Sesudah bertahun-tahun bekerja, seorang perintis ilmu menemukan seni membuat api. Ia membawa alat-alatnya menuju ke daerah utara yang penuh salju dan mengajar kepada suku di sana seni membuat api itu-dan keuntungan-keuntungannya. Orang menjadi begitu senang akan hal baru ini, hingga mereka tidak berpikir untuk berterimakasih kepada si penemu, yang pada suatu hari dengan diam-diam pergi.
Karena ia itu salah satu orang istimewa yang memiliki kebesaran, maka ia tidak punya keinginan diperingati atau dihormati. Yang dicari melulu kepuasan karena tahu bahwa ada orang yang diuntungkan oleh penemuannya.
Suku kedua yang dikunjunginya, sama besar keinginannya untuk belajar seperti suku yang pertama. Tetapi imam-imam setempat karena iri hati terhadap orang baru yang menguasai umat, telah membunuh dia. Untuk menyingkirkan semua dugaan tentang kejahatan itu, mereka membuat gambar Sang Penemu Agung, yang di pasang pada altar besar di dalam kuil, dan ditetapkan suatu upacara, hingga namanya akan dihormati dan kenangannya tetap hidup. Perhatian besar dicurahkan, agar tidak satu peraturan upacara pun akan diubah atau dilewatkan. Alat untuk membuat api disimpan dalam peti dan dikatakan memberi kesembuhan kepada semua yang menyentuhnya dengan penuh kepercayaan.
Imam Agung sendiri mengambil tugas untuk menyusun sebuah buku tentang riwayat Hidup Sang Penemu. Dalam buku suci ini kelembutannya yang penuh cinta disajikan sebagai teladan untuk ditiru oleh semua, perbuatan-perbuatan agungnya dipuji, kodratnya yang melebihi manusia dijadikan syahadat iman. Para imam menjaga, agar Buku suci diwariskan kepada generasi mendatang, sedang dengan kuasa ditafsirkan arti kata-kata dan makna hidup dan perbuatannya yang suci. Dan tanpa ampun mereka menghukum mati atau mengucilkan orang yang menyimpang dari ajaran mereka. Terpancang pada tugas-tugas agama tadi, rakyat pun lupa sama sekali akan seni membuat api. PUTRA SEORANG RABBI MENJADI KRISTEN
Rabbi Abraham hidup sebagai teladan. Dan ketika tiba waktunya, ia meninggalkan dunia ini, diiringi puji berkat jemaahnya, yang telah menganggap dia sebagai orang suci dan sumber penyebab utama semua berkat, yang mereka terima dari Tuhan.
Tidak lain di seberang sana, sebab para malaikat keluarga menyongsong dia dengan sambutan puji-pujian. Selama pesta itu rabbi nampak menunduk dan sedih. Ia memegang kepala di tangannya dan tidak mau dihibur. Ia akhirnya dibawa di hadapan Tahta Pengadilan, di mana ia merasa diliputi Cintakasih agung yang tanpa batas dan ia mendengar Suara lembut-mesra tiada taranya berkata, "Apakah yang membuat engkau sedih, putraku?"
"Tuhan Yang Tersuci," jawab rabbi, "Aku tidak layak akan semua kehormatan, yang dilimpahkan padaku ini. Meski aku dianggap teladan bagi umat, tentu ada sesuatu yang keliru di dalam hidupku, sebab anakku tunggal, tak perduli teladan dan ajaranku, meninggakan kepercayaan kami dan menjadi seorang Kristen."
"Jangan ini merisaukan engkau, anakku. Aku tahu betul bagaimana perasaanmu, sebab aku punya anak, yang berbuat hal yang sama."
Anthony De Mello SJ
Cari Blog Ini
Jumat, 11 November 2011
Perintis Ilmu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar