
menghadapi kemarahan pemuda-pemudaku. Nah, kalian tidak ingin melihat
kerusuhan, bukan?"
Srintil bangkit. Gerakannya lembut agar Waras tidak terjaga. Kemudian dipandanginya
perjaka itu. Srintil merasa yakin ada sesuatu yang harus dikutuk; sesuatu yang telah
membuat Waras tinggal antara ada dan tiada dalam dunianya. Bahkan Srintil takkan
mau mengerti meskipun sesuatu ini misalnya bernama kersane sing akarya jagat,
kehendak Sang Mahasutradara. Karena dalam kesadarannya sebagai ronggeng Srintil
merasa menjadi malam yang harus berpasangan dengan siang. Atau sejuknya air yang
harus menjadi penawar panasnya api. Srintil adalah keperempuanan. Maka dia merasa
amat dirugikan ketika menghadapi tiadanya kelelakian.
Segala sesuatu di dunia ini ada berpasang-pasangan, demikian pengetahuan dasar
Srintil. Pengetahuan yang telah mengakar menjadi keyakinan yang sulit tergeser.
Maka selama yakin dirinya perempuan, dia yakin pula bahwa Waras adalah laki-laki
dengan kelelakiannya. Menjadi gowok ialah menjadi seniman pemangku naluri
kelelakian. Dan menemukannya kembali bila kelelakian itu hilang. Srintil tidak lupa
untuk itulah dia didatangkan ke Alaswangkal. Tetapi lebih dari itu, tanpa mendapat
sebutan gowok pun Srintil akan melakukannya dengan kesadaran milik pribadi yang
tak bisa diperbandingkan dengan perempuan mana pun, tidak juga dengan Nyai
Sentika, perempuan yang telah melahirkan Waras.
Maka malam hari ketika riuh burung manyar yang bersarang pada pohon nyiur telah
lama sepi. Dan kegaduhannya digantikan oleh kalong-kalong yang berebut buah
salam. Dan di sana bulan menyembul di atas punggung bukit, permainan tidur-tiduran
diulang. Srintil berperan lebih berani; menggiring dan menuntun hingga sampai ke titik
yang tak mungkin berlanjut. Yakni ketika Srintil meminta Waras memperagakan
pengetahuannya tentang sepasang monyet dengan diri mereka berdua sebagai pelaku.
Waras kelihatan demikian bingung kemudian menampik.
"Itu kan monyet. Kita tak boleh melakukannya. Saru. Kata emak, itu saru dan
sembrono. Ora ilok. Dan aku tidak pernah melihat orang berbuat seperti monyet itu.
Apa kamu pernah melihatnya?"
Dengan pertimbangan yang dalam Srintil menjawab dengan anggukan kepala. Waras
terpesona. Dipandangnya Srintil dengan tatapan mata penuh rasa heran, sungguhsungguh
heran. Melalui anggukan kepala itu sesungguhnya Srintil sedang melakukan
upaya kali terakhir. Penjajagan. Tetapi yang terbaca dari wajah Waras adalah sikap
memustahilkan hubungan ragawi antara dua manusia lelaki dan perempuan, apa pun
namanya. Srintil harus mendan ludah berkali-kaii karena harus meyakini keadaan
Waras: dia benar-benar hilang dari dunia kelelakian dan Srintil pasti tak sanggup lagi
menemukannya kembali. Srintil menyerah dalam kekecewaan yang amat sangat.
Bukan karena tak terpenuhinya kebutuhan pribadi, melainkan karena kenyataan
bahwa pada suatu ketika keperempuanannya sama sekali tidak berarti, hal mana
belum pernah sekali pun terbayangkan.
Malam itu Srintil hanya menyediakan diri sebagai perbandingan oleh Waras. Teteknya
penuh, tidak gepeng seperti tetek Nyai Sentika. Pipinya kencang, lengannya padat,
dan tubuhnya lebih hangat. Mulutnya seperti bayi, harum. Malam itu Waras tidur lebih
awal dan lebih lelap. Tidak sekali pun dia bertanya mengapa mereka hanya tinggal
berdua dalam rumah yang besar itu. Dia lupa akan emaknya dengan siapa selama ini
dia bergantung.
91
Tiga malam berikutnya adalah pengulangan malam yang pertama. Tetapi Srintil
merasa ada sesuatu di luar kamarnya. Dia mencium bau sirih. Dalam kelengangan
yang hampir sempuma itu Srintil juga mendengar suara tarikan napas di luar kamar.
Dan Srintil sadar, sesuatu harus diperbuatnya. Maka kakinya membuat gerakangerakan
teratur sehingga menimbulkan suara tertentu. Kemudian dipijitnya hidung
Waras yang sedang lelap. Waras melenguh dan Srintil mengeluh secara profesional.
Andaikata Srintil tahu bahwa dua orang yang berada di luar kamar saling berpegangan
dengan kepuasan hati yang luar biasa. Andaikan Srintil tahu bahwa kemudian Nyai
Sentika dan suaminya berjingkat pergi dengan keyakinan penuh bahwa Waras adalah
lelaki yang tidak kurang secuil pun. Dan andaikan Srintil mengerti bahwa gerakangerakan
kakinya telah membuat orang-orang tua semacam Sentika dan istrinya
terkenang akan semangat masa muda, lalu mereka mencari tempat yang baik buat
bernostalgia.
Pada hari keempat semuanya selesai. Pagi-pagi sekali Srintil minta diri kepada suamiistri
Sentika. Waras tidak tahu karena dia belum bangun. Terjadilah perpisahan yang
penuh emosi. Nyai Sentika, bahkan juga anak-anaknya yang perempuan menangis.
Srintil ikut menangis. Nyai Sentika memeluk dan mengelus Srintil dengan rasa sayang
melebihi rasa terhadap anak kandungnya.
Bersama kabut tipis yang mulai lenyap oleh cahaya matahari Srintil berjalan menuruni
bukit, meninggalkan Alaswangkal. Di belakangnya berjalan Mertanakim yang disuruh
majikannya mengawal Srintil sampai ke Dukuh Paruk. Sebuah sapu tangan dalam
genggaman Srintil penuh uang. Tetapi hanya Srintil pribadi yang tahu bahwa uang
yang banyak itu tidak bisa mengusir rasa perih dalam hatinya. Perih karena
sesungguhnya Srintil pulang membawa kegagalan yang tidak kepalang. Waras tidak
mungkin dilupakannya sepanjang masa; simpati bagi seorang manusia dalam
kemalangan abadi. Atau, haruskah Srintil tahu bahwa Waras menangis sejadi-jadinya,
melolong, dan berguling-guling ketika dia tahu bahwa Srintil telah meninggalkannya,
kembali ke dunia yang kecil terpencil; Dukuh Paruk?
Tidak seorang pun di Dukuh Paruk mempunyai kalender. Bila pun ada tak seorang pun
di sana bisa membaca bahwa waktu telah berjalan sampai pada tahun 1964. Dukuh
Paruk tetap tegak dan makin gagah dengan ronggeng cantik berusia delapan belas
tahun. Dukuh Paruk meraih masa ketenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bila rombongan ronggeng Dukuh Paruk naik pentas bukan lagi puluhan melainkan
ratusan orang yang berkerumun menontonnya. Boleh jadi musik calung dengan
tembang Banyumasan adalah hal yang sudah terlalu biasa bagi mereka. Tetapi tentang
diri Srintil masalahnya menjadi terlalu istimewa. Dia adalah kesegaran dan gairah
hidup. Memandangnya, bahkan hanya sekedar mengenangnya, menjadikan orang
sejenak terlepas dari perkara keseharian, suatu hal yang diakui atau tidak menjadi
kebutuhan setiap orang. Dan bagi tiap lelaki Srintil adalah angan-angan, kupu yang
melambung dan membuat banyak lelaki ingin menangkapnya.
Srintil bersama kakeknya pulang dengan hati lega. Keduanya merasa telah keluar dari
keterikatan yang semula sulit dihindarkan. Sakarya berharap akan kembali melihat
Dukuh Paruk mapan seperti semula. Pada ujung usianya Sakarya tidak ingin melihat
pusakanya berubah. Memang di sana masih ada lambang partai serta simbol sebuah
lembaga kesenian. Namun hal itu bisa diterima oleh Sakarya sebagai nilai tukar
seperangkat pengeras suara yang diberikan oleh Bakar kepada orang-orang Dukuh
Paruk.
92
Goder yang kini dua tahun dan sudah pintar berjalan bisa lebih lama menikmati
keibuan Srintil. Siapa mengira bahwa antara keduanya hanya dihubungkan oleh naluri
dasar seorang perempuan dan kebersihan hati seorang bayi. Tubuh Goder yang selalu
telanjang gemuk seperti terong. Subur seperti kecambah. Bersama Srintil Goder
memperoleh banyak hal yang tidak pernah diterima oleh bayi-bayi Dukuh Paruk
lainnya. Dia mempunyai semua mainan yang bisa dibeli di pasar Dawuan. Kadang
Srintil bahkan berbuat hal yang berlebihan, misalnya membeli beberapa ekor kambing
atas nama Goder, memotong ayam atas nama Goder. Dan sebidang sawah yang dibeli
Srintil tahun lalu kini tercatat atas nama Goder.
Orang mengatakan Srintil demikian memanjakan Goder karena dia khawatir anak itu
akan diambil kembali oleh emaknya, Tampi. Boleh jadi. Namun Srintil sendiri merasa
kebaikannya terhadap Goder belum senilai dengan kebahagiaan yang dia rasakan
karena bisa memeluk anak itu setiap hari. Goder adalah harapan masa depan bila
nasib kebanyakan ronggeng terjadi pula atas dirinya: hidup sendiri di hari tua karena
peranakan rusak.
Beberapa hari lamanya calung ronggeng Dukuh Paruk tetap tersimpan di tempatnya.
Dukuh Paruk terasing dari kebisingan rapat-rapat dan pawai-pawai politik yang
panasnya menjerang desa-desa di sekitarnya. Dengan mengambil sikap tidak mau
tahu dan membisu orang-orang di sana yakin telah memelihara pedukuhan dalam
wataknya yang asli. Namun ketenangan Dukuh Paruk tidak berlangsung lama. Suatu
hari Sakarya menangis keras karena mendapati cungkup makam Ki Secamenggala
poranda dirobohkan orang. Dukuh Paruk terluka parah tepat pada sisinya yang paling
peka.
Dalam sekejap semua warga naik ke pekuburan di puncak bukit itu. Anak-anak
dituntun emaknya. Sakum yang buta terlunta-lunta mengikuti langkah anaknya.
Semuanya dengan kesedihan dan kemarahan yang tidak kepalang. Dua orang
perempuan tua menangis, sungguh-sungguh menangis.
"Ini pasti ulah Bakar. Asu buntung dia. Bajingan!" umpat Sakarya dengan suara parau.
"Monyet munyuk itu jengkel karena kita tidak mau lagi bekerja sama dengan mereka.
Asu buntung!"
"Kita tidak bisa menerima semua ini!" teriak Kartareja. "Oh, Eyang. Semoga yang
merusak makammu ini mampus termakan pathek dan bubul. Atau raja singa sekalian!"
"He, Darkim! Cabut dan bakar lambang partai di mulut jalan itu. Cabut juga papan
nama di depan rumah Kartareja."
Seorang muda yang disebut Darkim lari menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk, siap
menjalankan perintah Sakarya. Tetapi seorang laki-laki lain menghentikannya. Yang
terakhir ini muncul dari balik semak membawa sebuah caping bambu bercat hijau,
bertuliskan sesuatu yang tak seorang pun bisa membunyikannya.
"Caping ini kutemukan di balik semak. Kita tak pernah mempunyai barang seperti
demikian. Ini pasti milik bajingan-bajingan yang telah merusak cungkup makam.
Suasana menjadi hening tetapi tetap tegang. Semua mata memandang caping hijau
itu. Dan meski mereka tak bisa membaca tetapi mereka telah mengerti sesuatu.
Caping hijau. Orang-orang Bakar tak pernah memakai caping seperti itu.
Sakarya menjatuhkan pundak dan mendesah. Sambil menggendong kedua tangan
orang tertua di Dukuh Paruk berjalan berkeliling menatap reruntuhan cungkup makam.
93
"Pulanglah, anak-anak. Ambillah perkakas kalian. Kita perbaiki cungkup Eyang
Secamenggala sekarang juga."
Berita tentang perusakan makam Ki Secamenggala cepat tersebar ke mana-mana,
tanpa seorang Dukuh Paruk pun menceritakan hal yang merampas kehormatan
mereka itu keluar. Dan para perusak yang memakai caping hijau. Pada tahun 1965 itu
siapa pun tahu kelompok petani mana yang suka berpawai atau berkumpul dalam
rapat dengan tutup kepala seperti itu.
Belum pernah sekali pun Dukuh Paruk merasa terhina demikian dalam. Dia muram dan
diam menahan murka. Semua warga memusatkan kebersamaan rasa, siap membayar
kembali dengan tunai penghinaan yang telah mereka terima. Dan balas dendam itu
hanya tertunda karena orang-orang Dukuh Paruk belum menemukan nama para
penghina itu.
Polisi yang mendapat laporan kejadian di Dukuh Paruk hanya menambah kekecewaan
orang di sana. Sampai lima hari lamanya polisi belum bisa memberi keterangan siapa
sebenarnya para pelaku. Bahkan polisi membuat Sakarya lebih jengkel dengan
melarang keras orang Dukuh Paruk mengambil tindakan sendiri dalam masalah
makam Ki Secamenggala itu.
Akhirnya orang Dukuh Paruk menemukan jalan buat melampiaskan murka. Bukan
dengan jalan mengayun parang atau meninju kepala orang-orang bercaping hijau,
melainkan dengan cara menerima ajakan Bakar untuk meramaikan kembali rapatrapat
propaganda. Srintil kembali menari dengan semangat luar biasa. Dia tidak peduli
lagi apakah menari demi keramaian rapat sesuai dengan roh sejati seorang ronggeng.
Dengan tarian yang lebih berani dan menantang Srintil merasa sedang membalas
serangan orang-orang bercaping hijau atas nama Dukuh Paruk, atas nama arwah Ki
Secamenggala yang makamnya baru saja dirusak orang. Sakum menemukan kembali
cirinya: membakar setiap pentas dengan seruan-seruan yang jitu dan cabul. Bahkan
Sakum ikut berteriak lantang ketika dalam pidatonya Bakar mengucapkan kata-kata
serangan terhadap kaum bercaping hijau.
Murka tidak kepalang yang mengusik Dukuh Paruk membuat ronggengnya tidak
kehabisan semangat. Pada akhir bulan September 1965 it Srintil sudah dua minggu
manggung terus-menerus di arena pasar malam di lapangan kota Dawuan atas nama
kelompok Bakar. Dua minggu yang jor-joran, sarat dengan pemberontakan budaya.
Tayub yang secara resmi dilarang pemerintah, pada pasar malam bulan September
1965 itu digalakkan kembali dengan semena-mena. Siapa saja boleh naik panggung
rakyat buat berjoget atau menciumi Srintil sepuas hati. Cuma-cuma.
Tidak sedikit rumah tangga yang kisruh karena suami benar-benar berusaha memiliki
Srintil dan mengambilnya sebagai istri. Banyak anak muda yang memaksa menjual
tanah karena ingin tampil pantas dan berkelayakan menggandeng Srintil. Dan
semuanya tidak peduli apakah Srintil sungguh-sungguh cantik atau hanya kelihatan
cantik berkat susuk yang tersembunyi di balik alis, bibir, atau pinggulnya.
Tetapi di Dukuh Paruk sungguh tidak ada masalah kerumahtanggaan. Tak ada seorang
istri pun yang merasa rugi oleh kecantikan Srintil. Boleh jadi karena semua orang di
sana masih terikat dalam pertalian darah. Atau karena terikat dalam tatanan nilai yang
tersendiri. Sudah biasa di sana seorang istri yang sedang hamil tua atau baru
melahirkan menyuruh suaminya meminta jasa kepada Srintil. Nasihat dukun bayi
kepada para suami juga bernada sama. "Awas, jangan dulu menjamah istrimu
sebelum seratus hari. Mintalah kepada Srintil bila tak bisa menahan diri."
94
Atas kesadaran primordial biasanya Srintil rela memberikan jasa. Namun dalam
perkembangannya tak ada lelaki Dukuh Paruk yang memiliki cukup keberanian untuk
mendekati Srintil. Bukan hanya karena Srintil sudah demikian kaya menurut ukuran
Dukuh Paruk. Atau karena penampilan lahirnya yang sudah jauh berbeda dengan ratarata
orang di pedukuhan itu. Tetapi terutama karena kepribadian Srintil yang
bermartabat. Srintil tidak sama dengan ronggeng-ronggeng sebelumnya yang
menjadikan uang satu-satunya nilai tukar. Semua orang sudah mencatat bahwa Srintil
hanya akan melayani laki-laki yang dia sukai. Atau catatan lain yang istimewa; Srintil
senang menerima lelaki yang beristri cantik. Entahlah. Dan apabila laki-laki itu
termasuk ke dalam jenisnya yang tidak suka berpetualang maka Srintil yang
mengambil prakarsa. Srintil mulai menggodanya.
Pada tahun 1964 itu Dukuh Paruk tetap cabul, sakit, dan bodoh. Perubahan kecil
hanya menyangkut Srintil, Sakarya, dan Kartareja. Rumah mereka berkapur bahkan
berjendela kaca. Kartareja bisa mempunyai lampu pompa. Demikian juga Sakarya.
Selebihnya adalah Dukuh Paruk yang sudah dikenal orang dari generasi ke generasi.
Bahkan pada tahun-tahun itu Dukuh Paruk semakin kusam. Pedukuhan yang kecil itu
mustahil menghindar dari keruntuhan sistem ekonomi yang sudah lama menggejala
secara umum di seluruh negeri.
Atau bila Dukuh Paruk tidak mampu mengerti tentang keadaan ekonomi nasional maka
setidaknya dia merasa bahwa alamlah yang menguji mereka. Pelepah pisang dan nyiur
runduk, dedaunan luruh dan rumpun-rumpun bambu meranggas. Sawah amat luas
yang mengelilingi Dukuh Paruk kering dan gersang. Semuanya terjadi karena kemarau
yang menjerang lama melebihi biasanya. Sekali turun hujan maka sawah menghijau
oleh tanaman padi. Orang Dukuh Paruk ikut berharap dapat panen, buruh menuai
padi. Tetapi berbagai hama datang lebih dulu. Tikus atau walang sangit. Bahkan celeng
yang entah datang dari mana ikut merusak harapan orang-orang Dukuh Paruk.
Hanya karena pedukuhan itu bernama Dukuh Paruk maka penghuninya mampu
memperlambat datangnya busung lapar. Orang-orang di sana pintar mengolah ilesiles,
ubi gadung, atau keladi-keladi gatal seperti senthe urang dan lompong bandung.
Bahan-bahan itu diolah dengan cara-cara khusus sehingga mereka tidak mabuk oleh
racun iles-iles atau ubi gadung. Lidah mereka tidak menjadi kelu oleh gatalnya keladikeladi
liar. Anehnya orang-orang Dukuh Paruk enggan ikut mengganyang daging tikus.
Padahal pada masa itu soal makan daging tikus ramai dipropagandakan orang. Tidak
jarang para penganjur berdemonstrasi memakan sate daging tikus di tengah rapatrapat
umum.
Ketika kesulitan pangan menimpa kebanyakan orang maka pentas ronggeng jarang
terdengar. Bagaimana juga orang mengutamakan nasi daripada ronggeng dan calung.
Kadang Srintil tetap tinggal di rumah hingga berbulan lamanya, menunggu masa
panen yang baik tiba. Menunggu saat orang yang hendak mengawinkan atau
menyunatkan anak memiliki cukup uang buat biaya berhajat. Pada saat seperti itu
Srintil harus melewati masa yang membosankan.
Tetapi pada tahun 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng
Dukuh Paruk malah sering naik pentas. Bukan di tempat-tempat orang berhajat
melainkan di tengah rapat umum baik siang atau malam hari. Karena sering berada di
tengah rapat itu maka rombongan ronggeng Dukuh Paruk mengenal Pak Bakar; orang
yang selalu berpidato berapi-api. Pak Bakar dari Dawuan yang amat pandai berbicara,
sudah beruban tetapi semangatnya luar biasa.
95
Di mata Srintil, Bakar adalah secrang ayah yang sangat layak. Ramah, dan
kelihatannya paham akan banyak hal termasuk perasaan pribadi Srintil. Kebapakannya
tidak hanya dibuktikan dengan bayaran tinggi yang selalu diberikannya kepada Srintil
tetapi juga dengan sikapnya yang dingin terhadap tujuan-tujuan erotik. Bakar juga
memberikan hadiah kepada Srintil beserta rombongannya berupa seperangkat alat
pengeras suara; perkakas elektronik pertama yang masuk dan sangat dibanggakan
oleh orang Dukuh Paruk.
Dukuh Paruk yang bersahaja serta-merta menerima Bakar sebagai orang bijak yang
bisa memimpin dan melindunginya. Bila datang ke sana ahli pidato itu mendapat
penghormatan sebagai seorang kamitua laiknya. Kata-katanya dituruti, pengaturannya
dijalankan. Satu-satunya jalan yang menjadi pintu masuk ke Dukuh Paruk kini berhias
lambang partai. Orang-orang merasa bangga karena itulah pengaturan Bakar. Di
depan rumah Kartareja juga dipasang sebuah papan. Tak ada orang Dukuh Paruk yang
bisa membaca tulisan dalam papan itu. Namun setidaknya mereka tahu tulisan di sana
bersangkutan dengan kesenian renggeng. Kartareja sebagai ketua rombongan
ronggeng Dukuh Paruk harus memasang papan itu di depan rumahnya. Itu pun
pengaturan Bakar. Semua patuh, kecuali Sakarya.
Dan suatu ketika Sakarya mempertanyakan hal itu kepada Kartareja.
"Sampean masih ingat ketika kita pentas pada malam Agustusan setahun yang lalu?"
"Ya, tentu. Mengapa"
"Waktu itu kita disebut sebagai kelompok seniman rakyat. Padahal kita tidak pernah
mengumumkan nama apa pun. Kemudian ada satu kejadian, aku dilarang membakar
kemenyan dan memasang sesaji. Yang menyebut kita seniman rakyat dan melarangku
memasang sesaji dialah orangnya. Pak Bakar. Saya tahu pasti. Kini orang itu malah
sering datang kemari. Bagaimana, ya?"
"Menurut sampean bagaimana, Kang?"
Sampailah hari pertama bulan Oktober. Hari pertama yang disusul hari-hari
berikutnya, suatu masa yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun di Dukuh Paruk.
Tiba-tiba mereka merasakan kehidupan menjadi gagu dan limbung. Pasar malam
bubar tanpa pengumuman apa pun. Dawuan, terutama pasarnya yang biasa ramai
kian hari kian sepi. Orang-orang kelihatan lebih banyak diam dan menunggu.
Kebingungan yang melanda Dukuh Paruk sedikit demi sedikit mencair. Dimulai dengan
selentingan berita bahwa di Jakarta, sebuah negeri antah berantah bagi orang Dukuh
Paruk, telah terjadi pembunuhan-pembunuhan. Pelaku pembunuhan adalah orangorang
semacam Bakar. Korbannya adalah pejabat-pejabat negara. Tetapi pada
mulanya Dukuh Paruk menampik berita ini.
"Itu kan baru kata orang," kata Sakarya. "Siapa pun yang membawa kabar itu pasti
tidak menyaksikannya sendiri."
Kemudian suatu malam muncul Bakar bersama tiga temannya di Dukuh Paruk.
Sakarya dan Kartareja yang ingin bertanya tentang banyak hal hanya mendapat
jawaban singkat. Dan Bakar kelihatan sudah kehilangan ketenangannya.
"Pokoknya tidak ada apa-apa. Kalian mesti tetap tenang."
"Sampean sendiri kelihatan gugup," kata Sakarya.
"Terus-teranglah. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
96
"Di Jakarta para tentara sedang saling bunuh."
"Perang?"
"Ya."
"Akan sampai ke sini?"
"Bisa jadi."
"Kami harus bagaimana?"
"Tenang, kataku. Kalian tidak tahu apa-apa. Dan satu hal; kami akan berada di sini
dua-tiga hari. Tetapi kalian harus tutup mulut. Jangan banyak bicara bila tidak ingin
ada pelor nyasar."
Bakar lenyap setelah tiga hari berada di rumah Sakarya. Selama itu dia bersama
teman-temannya hanya keluar bila berhajat. Itu pun dilakukannya malam hari. Berita
tentang Bakar sampai ke Dukuh Paruk seminggu kemudian. Rumahnya habis
dimangsa api. Juga beberapa rumah lain milik orang-orangnya. Polisi atau tentara
menahan mereka.
"Aku makin tidak mengerti, Kang," kata Kartareja kepada Sakarya suatu malam.
"Kabar di luar makin mengerikan. Terus terang aku khawatir Dukuh Paruk akan tetap
dihubungkan dengan Bakar. Bila demikian halnya, bagaimana, Kang?"
Pertanyaan itu mengambang sekian lama tanpa jawaban. Beberapa orang yang
menanti Sakarya membuka mulut akhirnya mengerti bahwa kamitua Dukuh Paruk itu
pun dalam keadaan bimbang. Hanya karena sadar sebagai seorang sesepuh maka
Sakarya bertutur. Suaranya bergetar dalam tengorokan.
"Inilah yang dulu saya katakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas
kewajaran. Karena keselamatan berada di tengah antara dua hal yang saling
berlawanan. Jadi keselamatan adalah jalan tengah, atau kewajaran atau
keberimbangan. Yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah kehidupan sang serba tidak
wajar, melampaui batas. Dan kehidupan takkan kembali berimbang sebelum dia
mengalami akibat ketidakwajaran itu. E, anakku, cucuku, kita sendiri telah ikut-ikutan
lupa."
Semua pendengar menundukkan kepala. Sakarya telah berbicara dalam bahasa dan
wawasan Dukuh Paruk sehingga tak ada makna yang luput dari pernahaman anakcucunya.
Keheningan terus mengembang. Suara burung celepuk bersahutan
mendaulat udara Dukuh Paruk. Orang di sana sudah terbiasa niendengar suara unggas
itu. Tetapi kali ini mereka merasakan adanya pesan halus dari alam pekuburan Dukuh
Paruk; pesan yang tidak mudah dipahami dan yang hanya membuat orang-orang
merasa kecil tak berdaya.
"Jadi kita harus bagaimana, Kek?" kata Srintil memecah keheningan.
"Kita hanya tinggal pasrah, eling, dan waspada. Aku minta kalian yang muda-muda
berjaga-jaga, meronda pedukuhan kita setiap malam. Yang tua-tua bersiap, Jumat
Kliwon mendatang kita akan membersihkan makam Eyang Secamenggala. Kita akan
slametan. Mara bahaya yang mungkin menimpa kehidupan harus kita tumbal."
Awal kemarau tahun 1966. Malam yang sangat dingin menyertakan kecemasan yang
meluas. Annjng-anjing liar yang beringas karena terangsang bau darah. Atau mayatmayat
yang tidak diurus secara layak. Angin tenggara membawa bau bunga bangkai.
Dini hari di langit timur muncul tanda keperkasaan alam. Lintang kemukus menggaris
97
langit dengan ujungnya yang runcing kemilau. Suara malam ialah bunyi langkah
sepatu yang berat. Dan letupan bedil sekali-sekali.
Orang Dukuh Paruk belum sempat menyelenggarakan selamatan. Suatu malam
puluhan orang datang mengendap-endap mengepung rapat pemukiman terpencil itu.
Kedatangan mereka diketahui oleh anak-anak muda yang meronda. Dukuh Paruk
bangun buat mempertahankan diri. Semua laki-laki mengambil kentongan,
memukulnya serentak hingga terjadi suasana genting tak terperikan. Semua
perempuan ikut memukuli benda apa saja. Semua anak menjerit ketakutan. Para
pengepung lari mengundurkan diri.
Keesokan hari semua orang Dukuh Paruk berkumpul di rumah Sakarya. Wajah mereka
adalah wajah-wajah lugu yang menyimpan ketakutan luar biasa. Sakarya menangis. Di
hadapannya berhimpun seluruh darah daging Ki Secamenggala yang datang mencari
perlindungan. Mereka hanya bisa disamakan anak-anak ayam yang lari berlindung ke
bawah sayap induknya dari sambaran burung elang. Perempuan-perempuan
mengusap air mata. Anak-anak bergayut di lengan emak dengan pertanyaan besar
muncul dari mata mereka yang masih bening. Semua laki-laki membisu.
"Aku akan pergi ke kantor polisi!" kata Srintil tiba-tiba. "Aku akan bertanya kepada
mereka apa kesalahan kita."
"Ya. Aku setuju." ujar Kartareja. "Kami hanya meronggeng. Kita sama sekali tidak
merojeng padi siapa pun. Srintil, aku akan menyertaimu ke kantor polisi."
"Jangan, cucuku. Kamu harus tetap di sini bersamaku. Kamu jangan ke mana-mana,"
tangis Nyai Sakarya.
"Kita yakin tidak bersalah. Kita harus mencari pengayoman. Polisi harus memberi
pengayoman kepada kita; kaula yang tidak bersalah."
Kata-kata Kartareja menimbulkan sedikit harapan dan percaya diri. Hanya Nyai
Sakarya yang mempertahankan Srintil agar jangan pergi ke kantor polisi. Tetapi nenek
itu mengalah karena Srintil bersikeras.
"Aku mengenal mereka, Nek. Juga komandannya," kata Srintil.
Ketika Srintil dan Kartareja berangkat semua mata mengikutinya. Harapan terakhir
sudah dilayangkan. Dukuh Paruk menanti dengan berbagai pertanyaan tetap mengusik
hati.
Seorang kusir andong melihat Srintil bersama Kartareja berjalan di ujung pematang
hampir mencapai jalan besar. Tetapi kusir itu tidak menghentikan kendaraannya, tidak
pula menawarkan jasa seperti biasa. Orang-orang yang pulang dari pasar Dawuan
tidak menyapa ketika berpapasan dengan ronggeng Dukuh Paruk itu. Mereka berjalan
menunduk menghindari pandangan mata Srintil. Pasar Dawuan telah kehilangan
kehangatan bagi ronggeng yang dulu sangat dipuja. Para pedagang di sana
memandang dingin kepada Srintil yang lewat di hadapan mereka, langsung menuju
kantor polisi.
Sampai di depan kantor yaing dituju Kartareja berhenti termangu. Jelas sekali
keraguannya. Tetapi Srintil terus melangkah. "Ayolah, Kek. Orang tak bersalah tidak
perlu merasa takut."
Di kantor itu ternyata bukan hanya polisi, melainkan tentara juga ada di sana. Mereka
segera mengenal siapa yang sedang melangkah memasuki halaman. Mereka saling
pandang karena pada saat genting seperti itu dua orang yang dikenal sering tampil
98
bersama Bakar muncul di kantor polisi. Namun Komandan Polisi dan seorang tentara
menyilakan Srintil dan Kartareja masuk. Yang lain berdiri dengan sikap kaku.
"Kami datang kemari hendak bertanya, Pak," kata Srintil dengan keberanian yang
masih tersisa. "Tadi malam beberapa orang datang mengepung rumah-rumah kami.
Tentulah mereka bermaksud buruk. Maka kami ingin minta perlindungan karena kami
merasa tidak berbuat salah apa pun. Apabila kami dikatakan salah maka tolong, Pak.
Katakan apakah kesalahan kami."
Pak Komandan gelisah. Tangannya bergerak tak menentu. Matanya tak berani
menatap Srintil. Padahal benar dia telah mengenal ronggeng Dukuh Paruk itu. Bahkan
kemudian dia bangkit masuk ke kamar lain diikuti oleh seorang tentara. Kedua laki-laki
berpistol itu berbicara dengan suara kecil.
"Mereka malah datang sendiri. Bagaimana ini?"
"Betul nama-nama mereka tercantum dalam daftar?"
"Ini, lihat," kata Komandan Polisi sambil membuka catatan yang mulai kumal.
"Saya kira ini kebetulan. Setidaknya menghemat pekerjaan."
"Jadi begitu?"
"Begitu saja."
Komandan keluar lagi. Wajahnya keras. Resmi. Pandangannya lurus ke depan, ke
halaman kantor.
"Tentang orang yang mengepung Dukuh Paruk akan kami selidiki. Tetapi di luar
masalah itu ada hal penting yang akan kami sampaikan buat kalian berdua. Bahwa
Saudara Kartareja dan Saudara Srintil termasuk orang-orang yang harus kami tahan.
Ini perintah atasan. Dan kami hanya melaksanakan tugas."
Srintil mendengar seluruh ucapan Komandan. Kata-kata itu menjadi masukan yang
ternyata amat sulit dijabarkan menjadi pengertian dan kesadaran. Ketika pengertian
itu baru muncul samar jiwanya menampik dengan keras. Seluruh proses yang terjadi
pada diri Srintil memerlukan tenaga ekstra. Jantung berdenyut lebih cepat dan darah
terpusat pada otak dan pusat-pusat syaraf. Wajah Srintil pucat tidak kebagian darah.
Tangan dan kakinya berkeringat dingin. Dan Srintil tergagap dalam upaya menggapai
dirinya kembali.
"Tahan? Kami ditahan?"
Srintil mencoba tersenymn sebagai usaha terakhir menolak kenyataan. Tetapi senyum
itu berhenti pada gerak bibir seperti orang hendak menangis. Lama sekali wajahnya
berubah menjadi topeng dengan garis-garis muka penuh ironi. Topeng itu tidak hilang
ketika dua orang berseragam membawanya ke ruang tahanan di belakang kantor.
Srintil berjalan tanpa citra kemanusiaan. Tanpa citra akal budi, tanpa roh. Srintil
menjadi sosok yang bergerak seperti orang-orangan dihembus angin.
Hingga siang hari warga Dukuh Paruk menanti Srintil dan Kartareja pulang. Mereka
bergerombol-gerombol di dalam dan di luar rumah Sakarya. Tak seorang pun pergi
bekerja. Sementara di langit burung dadali terbang berputar-putar mencari mangsa.
Induk ayam berkotek-kotek menghimpun semua anak di bawah lindungan sayapnya.
Dukuh Paruk hampir senyap. Anak-anak pun kehilangan gairah bermain karena
melihat orang tua mereka berwajah murung. Hanya terdengar suara kambing-kambing
99
mengembik. Sejak pagi ternak-ternak itu tidak dibukakan kandang. Dan anak-anak
yang menangis karena emak mereka tidak menyalakan api di tungku.
Matahari sudah masuk ke belahan langit barat. Dua orang yang ditunggu belum juga
datang. Wajah-wajah itu makin gelap. Makin sering terdengar suara mendesah. Dalam
keheningan yang amat mencekam itu tiba-tiba terdengar seorang anak berteriak. Ada
orang datang. Beberapa orang lelaki menghambur ke luar halaman. Di hati mereka
terbit harapan. Tetapi harapan itu hanya sedetik tinggal, kemudian lenyap, dan
berubah menjadi ketakutan. Yang datang bukan Srintil bukan pula Kartareja,
melainkan lima orang berseragam. Sepatu berat dan bedil di tangan mereka lebih dari
cukup buat melenyapkan darah dari wajah semua orang Dukuh Paruk, menghapus
semua sisa keberanian dan rasa percaya diri.
Dukuh Paruk mewakilkan dirinya kepada Sakarya. Kakek renta ini sejenak
memejamkan mata, menghadap ke dalam diri sendiri buat membaca pesan yang
dibawa oleh kilasan Sang Waktu. Ya, dia harus sumarah kepada kersaning zaman.
Zaman yang telah nyata menampakkan diri sebagai lima laras bedil dan lima wajah
membaja di hadapannya. Hidup adalah berperan menjadi wayang atas sebuah cerita
yang sudah dipastikan dalam pakem. Keyakinan demikian tidak sedetik pun pernah
lepas dari Sakarya. Membela diri dari nasib buruk ketika zaman sudah mengulurkan
tangannya adalah sia-sia. Bukan hanya karena Sakarya telah kehilangan keberanian.
Tetapi karena dia percaya bahwa keperkasaan zaman mustahil tertandingi oleh
kekuatan seorang manusia.
Kedalaman jiwa Sakarya memungkinkannya mampu bersikap diam dalam arti yang
sebenarnya. Wajahnya kembali hidup dan polos, siap menerima apa pun dan
perlakuan apa pun. Diam yang pada saat-saat tertentu harus diambil sebagai sikap
paling santun manakala ketidakberdayaan manusia harus diperlihatkan. Siang itu
Dukuh Paruk yang bodoh dan melarat tidak berbuat apa-apa ketika Sakarya, Nyai
Kartareja, Sakum, dan dua orang lainnya dibawa oleh para petugas keamanan. Mereka
digabungkan dengan Srintil dan Kartareja dalam tahanan. Hanya air mata dan tangis
perempuan. Dan ketakutan menghantu yang membuat Dukuh Paruk makin kuyu dan
lusuh. Dukuh Paruk tanpa Srintil, Sakarya, dan Kartareja adalah Dukuh Paruk tanpa
ronggeng. Dia tidak punya martabat apa-apa.
Dan nasib sebenarnya yang harus dipikul oleh Dukuh Paruk baru terjadi dua hari
kemudian. Dini hari ketika langit timur berhias kejayaan lintang kemukus, Dukuh
Paruk menyala, menyala. Api menggunung membakar Dukuh Paruk. Atap seng rumah
Kartareja membubung ke langit bersama asap tebal yang menjulang seperti pohon
raksasa. Rumah Sakum yang compang-camping hanya bertahan beberapa menit
sebelum jadi abu dalam kobaran yang gemuruh. Jerit tangis dan lolongan manusia
disambut dengan ledakan-ledakan bambu terbakar. Kepanikan luar biasa di tengah
ketidakberdayaan mempertahankan diri.
Seorang perempuan berlari sengit sambil mengepit bayinya dalam ketiak dan
berteriak-teriak mencari anak-anaknya yang lain. Ada laki-laki tua berdiri memeluk
batang pinang hanya beberapa langkah dari onggokan api yang mulai membesar.
Demikian kuat pelukan itu sehingga diperlukan rudapaksa buat melepaskannya. Ketika
terlepas ternyata laki-laki itu sudah kejer. Pemandangan yang sangat kocar-kacir
sedikit mereda manakala semua perempuan telah berhasil menemukan anak mereka
masing-masing. Kaum lelaki teringat kentongan. Mereka memukulnya serentak
dengan semangat menggila. Gemuruh yang membahana membuat orang-orang di
sekitar Dukuh Paruk keluar rumah. Mereka menyaksikan api unggun menjulang di
100
tengah-tengah sawah. Mereka juga mendengar lengkingan-lengkingan suatu puak
yang sedang melihat dunia mereka punah tepat di depan mata.
Para petugas yang kemudian datang hanya menemukan beberapa gubuk yang tidak
ikut terbakar. Dan bangkai lima ekor kambing yang mati terpanggang karena
pemiliknya tak sempat membuka pintu kandang. Orang-orang resmi itu tidak bisa
tinggal lama di tengah bangkai Dukuh Paruk. Mereka harus menghadapi sekian puluh
pasang mata yang menggugat pertanggungjawaban atas nama kemanusiaan. Tetapi
mereka tidak bisa memberikan apa-apa.
Banyak cerita yang dilontarkan orang tentang kepunahan Dukuh Paruk. Ada yang
mengatakan Dukuh Paruk telah menerima bagiannya yang sah. Sang Mahasutradara
memiliki selera dalam menggelar permainannya berupa alam semesta ini, tetapi
Dukuh Paruk, sadar atau tidak telah mengabaikannya. Pendapat lain mengatakan,
itulah hukum dialektika pergolakan politik yang acap kali berupa ironi sejarah dan ironi
kemanusiaan. Musnahnya Dukuh Paruk hanya salah satu bukti yang kecil. Ada lagi
yang berpendapat peristiwa yang dialami oleh Dukuh Paruk tidak berlatar perkara
yang canggih melainkan sederhana saja. Di sana hanya ada perkara balas dendam
para petani yang marah karena padi mereka dirojeng beberapa musim berturut-turut.
Mereka tahu yang merojeng adalah orang-orang Bakar yang semuanya telah ditahan.
Maka Dukuh Paruk terkena getah, setidaknya karena ronggengnya sering muncul
bersama Bakar dalam rapat-rapat propaganda. Pendapat ini sekaligus menyepelekan
kemungkinan terlibatnya sentimen keagamaan. Juga sentimen politik karena Dukuh
Paruk sepanjang sejarahnya tidak bisa memahami politik serta ideologi politik apa pun.
Masih ada satu pendapat yang amat bersahaja. Bahwa yang telah terjadi di Dukuh
Paruk tak lebih daripada banyolan sejarah yang hanya disebabkan oleh sebuah caping
bambil bercat hijau. Apabila Dukuh Paruk tidak kelewat bebal seharusnya mereka tahu
bahwa Bakar-lah orangnya yang merobohkan makam Ki Secamenggala. Dengan hanya
meninggalkan sebuah caping hijau Dukuh Paruk terkecoh. Kemarahannya tertuju
kepada kelompok lain dan ronggengnya kembali bergabung dengan Bakar demi
membayar kesumat terhadap kaum caping hijau. Segalanya bisa terjadi jauh berbeda
bila ronggeng Dukuh Paruk ketika itu tetap meninggalkan kelompok Bakar.
Ketika rerumputan mulai tumbuh di tanah reruntuhan Dukuh Paruk, banyak orang
bertanya tentang seseorang yang telah sekian lama berperan dalam satu sisi
kehidupan. Srintil; di mana dia dan bagaimana. Bahwa pergolakan hidup Srintil yang
sebenarnya baru dimulai sejak hari pertama dia masuk tahanan, ada dalam sebuah
catatan. Catatan itu diawali dengan kisah seorang ronggeng cantik berusia dua puluh
tahun. Dia dipenjarakan secara fisik dan dikurung secara psikis dalam tembok sejarah
yang muncul sebagai keserakahan nafsiyah serta petualangan.
Diperlukan kondisi-kondisi tertentu agar orang bisa membuka catatan lengkap itu.
Kondisi-kondisi itu bisa jadi berupa waktu yang mampu mencairkan segala emosi. Atau
kedewasaan sikap dan kejujuran agar orang memiliki keberanian mengakui kebenaran
sejarah. Maka pada suatu ketika orang dapat membuka catatan tentang Srintil. Atau
catatan itu bakal lenyap selama-lamanya menjadi bagian rahasia kehidupan Dukuh
Paruk.
Cari Blog Ini
Senin, 14 November 2011
Trilogi B_Lintang Kemukus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar