Kristus, Tuhan,
Engkau mengenal saya. Saya seorang guru.
Saya sendiri tidak tahu kenapa saya jadi guru, tetapi saya cukup senang.
Tentu saja, Tuhan, pahitnya banyak:
Murid yang kurang ajar, orang tua yang cerewet, pengurus yang sok majikan; gaji yang pas-pasan dan kadang atau kerap kurang dari pas.
Namun itu jadi terlupakan, jika dibandingkan dengan manisnya:
Murid yang lucu dan suka tersenyum
Murid yang sopan, rajin dan cerdas
Murid yang tulisannya rapi dan juga bersih
Orang tua yang bijak, penuh pengertian
Pengurus yang bersahabat dan memberi semangat.
Apalagi melihat murid bertumbuh.
Dulu takut dan ragu-ragu, kemudian penuh rasa yakin diri.
Dulu malas, sekarang kerja keras. Dulu bodoh, sekarang pandai.
Dulu cuma mikir diri sendiri, sekarang suka menolong.
Sungguh senang, Tuhan, melihat mereka bertumbuh.
Tuhan, saya sering meneteskan air mata,
Melihat mantan murid menjadi orang berguna.
Terharu rasanya, kalau mantan murid menyapa.
Wajahnya hampir terlupa, tetapi ketika ia menyebut nama dan tahun kelas
Saya jadi ingat lagi murid-murid itu.
Memang ada satu dua mantan murid yang buang muka,
Tetapi itu cuma satu dua. Kebanyakan menyapa dan bertanya
Bercerita dan berbagi rasa. Mengucapkan rasa terima kasih
Menimbulkan nostalgia.
Dulu ia masih anak kemarin sore, Sekarang sudah jadi orang berkedudukan tinggi.
Dulu ia anak kecil, Sekarang besar dan dewasa.
Itu kepuasan seorang guru. Itu kebanggaan seorang guru. Melihat murid bertumbuh.
Itu Tuhan, yang bikin saya tidak merasa Menyesal menjadi guru.
Dulu ia pemalu, Duduk di bangku paling belakang, sekarang menjadi pengurus yayasan.
Dulu ia sama sekali tidak ke gereja, Sekarang ia menjadi prodiakon.
Dia dulu murid saya. Saya bangga.
Tetapi Tuhan, ajarlah supaya saya jangan terlalu bangga.
Sebab saya hanya menabur, mencangkul dan menyuburkan lahan
Menyiram dan merawat,
Namun Tuhanlah yang menumbuhkan.
Tuhan, ajarlah supaya saya pun tidak hanya terpukau pada masa lampau,
Melainkan juga memperhatikan masa kini.
Besok pagi saya akan mengajar,
Tolonglah saya membuat persiapan yang baik, Tolonglah saya bangun pagi sekali,
Supaya saya tiba di sekolah sebelum mereka. Besok saya mengajar lagi, Karuniakanlah saya badan yang kuat dan pikiran yang segar
Hati yang sabar, sikap yang bijak dan jiwa yang ikhlas.
Supaya saya belajar menghargai tiap individu murid,
Belajar mendengarkan mereka. Memanfaatkan masukan
Menerangkan dengan jelas. Mengajar dengan mutu.
Tuhan, Engkau tahu
Beberapa kali saya hampir berhenti, Tergoda untuk berganti profesi.
Kalau Engkau mau saya meneruskan semua ini
Karuniakanlah saya hati yang tabah dan setia,
Supaya saya terus menjadi guru sampai tuntaslah masa bakti ini
Bakti kepada-Mu, ya Tuhan.
Kalau nanti segala karyaku ini purna, hanya satu yang saya minta
Kiranya Engkau berkenan atas pekerjaanku
Kiranya Engkau menerima baik apa yang kukerjakan.
Biarlah ada orang lain yang meneruskannya
Biarlah murid-muridku terus bertumbuh.
Inilah hidupku bagi-Mu, ya Tuhan, Hidup seorang guru.
Hanya ini yang dapat saya berikan kepada-Mu.
Kelak saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan syukur.
Tidak apa-apa kalau tidak ada pengurus Yayasan yang menghargai saya sepantasnya
Sebab bukan penghargaan dari manusia yang paling penting
Melainkan penghargaan dari Tuhan Pencipta manusia
Tidak apa-apa kalau tidak ada mantan murid,
Yang mengantar saya ke peristirahatan terakhir.
Yang penting bukan siapa yang mengantar
Melainkan siapa yang menjemput.
Kristus, Tuhan, Engkau akan menjemput saya, bukan?
Engkau menjemput saya dengan senyuman
Dengan tangan yang dibuka dan pelukan yang terasa hangat.
Lalu Engkau berkata,
“Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku.
Sebab ketika Aku belum bisa menulis dan membaca
Kamu mengajar Aku: baba, bibi, bobo, bubu.
Ketika Aku belum tahu berhitung apalagi yang namanya Fisika
Kamu mengajar Aku: satu, dua, tiga hingga logaritma
Ketika Aku keliru, kamu menegur Aku dengan sabar dan empati
Ketika Aku berprestasi, kamu memuji Aku dengan jujur
Kamu telah mendidik Aku, kamu ikut serta merubah sejarah masa depanKu.
Hai, kamu penabur Kebenaran yang baik dan setia,
Mari masuklah dan terimalah
Kerajaan yang telah disediakan bagimu”.
Amin.
Cari Blog Ini
Rabu, 09 November 2011
DOA seorang GURU
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar