Cari Blog Ini

Jumat, 11 November 2011

Panah Beracun

Artikel yang berkaitan



Seorang rahib menghadap Buddha dan berkata:

'Apakah jiwa orang saleh luput dari maut ?

Seperti biasanya Buddha tidak menjawab.

Tetapi rahib itu mendesak. Setiap hari ia mengulangi pertanyaan yang sama. Setiap hall pula ia tidak dijawab. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan mengancam mau meninggalkan pertapaan, kalau pertanyaan mahapenting ini tidak dijawab. Sebab, untuk apa ia mengorbankan segala sesuatu untuk hidup membiara, kalau jiwa orang saleh tidak akan luput dari maut?

'Engkau bagaikan seorang yang kena anak panah beracun dan hampir mati. Sanak keluarganya mendatangkan seorang dokter. Tetapi orang sakit itu tidak mau anak panah dicabut atau menerima pengobatan apapun terhadap lukanya jika tiga peitanyaan pokok ini belum terjawab:
Pertama, orang yang memanah kulitnya putih atau hitam?
Kedua, ia berbadan tinggi atau pendek? Dan
ketiga, ia seora.ng brahmana atau paria? Sebelum jawaban atas ketiganya diberikan, orang yang sekarat itu menolak diobati.

Rahib tadi tetap tinggal dalam biara.



Orang lebih senang berbicara tentang jalan daripada menjalaninya, membicarakan khasiat obat daripada meminumnya.


Anthony De Mello SJ

Tidak ada komentar: