Cari Blog Ini

Rabu, 09 November 2011

CERITA BIJAK

Artikel yang berkaitan



BERITA TERBAIK

Suatu ketika Roberto De Vincenzo, seorang pemain golf Argentina yang
terkenal itu memenangkan sebuah turnamen golf profesional yang berhadiah
uang dalam jumlah besar. Setelah menerima hadiahnya dan penuh senyum di
depan kamera para wartawan ia bergegas berjalan menuju club house dan
bersiap-siap untuk pulang.
Saat berjalan menuju mobilnya, ia dihampiri oleh seorang wanita dan wanita
itu memberikan salam ucapan selamat kepadanya atas kemenangan yang ia raih
seraya mengatakan kepadanya bahwa bayinya tengah mengalami sakit keras dan
kondisinya sekarat, "Saya tak tahu harus bagaimana, karena sama sekali tak
punya biaya untuk berobat ke dokter" kata wanita itu dengan wajah memelas.

Vincenzo sangat tersentuh melihat wanita malang itu dan segera mengeluarkan
check dan pena untuk menuliskan selembar check dengan nilai yang tidak
sedikit untuk diberikan kepada wanita itu. "Segera bawa anakmu berobat ke
rumah sakit, kalau perlu opname dan pastikan dia benar-benar sembuh" kata
Vincenzo dengan penuh simpatik. Wanita itu memegang erat tangan Vincenzo
dan beberapa kali membungkuk penuh rasa terimakasih sebelum pergi
meninggalkan pegolf yang murah hati itu.

Minggu berikutnya dalam suatu acara makan siang di sebuah country club,
rekan Vincenso yang juga seorang pejabat asosiasi golf professional
mendatangi mejanya dan duduk bersamanya, kemudian bertanya "Vincenzo,
minggu lalu anda memberikan check kepada seorang wanita?"
Vincenzo mengangguk sambil meneguk juice apelnya.

"Seorang tukang parkir yang melihat anda memberikan check kepada wanita itu
mengatakan pada saya bahwa wanita itu telah menipumu kawan, anaknya tidak
sedang sakit apalagi sekarat" kata orang itu menjelaskan.
Kali ini Vincenzo tediam sejenak dan bertanya serius "Sungguh? Tidak ada
anak yang sekarat?"
"Benar" tegasnya.
"Syukurlah kalau begitu, saya rasa itu adalah berita terbaik yang saya
dengar dalam minggu ini" jawab Vincenzo


INGAT PERATURAN NO 5

Suatu hari Sang Guru sedang rapat dengan seorang rekan bisnisnya. Di
tengah-tengah rapat, tiba-tiba seorang anak buah Sang Guru masuk ke
ruang rapat sambil tersengal-sengal dan dengan kalut dia melaporkan
sesuatu kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sepenanak nasi kemudian, seorang anak buah lainnya dari Sang Guru
menginterupsi rapat dan dengan resah mengeluhkan suatu masalah yang
tampaknya membuatnya berbeban berat.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sejenak berlalu, lagi-lagi seorang anak buah yang lain dari Sang Guru
menerobos ke ruang rapat dan dengan penuh kekesalan menyampaikan uneg-
unegnya kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Menyaksikan peristiwa itu, rekan bisnis Sang Guru tidak tahan lagi
untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Ia bertanya: "Apa sih peraturan
nomor 5 itu?"

Sang Guru menjawab: "JANGAN SERIUS-SERIUS AMAT LAH."

"Ooo, itu peraturan yang bagus," ujar rekan bisnisnya seraya mengangguk-
angguk, "lalu, apa bunyi peraturan-peraturan lainnya?"

"Nggak ada sih, itu aja!" sahut Sang Guru sambil tersenyum lebar.


Cerita di atas mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai kelapangan
hati. Dalam keseharian hidup, kita senantiasa berkecimpung dengan hal-
hal yang membuat kita cemas dan kesal. Andaikata kita bisa meletakkan
setiap permasalahan kita dalam perspektif yang benar-benar esensial dan
bernilai, kita akan bisa berpikir dengan lebih jernih.

Sebuah studi menunjukkan bahwa "penyebab kecemasan" orang-orang adalah:
- hal-hal yang tak pernah terjadi: 40%
- hal-hal yang silam dan tak bisa diubah: 30%
- perasaan takut sakit: 12%
- hal-hal sepele atau kurang beralasan: 10%
- masalah yang nyata/betulan: 8%

Jadi, survei membuktikan: 92% adalah kecemasan semu nan sia-sia!

Seiring dengan tumbuhnya kedewasaan spiritual kita, kita akan semakin
menyadari kenyataan bahwa sehebat apa pun, kita dan segala atribut kita
bukanlah pusat dari alam semesta. Dengan pemahaman ini, tatkala kita
menghadapi kecemasan atau kekesalan, kita bisa mengingatkan diri bahwa
apa yang terjadi pada kita bukanlah hal yang bersifat "personal".

Alam dan kehidupan berjalan secara tidak memihak. Semakin kita mampu
menyelaraskan diri dengan jalannya kehidupan, akan semakin damai dan
bahagialah kita. Kalau kita senantiasa ingat "peraturan nomor 5", kita
akan lebih mudah untuk terus bangkit dan melenggang dalam segala
terpaan hidup.

Be happy!

-------------------------------------------------------------------
Illuminata ini disumbangkan oleh: HANDAKA VIJJANANDA .



THE LAST WALTZ

Mohon duduk manis, masalahnya mang Ucup mo ngedongeng neh, tapi bukannya
dongeng agama, dan sebaiknya disediakan tisue & ember sebelumnya; buat air
mata

The Last Waltz
Nama saya Lily , kami tinggal di sebuah kota kecil di Menado. Sejak muda Ibu
saya senang sekali menari, oleh sebab itulah ketika hari perkawinannya ayah
memohon agar tarian yang terakhir diberikan hanya untuk dia seorang, maka
dari itulah lagu pertama pada saat mereka menari adalah "The Last Waltz"
dari Engelbert Humperdinck, dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan,
karena beberapa bulan kemudian pada saat ibu melahirkan saya, ibu meninggal
dunia.

Daddy - begitulah panggilan saya terhadap ayah. Karena kasihnya kepada ibu,
Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Saya dibesarkan hanya oleh Daddy dan
nenek saya, dan setiap malam Natal sudah merupakan tradisi bagi Daddy untuk
selalu mengalunkan lagu kesayangannya "The Last Waltz", sambil mengingat
ibu. Ketika saya berusia lima tahun, Daddy mengajar saya menari waltz.

Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada hari
ulang tahun saya yang kedua belas, yang bertepatan dengan malam tahun baru,
Daddy memberikan kepada saya hadiah berupa long dress warna merah, dan kami
berdua menari waltz bersama.

Pada saat tersebut, saya benar-benar merasa seperti juga Sang Putri dalam
kisah Cinderella yang sedang menari dengan Sang Pangeran. Daddy mengasihi
saya sehingga hampir semua permohonan saya selalu dikabulkan olehnya, ia
benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untuk saya seorang.

Seharian Daddy harus bekerja di kantor, jadi satu-satunya yang membimbing
saya di rumah adalah Nenek, hal ini mengakibatkan saya terlibat pergaulan
bebas, dan akhirnya mulai ketagihan narkoba. Hampir setiap hari saya pulang
ke rumah setelah jauh malam.

Walaupun demikian Daddy selalu menunggu kedatangan saya dengan sabar, ia
baru bisa tidur setelah saya berada di rumah kembali. Bahkan pada malam
Natal yang terakhirpun, saya lebih senang merayakannya di diskotik bersama
dengan anak-anak muda lainnya daripada bersama dengan Daddy, di situlah
untuk pertama kalinya saya melihat Daddy mengeluarkan air mata.

Karena kebutuhan saya akan narkoba semakin meningkat, maka akhirnya saya
mencuri uang tabungan yang seyogianya untuk masa tuanya Daddy, dan melarikan
diri ke Jakarta dengan harapan di sana saya bisa mendapatkan pekerjaan dan
bisa hidup mandiri.

Pada hari-hari pertama saya tinggal numpang di rumah Om saya, dan ternyata
mencari pekerjaan di Jakarta itu tidaklah mudah, sehingga akhirnya saya
terpaksa melamar bekerja di Klab Malam "Blue Ocean" sebagai pramuria. Kalau
dahulu saya menari dengan Daddy, di sana saya terpaksa harus menari dengan
pria yang sebaya dengan Daddy, bahkan tidak jarang di mana akhirnya saya
bersedia untuk menemani mereka tidur di hotel.

Setelah satu bulan saya berada di Jakarta, saya menerima surat dari Daddy
yang dialamatkan ke tempat kost saya, rupanya Daddy mengetahui alamat kost
saya dari Om. Dalam seminggu saya menerima tiga surat bahkan terkadang
lebih, tetapi tidak satu surat pun yang pernah saya balas, boro-boro
dibalas, dibukapun tidak. Masalahnya saya merasa malu dan tidak berani
membaca surat dari Daddy, saya merasa berdosa terhadap Daddy, bahkan saya
merasa jijik terhadap diri saya sendiri.

Sudah lebih dari satu tahun saya di Jakarta, tumpukan surat yang dikumpulkan
sudah ada beberapa dus. Semuanya ini saya simpan dengan rapi, hanya
sayangnya ini hanya sekedar pajangan saja bagi saya, karena saya tidak
berani dan mau membukanya. Saya tidak ingin mengetahui bahwa gadis
kesayangannya Daddy, gadis yang sedemikian ia banggakannya, telah menjadi
seorang pramuria, seorang prostitusi, bahkan sudah menjadi pencandu berat
narkoba.

Beberapa hari sebelum Natal, saya menerima surat lagi yang ditulis dengan
tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama, tetapi kali ini
tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kost saya, melainkan dikirim dan
dititipkan secara langsung ke klab malam tempat di mana saya bekerja. Dan
ketika saya menanyakan siapa yang menitipkan surat tersebut, ternyata dari
gambaran yang diberikan adalah Daddy sendiri yang telah khusus datang ke
Jakarta untuk mengantarkan surat tersebut.

Ini kali saya sudah tidak tahan lagi untuk membukanya, dengan air mata yang
turun berlinang saya baca surat tersebut, yang isinya sebagai berikut: "Lily
my dearest beloved princess, Daddy sudah sejak lama tahu di mana kamu
bekerja, permohonan Daddy hanya satu saja: "Maukah kamu pulang kembali ke
rumah untuk menari bersama dengan Daddy ?"

Setelah membaca surat tersebut, saya langsung pulang ke tempat kost untuk
membaca ratusan surat - surat lainnya yang belum saya buka, ternyata semua
surat isinya sama, di mana hanya tertulis satu pertanyaan saja yang ditulis
dengan tangan: "Maukah Lily menari kembali bersama dengan Daddy ?"

Hari itu juga saya langsung mengambil keputusan untuk pulang ke rumah.
Karena menjelang Natal, maka hampir semua pesawat fully book, sehingga
terpaksa saya membeli tiket dengan harga yang berkali lipat lebih tinggi,
hanya dengan satu harapan saja agar saya bisa tiba di rumah sebelum malam
Natal nanti.

Setibanya saya dirumah, saya langsung dipeluk dengan erat oleh Daddy, air
matanya turun berlinang dengan deras membasahi kepala saya. Dengan suara
terisak-isak Daddy bertanya sekali lagi: "Maukah Lily menari kembali bersama
dgn Daddy ?" Saya mengangguk sambil menjawab: "YA, tapi apakah Daddy tahu,
bahwa Lily yang sekarang ini bukanlah princess Daddy yang dahulu lagi ? Saya
adalah seorang prostitusi yang kotor, bahkan yang telah mengidap penyakit
AIDS, apakah Daddy tidak malu menerima saya kembali, apakah Daddy tidak
takut ketularan penyakit saya ?"

Daddy tidak berkata sepatah katapun juga, ia hanya pergi memutar lagu
kesayangannya "My Last Waltz", dan memeluk saya dgn penuh kasih untuk
mengajak saya menari seperti pada hari-hari Natal sebelumnya , hanya ini
kali selainnya diiringi oleh irama lagu, juga oleh tetesan air mata yang
turun berderai.

Tanpa saya ketahui, sejak Daddy ditinggal oleh saya, ia sering begadang
menunggu dan mengharapkan kedatangan saya kembali, di samping itu karena
rasa duka yang sedemikian mendalamnya, sehingga akhirnya ia jatuh sakit
kanker, dua minggu setelah Natal Daddy menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Rupanya ia mengetahui bahwa bahwa hari-hari terakhirnya telah mendekati,
oleh sebab itulah ia telah memaksakan diri, walaupun dalam keadaan sakit
sekalipun juga khusus untuk mengantarkan surat bagi saya ke Jakarta, hanya
untuk mewujudkan keinginannya yang terakhir dimana ia bisa mendapatkan
kesempatan sekali lagi menari dengan putri kesayangannya. Masih
terngiang-ngiang dikuping saya lirik dari lagu kesayangannya "The Last
Waltz"
.....
A little girl alone and so shy
I had the last waltz with you
Two lonely people together
I fell in love with you
The last waltz should last forever
But the love we had was goin' strong

Menjelang Natal ini, banyak sekali orang tua yang mengharapkan dan menunggu
kedatangan dari anak-anaknya. Bagaimanapun keadaan dan situasi Anda pada
saat sekarang ini, orang tua kita bisa menerima kita apa adanya, dengan
segala kelemahan maupun kelebihan kita, terlebih lagi mereka tidak mau
mengingat kesalahan-kesalahan kita di masa lampau, yang mereka inginkan
hanya satu saja ialah dapat melihat dan memeluk putera dan puterinya
kembali. Berapa lama lagi Anda akan menyuruh mereka menunggu ? Datang dan
kembalilah sebelumnya terlambat ! Kalau keadaan tidak memungkinkan,
telponlah mereka sambil mengatakan:

I love you Mom & Dad
Merry Christmast

PS: Apabila Anda merasa senang membaca artikel ini dan ingin men-fwd kepada
sobat-sobat lainnya, dalam hal ini mang Ucup memiliki versi dimana artikel
tersebut diatas ini, telah dibubuhi dengan background gambar yang bagus
maupun alunan musiknya, bagi mereka yang tertarik silahkan hubungi mang Ucup
per japri

Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net


TAHUKAH KITA

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh
selalu melihat ke belakang.
Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita
bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi.
Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar
dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita.
Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya.
Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran
kita dan ide kita.
Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada
emas dan perhiasan.


Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah
mulut.
Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa
membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan.
Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah
sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita.
Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal
dari hati kita yang paling dalam.
Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan
pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai
dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang
jauh lebih indah.


NILAI SEIKAT KEMBANG

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang
diparkir di depan kuburan umum.


Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah
memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu
berkata,
"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil
itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan
sebentar lagi beliau akan meninggal!"


Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda
setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.


Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu
mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan
itu sambil berkata,
"Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang
setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim
uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan
menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda.
Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk
berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong
saya."


"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya,
sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang
yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang,
tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara
anak Anda." jawab pria itu.


"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.


"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana
karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah
melihat keindahan seikat kembang.


Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan
kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin
yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih.
Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka
dapat menikmati keindahan dan keharuman
kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.


Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar
sopirnya segera pergi.


Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari
mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos
penjaga kuburan.


"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny.
Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat
yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar
bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang
masih
hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang
sudah meninggal.


Ketika saya secara langsung mengantarkan
kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo,
kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka
bahagia,
tetapi saya juga turut bahagia.


Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya
bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa
sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan
saya!"


Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena
mengasihani diri sendiri akan membuat kita
terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang
mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu
dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong
diri sendiri.



CITRA YANG KOSONG

SYAHDAN Seorang suci sedang meditasi dibawah pohon
pada pertemuan dua jalan. Kegiatannya itu terganggu
oleh kedatangan seorang anak muda yang berlari dengan
panik kearahnya.

"To...To....Tolonglah, saya", ujar anak muda itu
terengah-engah. "Ada orang salah menuduh. Dikira saya
ini pencuri. Ia dan banyak orang lainnya mengejar
saya. Kalau saya tertangkap, kedua tangan saya akan
dipotong. Tolonglah, Pak......", sambungnya
berlinangan air mata

Anak muda itu lalu memanjat pohon yang digunakan orang
suci itu bermeditasi. Ia bersembunyi diantara
daun-daun yang rindang. "Tolong, jangan kasih tahu
dimana saya bersembunyi....."

Orang suci itu melihat dengan mata batinnya. Pemuda
itu sungguh-sungguh tak bersalah. Ia bukan pencuri.

Tak lama kemudian sekelompok orang menghampirinya. Dan
seseorang yang tampaknya sebagai pemimpin bertanya :
"Pak, apakah melihat anak muda yang lari kesini?"

Berpuluh tahun sebelumnya, orang suci itu pernah
bersumpah untuk selalu berkata jujur. Ia sebenarnya
tak ingin mengkhianati anak muda tak berdosa itu.
Tapi, sumpahnya sangat mempengaruhi dirinya sendiri.

"Kemana perginya?" sergah yang bertanya tadi.

Orang suci itupun menunjuk kearah atas pohon. Tak
lama, kelompok orang itu menyeret anak muda yang
malang. Sambil dibawa pergi, ekor mata anak muda itu
melirik ke orang suci dengan pandangan kosong. Tak
lama kemudian anak muda itu dipotong tangannya.

Ketika orang suci itu meninggal duna. ia berdiri di
Mahkamah Akhirat. Ia dikecam, karena sikapnya terhadap
anak muda yang naas.

"Tetapi", ujar orang suci itu, protes. "Saya telah
bersumpah suci untuk selalu berkata jujur. Saya
terikat untuk berbicara dan bertindak berdasarkan
sumpah itu"

Datang suara menggelegar :"Tetapi hari itu........Kamu
lebih mencintai kebanggaan daripada kebajikan. Bukan
demi kebajikan kamu menyerahkan anak muda tak berdosa
itu. Tapi semata-mata, karena kamu ingin
mempertahankan citra yang kosong tentang diri kamu
sebagai orang suci"



MANUSIA KEPITING

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali
menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu
ukurannya kecil, namun rasanya cukup lezat.
Kepiting-kepiting itu ditangkap pada malam hari, lalu
dimasukkan ke dalam baskom, tanpa diikat. Keesokkan
harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus, lalu
disantap untuk lauk selama beberapa hari.

Yang menarik, tentu saja kepiting-kepiting itu akan
selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat
tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang
kuat. Namun, seorang penangkap kepiting yang handal
selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha
meloloskan diri.

Jurusnya hanya satu, si penangkap tahu betul sifat
para kepiting itu.
Jika ada seekor kepiting yang nyaris meloloskan diri
keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan
menariknya lagi kembali ke dasar.
Bila ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom,
lagi-lagi temannya akan menariknya turun. Begitu
seterusnya, sampai akhirnya tak seekor kepiting pun
yang berhasil kabur dari baskom.

Keesokan harinya, sang penangkap tinggal merebus
mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang
dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini, tanpa sadar kita juga
terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.

Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara
kita meraih keberhasilan, kita malahan berprasangka
buruk: jangan-jangan keberhasilan itu diraihnya dengan
jalan yang tidak benar.

Apalagi dalam bisnis atau bidang lain yang mengandung
unsur kompetisi.
Sifat iri, tak mau kalah, atau munafik, akan semakin
nyata dan kalau tidak segera kita sadari, tanpa sadar
kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa
di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan
siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu
seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita
seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau
bahkan bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun
yang pasti: kita menang dalam kehidupan ini.

Gelagat seseorang adalah "kepiting" antara lain:

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang
lain atau situasi)dan menjadikannya sebagai acuan
dalam bertindak.

2. Hobi membicarakan kelemahan orang lain, tapi tidak
mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya
sibuk merintangi orang lain yang akan sukses dan
melupakan usaha mensukseskan dirinya dengan cara yang
positif.

Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong
keluar dari baskom, namun yaah... dibutuhkan jiwa yang
besar untuk melakukannya….

Coba renungkan, berapa waktu yang kita pakai untuk
memikirkan cara-cara menjadi "pemenang" dalam
kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.
Seandainya kita bisa menggunakan waktu tersebut untuk
memikirkan cara-cara pengembangan diri yang positif,
niscaya kita akan berkembang menjadi pribadi yang
lebih sehat dan dewasa.

Be happy!
(Taken from: Illuminata/Ehipassiko Foundation)


JIKA TERLAHIR KEMBALI

Ada seorang pertapa sedang berbincang-bincang dengan
muridnya:

Pertapa : Jika terlahir kembali bukan sebagai
manusia, kamu lebih suka jadi burung yang terbang
bebas di angkasa luas atau sebagai ikan yang berenang
di dalam sungai?

Murid : Di waktu muda saya ingin jadi burung yang
terbang luas, bebas. Di masa tua saya ingin jadi ikan
yang berenang, bersenang-senang dalam kedamaian.
Bagaimana dengan guru?

Pertapa : Bagi saya, tidak penting jadi burung atau
ikan. Kalau saya burung, saya akan menjadi burung.
Kalau saya ikan, saya akan menjadi ikan. Banyak orang
merasa tidak senang dengan apa yang dikerjakannya dan
menginginkan yang lain, yang tidak bisa dijangkaunya.
Hargai apa yang dia miliki. Jangan menginginkan apa
yang pasti tak bisa dicapai. Jika jadi ikan,
berenanglah sepuas hati. Janganlah bermimpi bisa
menjadi terbang. Jika jadi burung, nikmatilah terbang
melayang di angkasa tinggi sepuas hati. Jangan pernah
ingin menyelam ke dalam air.



ARTI SEORANG SAHABAT

Kenapa di saat terjatuh kita ingin seseorang memeluk
kita atau sekedar menemani kita? Mengapa juga ketika
disakiti, kita inginkan seseorang untuk tempat kita
mengadu?

Mungkin kita akan menjadi sakit kembali ketika melihat
atau mendengar seseorang yang kebetulan mirip dan
dekat dengan orang yang pernah melukai kita. Ada
kalanya dengan ketakutan dan kebingungan kita
memutuskan tidak akan pernah percaya dan mencintai
siapapun lagi. Kita pun merasakan senang jika ada
seseorang yang selalu di sisi kita saat sedih maupun
saat senang.

Seseorang yang selalu membantu kita tanpa mengharap
apapun selain senyuman kita, yang mengerti, yang
memahami dan menerima kita apa adanya.

Beberapa dari kita menyebutnya sahabat perjalanan
hidup, sebagian lebih sederhana mengatakan teman
seperjuangan. Bagi yang romantis menyatakan kekasih
hati. Teruntuk yang telah menikah mengakui bahwa Tuhan
menciptakannya agar kita tidak merasa kesepian. Sejauh
mana perbedaan dari semua itu?

Kenapa bersahabat? Benarkah hidup terlalu keras untuk
dijalani seorang diri? Atau karena kita ingin
menumpahkan rasa sayang dan cinta yang ada dalam hati?
Mungkinkah karena kita memiliki sesuatu yang sejalan
hingga kita menyamakan orang lain dengan apa yang kita
rasakan?

Sungguh! Betapa sulit mencari sahabat di waktu kita
tengah kesusahan dan benarlah betapa mudah mengajak
seseorang untuk bergabung dalam kegembiraan kita.

Memang. Kita semua tidak menyukai penderitaan, meski
kita tahu tidaklah mungkin bisa lepas darinya. Meski
kita semua tahu hidup hanyalah ritme bergantian antara
kesedihan dan kesenangan. Walau kita sadar kebahagiaan
hanya milik orang-orang yang pernah menderita dahulu
dan tiap orang pastilah punya arti sendiri dalam
memaknai penderitaan dan kebahagiaan.

Siapa yang kau anggap sahabat? Apakah seseorang yang
tidak pernah menyakitimu? Mungkinkah seseorang yang
tidak akan pernah meninggalkanmu? Betulkah seseorang
yang kamu memutuskan untuk mempercayainya? Atau
seseorang yang tidak pernah mengatakan kebaikannya
padamu?

Seumpama kita bisa mendengar hati orang lain dan
memang benar mau mendengar? Tak pernah ada yang
mempunyai cita-cita untuk jadi orang jahat dan hidup
tidak berbahagia seandainya kita bisa melihat dan
memang benar mau melihat? Ketika seseorang tengah
tertidur pulas, kita akan bisa untuk lebih berfikir
beberapa kali sebelum berani sekedar berprasangka keji
apalagi untuk menyakitinya. Tetapi kenapa itu
terkadang harus terpaksa?

Di saat kita tiba-tiba merasa peduli dengan seseorang,
kita seolah bisa merasakan apa yang sedang menjadi
bebannya dan kita ingin meringankannya. Namun
terkadang kita sangat acuh kepada seseorang yang
benar-benar membutuhkan kita.

Apa yang kita cari? Untuk siapa dan untuk apa kita
diciptakan di dunia ini? Apa beda kita dengan orang
lain?

Sedalam kelemahan kita harusnya kita lebih sering
berkata "maaf" dibanding "aku" jika kita memang
manganggapnya sahabat. Setinggi keinginan kita
harusnya kita lebih berbahagia berkata "aku tidak mau
merepotkanmu" dibanding "mengertilah diriku" jika kita
telah mengerti bahwa dia sahabat kita.

Membayangkan kita berbahagia sendiri sedang
sahabat-sahabat kita kesusahan, haruskah kita makan
dan tidur dengan tenang? Mungkin lebih baik semua
sahabat telah berbahagia dan kita turut berbahagia
meski kita harus berbohong demi perasaan itu. Karena
sorga masih terlalu luas untuk semua ini, kenapa tidak
berbagi?

Bertahanlah, karena sahabatmu adalah semua yang pernah
hadir dalam hatimu. Berterimakasihlah, sahabatmu
adalah semua yang telah membentukmu hingga kamu
menjadi seperti sekarang ini. Bersiaplah, karena kamu
akan masih kehilangan banyak sahabat untuk menemukan
sahabat-sahabat baru sepanjang perjalannan hidupmu.

Dan berdoalah semoga semua sahabatmu bisa berkumpul
bersama di sorga nanti.....

G B Us




EFISIENSI

Efisiensi adalah suatu hal yang penting di dalam dunia
manajemen. Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita
memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim
kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung
jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan
setiap masalah yang terjadi.
Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu
masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan,
tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan
yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Mari kita coba lihat dalam tiga kasus di bawah ini :

1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak
sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu
perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang.
Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan
yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun
(terbuat dari bahan kertas) kosong.
Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan
masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas
untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak
ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada
satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian
pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta
para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk
membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi
tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat
semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan
memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.

Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat
tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan
kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak
berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul
dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas
angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga
cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia
menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak
sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas
tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari
jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari
bahan kertas yang ringan.

2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar
angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak
bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen
tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk
memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan
waktu satu dekade dan 12 juta dolar.
Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat
berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol,
terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk
kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di
bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat
Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ?.
Mereka menggunakan pensil!.

3. Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain
dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu
tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring
bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik)
mengundang sejumlah pakar untuk men-solve.

Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift.
Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi
berkurang.
Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang
lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang
terlayani.
Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak
sedikit.

Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal,
"Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka
merasa lama menunggu".
Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan
kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan
perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa
"tidak menunggu lift".
---
Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut
KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari
solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh
sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi
yang paling sederhana dan memungkinkan untuk
memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus
belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus
pada masalah.

"Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di
dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa.
Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan
kita, kita memiliki segalanya."


ANALOGI YANG MENGAGUMKAN !

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,"

Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, dijalanan.... untuk menyadari

bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar /"mlungker-mlungker-istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??"."Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang
ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!"-kata si konsumen menyetujui."Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!!

JIKA KAMU BERPIKIR TUHAN ADA, TERUSKAN INI, JIKA TIDAK, HAPUS SAJA !!



Hidupku Bukan Hanya Milikku...


Setiap hari aku terbangun dari lelapnya tidur dengan sebuah kehidupan baru,

setiap saat dengan dada membusung aku katakan : "ini hidupku",

dan karenanya aku tidak ingin orang lain masuk dan mencampurinya,

aku ingin bebas melakukan apa saja yang aku mau,

aku ingin dapat melakukan apa saja yang aku suka,

karena ini adalah hidupku sendiri,

tanpa pernah menyadari kalau hidupku ternyata bukan hanya milikku seorang sama sekali.



Hidupku adalah milik Tuhanku,

karena Dia yang menciptakanku, menyulamku menjadi janin mungil dalam rahim ibuku,

meniupkan nafas kedalam hidungku,

mengalirkan darah kedalam pembuluhku,

dan karena akhirnya aku akan kembali ke pangkuan-Nya.



Hidupku adalah milik ibuku,

karena dia telah mengandung, melahirkan dan menyusuiku,

dia mengisi hatiku dengan cintanya,

dan menampung air mataku dengan tangan sucinya,

karena dia berjanji berjalan disampingku sampai akhir hayatnya.



Hidupku adalah milik ayahku,

karena dia menjaga dan melindungiku sejak kanak-kanakku,

dia membuatku bisa hidup dan berkembang,

dengan pengorbanan dia tidak bisa selalu berada di dekatku,

ya , tapi dia berjanji selalu ada untuk mengangkatku saat terjatuh.



Hidupku adalah milik saudara-saudariku,

karena mereka mencintaiku seolah aku adalah bagian dari tubuh mereka,

menangis dan tertawa bersamaku.



Hidupku adalah milik suamiku kelak,

karena aku telah berjanji didepan Tuhan dan dunia,

bahwa aku akan bersamanya selama jantungku masih berdenyut,

karena untuk aku, dia telah meninggalkan dunianya jauh di belakang,

hidup, bernafas, tersenyum, dan bersedih denganku.



Hidupku adalah milik anak-anakku,

karena Tuhan pernah berbisik kepadaku : "ini adalah milik-Ku, kutitipkan kepadamu, dan buktikan cintamu kepada-Ku lewat keberadaan mereka",

karena anak-anakku selalu menungguku kepulanganku.



Hidupku adalah milik sahabat-sahabatku,

milik mereka yang menanyakan kabarku,

mereka yang tersenyum padaku,

mereka yang mau menampung bebanku,

mereka yang menepuk pundakku,

mereka yang memintaku berhenti merokok,

mereka yang bahagia denganku,

mereka yang mentertawai kebodohanku,

mereka yang selalu mengharapkan kehadiranku,

mereka yang berjalan di sampingku,

mereka yang mengatakan aku mencintaimu,

karena kesedihanku akan menjadikan hari terasa suram bagi mereka,

dan kegembiraanku akan menjadi penambah semangat bagi mereka,

karena sakitku akan terasa sakit juga bagi mereka,

dan senyumku akan menjadi senyum mereka pula.



Betapa bodohnya bila dalam hidupku,

aku menganggap hidupku hanya milikku sendiri,

padahal setiap detik hidupku adalah milik mereka yang mencintaiku dan menyayangiku,

milik mereka yang menungguku,

dan milik mereka yang pernah, sekarang dan akan ada dalam hidupku.



Hidup ini begitu indah, maka buatlah menjadi lebih indah dengan melakukan segala sesuatu yang indah buat semua orang.

Just for u !! ^_^


EMPAT ISTERI

Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang kaya yang
memiliki 4 orang istri. Dia paling mencintai istri
ke-4-nya dan memanjakannya dengan berbagai fasilitas
hidup yang bagus. Dia sangat penuh perhatian terhadap
istri ke-4 dan selalu memberinya yang terbaik.

Dia juga sangat mencintai istri ke-3-nya. Dia sangat
membanggakannya dan selalu ingin memamerkannya kepada
teman-temannya. Namun demikian, sang pedagang
senantiasa khawatir kalau istri ke-3 ini kabur dengan
pria lain.

Dia juga mencintai istri ke-2-nya. Istri ke-2 ini
adalah wanita yang penuh pengertian, penyabar, dan
menjadi sandaran sang pedagang.
Bilamana sang pedagang menghadapi masalah, istri ke-2
selalu datang dan membantunya memberikan jalan keluar
dari masalah.

Sang istri pertama adalah wanita yang sangat setia dan
telah berjasa besar dalam menjaga kekayaan dan
kejayaan sang pedagang, serta mengurus rumah tangga
mereka. Namun demikian, sang pedagang kurang mencintai

istri pertamanya dan jarang memperhatikannya.

Suatu hari, sang pedagang jatuh sakit dan tak berapa
lama dia menyadari bahwa dia akan segera meninggal.
Dia teringat kehidupan mewah yang telah dijalaninya
dan merenung: "Di sini aku punya 4 istri yang
mencintaiku, tapi kalau aku mati... aku akan
sendirian. Aku akan
kesepian!"

Maka dia bertanya kepada istri ke-4, "Aku paling
mencintaimu, melimpahimu dengan busana terbaik, dan
mencurahkan perhatian besar kepadamu. Sebentar lagi
aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?" "Tidak
bisa!", jawab istri ke-4 sambil bergegas
meninggalkannya. Jawaban itu laksana pisau tajam yang
langsung menusuk
hati sang pedagang.

Pedagang yang kecewa itu lalu bertanya kepada istri
ke-3-nya, "Aku mencintaimu dengan segenap hidupku,
tapi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?"
"Tidak mau!", jawab istri ke-3. "Hidup ini begitu
indah! Aku akan menikah lagi kalau kamu sudah mati."
Mendengar jawaban ini, hati sang pedagang jadi runtuh.

Dengan sedih, dia bertanya kepada istri ke-2, "Aku
selalu berpaling padamu dan kamu selalu menolongku.
Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Kalau aku mati,
maukah kamu pergi bersamaku?" "Maaf, kali ini aku
tidak sanggup menolongmu," jawab istri ke-2.
"Paling-paling, aku hanya bisa mengirimmu ke
krematorium." Jawaban ini bagaikan halilintar dan
membuat sang pedagang diam terlongong-longong...

Tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan tinggal
bersamamu. Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi." Sang
pedagang menoleh dan dia melihat istri pertamanya. Ia
begitu kurus, lemah, dan tampak kurang gizi. Sang
pedagang jadi sangat terenyuh... dan meratap lirih,
"Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa..."

Demikianlah, istri ke-4 adalah ibarat tubuh kita. Tak
peduli seberapa lama dan besar usaha kita untuk
mempercantik tubuh, tubuh tidak akan pergi bersama
kita ketika kita mati.

Istri ke-3 ibarat jabatan dan kekayaaan kita. Ketika
kita mati, tidakkah mereka pergi menjadi milik orang
lain? Tidakkah orang lain mengambil alih posisi kita?

Istri ke-2 adalah ibarat keluarga dan teman-teman
kita. Tak peduli betapa baiknya mereka saat kita
hidup, paling jauh mereka hanya akan bisa mengantar
kita ke krematorium.

Istri pertama, dalam hal ini diibaratkan sebagai
kesadaran atau sisi spiritual kita, yang telah kita
abaikan sepanjang waktu dalam pengejaran kesenangan
material dan indrawi. Padahal, justru kesadaran
inilah yang merupakan satu-satunya hal yang terus
bersama kita ke mana pun kita pergi.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita mulai
mengembangkan dan melatih kesadaran kita, alih-alih
menunggu sampai menjelang ajal dan meratap, "Aku
seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa..."

Be Happy!


LOVE DOES NOT NEED A REASON

Lady : Why do you like me..? Why do you love me?
Man : I can't tell the reason.. but I really like
you..

Lady : You can't even tell me the reason... how can
you say you like me? How can you say you love me?
Man : I really don't know the reason, but I can prove
that I love you.

Lady : Proof? No! I want you to tell me the reason. My
friend's boyfriend can tell her why he loves her but
not you!
Man : Ok..ok!!! Erm... because you are beautiful,
because your voice is sweet, because you are caring,
because you are loving, because you are thoughtful,
because of your smile, because of your every
movements.

The lady felt very satisfied with the man's answer.
Unfortunately, a few days later, the Lady met with an
accident and became comma. The Guy then placed a
letter by her side, and here is the content:

Darling,

Because of your sweet voice that I love you... Now can
you talk? No! Therefore I cannot love you.

Because of your care and concern that I like you.. Now
that you cannot show them, therefore I cannot love
you.

Because of your smile, because of your every movements
that I love you.. Now can you smile? Now can you move?
No, therefore I cannot love you...

If love needs a reason, like now, there is no reason
for me to love you anymore.

Do love need a reason? NO!

Therefore, I still love you... And love doesn't need
a reason.

" Sometimes the best and the most beautiful things in
the world cannot be seen, cannot be touched, but can
be felt in the heart "


OMBAK BESAR DAN OMBAK KECIL

Dari buku: 15 Wisdom SUccess, Andire Wongso

Alkisah, di tengah samudra yang maha luas, tampaklah ombak besar sedang
bergulung-gulung dengan suaranya yang menggelegar, tampak bersuka ria
menikmati kedasyatan kekuatannya, seakan-akan menyatakan keberadaan
dirinya yang besar dan gagah perkasa.
Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, tampak sang ombak
kecil bersusah payah mengikuti. Ia terlihat lemah, tertatih-tatih, tak
berdaya, dan jauh tersisih di belakang. Akhirnya, ombak kecil hanya bias
menyerah dan mengekor ke mana pun ombak besar pergi. Tetapi, di benaknya
selalu muncul pertanyaan, mengapa dirinya begitu lebih lemah dan tak
berdaya?

Suatu kali, ombak kecil bermaksud mengadu kepada ombak besar. Sambil
tertaih-tatih ombak kecil berteriak: "Hai ombak besar. Tunggu.!"

Sayup-sayup suara ombak kecil didengar juga oleh ombak besar. Lalu sang
ombak besar sedikit memperlambat gerakannya dan berputar-putar mendekati
arah datangnya suara. "Ada apa sahabat?" Jawab ombak besar dengan suara
menggelegar hebat.

"Aih.pelankan suaramu. Dengarlah, mengapa engkau bias begitu besar? Begitu
kuat, gagah, dan perkasa? Sementara diriku. ah. begitu kecil, lemah dan
tak berdaya. Apa sesungguhnya yang membuat kita begitu berbeda, wahai ombak
besar?"

Ombak besar pun menjawab, "Sahabatku, kamu menganggap dirimu sendiri kecil
dan tidak berdaya, sementara kamu menganggap aku begitu hebat dan luar
biasa, anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti
jati dirimu yang sebenarnya, hakikat dirimu snediri". "Jati diri? Hakikat
diri?
Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu aku ini apa?" Tanya ombak kecil,
"Tolong jelaskan, aku semakin bingung dan tidak mengerti."

Ombak besar meneruskan, "Memang di antara kita terasa berbeda tetapi
sebenarnya jati diri kita adalah sama, kamu bukan ombak kecil, aku pun
juga bukan ombak besar. Ombak besar dan ombak kecil adalah sifat kita yang
sementara. Jati diri kita yang sejati sama, kita adalah air. Bila kamu
menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi,
kamu adalah air, setiap waktu kamu bias menikmati menjadi ombak besar
seperti aku, kuat gagah dan perkasa."

Mendengar kata-kata bijak sang ombak besar, mendadak timbul kesadaran
dalam diri ombak kecil. "Ya, benar, aku bukan ombak kecil. Jati diriku
adalah
air, tidak perlu aku berkecil hati dan menderita."

Dan, sejak saat itu, si ombak kecil pun menyadari dan menemukan potensi
dirinya yang maha dasyat. Dengan ketekunan dan keuletannya, ia berhasil
menemukan cara-cara untuk menjadikan dirinya semakin besar, kuat, dan
perkasa, sebagaimana sahabatnya yang dulu dianggapnya besar. Akhirnya,
mereka hidup bersama dalam keharmonisan alam. Ada kalanya yang satu lebih
besar dan yang lain kecil. Kadang yang satu lebih kuat dan yang lain
lemah.
Begitulah, mereka menikmati siklus kehidupan dengan penuh hikmat dan
kesadaran.
Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi
sulit yang kita hadapi, yang sesungguhnya itu hanyalah pernak-pernik atau
tahapan dalam perjalanan kehidupan. Sering kali kita memvonis keadaan itu
sebagai suratan takdir, lalu muncullah mitos-mitos: aku tidak beruntung,
nasibku jelek, aku orang gagal, dan lebih parah lagi menganggap kondisi
tersebut sebagai bentuk "ketidakadilan" Tuhan.

Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada
alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain.
Karena sesungguhnya kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan monopoli
orang-orang tertentu, jika orang lain bias sukses, kita pun juga bias
sukses! Kesadaran tentang jati diri bila telah mampu kita temukan, maka di
dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh
gairah sedahsyat ombak besar di samudra nan luas. Siap menghadapi setiap
tantangan dengan mental yang optimis aktif, dan siap mengembangkan potensi
terbaik
demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

"Jati diri kita adalah sama-sama manusia! Tidak ada alasan untuk merasa
kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Jika orang lain bias
sukses, kita pun bisa sukses!"
SUARA YANG PALING INDAH

Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi
anaknya di suatu kota besar untuk pertama kali dalam
hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan
yang terpencil, bekerja keras membesarkan
anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan
perdananya ke rumah anak-anaknya di kota.

Suatu hari, sewaktu diajak berkeliling kota, orang tua
itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum
pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak
didengar di dusunnya yang sunyi. Dia mengikuti sumber
suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di
belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil
sedang belajar bermain biola.

"Ngiiik! Ngoook!" berasal dari nada sumbang biola
tersebut.

Saat dia mengetahui dari anaknya bahwa itu yang
dinamakan "biola", dia memutuskan untuk tidak akan mau
lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini
mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai
telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang
begitu indah di lembah gunungnya, dia pun mencoba
mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke
sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di
mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang
memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya.
Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin
bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang
anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang
belum bisa memainkan biolanya dengan baik.

Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir
bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama.
Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang
menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar
untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses
belajar seorang pemula yang belum bisa 'memainkan'
agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan
seorang bijak, seorang 'maestro' agamanya, itu
merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita
selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.

Namun ini bukanlah akhir dari cerita.

Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua
mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan
dan kejernihan suara sang maestro biola.


Menurut Anda, suara apakah itu?

Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada
musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur
di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung
pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan
melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu
malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah
menggerakkan hati si orang tua melebihi apa pun itu?

Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah
simfoni.

Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara
terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota
orkestra merupakan maestro alat musiknya
masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih
jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam
harmoni.

"Mungkin ini sama dengan agama," pikir si orang tua.
"Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan
agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan.
Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di
dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari
agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita
belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota
sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama
lain dalam sebuah harmoni!"

Itulah suara yang paling indah.

(ILLUMINATA 34)


SEEMBER SUSU

Dua ekor katak berlompatan dengan riangnya di sebuah
halaman rerumputan sebuah peternakan sapi. Seorang
ibu yang sedang membersihkan halaman kandang yang
melihat kedua katak itu berusaha mengusir dengan
sebuah gagang sapu dan membuat kedua katak itu lari
ketakutan.

"Cepat, kearah sana", kata salah seekor katak itu
"Saya melihat tempat persembunyian yang baik dan pasti
sulit dijangkau oleh gagang sapu itu" kata si katak
menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam
peternakan tsb.

"Ayo, cepat" seru si katak pertama dan keduanya
melompat-lompat melompat tinggi, lebih tinggi,
semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah
pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan
bersembunyi.

"Plung" pada lompatan terakhir, keduanya serentak
mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan
segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha
untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali
melompat, tapi tidak berhasil. "Oh kawan, habislah
kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat
licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah
kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita
akan mati tenggelam disini" kata katak kedua.

"Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah
mendayung" kata katak pertama, pasti ada cara untuk
bisa keluar dari tempat ini, ayo kita pikirkan, jangan
menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang
kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha
melewati bibir ember.

Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai
mengeluh lagi: "Ugh, saya sungguh lelah sekali, saya
benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali
dan dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini."


"Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah" kata katak
pertama memberi semangat.

"Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar
hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini
keluhnya makin lemah" dan gerakan katak kedua itu
makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak
lagi, mati.

Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan
sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mendayung
sendirian sambil sesekali berpikir untuk menyusul
temannya yang tubuhnya kaku setengah tenggelam itu.

Lamat-lamat terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari
kaki-kaki katak kedua itu serasa mendapat pijakan,
katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya
terasa berdiri diatas setumpuk mentega hasil karyanya
semalaman, dan "plop" katak itupun membuat lompatan
terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang
mengubur temannya.



KOPI ASIN

Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan.
Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang
laki² biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah
usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya.
Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak,
si gadis tidak mau mengecewakannya.

Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman.
Si laki² begitu gugup untuk mengatakan sesuatu,
sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman.
"Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis dalam hatinya.
Tiba² si laki² berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya
garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang
dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap
mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya,
"Kebiasaanmu kok sangat aneh?".
"Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka
ber-main² di laut, di mana aku bisa merasakan laut... asin dan pahit.
Sama seperti rasa kopi ini",jawab si laki². "Sekarang, tiap kali aku
minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku.
Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang
masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis
begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang
begitu dalam dari seorang laki² yang mengungkapkan kerinduan akan
kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli
akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan
tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai
bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya...
Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga
merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka. Mereka terus menjalin
hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki² idaman baginya.
Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian... pokoknya
ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja.
Untung saja ada kopi asin !

Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah
dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia
membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam
didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.

Setelah 40 tahun berlalu, si laki² meninggal dunia. Ia meninggalkan
sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan
kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah
satu²nya kebohonganku padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan
saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya
aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu
itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan
saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal
pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya
kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku
begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak
menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada
lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu:
Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu
minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah
menyesal atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah
menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan
terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani
hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan
menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."

Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang
menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab,
"Rasanya begitu manis."


-unknown-


Kisah Neraka
>
>
> Seorang warga Indonesia meninggal. Karena amal perbuatannya buruk,
ia dikirim ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ada neraka yang
berbeda-beda bagi negara asal penghuni.
>
> Pertama ia ke neraka orang Inggris. Ia bertanya: "Hukuman apa di
sini?" Penghuni neraka Inggris menjawab: "Pertama-tama, kita
didudukan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di
atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan
disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang
sisa hari."
>
> Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia
menuju tempat lain. Ia melihat keadaan di neraka AS, neraka Israel,
neraka Rusia, Jerman dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa perlakuan
di neraka-neraka itu mirip dengan neraka orang Inggris.
>
> Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia. Ia melihat antrian
panjang orang yang menunggu giliran untuk masuk. Anehnya, para calon
penghuninya dari berbagai negara. Dengan tercengang ia
bertanya: "Hukuman apa yang diberlakukan di sini?" Ia memperoleh
jawaban: "Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama
satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi.
Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Terakhir, setan
Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari."
>
> "Tapi itu persis sama dengan neraka-neraka yang lain. Kenapa dong
begitu banyak orang ngantri untuk masuk neraka Indonesia sini?"
>
> "Karena di sini kursi listriknya sering nggak nyala, karena harga
listrik naik terlalu tinggi dan sering mati. Kursi pakunya nggak
ada, jadi tinggal pakunya aja, karena kursinya sering diperebutkan.
Bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi,
malah mau naik lagi. Para setannya adalah mantan pegawai negeri,
jadi cuma datang, tanda tangan presensi, lalu bolos."






CINTA TAK PERNAH HILANG

From : Dewi P

Jika cinta kita hanyalah keinginan untuk memiliki, hal
itu tak bisa dinamakan cinta.
Thich Nhat Hanh

Kata orang, lebih baik pernah mencintai dan kehilangan
cinta daripada tak pernah mencintai sama sekali.
Kata-kata itu tak akan bisa menghibur Mike Sanders. Ia
baru saja diputuskan pacarnya. Tentu saja si pacarnya
itu tidak mengatakan segamblang itu. Ia berkata, "Aku
benar-benar menyukaimu, Mike, dan aku ingin kita bisa
berteman." Bagus, pikir Mike. Tetap berteman. Kau,
aku, dan pacar barumu bisa nonton bersama.

Mike dan Angie sudah pacaran sejak kelas tiga SMP.
Tapi, pada musim panas ini ia naksir pemuda lain.
Sekarang, saat Mike sudah di kelas tiga SMU, ia merasa
kesepian. Selama tiga tahun mereka mempunyai
teman-teman yang sama dan menghabiskan waktu di tempat
nongkrong yang sama. Pergi lagi ke tempat itu tanpa
Angie membuatnya merasa - hm, hampa.

Latihan football biasanya bisa membantunya melupakan
masalahnya. Para pelatih selalu menyuruh peserta
laithan berlari sedemikian rupa sehingga mereka merasa
sangat kelelahan dan tak punya waktu lagi untuk
memikirkan hal lain. Tapi, belakangan ini, pikiran
Mike tidak tercurah pada latihan. Suatu hari ia kena
batunya. Ia tak mampu menangkap lemparan bola yang
biasanya mudah baginya, dan ia membiarkan dirinya
dijatuhkan lawan yang biasanya tak mampu
menjatuhkannya.

Mike tahu bahwa jangan sampai dibentak lebih dari
sekali oleh pelatihnya. Jadi ia berusaha keras agar
tidak dijatuhkan lawan lagi sampai latihan usai. Saat
ia berlari hendak meninggalkan lapangan, ia diminta
melapor ke kantor pelatih. "Cewek, keluarga, atau
sekolah: yang mana yang meresahkan hatimu, Mike?"
Tanya pelatihnya.
"Cewek," sahut Mike, "Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Sanders, aku sudah menjadi pelatih football sejak
sebelum kau lahir. Dan setiap kali ada pemainku yang
hebat bermain kacau, pastilah salah satu dari ketiga
alasan tadi yang menjadi penyebabnya."

Mike mengangguk. "Maaf, Pak. Aku tidak akan mengulangi
lagi."

Pelatih menepuk bahunya. "Tahun ini tahun yang
menentukan bagimu, Mike. Tak ada alasan yang bisa
menghalangimu diterima di perguruan tinggi pilihanmu.
Tapi, kau harus ingat. Kau harus memusatkan perhatian
pada hal-hal yang benar-benar penting. Yang lainnya
akan beres dengan sendirinya."

Mike tahu pelatihnya benar. Ia harus merelakan Angie
dan meneruskan hidupnya. Tapi ia tetap merasa terluka,
dan terkhianati. "Aku merasa sangat geram, Pak. Aku
mempercayainya. Aku selalu terbuka padanya. Aku
menyerahkan segala baginya, tapi apa yang kudapat?"

Si pelatih mengambil selembar kertas dan bolpoin dari
laci mejanya.
"Itu pertanyaan bagus. Apa yang kau dapatkan?" Ia
menyerahkan kertas dan bolpoin itu kepada Mike dan
berkata, "Ingat-ingat waktu yang kau lewatkan
bersamanya, dan tuliskan sebanyak mungkin hal yang kau
alami bersamanya, yang menyenangkan dan yang tidak
menyenangkan. Lalu, tuliskan hal-hal yang kau pelajari
darinya dan yang ia pelajari darimu. Aku beri waktu
satu jam." Pelatih meninggalkan Mike sendirian.

Mike menjatuhkan diri duduk dikursi dan kenangan
bersama Angie membanjiri ingatannya. Ia teringat saat
pertama kali memberanikan diri untuk mengajaknya
berkencan, dan betapa senang hatinya kala Angie
bersedia pergi bersamanya. Kalau bukan karena dorongan
Angie, Mike tak akan mencoba masuk tim football.

Lalu ia mengingat-ingat pertengkaran mereka. Ia memang
tak ingat semua alasan yang menyebabkan mereka
bertengkar. Tapi, ia ingat bagaimana mereka
menyelesaikan persoalan diantara mereka. Ia belajar
berkomunikasi dan berkompromi. Ia juga ingat bagaimana
mereka berbaikan kembali. Dan saat-saat seperti itu
sangat disukainya.

Mike teringat saat-saat Angie membuatnya merasa kuat,
dibutuhkan, dan istimewa. Ia menulis kertas itu dengan
pengalaman mereka, liburan, perjalanan bersama
keluarga masing-masing, dansa sekolah, dan piknik
berdua saja. Sebaris demi sebaris ia menuliskan
pengalaman mereka berdua, dan ia menyadari bagaimana
Angie telah membantu membentuk hidupnya. Ia akan
menjadi pria yang lain tanpa Angie.

Ketika pelatih kembali sejam kemudian, Mike sudah tak
ada di situ.
Tapi, Mike meninggalkan catatan di mejanya. Bunyinya
sederhana saja:

Pak,
Terima kasih atas pelajaran yang telah Bapak berikan.
Saya rasa memang benar kata orang bahwa bagaimanapun
juga lebih baik pernah mencintai dan kehilangan cinta.
Sampai jumpa di latihan nanti.

David J.Murcott


NYANYIAN SEORANG KAKAK

Seorang ibu muda, sedang mengandung bayinya yang
kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu
Michael, anaknya yang pertama yang baru berusia 3
tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael
senang sekali. Kerap kali ia menempel kan telinganya
di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia
pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut
ibunya itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh
di luar dugaan, terjadi komplikasi serius.
Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael
dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang
kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat
dengan sedih berterus terang kepada Karen,
"Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan
terjadi." Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan
dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa.
Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat
putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di
ICU ia merengek terus! "Mami... aku mau nyanyi buat
adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami... aku
pengen nyanyi!!" Karen terlalu larut dalam kesedihan
dan kekuatirannya. "Mami.... aku kepengen nyanyi!!!"
Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil
meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan
Michael sebagai rengekan anak kecil. Lagi pula ICU
adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika
harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael.
"Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk
yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!"
batinnya. Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar
ICU. "Anak kecil dilarang masuk!" Karen ragu-ragu.
"Tapi, suster...." suster tak mau tahu.
"Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!"

Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, "Suster,
sebelum diizinkan bernyanyi buat adiknya, Michael
tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir
kalinya bagi Michael melihat adiknya!"
Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi
tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah, kemudian Michael dibungkus dengan pakaian
khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan
pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut.
Michael menatap lekat adiknya... Lalu dari mulutnya
yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang
nyaring "You are my sunshine, my only sunshine, you
make me happy when skies are grey...."

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia
sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never
know, dear, How much I love you. Please don't take my
sunshine away."

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan
haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan,
"Terus.... terus Michael! Teruskan sayang...," bisik
ibunya sambil menangis.

"The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt,
I held you in my..." Dan, Sang adikpun
meregang, seolah menghela napas panjang.
Pernapasannya lalu menjadi teratur..." I'll always
love you and make you happy, if you will only stay the
same...." Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat
tenang.

"Lagi sayang..." bujuk ibunya sambil mencucurkan air
matanya. Michael terus bernyanyi dan.... adiknya
kelihatan semakin tenang, rileks dan damai... lalu
tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut
terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas
diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi
sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak
habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang
satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah
terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya
sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh
amat luar biasa!

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup
dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang
menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan
mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I
love you".

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos
seorang anak kecil "Michael" untuk memberi kehidupan.
Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil
bagi-NYA bila IA menghendaki terjadi.



Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku...
Oleh: Henry Sujaya Lie


Pada tahun 1971 surat kabar New York Post
menulis kisah nyata tentang seorang pria yang
hidup di sebuah kota kecil di White Oak,
Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang
wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia
tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak
menjadi seorang suami dan ayah yang baik.
Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan
mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib
ke kota besar, New York. Dia mencuri uang
tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke
utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru.
Bersama-sama beberapa temannya dia memulai
bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati
hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati
semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal,
dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai
terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis
cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang
orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia
tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam
penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga
tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai
merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya.
Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan
untuk menulis surat kepada istrinya, untuk
menceritakan betapa menyesalnya dia.
Bahwa dia masih mencintai isteri dan
anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh
kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin
sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia
mengakhiri suratnya dengan menulis,
"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.
Namun jika engkau masih ada perasaan padaku,
maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku
kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning
bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang
berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan
tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak
apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak
akan turun dari bis, dan akan terus menuju
Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah
lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur
hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat
gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari
isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya
menerima suratnya atau sekalipun dia membaca
suratnya, apakah dia mau mengampuninya?
Dia naik bis menuju Miami, Florida,
yang melewati kampung halamannya, White Oak.
Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar
ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus
itu,
"Tolong, pas lewat White Oak, jalan
pelan-pelan...kita mesti lihat apa yang akan
terjadi..."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat
kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat
kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata
menetas di matanya...

Dia tidak melihat sehelai pita kuning...

Tidak ada sehelai pita kuning....

Tidak ada sehelai......

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....
bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...
seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu
pada tahun 1973 di Amerika.
Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan
menceritakan kisah ini.
Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini
menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the
Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis
pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits
pada bulan April 1973.

****
Dalam kisah "Anak yang Hilang", diceritakan
Sang Bapa melihat si anak murtad dari kejauhan.
Berarti dia telah berdiri menanti di pinggir
jalan.
Selama bertahun-tahun. Terus, tak pernah
menyerah. Tetangganya mungkin mengejek dia
setiap hari.

Dia tidak menghukum si anak murtad.
Melainkan lari cepat tanpa memperdulikan
kehormatannya memeluk dia, dan menghujaninya
dengan ciuman.

Jika ada pohon beringin di sorga,
tentulah pohon itu akan dipenuhi ribuan,
jutaan, ...tak terhitung...pita-pita kuning....

Allah yang seperti itu yang kita miliki sebagai
Bapa...

Uh, adakah yang lebih berharga dalam hidup?




APAKAH ANDA BERPIKIR?

Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan
penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para
narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke
tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan
pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih
dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga,
napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.

Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka
temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan
batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-
dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat,
dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para
narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras,
mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri.
Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel
dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah
sesuatu yang mustahil.

Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR
itu mustahil.

Saat ini, banyak orang merupakan tawanan rasa takut. Mereka tak
pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa
itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda
tak dapat berhasil bila Anda tidak mencoba?
EMPAT KALI TUJUH

"Empat kali tujuh adalah dua puluh delapan" kata Chiang Tzu.

"Empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh" kata seorang pria lainnya.

Perdebatan itu terjadi ditengah keramaian di salah satu sudut kota hingga keduanya berbaku hantam dan menimbulkan keributan yang mengganggu aktivitas disekitarnya. Sampai akhirnya petugas kerajaan datang untuk menangkap dan menyeret kedua orang itu ke hadapan hakim Bao untuk diadili.

Setelah mendengarkan kesaksian dari beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut, hakim Bao memutuskan untuk menghukum Chiang Tzu selama satu bulan penjara.

"Mengapa saya yang dihukum, bukannya orang tolol itu?" kata Chiang Tzu berteriak-teriak memprotes keputusan hakim Bao.

"Kamu sungguh bodoh" kata hakim Bao dengan tenangnya, "Kamu bertengkar dengan seseorang yang dengan tololnya mengatakan bahwa empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh, bukankah kamu yang seharusnya dihukum?"

Chiang Tzu terpana terdiam seraya menunduk malu, dan terpaksa menerima keputusan sang hakim.


KISAH TENTANG KEBENARAN DAN IBARAT

Suatu hari KEBENARAN pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang
diri, selayaknya bayi yang dilahirkan. Namun apa yang terjadi?
Orang yang melihatnya malah berbalik lari menghindari.
Tak seorang pun, mau mengajaknya mampir ke rumah mereka.
KEBENARAN merasa sedih dengan apa yang terjadi. Ia lalu menemui
IBARAT. IBARAT senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh
warna-warni. Ketika melihat KEBENARAN, IBARAT berkata,
"Katakan, apa yang membuatmu sedih sobat?"

Dengan getir, KEBENARAN menjawab, "Saya sedih. Sangat sedih.
Usiaku sudah sangat tua, namun tak seorang pun mau mengenaliku,
bahkan menyapaku. Tak seorang pun mau, menerimaku."

Mendengarkan hal itu, IBARAT membalas, "Orang-orang itu
menghindarimu bukan karena kau tua. Bukankah aku juga tua
sebagaimana engkau. Namun, semakin tua usiaku, semakin banyak
orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu rahasia:
Setiap orang menyukai hal-hal yang sedikit samar-samar dan cantik.
Mari, aku pinjami kau pakaian indahku ini, maka akan kau lihat
orang-orang yang menyingkirkanmu tadi akan mengajakmu ke rumah
mereka, dan senang dengan kehadiranmu."

Lalu, KEBENARAN mengikuti saran dari IBARAT. Ia mengenakan
pakaian indah yang dipinjamnya dari IBAR|AT. Dan, sejak itu,
KEBENARAN dan IBARAT selalu berjalan bergandengan.

Seringkali kebenaran yang disampaikan secara langsung terasa
menyakitkan, menakutkan, dan tak dimengerti.
Namun, kebenaran yang disampaikan dibalik cerita dan kisah-kisah
selalu mudah diterima tanpa harus merasa dinasehati.

(Yuddish Folktales)



KISAH SEORANG PENCURI

by Conan

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah. Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas, lengkap dengan ratusan hewan ternak.
Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.

Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akan kuikat dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriak sang tuan rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."
Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu, pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya Ayah!"
Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum
berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit.
Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka."
Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.

Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya semua kejadian pencurian itu.
Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas."

Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian, ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.
***
Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya harapan dan impian?

Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.
Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara, atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.

Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa, saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja.
Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.
Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.

Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah, dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju, jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.
Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.


HIDUP ADALAH PILIHAN
Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman."
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :
Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.
Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.


BELAJAR DARI SUSAN BAILEY
Sebagai pemilik The Better Half, toko yang khusus menjual pakaian untuk orang bertubuh besar, yang sudah berdiri selama tiga belas tahun, aku telah mengenal para pelangganku, yang sebagian besar merupakan pelanggan "ulangan". Hampir semuanya datang kembali, meski sering kali mereka bersumpah bahwa kali ini adalah kali terakhir berbelanja.

Ya, alasannya, mereka sudah mendaftar di pusat kebugaran. Memulai diet baru? Memulai terapi? atau berkonsultasi dengan ahli hipnotis. Aku mengatakan ini tidak untuk menghina, melainkan dengan lembut dan penuh sayang. Aku sendiri adalah wanita bertubuh besar, dan aku tahu perjuangan yang mesti dihadapi.

Susan Bailey adalah seorang pelanggan setia. Ia seorang eksekutif di sebuah perusahaan real estate besar di Manhattan. Ia datang ke tokoku dua kali setahun (selalu tergesa-gesa), memilih pakaian dengan cepat (ia tidak pernah mencobakan pakaian yang dibelinya, sebab katanya ukuran 20 pasti pas untuknya, dan ia sudah tahu model-model dan pakaian keluaran perusahaan mana yang sesuai untuknya), bergegas ke kasir untuk membayar, lalu lari ke mobil yang sudah menunggu. Ia selalu membeli yang terbaik: Jones New York dan Harve Benard adalah merek favoritnya, dan jumlah pembeliannya selalu melebihi seribu dolar. Tak perlu dikatakan lagi, aku selalu ikut berdebar kalau ia menyerbu masuk ke dalam toko dengan tergesa-gesa (pelanggan yang berbelanja hingga ribuan dolar tidak mudah didapat akhir-akhir ini).

Kuberikan ia perhatian sepenuhnya. Meski sulit bagiku untuk mengikuti langkahnya yang gesit saat ia bergerak di dalam toko, dengan setia aku membututinya dan melayani semua kebutuhannya, dan aku selalu masih terengah-engah setelah ia keluar toko dengan terburu-buru. Meski ia selalu menimbulkan ketergesaan setiap kali datang, aku selalu senang menyambutnya. Aku bersyukur bahwa seorang eksekutif penting dari Manhattan mau mendatangi tokoku yang sederhana, meski aku tahu bahwa diskon besar yang kuberikan untuk pakaian-pakaian desainerlah yang menarik minat mereka, bukan kepribadianku yang memikat.

Pokoknya aku merasa tersanjung.
Suatu hari aku sedang memikirkan para pelanggan yang sudah beberapa lama tidak kulihat.
Sekonyong-konyong aku menyadari bahwa Susan Bailey sudah lama tidak datang. Sudah sangat lama, pikirku dengan tersentak. Mungkin sekitar dua tahun. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya. Apakah ia salah satu dari sedikit orang yang berhasil dalam dietnya dan bisa mempertahankan berat badannya yang baru Apakah ia sudah pindah?

Adakah seseorang di tokoku yang tanpa sadar telah membuatnya tersinggung? Atau ia sekarang berbelanja di tempat lain? Aku berniat meneleponnya, tapi aku tak mau dianggap lancang. Maka kukirimkan kartupos padanya, memberitahukan akan ada obral istimewa. Kartu pos itu dikembalikan dengan tanda, "Alamat tidak dikenal". Aku merasa kehilangan ketika kartu pos itu kembali. Ke mana Susan menghilang? Dan apa sebabnya?

Sesekali aku suka meninggalkan toko untuk memeriksa saingan-sainganku. Aku berkeliling ke semua toko penjual pakaian ukuran besar di Manhattan, mencoba melihat tren apa yang sedang digemari, designer mana yang sedang top, dan juga mencari merek-merek baru. Aku melakukan ini dua-tiga kali setahun. Suatu hari, ketika sedang melihat lihat etalase Jeanne Rafal, sebuah toko pakaian besar yang terletak di seberang Lord & Taylor di Fifth Avenue aku mendengar sebuah suara menyedihkan dibelakangku.
"Pemisi, Ma'am, boleh minta uang kecil?"

Aku menoleh untuk melihat si pemilik suara. Aku ternganga karena kaget dan tidak percaya. Orang itu adalah Susan Bailey. Tak ada lagi setelan Jones New York, potongan rambut yang gaya, dan rias wajah yang tak bercela. Sebagai ganti sosok wanita yang dulu kukenal, berdiri seorang asing yang kumal dan kotor, juga kelihatan agak bingung.

"Susan!" seruku. "Apa yang terjadi padamu?"

Tampaknya ia tidak mengenaliku. "Tolong, Ma'am," pintanya lagi dengan memelas, "bisa beri uang kecil?"

Kukeluarkan semua uang yang ada didompetku dan kuberikan padanya. Empat puluh dolar. Sementara ia memandangi harta ditangannya dengan gembira, aku memandanginya dengan trenyuh.

"Susan!" kataku perlahan, "Ayo kita cari tempat untuk makan dan bicara." Ia menggeleng menolak. "Susan," kataku lagi, "kau tidak ingat aku lagi? The Better Half di Brooklyn?"

Sesaat kabut di matanya yang suram menyibak.
"Oh, yeah," katanya.

"Susan? Apa yang terjadi?" aku bertanya dengan lembut, berusaha kelihatan tenang, untuk menutupi rasa syok dan kepedihanku karena melihat keadaannya ini.

"Oh?" ia bergumam tidak jelas, "Pasaran real estate ambruk, aku kehilangan pekerjaan, ibuku meninggal, saudara laki-lakiku mencuri warisanku, dan menendang aku keluar dari rumah, pokoknya banyak hal menyedihkan."

"Sekarang kau tinggal di mana?"

"Di tempat penampungan," gumamnya dengan malu

Kemudian seperti saat awalnya tadi sorot kecerdasan yang sempat muncul di matanya memudar, dan ia kembali tampak kebingungan.

"Susan, maukah kau tinggal di rumahku untuk sementara? Aku punya ruang bawah tanah yang sudah rapi. Kau bisa tinggal di sana dengan nyaman," aku menawarkan.

"Tidak, tidak, tidak", katanya sambil menjauh dan memandangiku dengan tatapan curiga. "Aku mesti pergi sekarang. Aku ada janji. Aku mesti pergi."

"Susan" aku berlari dan membujuknya. " Aku ingin menolongmu. Ini nomer teleponku? Teleponlah aku."
Dengan apatis ia menerima kartu namaku.

"Susan," aku mendesaknya, "Kau mau meneleponku kan?"

"Tentu, tentu," gumamnya sambil mundur dengan cepat.

Tapi ia tak pernah menghubungiku.
Bisakah kehidupan berubah begitu cepat? Pemilik The Better Half dihantui dan merasa terpukul dengan peristiwa tersebut, dan ia masih terus teringat, bertahun-tahun sesudahnya. Ia jadi belajar untuk tak pernah menerima kelimpahan dalam hidupnya sebagai sesuatu yang sudah semestinya. Bahkan, meski ia mensyukuri berkat-berkat yang diterimanya dan berterima kasih pada Tuhan atas segala sesuatunya, ia juga menjadi sadar betapa mudahnya semua itu bisa diambil darinya.
(gunawan nugroho, disadur dari Small Miracles)

Voiceindo
http://www.voiceindo.com


BAHAYA
Seorang jenderal yang harus mundur menuju benteng terakhir, dan menarik sisa-sisa pasukannya yang sebagian besar telah menderita luka-luka karena pedang, tombak, dan anak panah …, memerintahkan penjaga pintu gerbang benteng untuk membuka pintunya lebar-lebar, dan menugaskan beberapa nenek-nenek tua untuk menyapu jalan masuk menuju benteng itu.

Jenderal dari pihak musuh yang memimpin pengejaran atas pasukan kecil yang telah terpukul keras itu, menghentikan langkah maju pasukannya, dan dengan cermat mengamati perilaku 'tidak berencana' dari para nenek itu, dan memicingkan mata untuk bisa melihat ke kedalaman benteng yang sepi dan remang-remang itu.

Kuatir bahwa pasukannya akan masuk ke dalam sebuah perangkap, sang jenderal menarik mundur pasukannya dan menjauh dari benteng yang menurut perhitungannya… berbahaya!.
(Exnal.com)



PT Voiceindo Piranti Niaga
Jl. Wastukencana 5Z
Bandung 40117
ph 022-70773998
fax : 022-4211145
http://www.voiceindo.com


TIM TERAPI

Saudara perempuanku menemukan Jake sedang berkeliaran di jalanan. Anjing itu tinggal kulit berbalut tulang, bulunya lengket, kotor dan ia sudah kelelahan. Namun, sepasang matanya yang besar tampak berbinar-binar seperti mata seekor kijang.

Keluargaku meneleponku untuk datang melihatnya begitu saudara perempuanku membawanya pulang ke rumah. Begitu melihat Jake, tahulah aku. Keluargaku tidak perlu bertanya dan aku tidak perlu mengatakan apa-apa. "Kami tahu kau akan merawatnya," kata saudara perempuanku.

Keesokan harinya kubawa Jake ke dokter hewan. Setelah memeriksanya, si dokter hewan berkata, "Aku khawatir anjing ini punya masalah jantung serius. Menurut pendapatku dia tidak bakal bisa bertahan sampai akhir minggu." Aku baru satu hari memiliki Jake, tapi berita ini membuatku terpukul. Jake menatapku dan aku menatapnya, lalu aku berkata, "Ayo, kita pulang."

Satu bulan berlalu, dan Jake membuktikan bahwa dugaan sang dokter hewan salah. Jake semakin sehat. Jelas tampak bahwa ia menyukai orang-orang dan mencintai kehidupan. Merasa senang melihat ia sembuh, kami menjalani hidup dengan santai. Lalu suatu pagi aku membaca artikel di surat kabar, isinya meminta anjing-anjing dan para sukarelawan bergabung untuk suatu program terapi yang menyertakan binatang peliharaan. Kupikir ini cocok sekali untuk Jake---dan aku sendiri mendapat lebih dari dua puluh telepon dari teman-teman dan keluarga yang telah membaca artikel tersebut. Mereka bersikeras bahwa Jake cocok sekali untuk ikut program itu. Maka aku membuat janji untuk wawancara. Seperti kata si pewawancara, Jake tampak antusias dan ia juga lulus melewati beberapa wawancara berikutnya, disusul beberapa kali pemeriksaan dokter hewan dan tes kepatuhan yang dilewati dengan nilai sangat bagus. Sekarang ia sudah resmi menjadi sukarelawan di rumah sakit.

Aku bangga sekali, begitu juga Jake. Selama enam tahun berikutnya kami menghabiskan setiap Jumat malam di rumah sakit, di unit onkologi/hematologi. Kami mengunjungi ratusan pasien.

Tapi ada satu kunjungan yang sangat berkesan. Kami waktu itu bekerja sama dengan tim lain, Sherry dan anjingnya, MacDuff. Jumat malam itu terasa sangat panjang dan kami semua sudah lelah. Saat itu sudah lewat jam sebelas malam, dan ketika kami melewati elevator, pintu elevator membuka. Seorang pria berusia lima puluhan dan anak lelakinya yang sudah dewasa melangkah keluar. Mereka hampir bertubrukan dengan Jake dan Mac. "Oh, cantik sekali," kata putra si pria tersebut. "Boleh kami membelai anjing-anjing itu?"

"Tentu boleh," sahut Sherry. "Memang untuk itulah kami ada disini."

Si pria muda berlutut dan memeluk kedua ekor anjing, lalu ia melompat bangkit dan bertanya, "Apa mereka boleh diajak mengunjungi pasien?". Ia menatap ayahnya sambil mengangkat alis, minta persetujuan.

Si ayah menunduk ke lantai dan berkata perlahan, dengan penuh emosi, "Istriku sakit keras."

Aku menumpangkan satu tanganku di bahunya dan berkata, "Kami sudah mengunjungi banyak sekali pasien yang sakit parah. Di kamar mana istri Anda berada?"

Mereka mendahului kami berjalan di lorong dan ketika memasuki kamar yang sunyi itu, kami melihat si pasien berbaring miring di bawah selimut. Ia tertidur, meringkuk dalam posisi janin. Wajahnya sangat pucat dan dengan segera kami tahu bahwa kunjungan kami mesti singkat saja.

Aku menarik kursi ke samping kepalanya. Aku duduk dan Jake melompat ke pangkuanku. Dengan lembut kuraih tangan si wanita yang terkepal dan kubiarkan buku-buku jarinya membelai telinga Jake yang panjang dan halus.

Aku berbicara langsung pada wanita itu, "Ini Jake, dia punya telinga yang sangat panjang. Kami rasa dia blasteran cocker spaniel dan Irish setter" Tangan wanita itu menjadi lebih santai lalu pelan-pelan membuka dab memegang telinga Jake dengan lemah. Jake menoleh padaku dengan sepasang mata kijangnya. Kami tahu bahwa kami telah berhasil menjalin kontak. Aku bertanya kepada wanita itu, "Apa Anda merasa heran melihat ada anjing di rumah sakit?". Wanita itu membuka matanya sedikit dan menjawab dengan pelan, tapi jelas, "Ya, tak pernah kukira aku akan melihat anjing disini." Lalu ia mulai membelai-belai kepala Jake dengan lembut, tanpa dibantu, dengan tangan yang kepalannya sudah terbuka sepenuhnya. Aku tersenyum. Ia tersenyum. Jake juga tersenyum.

Aku berkata, "Dia punya teman di sini. MacDuff ingin bertemu Anda juga kalau Anda tidak keberatan." Sherry mengangkat MacDuff. Wajah si pasien berseri-seri bahagia ketika melihat Mac, anjing sheltie yang cantik itu.

Ia berseru, "Dulu ayahku memelihara anjing jenis ini." Ia meminta anak lelakinya membantunya bangkit supaya ia bisa memeluk Mac. Setiap pasang mata di kamar rumah sakit yang lengang itu menatap mereka. Suami dan anak lelaki wanita itu berseri-seri.

Kami tidak tinggal lama-lama setelah itu, tapi kamar yang semula sunyi itu sekarang dipenuhi kehangatan. Bagi aku dan Sherry, kunjungan ini merupakan kunjungan yang saling menyayangi. Tapi ketika dengan antusias kami menceritakan pada perawat tentang si pasien yang bicara dan memeluk Mac, si perawat menyela, "Anda pasti masuk ke kamar yang salah." Kami menyebutnya nama dan nomor kamar itu. Si perawat tertegun.

"Ada apa?" tanya Sherry.

"Aku jadi merinding," sahut si perawat.

Kemudian ia menjelaskan bahwa pasien di kamar itu sakit sangat parah. Hanya lima persen otaknya yang berfungsi. Ketika ia baru datang, pihak rumah sakit merasa ia tidak bakal bisa bertahan satu malampun. Pasien itu sudah seminggu berada disini, tapi belum pernah tersadar---dan ia memang tidak diharapkan akan tersadar. Keluarga dan teman-teman menungguinya sepanjang waktu. Sekarang giliran kami yang merinding mendengar cerita ini.

Ketika si perawat bergegas ke lorong untuk memeriksa keadaan pasiennya, kami melihat si ayah dan anak lelakinya berpelukan erat di luar kamar. Mereka begitu bahagia. Kami membalikkan tubuh dan menatap Mac dan Jake yang tertidur nyenyak di tengah-tengah tempat jaga perawat. Kurasa membawa keajaiban memang melelahkan.

Aku merasa begitu beruntung karena masih ditemani oleh Jake selama enam tahun berikutnya, dan aku merasa berterima kasih untuk setiap detik yang kami lewati bersama-sama. Anjingku dan anjing-anjing lain yang seperti dia, mempunyai kekuatan yang membuatku takjub. Jake menemani orang-orang yang sedang menjelang ajal. Ia mendengarkan ketika seorang ibu muda menghafalkan kata-kata yang akan ia ucapkan pada anak-anaknya, untuk memberitahu mereka bahwa ia tidak akan bisa mendampingi mereka lagi dalam kebahagiaan ataupun menghibur mereka dalam kesedihan. Jake mempunyai kesanggupan untuk membantu pasien-pasien mengatasi kesakitan yang bahkan tak bisa diredakan lagi oleh morfin. Ia juga menghibur para anggota keluarga yang sedang mengucapkan selamat jalan pada orang-orang tercinta.

Aku merasa begitu beruntung bisa menjadi bagian dari tim terapi kami, bukan hanya karena aku menyaksikan apa-apa yang sanggup dilakukan oleh Jake, tapi juga karena karena aku mempunyai suara untuk menceritakannya, untuk mensyukurinya, selama masa hidupnya dan bahkan sekarang, lama setelah ia berpulang. Apa yang ingin kukatakan sederhana saja: Anjingku Jake menciptakan keajaiban dengan kasih sayangnya.

Terry Perret Martin.


Sekilas tentang penulis:
Terry Perret Martin adalah penulis lepas dan orangtua tunggal untuk anak perempuannya, Sophia, yang berumur tiga tahun. Ia menjalankan perusahaan publisitas / business writing-nya dari rumah, bersama kucingnya di pangkuan dan kedua ekor anjingnya yang tidur di bawah meja. Ia dan ayahnya, yang merupakan penulis komedi pemenang Emmy Award, telah menciptakan the Professional Commedy Writing Correspondence Course.

(Chicken Soup for the Cat & Dog Lover's Soul)



KEBAHAGIAAN
Seorang kaya meminta kepada guru Zen untuk menuliskan sesuatu yang bisa membawa kemakmuran dan kebahagiaan untuk keluarganya di tahun-tahun yang akan datang.
Kata-kata yang bisa membuat keluarganya berbahagia dari generasi ke generasi. Di selembar kertas yang besar, sang Guru menulis, "Ayah mati, Anak mati, Cucu mati."
Si orang kaya menjadi marah ketika ia melihat hasil karya sang Guru. "Aku meminta padamu untuk menuliskan sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan dan kemakmuran untuk keluargaku, mengapa engkau memberiku kata-kata yang seperti ini?"
"Jika anakmu mati sebelum engkau," jawab sang Guru, "ini akan membawa kesedihan yang tak tertahankan bagi keluargamu. Jika cucumu meninggal sebelum anakmu, hal ini juga akan membawa kesedihan yang amat dalam. Jika keluargamu, dari generasi ke generasi, 'hilang' sesuai urutan yang aku sebutkan, itu merupakan hal yang alami dalam kehidupan. Ini adalah kebahagiaan sejati."

(Author Unknown)


THE SMELL OF RAIN
A cold March wind danced around the dead of night in Dallas as the
doctor walked into the small hospital room of Diana Blessing.
Still groggy from surgery, her husband David held her hand as they braced
themselves for the latest news.

That afternoon of March 10, 1991, complications had forced Diana, only
24-weeks pregnant, to undergo an emergency cesarean to deliver the
couple's new daughter, Danae Lu Blessing.

At 12 inches long and weighing only one pound and nine ounces, they
already knew she was perilously premature. Still, the doctor's soft
words dropped like bombs. "I don't think she's going to make it," he
said, as kindly as he could. "There's only a 10-percent chance she will
live through the night, and even then, if by some slim chance she does
make it, her future could be a very cruel one."

Numb with disbelief, David and Diana listened as the doctor described
the devastating problems Danae would likely face if she survived.
She would never walk; she would never talk; she would probably be
blind; she would certainly be prone to other catastrophic conditions from
cerebral palsy to complete mental retardation; and on and on.

"No! No!" was all Diana could say. She and David with their 5-year-old
son Dustin, had long dreamed of the day they would have a daughter to
become a family of four. Now, within a matter of hours, that dream was
slipping away.

Through the dark hours of morning as Danae held onto life by the
thinnest thread. Diana slipped in and out of drugged sleep, growing
more and more determined that their tiny daughter would live and
live to be a healthy, happy young girl. But David, fully awake and
listening to additional dire details of their daughter's chances of ever
leaving the hospital alive, much less healthy, knew he must confront his
wife with the inevitable.

"David walked in and said that we needed to talk about making funeral
arrangements," Diana remembers, "I felt so bad for him because he was
doing everything, trying to include me in what was going on, but I just
wouldn't listen, I couldn't listen.

I said, "No, that is not going to happen, no way! I don't care what the
doctors say. Danae is not going to die! One day she will be just fine,
and she will be coming home with us!"

As if willed to live by Diana's determination, Danae clung to life hour
after hour, with the help of every medical machine and marvel her
miniature body could endure but as those first days passed, a new agony
set in for David and Diana. Because Danae's underdeveloped nervous
system was essentially "raw", the lightest kiss or caress only
intensified her discomfort - so they couldn't even cradle their tiny
baby girl against their chests to offer the strength of their love. All
they could do, as Danae struggled alone beneath the ultra-violet light
in the tangle of tubes and wires, was to pray that God would stay close
to their precious little girl. There was never a moment when Danae
suddenly grew stronger. But as the weeks went by, she did slowly
gain an ounce of weight here and an ounce of strength there.

At last, when Danae turned two months old, her parents were able to
hold her in their arms for the very first time. And two months later
though doctors continued to gently but grimly warn that her chances of
surviving, much less living any kind of normal life, were next to zero.

Danae went home from the hospital, just as her mother had predicted.
Today, five years later, Danae is a petite but feisty young girl with
glittering gray eyes and an unquenchable zest for life. She shows no
signs, whatsoever, of any mental or physical impairments. Simply,
she is everything a little girl can be and more but that happy ending
is far from the end of her story.

One blistering afternoon in the summer of 1996 near her home in Irving,
Texas, Danae was sitting in her mother's lap in the bleachers of a local
ball park where her brother Dustin's baseball team was practicing.
As always, Danae was chattering non-stop with her mother and several
other adults sitting nearby when she suddenly fell silent.

Hugging her arms across her chest, Danae asked, "Do you smell that?"

Smelling the air and detecting the approach of a thunderstorm, Diana
replied, "Yes, it smells like rain."

Danae closed her eyes and again asked, "Do you smell that?"

Once again, her mother replied, "Yes, I think we're about to get
wet, it smells like rain."

Still caught in the moment, Danae shook her head, patted her thin
shoulders with her small hands and loudly announced, "No, it smells
like Him. It smells like God when you lay your head on His chest."

Tears blurred Diana's eyes as Danae then happily hopped down to
play with the other children.

Before the rains came, her daughter's words confirmed what Diana
and all the members of the extended Blessing family had known, at
least in their hearts, all along.

During those long days and nights of her first two months of her life,
when her nerves were too sensitive for them to touch her, God was
holding Danae on His chest and it is His loving scent that she
remembers so well.

 Author Unknown



THE CHRISTMAS ROSES
Andy was getting cold sitting out in his back yard in the snow. Andy didn't wear boots; he didn't like them and anyway he didn't own any. The thin sneakers he wore had a few holes in them and they did a poor job of keeping out the cold. Andy had been in his backyard for about an hour already. And, try as he might, he could not come up with an idea for his mother's Christmas gift. He shook his head as he thought, "This is useless, even if I do come up with an idea, I don't have any money to spend."
Ever since his father had passed away three years ago, the family of five had struggled. It wasn't because his mother didn't care, or try, there just never seemed to be enough. She worked nights at the hospital, but the small wage that she was earning could only be stretched so far. What the family lacked in money and material things, they more than made up for in love and family unity. Andy, the only boy in the family, had three sisters, two older and one younger. His older sisters ran the household in their mother's absence. All three of his sisters had already made beautiful gifts for their mother. Somehow it just wasn't fair. Here it was Christmas Eve already, and he had nothing.

Wiping a tear from his eye, Andy kicked the snow and started to walk down to the street where the shops and stores were. It wasn't easy being six without a father, especially when he needed a man to talk to. Andy walked from shop to shop, looking into each decorated window. Everything seemed so beautiful and so out of reach. It was starting to get dark and Andy reluctantly turned to walk home when suddenly his eyes caught the glimmer
of the setting sun's rays reflecting off of something along the curb. He reached down and discovered a shiny dime. Never before has anyone felt so wealthy as Andy felt at that moment. As he held his new found treasure, a warmth spread throughout his entire body and he walked into the first store he saw. His excitement quickly turned cold when salesperson after salesperson told him that he could not buy anything with only a dime. He saw a flower shop and went inside to wait in line.

When the shop owner asked if he could help him, Andy presented the dime and asked if he could buy one flower for his mother's Christmas gift. The shop owner looked at Andy and his ten cent offering. Then he put his hand on Andy's shoulder and said to him, "You just wait here and I'll see what I can do for you." As Andy waited, he looked at the beautiful flowers and even though he was a boy, he could see why mothers and girls liked flowers.
The sound of the door closing as the last customer left jolted Andy back to reality. All alone in the shop, Andy began to feel alone and afraid.
Suddenly the shop owner came out and moved to the counter.

There, before Andy's eyes, lay twelve long stem, red roses, with leaves of green and tiny white flowers all tied together with a big silver bow. Andy's heart sank as the owner picked them up and placed them gently into a long white box. "That will be ten cents young man." The shop owner said reaching out his hand for the dime. Slowly, Andy moved his hand to give the man his dime. Could this be true? No one else would give him a thing for his dime! Sensing the boy's reluctance, the shop owner added, "I just happened to have some roses on sale for ten cents a dozen. Would you like them?" This time Andy did not hesitate, and when the man placed the long box into his hands, he knew it was true. Walking out the door that the owner was holding for Andy, he heard the shop keeper say, "Merry Christmas, son."

As he returned inside, the shop keeper's wife walked out. "Who were you talking to back there and where are the roses you were fixing?" Staring out the window, and blinking the tears from his own eyes, he replied, "A strange thing happened to me this morning. While I was setting up things to open the shop, I thought I heard a voice telling me to set aside a dozen of my best roses for a special gift. I wasn't sure at the time whether I had lost my mind or what, but I set them aside anyway. Then just a few minutes ago, a little boy came into the shop and wanted to buy a flower for his mother with one small dime. When I looked at him, I saw myself, many years ago. I too was a poor boy with nothing to buy my mother a Christmas gift. A bearded man, whom I never knew, stopped me on the street and told me that he wanted to give me ten dollars. When I saw that little boy tonight, I knew who that voice was, and I put together a dozen of my very best roses."

The shop owner and his wife hugged each other tightly, and as they stepped out into the bitter cold air, they somehow didn't feel cold at all.

Author Unknown


SEPATU BERWARNA EMAS
Hari ini, 4 hari sebelum hari natal, suasana Natal belum terasa dalam hati saya. Mobil-mobil sudah menjejali pertokoan yang sudah mulai memberikan potongan harga. Di dalam toko malah lebih parah, kereta barang dan pembeli antri pada kasir. Saya heran kenapa saya mau datang hari ini. Kaki saya sudah pegal, dan begitu pula kepala saya sudah pening.
Dalam daftar belanjaan saya berisi nama-nama teman yang mengatakan bahwa
mereka tidak perlu apa-apa. Tetapi saya pikir, mereka akan tersinggung jika saya tidak memberikan sesuatu kepada mereka. Mereka sudah mempunyai barang-barang yang mereka butuhkan, dan juga harganya mahal-mahal. Saya memutuskan membelikan hadiah yang lucu kepada mereka.
Secepatnya, saya mengisi kereta barang dengan barang-barang yang saya ingin beli, dan langsung ikut antri untuk membayar. Saya memilih antrian yang paling pendek, tetapi tetap saja membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai kasir.
Di depan saya, ikut antri 2 anak kecil, yang laki-laki berumur sekitar 5 tahun, dan yang perempuan lebih kecil. Anak laki-laki tersebut memakai baju hangat yang lusuh, celana jeans yang kependekan, dan memakai sepatu kets kebesaran. Sedang adiknya, memakai baju yang sama dengan kakaknya.
Adiknya, membawa sepasang sepatu wanita berwarna emas yang bagus dan mengkilap.
Lagu Natal terdengar di dalam toko tersebut, dan anak perempuan tersebut ikut menyanyikannya dengan perlahan-lahan dan gembira, walaupun dengan suara yang sumbang. Akhirnya kamipun sampai ke depan kasir. Anak perempuan tsb dengan hati-hati meletakkan sepatu tersebut di depan kasir, seperti menjaga harta karun.
Kasir tersebut menghitung, dan berkata, "Harganya 25.000 rupiah". Anak laki-laki tersebut mengeluarkan semua uang dari kantung celananya, meletakkannya di meja kasir dan menghitungnya, dan ternyata jumlahnya hanya ada 12.500 rupiah. Lalu kata anak laki-laki tersebut kepada adiknya, "Dik, kukira kita harus menaruhnya kembali..." dengan suara
yang sedih. "Kita akan datang lagi kapan-kapan, mungkin besok".
Mendengar hal tsb, adiknya tersedu, dan mengatakan, "Tetapi Yesus akan suka akan sepatu ini."
Jawab kakaknya, "Ya... Kita pulang dulu, bekerja lagi.... Jangan menangis, kita akan kembali besok..."
Lalu saya katakan kepada kasir bahwa kekurangan anak tersebut saya yang akan bayar. Anak itu sudah menunggu lama untuk mendapatkan sepatu tersebut, dan lagipula masa ini adalah masa Natal. Tiba-tiba, sepasang tangan menyentuh tangan saya, dan anak perempuan itu mengatakan, "Terima kasih Bu...."
Saya menanyakan kepada anak itu, "Kenapa kamu katakan bahwa Yesus akan suka kepada sepatu itu?"
Kakaknya menjawab, "Ibu saya sedang sakit, dan akan pergi ke surga...
Dan ayah saya mengatakan bahwa Ibu saya mungkin sebelum hari Natal sudah pergi, untuk bertemu Yesus."
Adik perempuannya berkata, "Guru sekolah Minggu saya mengatakan, di surga, jalannya terbuat dari emas, seperti sepatu itu. Bukankah ibu saya akan cantik sekali jalan di surga dengan sepatu yang sesuai?"
Mata saya berkaca-kaca ketika saya melihat air mata anak perempuan itu mengalir di pipinya. "Ya.... Saya yakin ibumu akan cantik sekali..."
Di dalam hati saya berterima kasih kepada Tuhan memakai anak tersebut dan mengingatkan saya untuk dapat "memberi dengan tulus hati".


PROYEK POHON NATAL
Rencana itu pada dasarnya cukup sederhana. Gereja Baptis di Stockton, California, akan menaruh pohon Natal setinggi 2 meter di dekat mimbar. Hiasan untuk pohon itu dibuat oleh anak-anak SekolahMinggu. Di bagian belakang, setiap hiasan tercantum nama keluarga atau nama orang yang memerlukan bantuan. Jemaat dari Gereja Baptis dengan sukarela akan "mengadopsi" salah satu keluarga yang kurang mampu ini selama masa Natal.

Proyek yang disebut Proyek Pohon Natal ini telah dicoba setahun yang lalu oleh salah satu kelas Sekolah Minggu. Selama masa Natal 1984, William D. Webber, pendeta senior, mengharapkan peran serta dari 700 jemaat gerejanya.

Panitia Pelayanan Masyarakat telah menetapkan sasaran 110 keluarga asuh yang perlu "diadopsi" oleh 110 keluarga jemaat Gereja Baptis. Tetapi, waktu proyek ini dimulai, timbul masalah aneh. Jemaat Gereja Baptis adalah jemaat yang mapan -- terdiri atas masyarakat kelas menengah atas. Kebutuhan apakah yang diperlukan oleh keluarga- keluarga itu? Dan, di mana menemukan 110 keluarga yang kurang mampu?

Mark dan Valerie Turner, ketua proyek itu, berkata, "Kita bahkan tidak tahu, ada berapa banyak keluarga di luar gereja yang kebutuhannya tidak terpenuhi. Kita buta terhadap apa yang terjadi di Stockton."

Kota metropolitan Stockton berpenduduk hampir 350.000 orang. Kota itu terletak di Pegunungan California Tengah, salah satu daerah pertanian yang paling subur di dunia, yang terkenal akan sayuran dan buah anggurnya. Jalur pelayanannya menghubungkan Pelabuhan Stockton dengan Teluk San Fransisco sehingga Stockton menjadi pusat pelayanan utama. Selama musim panen, ladang-ladang dan dermaga-dermaga ramai dengan aktivitas.

Tetapi, di antara musim-musim panen terdapat kisah yang menyedihkan. Pada masa ini, ribuan pekerja ladang tidak mempunyai pekerjaan; persentasinya mencapai 25%. Orang-orang yang tidak bekerja ini, umumnya, tinggal di daerah terpencil di Stockton, jauh dari lingkungan keluarga Gereja Baptis. Waktu anggota gereja menghubungi wakil anggota masyarakat, mereka mulai melihat sisi yang menyedihkan dari kota mereka. Mereka segera menyadari bahwa tidak sulit menemukan 110 keluarga yang kurang mampu.

Telepon dan kartu mulai melimpah. Kata Mark Turner, "Sering kami menjumpai lima sampai sepuluh orang anak tinggal bersama orangtua, kakek dan nenek, anjing dan kucing -- emuanya dalam satu pondok yang terdiri atas dua atau tiga kamar sempit. Meskipun begitu,
permintaan mereka sangat sederhana. Orangtua jarang menginginkan sesuatu untuk mereka sendiri. Salah seorang janda tua hanya meminta sepasang sandal untuk dipakai di rumah. Seorang pria menulis, dia hanya berharap diberi air destilasi -- yang tidak bisa dibelinya --
untuk mesin dialisis ginjalnya."

Setelah mengetahui keadaan tersebut, anggota-anggota gereja mulai bekerja. Mula-mula, anak-anak membuat 110 hiasan yang merupakan daftar keluarga-keluarga yang kurang mampu, lalu menggantung hiasan itu pada pohon Natal. Hiasan-hiasan itu akan diambil oleh keluarga- keluarga gereja, yang akan mencatat kebutuhan keluarga "asuh" mereka, lalu mereka akan memenuhinya.

Ada beberapa keluarga Gereja Baptis yang sudah pensiun atau sedang mengalami masalah keuangan. Jadi, keluarga-keluarga ini memilih keluarga-keluarga yang memerlukan pelayanan, bukan barang yang harus dibeli, atau mereka bergabung dengan anggota gereja yang lain.
Persahabatan terjalin selama proyek itu berjalan.

Satu minggu sebelum Natal, seluruh anggota gereja berkumpul untuk Kebaktian Pengabdian. Hadiah-hadiah dibawa ke depan dan diletakkan di bawah pohon Natal. Mark Turner berkata, "Tidak ada seorang pun yang membayangkan, ada begitu banyak hadiah -- semuanya terbungkus dengan indahnya. Di dekat mimbar ini penuh dengan ratusan hadiah."

Tujuh hari sebelum Natal merupakan waktu pengiriman. Satu kelompok yang terdiri atas para relawan bertugas membagikan hadiah-hadiah ke seluruh daerah Stockton. Tetapi sekarang, sisi lain dari Proyek Pohon Natal ini menjadi jelas. Proyek ini juga membantu keluarga- keluarga di dalam gereja dengan cara yang tidak terduga.

Misalnya keluarga Regina Williams. Regina dan anak-anaknya, Michael yang berumur empat belas tahun, dan Jennifer, empat tahun, sudah lama hidup dalam kemiskinan. Cek dari suaminya yang cacat merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka. Pada waktu Natal 1984 semakin dekat, Regina merasa tertekan. Sekali lagi, ia tidak akan dapat memenuhi keinginan anak-anaknya.

Waktu Proyek Pohon Natal diumumkan di gerejanya, Regina mula-mula merasa semakin tertekan. Gereja Baptis merupakan salah satu tempat yang menyenangkan baginya, dan ia ingin sekali menjadi anggota yang ikut berperan aktif dalam Proyek Pohon Natal. Tetapi karena ia sendiri kurang mampu, bagaimana ia dapat membantu orang lain?

Akhirnya, dengan gembira Regina memutuskan untuk ikut menjadi anggota bagian pengiriman. Pada suatu hari, waktu ia bekerja dengan John dan Leah Lewis, mereka berhenti pada alamat yang salah. Tetapi dengan demikian, mereka menemukan keluarga yang sangat kekurangan.

"Saya tahu dari dalam hati saya bahwa Tuhan telah memimpin kami ke sana karena satu alasan," kata Regina. "Di tempat itu ada 12 anak yang tinggal dengan orangtuanya hanya dalam dua kamar. Mereka tidak mempunyai apa-apa. Tidak ada pohon Natal, tidak ada mainan, bahkan hampir tidak ada makanan. Keadaan mereka menyentuh hati saya. Malam itu saya pulang ke rumah dan berkata kepada keluarga saya, "Saya rasa, Tuhan ingin supaya kita dapat membantu mereka. Marilah kita pikirkan apa yang dapat kita lakukan."

Banyak yang mereka lakukan. Mereka mencari perabotan rumah tangga dan mainan yang mungkin diperlukan keluarga "asuh" itu. Mereka mengajak orang lain di lingkungan mereka dan bersama-sama mereka mengunjungi toko-toko murah dan tempat-tempat yang menjual barang- barang bekas. Anak-anak Regina membujuk seorang guru supaya keluarga asuh itu juga menjadi proyek kelasnya. Bahkan, ibu Regina yang juga tidak mampu, ikut ambil bagian. Waktu semua hadiah sudah dikirim, tumpukan hadiah itu membentuk sebuah gundukan kecil.

"Hal itu membuka mata kita untuk menyadari bahwa banyak kebutuhan orang lain yang dapat dipenuhi dari keadaan kita meskipun kita kurang mampu," kata Regina. "Keluarga yang kurang mampu itu tentu sangat senang menerima semua hadiah, tetapi saya rasa keluarga saya sama senangnya karena dapat memberi."

Regina tidak lagi merasa takut karena tidak dapat membahagiakan anak-anaknya pada hari Natal. Dan anak-anaknya tidak lagi merasa Natal hanya merupakan masa dimana kerinduan tidak terpenuhi. Dengan menggapai ke luar, dengan menawarkan kasih kepada orang lain, mereka membawa kasih yang baru ke dalam keluarga mereka.

Keluarga Williams bukan satu-satunya anggota Gereja Baptis yang mengalami mata air kasih yang melimpah. Banyak keluarga lain yang mengalami pembaruan yang serupa. Semuanya membuktikan, pesan utama dari Proyek Pohon Natal, yaitu bahwa proyek penjangkauan ke luar gereja dapat sekaligus menolong keluarga di dalam gereja.

Sebenarnya, proyek itu menimbulkan pengaruh yang menguntungkan bagi Gereja Baptis seutuhnya. "Pada bulan November 1984," kata Pendeta Webber, "gereja telah terbiasa untuk tidak mau tahu masalah orang lain. Sukar sekali mendorong orang supaya bersemangat dalam segala hal. Anggaran keuangan kami terbatas dan setiap minggu uang kolekte terus menurun. Tetapi Proyek Pohon Natal merupakan titik balik yang besar bagi kita. Gereja kita telah memperlihatkan kemurahan yang menakjubkan, yang melimpah, dan meluap. Dan kemurahan hati tidak dimulai dan berakhir dengan proyek itu. Defisit kita dalam waktu singkat sudah sirna. Sebaiknya pelayanan tetap dijalankan. Pujian kepada Allah terus dinaikkan."

Sekali lagi, pesannya jelas: Keluarga -- termasuk keluarga dalam gereja -- dikuatkan dengan menjangkau ke luar.
(Susan Devore Williams)


DUA BATA JELEK
etelah kami membeli tanah untuk vihara kami di tahun 1983, kami kehabisan uang. Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas tanah, gubuk pun tidak. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu tua yang dibeli dengan murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas tumpukan batu bata di setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas tanah. (Tidak ada matras, tentunya kami adalah bhikkhu hutan).

Kepala vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang dengan lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena pegangan pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di tengah-tengah pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan sekarang saya tidak perlu meninggalkan pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam itu.

Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak bisa membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan batu bata, membangun atap, langit-langit semuanya. Saya dulunya ahli fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam, tidak terbiasa kerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup mahir dalam bertukang, bahkan saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC (Buddhist Building Company - Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat saya memulainya, pekerjaan itu sangat sulit.

Kelihatannya memang mudah untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok semen di bawah, ketok sini, ketok sana. Sewaktu saya mencoba melakukannya, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu saya ketok sisi tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi. Coba saja sendiri!

Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak, sebanyak yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya menyelesaikan tembok saya yang pertama dan berdiri di
depan untuk mengaguminya. Saat itulah saya menyadari celaka! saya melupakan dua batu bata. Semua batu bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini terpasang miring. Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh tembok. Kelihatan kacau.

Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata tersebut, maka saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya bisa merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari awal kalau perlu, meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu. Kepala vihara berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.

Sewaktu saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat pembangunan vihara, saya selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat tembok tersebut. Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar tiga atau empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

"Tembok yang indah," katanya dengan santai.

"Pak," saya menjawab dengan kaget, "Apakah kacamata anda ketinggalan di mobil? Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat dua batu bata yang merusak keseluruhan tembok itu?"

Apa yang dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara keseluruhan mengenai tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai aspek-aspek lain mengenai hidup. Dia berkata, "Ya. Saya bisa melihat dua batu bata miring itu. Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di sini."

Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa "melihat" batu bata-batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut. Di atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang terpasang dengan baik, sempurna. Lagipula, batu bata yang terpasang sempurna jauh lebih, lebih banyak daripada dua batu bata yang jelek tadi. Sebelumnya, mata saya akan berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi. Saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya.
Itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, atau memperlihatkannya kepada orang lain.
Itulah sebabnya mengapa saya ingin menghancurkannya.
Sekarang saya dapat melihat batu bata lain yang baik, temboknya juga tidaklah terlalu jelek. Buktinya satu pengunjung berkata, "Tembok yang indah".
Tembok itu masih ada di sana sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di mana tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar tidak dapat melihatnya lagi.

Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau bahkan bercerai karena apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah "dua batu bata jelek" Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah "dua batu bata jelek". Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang sempurna di atas, bawah, kiri dan kanannya tapi seringkali kita tidak bisa melihatnya. Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya berfokus pada kesalahan. Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa hanya kesalahan yang ada, maka kita ingin untuk menghancurkan nya. Dan kadang, menyedihkan, kita benar-benar menghancurkan "tembok yang indah" tersebut.

Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu bata yang terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah terlihat terlalu buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama dengan pasangan. Mungkin ini adalah kabar buruk bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah kabar baik bagi anda.

Saya telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan, seorang pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia profesinya.

"Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tapi kami mengatakan kepada klien bahwa ini adalah 'fitur unik' yang tidak terdapat di rumah lain pada perumahan yang sejenis. Dan kami menagih bayaran extra ribuan dollar untuk itu!"

Jadi 'fitur unik' di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi 'fitur unik', memperkaya waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.

Ditulis oleh Ajahn Brahm
Wednesday, 01 December 2004


SIAPA YANG BENAR
Ada dua orang bersahabat sedang berjalan bersama di pedesaan. Satu orang
beragama Buddha dan satu orang beragama Katolik. Ketika sedang asik
ngobrol, di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh penampakan wujud
suci seorang wanita sangat anggun dan agung. Ia berpesan kepada kedua
sahabat itu untuk bekerjasama mewujudkan perdamaian dunia. Setelah
berpesan sosok suci itu menghilang.

Kedua bersaudara itu terdiam sejenak, lalu terjadilah perdebatan
diantara mereka.

Buddhist : Dia pastilah Guan Yin (Kwan Im), sungguh suci dan agung dia.
Ya ya, Semoga seluruh mahluk berbahagia.
Katolik : Bukan pastilah ia Bunda Maria, ibu Yesus Kristus penebus
dunia.

Mulailah mereka berdebat mempeributkan siapakah wujud suci itu. Ditengah
perdebatan itu, mereka bertemu dengan seorang bijak, dan mereka meminta
pendapatnya, dan menanyakan siapakah yang benar diantara mereka. Orang
bijak itu bertanya pada mereka.

Orang Bijak : Apakah wanita suci itu berkata pada kalian siapa dia?
Dua bersahabat : Tidak.
Orang Bijak : Apakah kalian pernah melihat wajah Guan Yin / Bunda
Maria secara langsung?
Dua bersahabat : Sebelumnya tidak, mungkin dia.
Orang Bijak : Karena itu, kalau kalian saja tidak yakin siapa dia,
untuk apa memperdebatkannya? Cukup jalankan saja nasehatnya
Masih banyak yang perlu dilakukan daripada hanya
mempeributkan siapa yang benar.


Sekedar Renungan

Jamal Senjaya


AMPLOP PUTIH YANG SANGAT BERARTI
ika semua orang mengharapkan hadiah Natal berupa barang-barang yang mahal dan indah, tidak demikian dengan Mike. Hadiah Natal untuk Mike bukanlah berupa kado yang terbungkus manis dengan menggunakan pita. Hadiah itu hanyalah berupa amplop putih yang kemudian diletakkan di antara ranting-ranting pohon Natal. Anak-anaknya pun melakukan hal yang sama Mike, ayah yang baik hati itu. Apakah isi amplop itu? Isinya hanyalah sebuah surat istimewa untuk sang suami dan ayah tercinta itu. Mungkin Anda heran mengapa hadiah Natal yang istimewa itu hanya berupa sebuah surat. Namun keheranan Anda pasti akan lenyap jika Anda melanjutkan membaca kisah ini.

Tradisi ini dimulai beberapa tahun yang lalu. Saat itu Mike, suami dan ayah yang baik itu tidak lagi menyukai Natal, bukan pada makna Natal itu tetapi karena Natal telah dikomersialkan. Orang beramai-ramai mengunjungi toko-toko yang biasanya mengadakan cuci gudang untuk mencari sesuatu yang istimewa untuk dihadiahkan pada keluarganya. Rupa-rupanya Mike sudah merasa bosan dengan tradisi seperti ini. Oleh karenanya sejak tahun itu istrinya tidak
lagi menghadiahkan kemeja, sweater atau dasi seperti biasanya. Istri Mike berusaha mencari hadiah lain yang special dan bisa menyenangkan hatinya.
Inspirasi itu datang ketika mereka berdua sedang menghadiri pertandingan wrestling (gulat) antara sekolah Kevin, anak mereka yang saat itu berusia 12 tahun, melawan tim yang disponsori oleh sebuah gereja yang terletak di pusat kota yang sebagian besar anggotanya berkulit hitam.

Anak-anak muda ini hanya menggunakan sepatu kets yang sudah hampir rusak.
Hanya tali sepatu yang bisa mengikat kaki mereka. Pemandangan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan tim sekolah Kevin yang menggunakan seragam warna emas dan sepatu gulat baru dan terlihat mengkilat. Ketika pertandingan akan dimulai, Mike melihat tim yang sebagian besar anggotanya berkulit hitam itu tidak menggunakan tutup kepala berupa semacam helm ringan untuk melindungi telinga si pegulat. Setelah melalui pertarungan yang cukup ketat, akhirnya tim yang disponsori oleh gereja itu kalah. Mike yang duduk di
samping istrinya itu berkata dengan nada sedih, "Aku berharap salah satu dari mereka menang. Mereka punya banyak potensi tetapi kalah dengan cara seperti ini akan membuat mereka putus asa." Mike memang sangat cinta dengan anak-anak. Ucapan Mike itu mendatangkan ide bagi istrinya untuk memberikan hadiah Natal yang istimewa untuknya.

Keesokan harinya, sang istri yang sangat mencintai suaminya ini pergi ke toko alat-alat olah raga untuk membeli penutup kepala dan sepatu gulat.
Kemudian dia mengirimkannya ke gereja yang menjadi sponsor tim yang dikalahkan oleh sekolah Kevin itu. Pada malam Natal, dia meletakkan amplop putih di pohon Natal kami. Amplop itu berisi catatan kecil dari yang menceritakan tentang hal yang baru saja dilakukannya dan menjadikan itu sebagai hadiah Natal untuk Mike. Ketika Mike membaca surat itu, dia langsung tersenyum lebar dan wajahnya terlihat sangat gembira. Senyum itu merupakan senyum Mike yang paling cerah sepanjang perayaan Natal keluarga itu.
Kebiasaan itu mereka lakukan setiap tahun. Setiap Natal tiba, istri Mike selalu memikirkan tentang apa yang akan diperbuatnya untuk orang-orang papa.
Tahun berikutnya, dia membawa anak-anak yang cacat mental pergi melihat pertandingan hoki. Tahun depannya, dia memberikan sebuah check kepada sepasang kakak beradik yang sudah lanjut usia karena rumahnya terbakar dan rata dengan tanah menjelang Natal.

Amplop itu menjadi hal yang sangat penting dalam perayaan Natal keluarga mereka. Itu merupakan hadiah Natal yang paling akhir untuk dibuka. Anak-anak mereka pun malah mengabaikan mainan barunya, mereka akan berdiri dengan rasa penasaran menanti ayahnya membaca apa yang tertulis di amplop tersebut.
Akhirnya, Mike meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena penyakit kanker yang sangat ditakutinya. Namun tradisi itu masih tetap berlangsung, bahkan anak-anak mereka yang kini sudah dewasa pun melakukan hal yang sama.
Setiap malam Natal, istri Mike bersama anak-anaknya meletakkan amplop di ranting-ranting pohon Natal untuk Mike. Kami punya keinginan untuk terus melakukan kebiasaan ini. Kedatangan Yesus guna menebus dosa manusia memberi kesadaran bagi Mike dan keluarganya untuk saling berbagi dan memperhatikan orang-orang yang lemah. Semangat Natal ini selalu mewarnai kehidupan mereka.




KESAKSIAN PEMBUAT PERMEN
Seorang pembuat permen di Indiana ingin membuat suatu jenis permen yang dapat menjadi kesaksian bagi semua orang, lalu ia menciptakan Permen Tongkat Natal. Ia menggabungkan beberapa simbol untuk melambangkan kelahiran, pewartaan, sengsara dan wafat Yesus Kristus.

Ia mulai dengan sebatang permen putih bersih yang keras. Putih bersih melambangkan Santa Perawan yang Tak Bernoda dan kodrat Yesus yang tanpa dosa; permen yang keras melambangkan Batu Karang, dasar Gereja dan kegenapan Janji Allah.

Sang pembuat permen membentuk permennya serupa huruf "J" sebagai singkatan atas gelar agung yang diberikan kepada-Nya, "Juruselamat" umat manusia. Bentuk itu sekaligus melambangkan tongkat sang "Gembala Yang Baik". Dengan tongkat-Nya itu Ia menuruni ngarai-ngarai dan jurang-jurang dunia untuk mengangkat serta menyelamatkan domba-domba yang jatuh terperosok, domba-domba yang tersesat.

Pada permen yang putih polos itu, si pembuat permen mencoretkan tiga garis merah. Tiga garis merah tipis untuk melambangkan bilur-bilur akibat dera dan cambuk yang diderita Yesus; bilur-bilur yang dengannya kita disembuhkan.
Garis merah lebar melambangkan darah yang dicurahkan Kristus di kayu salib, sehingga kita beroleh janji akan kehidupan kekal.

Sayang sekali, bagi sebagian besar orang, permen itu kemudian lebih dikenal sebagai permen tongkat - dekorasi tanpa arti yang seringkali kita lihat pada masa Natal. Namun demikian, maknanya masih tetap sama bagi mereka yang "mempunyai mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar". Aku berdoa semoga simbol ini boleh dipergunakan kembali untuk menjadi saksi atas Yesus Kristus yang mengagumkan dan cinta kasih-Nya yang dahsyat bagi kita yang dilimpahkan-Nya pada hari Natal dan tetap menjadi kekuatan dan kuasa utama yang mendominasi seluruh jagad raya hingga saat ini.



CANGKIR CANTIK
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari
hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu,"
kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata
"belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu
ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari
sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali.
Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan
penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :

Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

"Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.

HATI ALLAH YANG HANCUR

Setelah satu minggu yang panjang mengajar dan memberi konseling di Norwegia, saya merasa "jenuh kepada orang".Saya menyukai pekerjaan saya, tetapi pada akhir minggu setelah setiap harinya melayani selama 18 jam, Saya sungguh ingin menyendiri.
Ketika turun dari taksi di muka bandar udara internasional Oslo, diam-diam saya menaikkan sebuah doa.Permintaan saya sederhana sekali:yang saya inginkan hanyalah sebuah tempat duduk sendirian di pesawat, dengan ruang yang cukup luas untuk meluruskan kaki saya yang panjang(tinggi saya 1,8 meter lebih) dan beristirahat sepanjang penerbangan pulang ke Amsterdam yang memakan waktu 3 jam.

Berjalan menelusuri lorong pesawat, dengan agak membungkuk supaya kepala saya tidak membentur langit-langitnya, saya menemuka sebaris tempat duduk yang kosong dekat pembatas, itu berarti saya punya ruang ekstra bagi kaki saya dan suatu penerbangan yang tenang.Saya tersenyum sendiri ketika saya membalikkan tubuh untuk duduk di kurdi pinggir dekat lorong, dan berpikir alangkah baiknya Tuhan, menjawab permintaan saya untuk memperoleh sedikit ketenangan dan istirahat."Tuhan mengerti betapa lelahnya saya," pikir saya.

Ketika saya meletakkan tas saya di bawah kursi di depan , seorang pria yang berpakaian sedikit kumal mendekat sambil tersenyum dan menyapa saya dengan suara keras:"Hei ! Orang Amerika ya?"
"Ya...ya benar," jawab saya dengan enggan.Saya mengambil tempat duduk di dekat lorong karena berpikir bahwa orang yang ingin duduk disebelah saya tentu mengalami sedikit kesulitan sebab harus melewati kaki saya yang panjang! Orang itu duduk di barisan belakang saya, tetapi saya tidak menaruh perhatian kepadanya dan mulai membaca.

Beberapa menit kemudian, kepala laki-laki itu muncul dari samping.
"Baca apa?" tanyanya sambil mengintip dibalik pundak saya.
"Alkitab," jawab saya agak tidak sabar.Apakah ia tidak melihat bahwa saya tidak ingin diganggu? Saya kembali bersandar ke belakang, tetapi beberapa menit kemudian mata yang sama kembali muncul dari balik kursi saya."Apa pekerjaan Anda? katanya.

Karena tidak mau terlibat dalam percakapan panjang, saya menjawab dengan singkat, "Sejenis pekerjaan sosial," kata saya dengan harapan ia tidak tertarik.
Saya merasa sedikit terganggu karena sudah tidak menceritakan yang sebenarnya, tetapi saya tidak berani mengatakan bahwa saya terlibat dalam membantu orang yang sengsara di jantung kota Amsterdam.Hal itu pasti akan memancing pertanyaan-pertanyaan lain.

"Boleh saya duduk di sebelah Anda?" ia bertanya sambil melangkahi kaki saya.Tampaknya ia mengabaikan usaha saya untuk tidak mengobrol dengannya.Mulutnya bau alkohol dan ludahnya memercik ketika ia berbicara, membasahi muka saya seperti hujan gerimis.
Sikapnya yang menjengkelkan itu membuat saya amat kesal. Ketidakpekaannya telah menggagalkan semua rencana saya untuk menikmati pagi yang tenang ini."Oh Tuhan," saya mengeluh dalam hati, "tolonglah saya"

Percakapan kami mulanya berjalan dengan lamban.Saya menjawab beberapa pertanyaan tentang pekerjaan kami di Amsterdam dan saya mulai bertanya-tanya mengapa laki-laki ini sangat ingin berbicara dengan saya.Ketika percakapan semakin berlanjut, saya mulai sadar bahwa sayalah yang kurang peka.
"Isteri saya seperti Anda," katanya kemudian."Ia berdoa bersama anak-anak, menyanyikan lagu untuk mereka dan mengajak mereka ke gereja."Sesungguhnya", katanya perlahan dengan mata yang mulai basah, " dialah satu-satunya kawan sejati yang pernah saya punyai"
"Pernah?" tanya saya."Mengapa Anda berkata tentangnya seperti itu?"

"Dia telah pergi." Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Ia meninggal tiga bulan yang lalu ketika melahirkan anak kami yang ke lima."Mengapa?", tanyanya dengan terisak, "mengapa Allahmu mengambilnya pergi?Isteri saya begitu baik.Mengapa bukan saya? Mengapa justru dia? Sekarang pemerintah mengatakan saya tidak cocok untuk mengurus anak-anak saya sendiri, dan mereka juga pergi."
Saya memegangi tangannya dan kami menangis bersama. Betapa egoisnya saya!!! Saya hanya memikirkan kebutuhan saya untuk beristirahat padahal laki-laki ini sangat membutuhkan pertolongan.
Ia melanjutkan kisahnya pada saya.Setelah isterinya meninggal, seorang pekerja sosial menganjurkan agar anak-anaknya di urus oleh negara.Ia begitu sedih sehingga tidak dapat bekerja, dan iapun kehilangan pekerjaannya.Hanya dalam beberapa minggu ia kehilangan isterinya, anak-anaknya dan pekerjaannya.Karena liburan tinggal beberapa minggu lagi, ia tidak tahan untuk merayakan Natal seorang diri.Sekarang ia sedang berusaha menghilangkan kesedihannya.

Ia terlalu pahit untuk dihibur.Ia telah dibesarkan oleh empat ayah tiri yang berbeda dan ia tidak pernah mengenal ayahnya yang sebenarnya.Mereka semua adalah laki-laki yang keras.Ketika saya menyinggung Allah, ia bereaksi dengan pahit, "Allah?" katanya, "Saya pikir kalau memang ada Allah, Dia pasti monster yang kejam!!!. Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih melakukan ini terhadapku?"
Ketika saya meneruskan pembicaran dengan orang yang terluka itu, Saya diingatkan kembali bahwa banyak orang di dunia ini yang tidak mengerti akan Allah yang merupakan seorang bapa yang penuh kasih.berbicara tentang allah Bapa yang penuh kasih hanya akan menimbulkan kepedihan danb kemarahan dalam hati mereka. Berbicara mengenai hati Allah sebagai bapa kepada mereka, tanpa merasakan kepediahan mereka, hampir sama dengan suatu tindakan kejam.

Satu-satunya cara saya dapat menjadi kawan laki-laki itu dalam perjalanan dari Oslo ke Amsterdam ialah dengan menjadi kasih Allah baginya. Saya tidak berusaha untuk memberi jawaban yang sempurna.Saya hanya membiarkannya marah lalau menawarkan minyak belas kasihan bagi luka-lukanya.Ia ingin percaya kepada Allah, tetapi jauh d idalam hatinya, rasa keadilannya telah diperkosa.

Ia membutuhkan seseorang yang dapat mengatakan bahwa tidak apa ia marah dan mengatakann kepadanya bahwa Allah juga marah terhadap ketidakadilan. Setelah Saya mendengarkannya dan mempedulikannya serta menangis bersamanya, ia siap mendengarkan kata-kata saya bahwa Allah lebih sedih daripada dirinya atas apa yang telah terjadi dengan isteri dan keluarganya.

Tak ada seorangpun yang pernah mengatakan kepadanya bahwa Allah juga mengenal; kepedihan hati yang hancur.
Ia mendengarkan dengan diam sementara saya jelaskan bagaimana ciptaan Allah begitu rusak karena dosa dan sikap egois, sehingga kini menjadi berbeda seluruhnya dari apa yang Ia ciptakan semula.

Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang kita semua pernah menanyakannya: mengapa ? mengapa Dia menciptakan sesuatu yang dapat jatuh dan menjadi rusak?Jika ia adalah Bapa yang penuh kasih, mengapa ia ijinkan segala penderitaan itu?

Kemudian saya membagikan beberapa jawaban yang telah menolong saya.
Banyak orang tidak dapat memahami bahwa ada Allah yang baik tetapi mengijinkan penderitaan. Namun jika tidak ada Allah yang berkepribadian kekal, penderitaan manusia kehilangan arti sama sekali. Jika tidak ada Allah, maka manusia hanyalah suatu produk yang kompleks dari suatu waktu dan kebetulan.--hanya merupakan suatu akibat dari proses evolusi.Jika itu benar, maka penderitaan hanyalah suatu masalah yang bersifat fisik dan kimiwai.

Jika tidak ada Allah, tidak akan ada kemurnian moral, dan tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa setiap bentuk penderitaan adalah salah secara moral.
Dengan menyangkal eksistensinya, manusia menyangkal arti kehidupan itu sendiri dan karenanya juga menyangkal dasar dari perkataan bahwa tidaklah benar bagi manusia untuk menderita.
Tanpa Allah kita bahkan tidak dapat mengajukan pertanyaan, "mengapa orang yang tidak bersalah menderita?" karena tidak ada yang disebut tidak bersalah.
Tidak bersalah mengandung arti salah, dan dan salah menyatakan secara tidak langsung bahwa ada hal-hal yang mutlak tidak benar secara moral.

Saya percaya menderita itu salah, dan fakta bahwa Allah itu ada mengijinkan saya untuk mengatakannya dengan tegas.Namun penegasan itu membawa kita kepada pertimbangan lain yang penting---bagaimana perasaan Allah terhadap penderitaan dan kejahatan di dalam ciptaanNya.
Alkitab berkata bahwa Dia sangat berduka di dalam hatinya.(Kejadian 6:5-6)

dari buku "The Father Hearth of God"
by: Floyd Mc Lung
Youth With A Mission
www.ywam.org


RASA KASIH TERLIHAT DALAM MATA ….
Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara,
berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim
dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan
tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang
dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari
mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa
penunggang kuda memutari tikungan.

Ia membiarkan beberapa kuda lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian.
Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang
terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju.

Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang...
dan ia pun berkata, "Tuan, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua
ini ke seberang ? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki."

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah."
Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku
dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda.

Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi
terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer. Selagi
mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang
kuda atas sesuatu, mendorongnya untuk bertanya,

"Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang2 kuda lain lewat, tanpa
berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin
seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir.
Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?"

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata
si penunggang kuda dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini.
Saya rasa saya cukup kenal dengan orang."

Si orang tua melanjutkan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan
langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti
percuma saja saya minta tumpangan.

Tapi waktu saya melihat matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas
ada pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan
menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya
membutuhkannya."

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan
dalam. "Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada
si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus masalah
saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain.."

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si penunggang kuda itu, memutar
kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

The Sower's Seeds - Brian Cavanaugh.

MULTI LEVEL KEBAIKAN
Ada teman yang pernah bertanya, "apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?"

Saya berikan dia dua jawaban, pertama, karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Kedua, saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain.

"Seseorang?" teman saya makin bingung.
Baiklah, saya akan perjelas. Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan.
Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya dan berhenti di tingkat dua saja. Biarlah tinggal mimpi, pikir saya.

Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah, ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal, saya katakan kondisi saya baik-baik saja. Tapi kuliah saya yang terancam gagal. Mendengar pengakuan saya, sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak.

Tanpa basa-basi, saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya.

Di akhir semester empat, saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya, "Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Kemudian ia memperjelas, Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lain miliki saat itu. demi kesembuhan ibunya, ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. Hingga akhirnya, ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu.

Terheran sahabat itu bertanya, "Kenapa kamu mau membantu saya?"
Jawabnya, "Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Menurut cerita sahabat saya, sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Setelah berterus terang, orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. kepada orang itu ia bertanya, "Anda sebelumnya tidak mengenal saya, kenapa Anda mau membantu saya?"

Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu, "Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?"

Orang tak dikenal itu menjawab, "Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan"

Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. Sungguh, saya tak pernah tahu. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain, saya akan berkata, "Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan"

Bayu Gautama

NILAI SEBUAH BENCANA
Selama sepuluh tahun Thomas Edison berusaha menemukan aki. Usahanya itu sangat menguras keuangannya. Kemudian pada Desember 1914 dia hampir mengalami kehancuran ketika tiba-tiba kebakaran terjadi di ruang filmnya.
Dalam sekejap, semua yang ada disana, seluloid untuk merekam, film dan barang-barang lain hangus terbakar menjadi abu. Meskipun pemadam kebakaran datang dari delapan penjuru kota, panas yang hebat dan tekanan air yang lemah tidak bisa mengurangi kobaran api. Segalanya hancur.

Sementara kerusakan gedung seharga lebih dari $2.000.000 dolar, yang diperkirakan tahan api, diasuransikan hanya sepersepuluh dari jumlah itu
Anak laki-laki ilmuwan itu yang berusia 24 tahun mencari ayahnya dengan sangat khawatir, takut jika ayahnya putus asa. Charles akhirnya menemukannya. Dengan tenang ayahnya menatap kebakaran itu, wajahnya bersinar cerah, rambutnya yang putih tertiup angin.

"Hati saya sedih melihatnya," kata Charles.
"Dia berusia 67 tahun, bukan lagi muda, dan semua yang dimilikinya habis dilalap api.

Ketika melihat ke arahku, dia berteriak, "Charles, di mana ibumu?"
Ketika saya katakan bahwa saya tidak tahu, dia berkata, "Cari dia! Ajaklah dia ke sini. Dia belum pernah melihat kejadian seperti ini selama hidupnya."

Pada pagi harinya, sambil menatap puing-puing, Edison berkata,"Terdapat harga yang sangat mahal dalam bencana ini. Semua kesalahan kita terbakar habis. Syukurlah kepada Tuhan karena kita bisa memulai sesuatu yang baru."
Tiga minggu setelah peristiwa kebakaran itu, Edison bisa menciptakan gramafon pertama.

PENGATURAN YANG TERBAIK
Di dalam sebuah gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan, maka orang yang secara khusus datang ke sana untuk berdoa, berlutut menyembah sangat banyak, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.
Di dalam gereja ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang berada di atas kayu salib yang setiap hari harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia merasa tidak tega dan berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus.
Pada suatu hari, ketika ia berdoa menyatakan kepada Yesus harapan tersebut.
Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara mengatakan, "Baiklah! Aku turun menggantikan kamu jaga pintu, kamu naik di paku di atas salib,namun tidak peduli apa yang kamu lihat dan dengar, jangan mengucapkan sepatah katapun." Orang tersebut merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengan seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib, karenanya orang-orang yang datang bersujud tidak mencurigainya. Penjaga pintu pun berdasarkan perjanjian sebelumnya, diam tidak berbicara, mendengarkan suara hati orang yang datang. Orang yang datang tiada henti, permintaan mereka, ada yang rasional, juga ada yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, biar bagaimanapun juga, ia tetap bertahan dan tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari, datang seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya, dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun ia menahan tidak bicara. Selanjutnya datang seorang miskin yang sehari makan 3 kali pun tidak mampu, ia berdoa agar Yesus dapat menolongnya melewati kesulitan hidup. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata didalam kantung itu semuanya uang.

Orang miskin itu bukan main gembiranya, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.
Di atas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun, sudah ada perjanjian sebelumnya, ia tetap menahan untuk tidak berbicara. Berikutnya, datang seorang pemuda yang akan berlayar jauh, ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak pergi, saudagar kaya menerjang masuk, mencengkeram baju si pemuda, memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya bertengkar.

Di saat demikian, di atas kayu salib "Yesus" akhirnya tidak tahan lalu bicara. Setelah mengetahui masalahnya, saudagar kaya kemudian pergi mencari orang miskin yang dilukiskan itu, dan si pemuda yang akan berlayar lalu bergegas pergi, karena khawatir ketinggalan kapal.
Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke kayu salib sambil mengatakan, "Kamu turunlah! Kamu tidak layak berada di sana."
Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan telah menangani keadilan, apakah salah?" "Kamu tahu apa?" kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di kantung itu hanya untuk dihambur-hamburkan.
Namun bagi orang miskin itu, dapat memecahkan masalah kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus
mempermasalahkannya sehingga waktu pelayarannya tertunda, ia masih dapat mempertahankan nyawanya, karena sekarang, kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Ini kedengarannya seperti sebuah kisah kiasan yang menggelikan, namun telah menyingkapkan sebuah rahasia kehidupan. Kita sering kali menganggap apa yang dilakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini. Kita harus percaya bahwa semua yang kita miliki saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan pengaturan yang terbaik untuk kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan, dan dalam kemalangan tetap memiliki kegembiraan.

Kehidupan tidak ada yang sempurna. Namun kita harus menerima kenyataan itu.
Sebait kata Mashi Luo mungkin bisa dijadikan sebagai renungan,
"Hati jika berubah, sikapmu akan ikut berubah.
Sikap berubah, kebiasaanmu juga ikut berubah.
Kebiasaan berubah, kepribadianmu juga ikut berubah.
Kepribadianmu berubah, kehidupanmu juga ikut berubah.
Bersyukur dalam keberuntungan, dalam kemalangan hati tetap memiliki rasa kegembiraan,
dengan sungguh-sungguh hidup pada keadaan saat itu juga."

saya viryanto wirawan, salam sukses untuk anda semua.

JANGAN TAKUT GAGAL…..UNTUK BERHASIL
From: "Herry Yanto"
Alkisah seorang Pedagang kaya di tanah Jawa ingin mengetahui mana dari ketiga anaknya yang siap menggantikannya kelak kalau ia meninggal dunia. Maka dipanggilnyalah ketiga anaknya itu ke hadapannya. Kepada masing-masing anak ia berikan satu uang logam yang bergambar burung merak di satu sisinya dan gambar kuda di sisi yang lain. "Anak-anakku, kalian akan aku ajak bermain," kata sang Pedagang, "Siapa yang mendapat angka tertinggi yang akan memenangkan permainan ini." Caraya gampang, lanjut Pedagang kaya itu, bahwa mereka masing-masing akan diberikan kesempatan untuk melemparkan koin itu ke atas dan apabila jatuh kembali dengan sisi koin bergambar kuda di atas, maka nilainya adalah 6. Sebaliknya kalau sisi gamnbar burung ada di atas maka nilainya akan menjadi -1. "Tetapi, kalau kalian tidak melemparkan koin itu, nilainya 2. Saya yang akan menentukan berapa kali kalian masing-masing harus melemparnya. Bagaimana? jelas?" kata Pedagang itu sambil tersenyum lebar.

Dengan disaksikan para pembantu Pedagang, anak pertama mendapat giliran pertama untuk melemparkan koinnya. Wushh, cring cring cring! ternyata sisi bergambar kuda ada di atas, maka ia mendapatkan angka 6. Giliran anak kedua, wush, cring cring cring! ternyata gambar burung di atas, sehingga nilainya -1. Melihat anak kedua mendapatkan nilai -1 maka anak ketiga itu memutuskan tidak melemparkan koinnya. "Saya tidak akan melemparkan koin ini," katanya. Maka anak ketiga itu mendapatkan nilai 2.

Singkat cerita, Pedagang itu hanya meminta mereka melakukan lemparan sebanyak 3 kali. Hasil akhir nilai mereka adalah, anak pertama mendapat nilai 11 karena dari 3 kali lemparan ia mendapat 2 kali sisi kuda dan 1 kali sisi burung. Anak kedua mendapatkan nilai 4 karena dari 3 lemparan ia hanya mendapatkan 1 kali sisi kuda. Sedangkan anak ketiga mendapatkan nilai 6 karena ia tidak pernah melemparkan koinnya pada ketiga kesempatan yang diberikan kepadanya.

Sang Pedagang mengangguk-angguk kemudian meminta mereka kembali ke tempat masing-masing. Kepada isterinya, sang Pedagang mengatakan, bahwa meski anak anak ketiga mempunyai nilai 6, lebih tinggi dari anak kedua, ia tidak akan cocok menggantikannya. "Ia benar tidak mau rugi, tetapi tindakan tidak mau rugi itu menutup semua kesempatannya untuk bisa mendapatkan keuntungan juga. Bagaimana pun orang harus berusaha. Bukankah dalam segala usaha, hanya ada tiga hal yang bisa dilakukan? Melakukan sesuatu dan berhasil, atau melakukan sesuatu dan gagal, atau tidak melakukan apa-apa dan juga tidak akan mendapatkan apa-apa? "

Selamat pagi dan selamat bekerja.


ORANG BERAGAMA ATAU ORANG BAIK
Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh
waktunya untuk beribadah.
Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya
membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan
memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah
dengan tenang.

Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin
melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia
memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita
cantik. "Masuklah ke dalam pondok," katanya kepada
wanita itu, "Peluklah ia dan katakan 'Apa yang akan
kita lakukan sekarang'?"

Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan
melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki
itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak
sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu
keluar dari
pondoknya.

Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang
terjadi, si nenek menjadi marah."Percuma saya memberi
makan orang itu selama 20 tahun," serunya.
"Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu,
tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari
kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada
nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama
beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada
sesama."

Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian
ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama
berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan
melagukan (bukannya membaca) Alquran.
Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama
justru pada budi pekerti yang mulia.

Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian
peraturan dan larangan.
Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian
rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama
diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in),
bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen
(inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna
sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way
of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan
tertinggi manusia.
Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi
karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena
kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang
tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk
menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran
Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan
karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri
kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.


Sumber: Orang Beragama atau Orang Baik?
oleh Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute
for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku
Life is Beautiful




PUTRI QARA
Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar
kaya Amenhotep. Ia berasaldari keluarga sederhana,
tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik.
Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin
dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan
dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan
suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang
nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut
sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru
untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu.
Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros,
malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya
digunakannya untuk berfoya-foya.

Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata
kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan
tersebut membantu memperbaiki jala suaminya.
Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka
berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian
memanggil nelayan miskin tersebut. Amenhotep
menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.

Putri Qara sedih karena terhina, suaminya
memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa
dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan
tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal
kejam dan sadis
karena kekayaannya.

Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam
bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri
Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya.
Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju
compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah
Putri Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya
sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas
terompahnya dan
meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara.
Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri
Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri
mengenali terompah tersebut dan memerintahkan
pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru,
terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan :
aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti,
kebijaksanaan dan kemauan untuk bekerja.

Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan
akan tindakannya di masa lalu, hanya karena egonya,
dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan
seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta
suaminya.

Untuk wanita, dampingi dan dukunglah pria dengan
bijaksana, dan untuk pria, perlakukanlah wanita dengan
penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti
terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan
bijaksana.


DARI MANA ASAL ANDA ?
Alkisah hiduplah seorang tua penjaga pintu gerbang
sebuah kota besar.
Setiap pengelana yang hendak memasuki kota itu, selalu
mengajukan pertanyaan pada penjaga tua itu, "Bagaimana
perangai orang-orang yang tinggal di kota ini?"

Penjaga tua itu malah balik bertanya, "Bagaimana
perangai orang-orang di kota tempat tinggalmu?" Jika
pengelana itu menjawab, "Orang-orang di kota tempat
aku berasal mempunyai pengarai buruk dan tidak
menyenangkan." maka penjaga tua itu menjawab,
"Berlalulah terus. Orang-orang di kota ini juga
berperangai buruk."

Namun jika pengelana itu menjawab, "Orang-orang di
kota tempat aku berasal mempunyai perangai yang baik
dan menyenangkan." maka penjaga tua itu menjawab,
"masuklah ke dalam, di sana kau hanya akan menemui
orang-orang yang berperilaku baik dan menyenangkan."


Pojok Renungan : Bila di dalam hati (kota tempat kita
berasal) kita menemukan perangai buruk, maka di luar
pun kita akan temui perangai buruk.
Dari mana kita datang ke sanalah kita akan tiba.

(Yiddish Folk Tale)



Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
di depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk
membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih
di antara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi
kami berangkat kerja bersama2 dan sampai di rumah juga pada waktu yg bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia.

Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.
Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew
yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya.
Ini adalah apartment yg kubelikan untuknya.

Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis."
Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan
menjadi sangat menarik bagi para gadis". Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu2.

Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup
menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi
membeli beberapa perabot, OK? Aku ada sedikit urusan dikantor"

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut,ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun
kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia
pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yg baik. Setiap
malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV.
Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau aku
akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan
bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg
akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa
bersuara.
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh
dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan
jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia.
Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, OK? Lalu kita akan
hidup bersama". Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang
tangannya," Ada sesuatu yg harus kukatakan". Ia duduk diam dan makan tanpa
bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu
harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin
bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti
tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut," kenapa?"
"Aku serius". Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat
marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku," Kamu bukan laki2!".

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah
dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana
istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia
memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan
sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang
menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan
apa yg telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan
untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan
sekarang sungguh2 telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat
ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran .Ketika aku
terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun
dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan
dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan
pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak
kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?"

Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku
mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku di lenganmu", katanya, "jadi
aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu
perceraian kita.
Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku
keluar dari kamar tidur ke pintu". Aku menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan
berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa
keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yg ia lakukan,
ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini", ia mencemooh.
Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan
perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku
membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami
menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali".
Kata2nya membuatku merasa sakit.
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu,
aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.
Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," mari kita mulai hari
ini, jangan memberitahukan pada anak kita". Aku mengangguk, merasa sedikit
bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami
begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari
bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat
bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "kebun diluar sedang dibongkar, hati2
kalau kamu lewat sana".

Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra
seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti,
dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2 saat
memasak,dll.

Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor
bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya," kelihatannya tidaklah
sulit membopongmu sekarang".

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar.
Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat," semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba2 aku
menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya
dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua
kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.
"Pa,sudah waktunya membopong mama keluar". Baginya,melihat papanya sedang
membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat
agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan
wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku
menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur,melewati ruang duduk
ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah
badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia
kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan
berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "sesungguhnya aku
berharap kamu akan membopongku sampai kita tua". Aku memeluknya dengan
kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita
begitu mesra".

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin
bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh
dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku " maaf, Dew, Aku
cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah
tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan
nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu".
Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup
pintu dgn kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan
menulis "Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua."



"Merry X'mas everybody"
May X'mas bright always shine your life,
bring peace, happines, and prosperity, to you and your family

11 komentar:

Anonim mengatakan...

cheapest ambien ambien side effects liver damage - will fail drug test ambien

Anonim mengatakan...

ativan price ativan or xanax stronger - 6 mg ativan day

Anonim mengatakan...

diazepam 5mg where to buy valium online forum - valium while breastfeeding

Anonim mengatakan...

xanax generic xanax for mri anxiety - side effects xanax high

Anonim mengatakan...

xanax online buy xanax online with insurance - xanax side effects gas

Anonim mengatakan...

xanax pills xanax 2mg - xanax withdrawal time period

Anonim mengatakan...

xanax buy online pharmacy xanax no prescription - xanax side effects forum

Anonim mengatakan...

ativan online pharmacy side effects to ativan medication - ativan tolerance

Anonim mengatakan...

alprazolam mg blue xanax bars 2mg - xanax online forum

Anonim mengatakan...

buy ambien online ambien cr is it addictive - how many 10mg ambien

Anonim mengatakan...

buy soma soma drug of abuse - buy soma online mastercard